149 Cambuk
“Heh, kenapa... kau cemburu?” Xiao Lingran menatap Qing Yuan dengan tatapan sedikit menantang.
Qing Yuan mencibir dingin dan berkata, “Dengan jurus murahan sepertimu, aku bahkan tidak sudi meladanimu. Cemburu padamu? Lelucon!”
“Benar... benarkah? Kalau begitu, siapa wanita tua berwajah mengerikan di hadapanku ini...” Luka-luka di tubuh Xiao Lingran semakin bertambah, tetapi ia masih enggan mengalah dan terus berdebat dengan Qing Yuan.
“Kau tahu? Guru... Guru membiarkanku tinggal di sebelah kamarnya, jadi setiap hari... setiap hari aku bisa melihatnya.” Xiao Lingran tersenyum lebar, seolah sedang memamerkannya, padahal ia hanya ingin memancing kemarahannya.
Qing Yuan tampak tidak dapat menahannya lagi, cambuk di tangannya diayunkan dengan lebih kuat. “Bagaimana mungkin dia setuju kau tinggal di aula utama? Aku tidak percaya, aku tidak percaya!”
Xiao Lingran merasakan sakit yang luar biasa. Qing Yuan seolah sengaja melakukannya, kedua cambukan itu tepat mengenai wajah mulusnya. Wajah putih bersih itu tampak mengerikan akibat dua guratan darah tersebut...
“Seseorang yang begitu menyukai kebersihan... bagaimana mungkin dia membiarkanmu... tidak mungkin!” Qing Yuan menatap Xiao Lingran dengan penuh kebencian, lalu berkata lagi, “Aku tahu, Yi Qing... dia pasti melihat tulang abadi di tubuhmu...”
“Benar! Pasti begitu! Dia adalah orang yang paling menghargai talenta, dia pasti melihat tulang abadi di tubuhmu makanya bersedia membiarkanmu tinggal di aula utama...”
Qing Yuan bergumam pada dirinya sendiri, mungkin untuk menghibur dirinya. Suasananya tampak sedikit membaik, ia menatap Xiao Lingran dan berkata:
“Jika memang begitu, baguslah... aku akan menggunakan Cambuk Pengikat Jiwa milikku ini untuk membunuhmu, dengan begitu setelah kau mati, bahkan jiwamu pun akan berada di tanganku... Hahahahahahaha...”
Xiao Lingran sama sekali tidak takut, ia berkata, “Kau benar-benar wanita beracun. Sekalipun berwajah muda dan cantik, apa gunanya? Begitu keji, jika aku seorang pria, aku pun tidak akan melirikmu, apalagi Guru yang selera tingginya luar biasa!”
“Ucapkan sekali lagi!” Qing Yuan mengangkat cambuknya sambil berkata dengan nada mengancam.
Xiao Lingran mendengus dingin dan melanjutkan, “Kau pikir aku takut padamu? Kalau sudah kubilang sekali lagi, ya kukatakan sekali lagi. Wanita beracun sepertimu tidak layak mendapatkan cinta selamanya; di kehidupan ini, kehidupan selanjutnya, dan kehidupan-kehidupan setelahnya, untuk selama-lamanya kau tidak layak!”
“Aku adalah ketua Sekte Qingyue, dewa agung yang tak terjangkau oleh manusia fana!” teriak Qing Yuan, seolah membela harga dirinya.
“Cih, umurmu sudah begitu panjang sampai-sampai kulit wajahmu setebal usiamu. Siapa yang tidak tahu kalau dulu kau berniat mengejar Guruku, lalu diusir dari perguruan, dan bertindak seperti penguntit hingga nekat mendirikan sekte bernama Sekte Qingyue,” ujar Xiao Lingran.
Melihat wajah wanita itu berubah dari pucat menjadi kebiruan, Xiao Lingran kembali menyerang untuk memanfaatkan keadaan.
“Sekte Qingye, Sekte Qingyue... Ck ck ck, Yi Qing, Qing Yuan... Kalian benar-benar berusaha keras, hanya saja sayang sekali, kau hanya berhasil membuat terharu dirimu sendiri dan membuat jijik orang lain!”
“Kau, kau...” Qing Yuan sangat marah hingga tidak mampu berkata-kata untuk waktu yang lama. Karena itu, ia dikuasai kemarahan yang membabi buta dan memukuli tubuh Xiao Lingran dengan ganas tanpa henti.
“Sss...” Xiao Lingran memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. “Kau pikir membunuhku ada gunanya? Naif... Jika kau membunuhku, Guru akan semakin membencimu...”
“Kalau begitu, aku akan memastikan dia tidak pernah tahu seumur hidupku bahwa akulah yang membunuhmu,” ucap Qing Yuan sambil mencibir dingin, “Yang Fan, Yu Zishu, Yue Yi... pion di tanganku masih ada banyak.”
“Kau benar-benar wanita beracun, pantas saja Xiao Bai bahkan tidak mau hidup lagi. Sekalipun diberi tubuh abadi, aku tidak sudi hidup sehari pun di dekat orang sepertimu.”
“Kau masih berani menyebut nama Xiao Bai di hadapanku!? Bagus, kalau begitu kita selesaikan hutang lama dan hutang baru sekaligus!” Mendengar nama Xiao Bai, kemarahan Qing Yuan semakin meluap.
Ia menyingsingkan lengan bajunya dan memukulkan cambuk ke tubuh Xiao Lingran. Kali ini, ia tampak bertekad untuk menghabisinya hingga tewas, setiap cambukan dihujamkan dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.
“Nyawa Xiao Bai jauh lebih berharga daripada dirimu, seorang anak yatim piatu jalanan yang tumbuh di pegunungan!” murka Qing Yuan, yang langsung menghujani belasan cambukan berturut-turut.
“Ukh...” Xiao Lingran kembali memuntahkan darah segar. Pakaiannya sudah hancur lebur menjadi serpihan compang-camping, sebagian bahkan menyatu dengan daging dan darahnya. Seluruh tubuh Xiao Lingran dibasahi keringat karena menahan rasa sakit, dan tidak lama kemudian ia jatuh pingsan.
Qing Yuan tentu tidak sebaik itu; ia mengambil seember air Yitong dan menyiramkannya ke tubuh Xiao Lingran, memaksa gadis itu untuk sadar kembali, lalu bertanya sambil tersenyum:
“Kenapa, bukankah kau terus-menerus merengek agar Yi Qing datang menyelamatkanmu? Kenapa dia belum juga datang, ahahahaha...”
Seluruh tubuh Xiao Lingran basah kuyup, air yang disiramkan ke atas luka-lukanya tidak hanya menimbulkan rasa sakit, tetapi juga kesadaran yang teramat perih.
Air dingin yang membasuh sekujur tubuhnya melunturkan sebagian darah. Pakaian putihnya memudar warnanya, berubah dari merah pekat menjadi merah muda pucat, namun area luka-lukanya tetap berwarna merah darah. Lantai dipenuhi genangan air bercampur darah dengan bau amis yang menyengat.
Tali di tangan Qing Yuan pun telah basah oleh darah, namun ia tidak peduli. Saat ini ia tengah menikmati kepuasan yang membuncah untuk menghancurkan tekad terakhir Xiao Lingran.
“Guruku hanya... hanya sedang ada urusan penting. Begitu beliau... menyelesaikan urusan di sekte... beliau... beliau pasti akan datang mencariku...”
Kata Xiao Lingran dengan suara yang sangat lemah. Helaian rambut dan bulu matanya masih dibasahi butiran air. Kadang-kadang, tetesan air yang bercampur darah meluncur turun dan mengaburkan pandangan matanya...
“Oh, begitu? Bukankah kalian punya kakak perguruan senior bernama... Feng Yun? Kenapa tidak langsung menyerahkan urusan ini kepadanya saja...”
“Oh~ aku mengerti... Dia mungkin ingin membuangmu... Masuk akal juga, bagaimana mungkin Yi Qing kekurangan murid? Selama dia mau, menerima murid setiap hari pun tidak masalah...”
Qing Yuan mengangkat dagu Xiao Lingran dengan jarinya sambil memasang ekspresi pura-pura iba. “Ck ck ck, gadis yang begitu manis... Sayang sekali, sayang sekali, Guru yang sangat kau dambakan itu sudah tidak menginginkanmu lagi...”
Xiao Lingran menepis tangan wanita itu dan membiarkan kepalanya terkulai lemas karena tak kuasa menahannya. Hatinya terasa begitu sakit; mengapa Guru tak kunjung datang menyelamatkannya? Apakah benar seperti yang dikatakan Qing Yuan, bahwa ia sudah tidak diinginkan lagi?
“Jangan mencoba... mengadu domba di sini! Kenapa, apakah karena kau tidak bisa mendapatkannya, makanya kau datang melontarkan omong kosong untuk menjatuhkanku?” Wajah Xiao Lingran kehilangan seluruh warnanya akibat terlalu banyak kehilangan darah.
Pada saat itu, Qing Yuan tiba-tiba menjadi sangat tenang, bagaikan seorang dokter psikologi yang menatap Xiao Lingran dengan sepasang mata dingin, seolah ingin merangsek masuk dan membaca isi hatinya yang paling dalam.
“Kau ini benar-benar keras kepala. Sebenarnya di dalam hatimu kau juga merasa sangat menderita, bukan? Aku bisa mengerti perasaanmu...” Qing Yuan mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi Xiao Lingran.
“Aku bisa memahaminya, aku bisa...” ucapnya.
Kelopak mata Xiao Lingran terpejam sayu, sepertinya ia sudah sangat kelelahan. Ia berusaha menggelengkan kepala perlahan dan berkata, “Tidak... kau tidak mengerti... jangan katakan lagi, kumohon...”
“Lihatlah betapa menyedikannya dirimu sekarang. Sekte Qingye milik kalian bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sudah sekian hari aku menculikmu, apakah gurumu pernah datang? Bahkan bayangannya pun tidak ada... Dan kau masih di sini membela dia...”
Entah karena terlalu lemah atau sebab lainnya, kali ini Xiao Lingran tidak menjawab, ia hanya bernapas pelan secara perlahan...
“Atau begini saja... Lihatlah aku sudah mencambukmu begitu hebat, urusan di antara kita anggap saja impas. Aku tidak berniat membunuhmu... Asalkan kau berjanji padaku untuk tidak lagi menemui Yi Qing dan keluar dari Sekte Qingye, aku berjanji tidak akan membunuhmu. Jika kau bersedia, posisi murid kepala di sekteku pun bisa kuberikan kepadamu.”
“Coba pikirkan, bagaimana tawaranku? Yi Qing tidak peduli padamu, tapi aku justru merasa kasihan padamu. Ingin mempertahankan nyawamu atau tidak, semuanya tergantung pada jawaban yang kauberikan kepadaku...”
Setelah berkata demikian, Qing Yuan menatap Xiao Lingran yang berada di hadapannya. Lebih dari sepuluh detik berlalu tanpa ada reaksi sedikit pun dari gadis itu.
“Kenapa, jawablah sesuatu, jangan bilang kau sudah mati...” gumam Qing Yuan.
“A... aku...”
Xiao Lingran menundukkan kepalanya, mengeluarkan suara yang sangat lirih dari mulutnya. Karena suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar, Qing Yuan pun mendekat dan menempelkan telinganya untuk mendengarkan apa yang sedang dikatakan gadis itu.
“Ah...”
Terdengar jeritan kaget dari mulut Qing Yuan, yang langsung buru-buru memegangi telinganya sambil melangkah mundur beberapa langkah. Tetesan darah segar mengalir deras dari daun telinganya ke atas tanah.
Xiao Lingran tiba-tiba mengangkat kepalanya, menjilat sisa darah di sudut bibirnya, tersenyum tipis, lalu menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata:
“Entah Yi Qing mengecewakanku atau tidak, hidup di dunia ini aku adalah orang dari Sekte Qingye, dan saat mati pun aku akan menjadi hantu dari Sekte Qingye! Tidak butuh kau yang memutuskan jalan hidupku!”
“Kau jalang keparat! Kubunuh kau!” teriak Qing Yuan dengan amarah yang meluap-luap. Ia menyambar cambuk di tanah dan menghujbannya ke tubuh Xiao Lingran.
“Plak...” Suara cambuk yang menghantam tubuh terdengar begitu nyaring. Bersamaan dengan suara itu, pekikan kesakitan yang memekakkan telinga pun turut meluncur keluar.
Namun, jeritan itu bukan lagi berasal dari Xiao Lingran, melainkan dari mulut Qing Yuan sendiri.
Ternyata, pada detik saat cambuknya diayunkan, hantaman itu tertahan oleh seberkas cahaya biru, lalu berbalik memantul dan menghantam tubuh Qing Yuan tepat di sasaran.
Qing Yuan menatap dengan pandangan penuh amarah, namun kalimat “Siapa itu” bahkan belum sempat terucap dari bibirnya ketika ia mendadak terpaku di tempat karena terkejut.
“Yi... Yi Qing, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Qing Yuan dengan nada tak percaya.
Ia mungkin tidak tahu bahwa gigitan yang dilakukan Xiao Lingran barusan adalah sengaja untuk membuatnya berdarah, agar segel pelindung tersebut dapat terbuka dengan sendirinya berkat darahnya sendiri.
Orang yang berdiri di hadapannya kini tidak lain adalah Ketua Sekte Qingye sekaligus guru Xiao Lingran, yaitu Yi Qing. Saat ini ia mengenakan jubah serba hitam, didampingi oleh Mo Fan di sisinya, dan kedua pasang mata mereka memancarkan niat membunuh yang pekat.
“Yi Qing, dengarkan dulu penjelasanku, bukan seperti yang kaulihat...” Qing Yuan seketika menjadi panik. Ia bergegas menerjang maju dan memeluk erat kaki Yi Qing.
Yi Qing yang mengenakan pakaian hitam tampak kehilangan kesan dewa berjubah putih seperti biasanya, bahkan memancarkan wibawa yang jauh lebih menakutkan. Ia mengerutkan kening, seolah jijik luar biasa, lalu menendang lepas Qing Yuan yang bergelayut di kakinya.
Qing Yuan hendak kembali merangkul, namun Mo Fan bergerak dengan sangat cepat dan langsung mencegatnya. Berkat itu, Yi Qing dapat dengan leluasa melangkah mendekati Xiao Lingran.
Melihat Xiao Lingran yang sekujur tubuhnya berlumuran darah dan berwajah sepucat mayat, warna darah langsung lenyap dari wajah Yi Qing, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
“Xing’er, Xing’er... Guru datang, Guru akhirnya datang menyelamatkanmu.” Yi Qing memanggil nama kecil Xiao Lingran dengan suara lembut, sementara tangannya dengan hati-hati menyeka noda darah di pipinya.