Pernikahan akbar sudah di ambang mata.
Tuan Lin berteriak tanpa basa-basi. Begitu ibunya disebut, hati Lin Rannya bergetar. Pelayan perempuan di sampingnya segera bertindak cepat dan mengangkatnya turun dari atas meja.
Lin Rannya tidak melawan. Dengan tubuh gemetar, ia dibantu berjalan hingga duduk di tepi ranjang.
Melihat putrinya sudah tak berkata-kata lagi, sang tuan mulai membujuk dengan lembut, “Rannya, Ayah tahu kali ini Ayah yang salah. Ayah seharusnya tidak mengatur pernikahan ini tanpa persetujuanmu…”
Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan duduk di samping Rannya. “Tenang saja. Jenderal He adalah lelaki sejati yang tulangnya ditempa baja. Menikah dengannya sama sekali bukan kesalahan!”
“Cih, jadi aku harus berterima kasih kepada Ayah?” ujar Lin Rannya dengan kesal.
Namun, sang tuan tidak marah dan melanjutkan, “Perasaan bisa dipupuk perlahan-lahan. Lihatlah Ayah dan ibumu. Saat masih muda, kami hanya pernah bertemu sekali, tetapi kami berhasil melewati puluhan tahun bersama dan bahkan memiliki dirimu. Kami saling menghormati seperti tamu, bukankah rumah tangga kami baik-baik saja?”
Mendengar itu, Lin Rannya tertawa dingin. “Kalau bukan karena keluarga Ibu yang begitu berkuasa dan terkenal sebagai saudagar kaya, memangnya Ayah akan menikahi Ibu?”
Sang tuan tidak menyangka lidah putrinya akan setajam itu. Ia menjawab, “Jangan keterlaluan!”
Lin Rannya melirik ayahnya dengan hina, melihat raut wajah lelaki yang tak berani mengakui bahwa dirinya telah terbongkar. Ia pun terus mendesak, “Jangan-jangan Ayah sungguh hanya tertarik pada kepribadian He Nanchuan?”
“Tentu saja Jenderal He juga memiliki banyak kelebihan,” jawab sang tuan.
“Heh, benar, dia punya banyak kelebihan. Namun, bukankah kelebihan terbesarnya adalah mampu membantu Ayah terus naik pangkat? Benarkah Ayah melakukan semua ini demi mencarikan pernikahan yang baik untuk putrimu?”
Setelah mendengar pertanyaan itu, sang perdana menteri terdiam. Lama kemudian, barulah ia berkata, “Ayah hanya ingin mendapatkan dua hal sekaligus. Kalau kau tidak bersedia, Ayah juga tidak akan memaksamu melakukan apa pun di hadapan He Nanchuan.”
“Benarkah? Ayah sendiri yang mengatakannya. Kalau memang semua ini demi pernikahanku, aku tidak keberatan lagi.”
Pada akhirnya, Lin Rannya mengalah. Namun, secara tersirat ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan membantu ayahnya melakukan siasat apa pun.
Melihat Lin Rannya telah menyetujuinya, sang perdana menteri tentu saja merasa gembira. Ia segera memerintahkan para pelayan untuk membawa Lin Rannya memilih mas kawin, bahkan berkata bahwa putrinya harus menikah dengan penuh kemegahan. (Mual.)
Pada hari-hari terakhir yang begitu penting itu, Lin Rannya dan He Nanchuan, dua tokoh utama dalam kisah ini, justru menjadi orang-orang yang paling tidak berkonsentrasi.
Walaupun Lin Rannya tidak melakukan apa-apa di rumah, ibunya, para pelayan perempuan, dan seluruh penghuni kediaman telah menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna.
Tok, tok, tok—
Di tempat lain, seorang pelayan lelaki mengetuk pintu. Setelah lama tak mendapat jawaban, ia memberanikan diri membuka pintu.
Ruangan itu sangat gelap. Sampah berserakan di mana-mana, benar-benar kotor dan berantakan!
“Aduh, Tuan Muda, kenapa Anda masih tidur-tiduran di sini?” kata pelayan itu ketika melihat He Nanchuan tidur menyamping di atas ranjang.
Rambut He Nanchuan acak-acakan seperti sarang burung, sangat kontras dengan sosoknya yang biasanya gagah. Lingkaran hitam tebal juga tampak di bawah matanya.
“Ada apa dengan Anda? Sudah begitu lama tidak keluar. Saya sampai mengira Anda sedang bertapa untuk meracik obat panjang umur!” ujar pelayan itu.
Dialah pemuda yang sebelumnya berada di kemah militer, pelayan pribadi yang telah menemani He Nanchuan sejak kecil. Namanya Bo Lan. Mengapa ia dinamai demikian? Ketika masih kecil, He Nanchuan meniru ucapan orang dewasa dan berkata, “Aku berharap setiap urusan yang kaulakukan selalu tenang, tanpa gelombang.”
Namun, kenyataannya… Bo Lan selalu penuh gelora. Tidak, tidak, maksudku—
“Ibu ampun!” Bo Lan menjerit, lalu segera menerjang kaki He Nanchuan. “Kaki Anda! Kaki Anda… Langit, mengapa kau begitu kejam dan tidak membuka mata—ahhh!”
Melihat Bo Lan menangis dan meraung seperti seorang janda yang baru kehilangan suami, He Nanchuan merasa kepalanya berdenyut sakit. Ia buru-buru membekap mulut pelayannya.
“Jangan berisik,” kata He Nanchuan.
Setelah melihat Bo Lan mulai tenang, ia melanjutkan, “Awalnya kupikir, setelah menerima titah pernikahan, aku bisa melewatinya dengan tenang. Namun, beberapa hari terakhir… setiap malam aku justru merasa gelisah.”
Bo Lan menatap tuan mudanya, lalu tersenyum penuh rasa ingin tahu. “Itu karena Tuan terlalu jantan dan kaku. Tuan belum pernah mengalami urusan asmara duniawi seperti ini, jadi wajar kalau gugup…”
He Nanchuan menatap Bo Lan, sepertinya tidak memahami apa yang dimaksud dengan “terlalu jantan dan kaku”. Intinya, ia memang benar-benar lelaki yang sama sekali tidak peka terhadap perempuan.
Bo Lan menepuk bahunya. “Saya datang mencari Tuan hari ini memang untuk urusan ini. Lihatlah, hari pernikahan sudah semakin dekat. Bagaimana mungkin Tuan terus merana di sini? Tentu harus melakukan persiapan…”
He Nanchuan menghela napas. “Apa yang perlu dipersiapkan? Pernikahan ini sejak awal hanyalah sebuah konspirasi…”
Bo Lan tidak ingin lagi mendengar teori konspirasi dari tuan mudanya. Ia hanya ingin memuaskan kegembiraan dalam hatinya sendiri. Namun, mengapa ia begitu bersemangat, kita juga tidak tahu. Mungkin karena dirinya sendiri belum pernah menikah…
Sampai di sini, kepulan kabut putih mulai bermunculan. Ingatan itu kembali menyusup ke dalam buku seperti asap yang terbawa angin.
Xiao Lingran mengernyitkan dahi dan bertanya, “Mengapa semuanya selalu dimulai sebelum aku sempat bereaksi? … Mengapa dalam dua rangkaian ingatan ini, perempuan yang bersangkutan sama-sama bertemu dengan kehidupan lampau Jiecha?”
Raja Neraka Ruoxuan balik bertanya, “Jangan-jangan kau benar-benar mengira bahwa sebagai murid biasa dari dunia dewa, kau kebetulan saja bisa berkenalan dengan Raja Hantu dan bahkan menjadi sahabatnya?”
“Apa maksudmu?” tanya Xiao Lingran.
“Dalam pernikahan kedua ini, kehidupan lampau dirimu menikah dengan sang jenderal. Namun karena kecurigaan, selama beberapa tahun setelah pernikahan, ia tidak pernah menyentuhmu.”
Ruoxuan berhenti sejenak. “Namun, setelah hidup bersama dalam waktu lama, keduanya perlahan menumbuhkan perasaan dan mulai saling percaya. Hanya saja…”
“Hanya saja apa?” tanya Xiao Lingran.
“Teruslah melihatnya…”
Raja Neraka mengibaskan jarinya. Segumpal asap putih segera menyusup ke dalam dahi Xiao Lingran.
Pemandangan di hadapannya terdistorsi. Adegan-adegan berlalu dengan cepat dalam rentang waktu yang panjang, hingga akhirnya berhenti di suatu tempat.
“Lapor!”
Seorang prajurit pincang berlari memasuki kemah militer dan tergesa-gesa menyampaikan keadaan di luar.
Ternyata, belum genap setahun sejak Lin Rannya menikah dengan He Nanchuan, bangsa Hun kembali bangkit dan melancarkan serangan. Kali ini mereka bahkan telah bersekutu dengan pasukan dari berbagai negeri asing, sehingga kekuatan mereka berlipat ganda.
Maka, setelah titah kaisar turun, He Nanchuan terpaksa kembali mengenakan zirah dan turun ke medan perang. Namun, kali ini jumlah pasukan mereka kalah jauh. Ia terus-menerus mengalami kekalahan dan menderita kerugian besar.
Berita yang disampaikan prajurit pincang itu langsung membuat He Nanchuan panik.
Ternyata, Lin Rannya telah mendengar banyak kabar tentang keadaan di garis depan. Ia tahu bahwa He Nanchuan terus mengalami kekalahan dan sudah berada di ambang kehabisan tenaga.
Karena itu, diam-diam ia meninggalkan rumah pada malam hari. Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam, ia akhirnya tiba di sana. Namun, sebelum sempat bertemu dengan He Nanchuan, ia sudah pingsan di tanah dan ditangkap oleh bangsa Hun.
Untungnya, bangsa Hun mengetahui bahwa ia adalah istri He Nanchuan. Mereka tidak membunuhnya, melainkan menjadikannya sandera untuk mengancam He Nanchuan.