Seratus Empat Puluh Satu: Siluman Lukisan
Setelah malam benar-benar tiba, Tuan Lü bangkit dari tanah.
Ia mulai melangkah sambil mengukur jarak, selangkah demi selangkah. Mulutnya komat-kamit, sementara jari-jarinya terus menghitung. Penampilannya benar-benar mirip dukun gadungan.
Aku mengawasinya dari samping dengan dingin, tak henti-hentinya mencibir.
Tuan Lü jelas melihat tatapan mengejekku, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Setelah melirikku dua kali, ia kembali berpura-pura melakukan ritual.
Beberapa menit kemudian, langkahnya mendadak berubah aneh. Selangkah ke timur, selangkah ke barat. Setelah melangkah beberapa kali seperti itu, ia berhenti di satu titik dan tak bergerak lagi.
Dengan nada mengejek, aku berkata, “Tuan Lü, jurus apa yang sedang Anda latih?”
Tuan Lü melambaikan tangan. “Langkahku tadi mengikuti prinsip delapan trigram. Aku sudah menghitungnya berulang kali. Kau tidak akan paham.” Ia lalu mengetuk tanah dengan ujung kaki dan berkata, “Mulai gali dari sini. Perempuan berbaju merah itu ada di bawah.”
Dengan malas, aku mengambil sekop dan mengikis lantai ubin. Lalu, agak khawatir, aku bertanya, “Kalau kita menggalinya, apa dia tidak akan membunuh kita berdua?”
Tuan Lü tersenyum. “Zhao Mang, kau sungguh polos. Kau kira kalau kita tidak menggali dan mengeluarkannya, dia tak akan bisa membunuh kita?”
Aku mengangguk. “Benar juga.”
Tuan Lü mengambil beberapa batang lilin, menaruhnya di keempat sudut, lalu menyalakannya. Rasanya seperti orang sedang mengadakan ritual penghormatan di keempat sudut ruangan.
Mula-mula aku menggunakan sekop, lalu mencari beberapa bongkah batu. Setelah bersusah payah, akhirnya lantai semen berhasil kupecahkan. Setelah itu, aku mulai menggali tanah di bawahnya.
Aku menggali lama sekali, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa. Mulai kesal, aku berdiri di dalam lubang dan berkata kepada Tuan Lü, “Jangan-jangan Anda cuma mempermainkanku? Mana ada mayat di sini?”
Tuan Lü menunduk melihat ke dalam lubang, lalu menggeleng. “Belum cukup dalam. Terus gali.”
Dengan agak kesal, aku berkata, “Anda turun saja. Aku naik untuk istirahat.”
Tuan Lü terkekeh, lalu menunjuk lukisan di dinding. “Jiwaku sudah terlukis di sana. Mana mungkin aku punya tenaga untuk menggali mayat?”
Aku mengumpat dalam hati dan terpaksa melanjutkan pekerjaan.
Tak lama kemudian, sekopku seperti membentur sesuatu. Terdengar bunyi dentang, membuat kedua tanganku kesemutan.
Jantungku berdegup. Aku berseru pelan, “Ketemu.”
Lalu dengan hati-hati, kusibakkan tanah gembur di bawahnya menggunakan sekop.
Saat itu, kulihat sebuah peti batu muncul di bawah sana. Peti itu tidak besar; mustahil cukup untuk menampung mayat.
Dengan bingung, aku mengangkat kepala dan bertanya, “Apa ini peti matinya?”
Tuan Lü juga tampak heran. Sesaat kemudian, ia tersenyum. “Peti batu ini pasti barang bekal kubur. Angkat ke atas.”
Kutaruh sekop di samping, lalu kuangkat peti batu itu. Ternyata bobotnya jauh lebih ringan daripada dugaanku.
Setelah menerima peti itu, Tuan Lü tidak membukanya. Ia meletakkannya di samping dan berkata, “Kita tidak boleh menyentuh barang bekal kubur. Kalau melanggar pantangannya, kita semua tidak akan selamat. Terus gali.”
Aku menghela napas dan kembali bekerja sampai bercucuran keringat. Namun anehnya, meski sudah lama menggali lebih dalam, aku tak menemukan apa pun lagi.
Aku kelelahan dan terengah-engah sambil berdiri di dasar lubang, mengusap keringat. Tiba-tiba Tuan Lü berkata, “Zhao Mang, aku paham sekarang. Dia ada di dalam peti batu itu.”
Aku menggeleng. “Peti batu sekecil itu, bagaimana mungkin bisa memuat orang?”
Tuan Lü sendiri tampak kurang yakin. Ia berpikir sejenak lalu berkata, “Mungkin isinya abu kremasi. Naiklah dulu, lalu buka petinya.”
Aku menyahut dan mulai memanjat. Namun di tengah jalan, aku berhenti dan berkata, “Tuan Lü, Anda bisa membukanya sendiri. Kenapa harus menyuruhku naik?”
Tuan Lü tersenyum licik. “Peti batu itu kaulah yang menggalinya. Tentu saja kau yang harus membukanya. Aku tak berani merebut jasamu.”
Aku meluncur turun perlahan ke dasar lubang. “Mungkin ada sesuatu yang berbahaya di dalamnya. Kali ini jangan harap Anda bisa menjebakku lagi.”
Melihatku terus bersembunyi di bawah dan tidak mau naik, Tuan Lü tak punya pilihan selain tersenyum pasrah. “Baiklah, biar aku saja.”
Aku berjongkok di dasar lubang, seperti sedang bersembunyi di dalam bungker. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi kecil dari atas. Kurasa Tuan Lü sudah membuka peti batu itu.
Lalu kudengar Tuan Lü berseru heran dan bergumam, “Bagaimana bisa begini?”
Mendengar ucapannya, rasa ingin tahuku tak tertahankan lagi. Aku pun perlahan memanjat naik.
Peti batu itu sudah terbuka. Tuan Lü menatap isinya lekat-lekat dan tidak menyadari kehadiranku. Aku berdiri di belakangnya dan mengintip ke dalam peti.
Di dalamnya ada peti emas, dan di dalam peti emas itu terdapat peti kayu. Di dalam peti kayu ada sehelai kain sutra kuning yang membungkus sebuah gulungan lukisan.
Peti batu itu dibuat dengan sangat bagus, jelas bukan benda biasa. Berkat perlindungannya, gulungan lukisan itu sama sekali tidak rusak.
Aku bertanya kepada Tuan Lü, “Isinya cuma sebuah lukisan?”
Tuan Lü mengangguk. “Cuma satu lukisan. Aneh, di mana perempuan berbaju merah itu? Kenapa kita disuruh menggali lukisan?”
Setelah itu, ia mengeluarkan lukisan tersebut dan membukanya perlahan.
Di bawah cahaya lilin, kulihat lukisan itu menggambarkan seorang perempuan berjubah merah yang tersenyum kepada kami sambil memegang bunga di antara jemarinya.
Begitu melihat wajahnya, aku langsung panik. Kutunjuk perempuan itu dan berkata, “Benar, dia orangnya. Dia perempuan berbaju merah itu.”
Tuan Lü melirikku. “Zhao Mang, jangan mempermalukan diri sendiri. Ini cuma lukisan.”
Aku mengusap keringat dan menenangkan diri. “Benar, ini cuma lukisan. Aku terlalu gugup.”
Aku perlahan mendekat dan mengamati lukisan itu. Semakin lama kulihat, semakin gelisah aku. Punggungku mulai terasa dingin.
Suaraku terdengar gemetar. “Tuan Lü, sepertinya itu memang dia.”
Tuan Lü menatapku heran. “Apa maksudmu, memang dia? Apa yang kaukatakan?”
Kutunjuk sebuah titik merah di lukisan. “Lihat titik merah ini. Bukankah terlalu mencolok?”
Titik merah itu tepat berada di tenggorokan perempuan tersebut, tampak seperti tahi lalat. Secara logika, tahi lalat memang bisa saja ada di sana, tetapi keberadaannya merusak keindahan lukisan itu.
Tuan Lü mau tak mau mengangguk. “Bagian lain lukisan ini sempurna. Hanya tahi lalat ini yang tampak janggal. Kalau aku yang melukis, aku pasti tidak akan menambahkan tahi lalat ini.”
Aku berkata, “Tahi lalat ini bukan dilukis. Ini ludahku.”
Tuan Lü menatapku heran. “Apa maksudmu?”
Kusampaikan dugaanku. “Perempuan berbaju merah itu pernah menjeratku sampai aku tak bisa bergerak. Lalu aku meludahkan darah dari ujung lidah ke tenggorokannya.”
Setelah itu, kutunjuk tahi lalat merah tersebut. “Sebenarnya, itu darah dari ujung lidahku.”
Tuan Lü tiba-tiba mengerti. “Maksudmu, perempuan berbaju merah itu sama sekali tidak punya mayat? Dia juga sebuah lukisan?”
Aku mengangguk tegang.
Setelah kami memahami hal ini, Tuan Lü pun tampak gelisah. Ia meletakkan lukisan itu di atas meja dan tidak mau memegangnya lagi.
Aku memandang Tuan Lü. “Sekarang bagaimana?”
Tuan Lü menggaruk kepala. “Tak kusangka dia ternyata sebuah lukisan. Soal apa yang harus dilakukan, biarkan aku berpikir dulu.”
Saat Tuan Lü sedang mengernyitkan dahi, tiba-tiba terdengar sebuah suara berkata, “Apa yang kusuruh kalian bawa, sudah kalian bawa?”
Suara itu mengejutkanku. Tanpa sadar, aku langsung menoleh ke arah lukisan.
Beberapa detik kemudian, sesosok tubuh bangkit dari dalam lukisan, lalu melayang ringan hingga mendarat di lantai. Sosok itu menjelma menjadi perempuan berbaju merah.
Tuan Lü menatapnya dengan mata terbelalak. “Aku pernah mendengar ada orang-orang hebat yang kemampuan melukisnya begitu tinggi hingga melampaui batas kewajaran. Bahkan dengan tinta dan kertas biasa sekalipun, bunga, burung, dan manusia yang mereka lukis bisa memiliki nyawa. Konon, lukisan seperti itu disebut siluman lukisan.”
Perempuan berbaju merah tersenyum. “Siluman lukisan? Sepanjang sejarah, mungkin hanya Zhang Sengyou yang memiliki kemampuan seperti itu. Sayangnya, aku bukan hasil karya tangannya.”
Tuan Lü bertanya dengan mata terbelalak, “Kalau begitu, siapa dirimu?”
Perempuan berbaju merah menjawab, “Sama seperti kalian, aku juga pernah dilukis jiwanya. Jiwaku digambar di atas kertas.”
Tuan Lü berseru seolah baru memahami semuanya. “Begitu rupanya. Pantas saja.”
Perempuan itu kembali bertanya, “Mana benda yang kusuruh kalian bawa?”
Tuan Lü buru-buru mengeluarkan lukisan Buddha sedang membabarkan ajaran. “Sudah kubawa, sudah.”
Perempuan berbaju merah menatap lukisan itu. Wajahnya tampak bergetar karena emosi. Ia melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca, lalu bergumam, “Benar, dia memang orangnya. Benar, dia memang orangnya.”