Bab Seratus Dua Belas: Konsesi (Dua)
Bab Seratus Dua Belas
Berbagi Keuntungan (2)
Semula, tidak banyak orang yang akan mempercayai pengumuman demi kesejahteraan rakyat semacam itu. Namun, berkat reputasi baik sang kepala kabupaten, cukup banyak orang yang akhirnya mempercayainya.
Sejak bulan kedua belas, pemandian umum memang tidak lagi memungut biaya. Tak lama kemudian, hal itu menyebabkan jumlah pengunjung membludak hingga orang-orang harus mengantre untuk mandi. Kebijakan tersebut berlaku selama tiga bulan.
Sementara itu, di barak militer, selama tiga bulan terhitung sejak hari pengumuman dikeluarkan, setiap prajurit akan mendapat tambahan satu mantou tepung putih setiap hari.
Namun, tidak lama kemudian, Wang San melapor di ruang kerja Shi Bin bahwa beberapa orang di kota mengeluh dan menganggap Shi Bin pilih kasih.
“Pilih kasih? Apa maksudnya? Memberi mereka kesempatan mandi gratis masih dianggap kurang? Benar-benar manusia yang tidak pernah merasa cukup, seperti ular yang hendak menelan gajah!” Setelah berkata demikian, Shi Bin dengan marah menghantamkan telapak tangannya ke meja tulis.
Melihat reaksi Shi Bin, Wang San sama sekali tidak terkejut. Ia malah tersenyum dan berkata, “Yang Mulia memang agak pilih kasih...”
“Kau!” Mendengar Wang San berkata demikian, Shi Bin menjadi sangat murka. Namun, setelah beberapa tahun memimpin, ia telah belajar mengendalikan diri. Jari telunjuk yang semula hendak diacungkannya kepada Wang San perlahan diturunkan, sementara amarahnya ditekan untuk sementara.
“Katakan, bagaimana aku dianggap pilih kasih? Kalau kau tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal, bersiaplah menerima hukuman berat!”
Perkataan itu tidak membuat Wang San gugup. Ia hanya menjelaskan kepada Shi Bin bahwa barang-barang yang diberikan kepada para prajurit jauh lebih nyata manfaatnya dan lebih menarik, sedangkan urusan mandi gratis itu justru telah menukar pokok dengan cabang.
Menukar pokok dengan cabang? Bukankah ia bahkan sudah memikirkan kebersihan pribadi mereka? Masih belum cukup? Jangan-jangan rakyat jelata itu juga menginginkan bahan pangan? Tambahan jatah makanan bagi lebih dari dua ribu prajurit selama tiga bulan saja sudah membuat kepalanya pening. Jika puluhan ribu penduduk kota juga meminta bahan pangan, berapa banyak yang dibutuhkan?
“Kakak, kalau tidak ingin mengeluarkan bahan pangan, masih ada satu jalan lain,” Wang San mengingatkan.
Kalimat itu bagaikan sebatang jerami penyelamat bagi Shi Bin. Tanpa banyak bicara, ia segera memberi isyarat agar Wang San menjelaskan.
“Biarkan para pedagang batu bara yang mengeluarkannya juga, tetapi kali ini bukan uang, melainkan beras lama. Mungkin perkataan adik akan membuat Kakak tidak senang, tetapi tetap ingin adik sampaikan.” Wang San tampak ragu sejenak, tetapi kemudian segera melanjutkan, “Rakyat jelata itu sekarang belum pantas makan beras bagus. Hanya mereka yang mengerahkan tenaga untuk kita yang pantas mendapatkannya.”
Kata-kata itu terdengar menusuk telinga Shi Bin. Namun, ia bukanlah dewi belas kasih yang menyelamatkan semua orang dari penderitaan. Ia tidak mungkin mengabaikan kepentingan, maka pada akhirnya ia juga diam-diam menyetujui pandangan Wang San.
Saat keduanya hendak membahas cara meminta bahan pangan dari para pedagang batu bara dan menentukan siapa saja yang harus didatangi, Xu Feng datang melapor bahwa beberapa orang kaya hendak berkunjung.
Mendengar hal itu, kedua bandit tersebut langsung tersenyum lebar. Benar-benar seperti membicarakan seseorang, lalu orang itu datang.
Shi Bin segera membawa Wang San ke balai musyawarah untuk menunggu para pedagang batu bara tersebut.
Di luar dugaan Shi Bin, yang datang kali ini bukan hanya beberapa pedagang batu bara. Semua pedagang berpengaruh di Kota Xiangtan hadir. Selain itu, mereka tampaknya tidak datang untuk meminta bantuannya, melainkan memiliki tujuan lain.
Setelah mempersilakan semua orang duduk dan menunggu para pelayan menyajikan teh kepada seluruh tamu, Shi Bin bertanya, “Saya ingin tahu, untuk urusan apa kiranya Tuan-Tuan datang bersama-sama hari ini?”
Semua orang yang hadir mengangguk ke arah Ketua Deng dari Perhimpunan Dagang. Ketua Deng pun bangkit, mengepalkan tangan di depan dada sebagai salam, lalu berkata, “Bolehkah saya bertanya apakah beberapa hari yang lalu Tuan Shi meminta para pedagang batu bara untuk memberikan potongan keuntungan sebesar dua puluh persen?”
Shi Bin diam-diam menghela napas. Para pedagang ini benar-benar cerdik. Mereka sudah datang bersama secepat ini. Jangan-jangan mereka hendak menuntut pertanggungjawaban. Meski sikap mereka tidak tampak seperti hendak menuntut, dan Shi Bin yakin mereka tidak memiliki keberanian sebesar itu, tetap lebih baik ia menjelaskan dengan gamblang.
Saat ia hendak menerangkan alasan dirinya meminta mereka “menanam saham”, Ketua Deng malah dengan tidak sopan memotong perkataannya.
“Tuan Shi jangan salah paham. Kami datang hari ini bukan untuk menuntut pertanggungjawaban, melainkan untuk memohon agar Tuan juga menanam saham di usaha kami.”
Semua itu membuat Shi Bin tidak mampu memahaminya. Menanam saham sebenarnya hanyalah istilah lain untuk uang perlindungan. Orang-orang biasanya berusaha menghindarinya, jadi mana mungkin ada yang sengaja datang memohon agar dipungut uang perlindungan?
“Tuan, tentu saja para pedagang seperti kami memiliki maksud pribadi saat memohon Tuan menanam saham. Kami tentu tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Bagaimanapun, jika sesuatu menyimpang dari kewajaran, pasti ada sebab di baliknya,” Ketua Deng menambahkan.
Sebenarnya semua orang memahami apa arti “menanam saham” itu. Namun, Shi Bin ingat bahwa dirinya telah menandatangani perjanjian pengangkutan melalui jalur air dengan sebagian pedagang di kota. Itu sudah bisa dianggap sebagai uang perlindungan. Lalu, mengapa mereka masih ingin memberikannya?
“Tuan tidak perlu memikirkan masalah ini terlalu rumit. Semua orang tahu bahwa Tuan adalah orang yang menepati janji. Karena itu, kami telah memutuskan untuk mengirim seluruh barang melalui jalur air mulai sekarang.”
Seluruh barang akan dikirim lewat jalur air? Bagi Shi Bin, itu merupakan dukungan yang sangat besar. Maka ia bertanya, “Saya tentu menyambut dan merasa senang mendengarnya. Namun, jika saya menanam saham, apa yang dapat saya lakukan untuk kalian? Saya tidak menyukai suap.”
Tidak ada orang yang tidak mencintai uang, dan tidak ada pula yang akan menganggap uang terlalu banyak. Perbedaannya hanya terletak pada apakah seseorang tidak tahu malu atau masih memiliki sedikit rasa malu. Kepala kabupaten ini masih tahu batas kepantasan dan tidak akan merebut sesuatu dengan cara-cara tercela. Karena itu, Ketua Deng pun menjelaskan persyaratannya secara terperinci.
Ternyata, pengawalan Shi Bin memang membuat para perampok dan bajak sungai dari dunia hitam tidak lagi berani merampas barang-barang mereka. Namun, dalam perjalanan, mereka sering diperas oleh para petugas dinas perairan. Meskipun kerugian mereka telah jauh berkurang, hal itu tetap membuat mereka marah sekaligus tidak berdaya.
Alasan tersebut masuk akal, tetapi tetap di luar dugaan. Dunia hitam sudah tidak bergerak, dunia resmi malah datang menekan. Memang, kehidupan di dunia ini penuh kesulitan.
“Tuan Shi, kami tahu bahwa mertua Tuan adalah wakil komisaris pengelolaan wilayah sepanjang sungai. Dengan agak tidak tahu malu, kami ingin memohon agar Tuan menyampaikan keadaan ini kepada Tuan Jia dan memintanya berbicara kepada Dinas Perairan Sungai, agar mereka dapat sedikit memberi kelonggaran. Tentu saja, mereka tidak akan kekurangan keuntungan. Kami hanya memohon agar mereka berhenti memeras kami.”
Memintanya menyampaikan pesan kepada Jia Sidao? Ini agak sulit. Walaupun hubungan mereka sangat dekat, belum tentu Jia Sidao bersedia membantu. Pertama, komisaris pengelolaan itu tidak mengurusi pengangkutan melalui jalur air. Kedua, menghalangi sumber pendapatan seseorang sama saja dengan membunuh orang tua mereka. Demi keuntungan kecil semacam itu, besar kemungkinan ia tidak akan turun tangan.
Namun, para pedagang ini telah banyak membantu perkembangan wilayah kekuasaannya. Jika ia berpura-pura tidak melihat kesulitan mereka, ia mungkin akan dicemooh orang.
Setelah berulang kali bimbang, Shi Bin menggertakkan gigi dan berkata, “Aku akan menemui Tuan Jia dan memintanya membantu. Jika ia tidak bersedia, aku sendiri akan pergi ke Dinas Perairan Sungai untuk menjadi penengah. Namun, jika usaha penengahanku tetap tidak berhasil, kalian hanya bisa mencari orang lain yang lebih mampu.”
Setelah mendengar perkataannya, semua orang—kecuali para pedagang batu bara yang sebelumnya telah memberikan bagian keuntungan—berjanji bahwa mereka akan tetap memberikan dua puluh persen keuntungan setiap tahun kepada Shi Bin, entah urusan itu berhasil diselesaikan atau tidak.
Shi Bin lalu menyatakan bahwa para pedagang yang telah menandatangani perjanjian pengangkutan melalui jalur air cukup memberikan sepuluh persen keuntungan, sedangkan mereka yang sebelumnya belum menandatangani perjanjian harus memberikan dua puluh persen.
Semua orang adalah orang sibuk. Setelah urusan mereka selesai dibicarakan, para pedagang itu hanya meneguk teh dua kali untuk membasahi tenggorokan sebelum pergi satu demi satu.
Pada akhirnya, di dalam balai itu hanya tersisa Shi Bin seorang diri, merenungkan cara berunding dengan Dinas Perairan Sungai.