Bab Seratus Tiga Puluh: [Persimpangan Hantu] Perhatikan catatan di akhir teks
Setelah kembali dari Kuil Bodhisatwa Jahat, Tuan Lu terus mendesakku untuk belajar ilmu Tao, tetapi aku menolaknya.
Tuan Lu bertanya dengan heran, “Zhao Mang, kalau kau sama sekali tidak belajar ilmu Tao, bagaimana kau akan melewati Festival Sembilan Ganda?”
Aku balik bertanya, “Kalau sekarang aku mulai belajar ilmu Tao, sampai sejauh mana kemampuanku ketika Festival Sembilan Ganda tiba?”
Tuan Lu menggaruk kepala. “Sampai sejauh mana? Setidaknya kau bisa masuk tahap pemula.”
Aku tersenyum. “Kemampuan tahap pemula, apa bedanya dengan kemampuanku sekarang? Kalau memang harus mati, aku tetap akan mati. Untuk apa aku bersusah payah?”
Mendengar itu, Tuan Lu hanya bisa tersenyum getir. “Ucapanmu memang tidak salah. Hanya saja, kalau sejak awal kau mau menerima tawaranku, keadaan hari ini mungkin akan berbeda.”
Aku perlahan menggeleng. “Entah kenapa, sejak tinggal di Rumah Kehampaan, hatiku selalu merasa tidak tenang. Setiap malam sebelum tidur, aku selalu berkata kepada diriku sendiri: Zhao Mang, kau hanya sementara menjaga rumah ini untuk Nenek Hantu Yin. Kau bukan bagian dari tempat ini. Kau seorang mahasiswa, berpendidikan, dan punya masa depan.”
Tuan Lu memandangku dengan seringai aneh, seolah-olah baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu.
Aku tidak memedulikan ekspresinya dan melanjutkan, “Sejak saat itu aku sudah bertekad untuk tidak belajar ilmu Tao. Aku selalu merasa, selama aku mempelajari ilmumu, berarti aku telah masuk ke dunia ini. Mulai saat itu, seluruh hidupku akan terikat dengan Rumah Kehampaan.”
Tuan Lu tersenyum tak berdaya. “Tapi kalau begini, kau sama sekali tidak punya kemampuan untuk melindungi diri. Itu juga bukan jalan keluar.”
“Siapa bilang aku tidak punya kemampuan melindungi diri?” jawabku. “Selama sebulan kau dan Bibi Sye pergi ke Perkampungan Air, bukankah aku tetap bisa bertahan hidup berkat kecerdasanku sendiri?”
Tuan Lu hanya bisa menghela napas. “Itu juga benar. Namun, ada hal-hal yang memang sudah ditakdirkan. Kau tidak akan mampu menolaknya. Menurutku, kau adalah bibit yang bagus. Mungkin sejak lahir kau memang ditakdirkan untuk mempelajari ilmu Tao. Aku hanya tidak tega menyia-nyiakan bakatmu, karena itu aku berkali-kali ingin mengajarimu.”
Aku berpikir sejenak, lalu berkata, “Kalau setelah Festival Sembilan Ganda aku masih bisa kembali hidup-hidup, aku akan belajar ilmu Tao darimu.”
Tuan Lu tertawa terbahak-bahak. “Kau sedang menekanku, ya? Tenang saja. Aku sudah berjanji kepada kakak seperguruanku. Tentu aku akan menemanimu pergi.”
Kemudian ia kembali merenung. “Walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Festival Sembilan Ganda, seharusnya itu akan sangat berbahaya. Dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, belum tentu aku bisa menyelamatkan nyawamu.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Sepertinya aku tidak bisa terus begini. Mulai hari ini, aku akan bertapa dalam pengasingan.”
“Bertapa untuk apa?” tanyaku.
“Untuk memahami manik-manik hitam itu. Kalau aku berhasil, peluang kita akan sedikit lebih besar. Selama beberapa hari ke depan aku akan terus berada di rumah Sye Cian. Kalau tidak ada keadaan khusus, jangan datang mencariku.”
Sye Cian sejak tadi mendengarkan percakapan kami dengan bosan. Begitu mendengar ucapan Tuan Lu, ia segera mengacungkan jempol kepadaku. “Zhao Mang, hebat juga kau. Hanya dengan beberapa patah kata, kau berhasil membuat Tuan Lu mengerahkan tenaganya untukmu.”
Aku tersenyum getir. “Hebat? Kalau aku memang hebat, aku tidak perlu menunggu kematian setiap hari.”
Selama beberapa hari berikutnya, Tuan Lu benar-benar tidak muncul lagi. Sementara itu, Sye Cian mulai mengurus toko suplemen kesehatannya. Toko itu sudah lama tutup. Tak disangka, begitu dibuka kembali, tempat itu langsung ramai didatangi pelanggan.
Pada masa itu, aku terus memegang telepon sepanjang hari. Sesekali aku menelepon keluargaku untuk memberi kabar bahwa aku baik-baik saja. Uang yang berhasil kukumpulkan selama beberapa waktu juga kukirimkan pulang, sambil berbohong bahwa aku telah mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Sebenarnya aku sangat ingin pulang menemui mereka, karena aku tahu, setelah Festival Sembilan Ganda mungkin aku tidak akan pernah bisa bertemu mereka lagi. Sayangnya, aku adalah pemilik Rumah Kehampaan dan tidak bisa pergi sesuka hati. Kalau aku pergi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?
Selama masa itu, semua hal yang tidak kulakukan selama bertahun-tahun kuselesaikan sekaligus. Sampai-sampai ibuku mulai curiga dan bertanya mengapa aku tiba-tiba menjadi begitu berbakti.
Aku mengusap leherku dan, entah mendapat dorongan dari mana, berkata, “Karena aku mendapatkan dasi kuning.”
Sore itu, setelah menutup telepon, perasaanku semakin gelisah.
“Festival Sembilan Ganda, Festival Sembilan Ganda.” Aku terus menggumamkan tiga kata itu sambil perlahan berjalan menuju toko Sye Cian.
Begitu masuk dan mengangkat kepala, aku langsung terpaku. Aku melihat dua orang siswa berseragam sekolah berdiri di depan meja kasir, sedang berbicara dengan Sye Cian.
Aku tidak tahan untuk bertanya, “Apa-apaan ini?”
Kedua siswa itu mendengar suaraku dan segera menoleh. Begitu melihat mereka, aku langsung tercengang.
Aku tidak mengenal gadis itu, tetapi aku langsung mengenali si anak laki-laki. Aku menunjuknya dan berkata, “Kau... bukankah kau Wang Zi?”
Wang Zi memandangku sambil tersenyum mengejek. Dengan nada sembrono ia berkata, “Siapa sangka, ternyata kau, Guru Zhao. Kenapa? Kau juga menyukai benda-benda seperti ini?”
Butuh beberapa saat sampai aku sadar sepenuhnya. Dengan marah aku berkata, “Untuk apa kau datang ke sini? Jangan bilang kau datang untuk membeli obat.”
Wang Zi melirik gadis di sampingnya. Gadis itu memerah dan menundukkan kepala.
Aku menatapnya dengan heran. “Benarkah kau datang untuk membeli benda semacam ini? Hei, kau tahu umurmu sendiri? Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini?”
Wang Zi memasang wajah tak peduli. “Sekadar mencari sedikit sensasi. Belajar saja sudah begitu melelahkan. Memangnya kenapa kalau keluar bersenang-senang?”
Dengan susah payah kutahan amarahku. “Apa kau masih ingat apa yang kukatakan waktu itu? Kau tahu bagaimana Guru Feng meninggal?”
Wang Zi melambaikan tangan. “Guru Zhao, jangan bahas orang tua itu lagi. Aku sudah mendengar dari ayahku. Bajingan itu hampir membunuh kami.”
Ia lalu mendongakkan dagu. “Jangan meremehkanku. Memangnya kenapa kalau aku datang membeli obat di sini? Aku tidak mencuri atau merampok. Siapa yang dirugikan?”
Setelah itu, ia mencubit gadis di sampingnya sambil berkata, “Lagipula, apa aku masih membutuhkan benda ini?”
Keduanya kemudian pergi.
Dengan kesal aku menatap Sye Cian. “Sye tua, jangan bilang kau menjual benda seperti itu kepada siswa?”
Sye Cian merentangkan tangan dengan wajah tak bersalah. “Zhao tua, jangan menuduhku sembarangan. Aku ini sangat teguh pendirian. Tadi anak itu masih terus membujuk dan berdebat denganku.”
Aku menghela napas dan duduk di kursi. “Sudahlah. Kematian Guru Feng benar-benar sia-sia. Anak-anak itu tetap akan hidup sesuka mereka.”
Sye Cian berjalan mendekat dan menepuk pundakku. “Jangan urusi mereka. Lebih baik kau urusi dirimu sendiri. Tinggal berapa hari lagi hidupmu? Masih saja memikirkan orang lain.”
Aku melambaikan tangan. “Jangan mendoakan kematianku. Siapa tahu aku bisa kembali hidup-hidup. Jangan lupa, mereka semua memanggilku Anak Langit Naga Sejati.”
Sye Cian tertawa dingin. “Ucapan itu boleh kau pakai untuk menghibur diri, tetapi jangan-jangan kau benar-benar mempercayainya?”
Aku dan Sye Cian mengobrol sebentar di dalam rumah ketika Sekretaris Wang tiba-tiba berlari masuk.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, kuceritakan kejadian tadi. Sekretaris Wang begitu marah sampai menghentak-hentakkan kakinya. Ia bersumpah bahwa begitu pulang nanti, ia pasti akan menghajar putranya. Setelah itu, ia terus meminta maaf kepadaku, mengatakan bahwa anak itu masih belum mengerti apa-apa dan telah bersikap kurang ajar kepada penyelamat hidupnya.
Setelah bertukar beberapa kata basa-basi yang tidak berarti, aku bertanya, “Sekretaris Wang, ada urusan apa kau datang ke sini?”
Sekretaris Wang menjulurkan leher dan memandang ke sekeliling toko. Kemudian ia bertanya, “Eh? Tuan Lu tidak ada?”
“Dia sedang bertapa dalam pengasingan. Sekarang tidak menerima tamu,” jawab Sye Cian.
Sekretaris Wang berpikir sejenak, lalu berkata, “Kalau begitu, kalian berdua ikutlah denganku.”
Aku buru-buru melambaikan tangan. “Sekretaris Wang, kita harus memperjelas satu hal terlebih dahulu. Aku tidak ingin lagi ikut campur dalam urusan hantu dan hal-hal gaib. Dasi kuning itu sudah cukup menyusahkanku.”
Sye Cian ikut menimpali, “Benar. Walaupun umur pendek, tetap saja itu hidup.”
Aku menendang kakinya. “Umurku masih panjang.”
Sekretaris Wang tersenyum canggung. “Lihatlah, kenapa setiap kali aku mencarimu, urusannya harus selalu berkaitan dengan hantu? Tenang saja, kali ini sangat aman. Kau telah menyelamatkan nyawa putraku, tetapi aku belum pernah berterima kasih dengan layak. Dua hari lalu aku mendengar bahwa suasana hatimu sedang kurang baik, jadi aku ingin mengajakmu berjalan-jalan untuk menghibur diri.”
Begitu mendengar itu, Sye Cian mengangguk puas. “Bagus juga. Zhao tua, ayo kita pergi. Melihat pemandangan di luar akan membuat pikiran kita lebih lapang.”
Dalam hati aku mengakui bahwa ucapan Sye Cian ada benarnya. Walaupun umurku mungkin pendek, tetap saja itu hidup. Kalau begitu, mengapa tidak bersenang-senang selama beberapa hari?
Mobil Sekretaris Wang sudah terparkir di depan pintu. Kami mengunci pintu, naik ke mobil, lalu berangkat.
Hari itu kami berjalan-jalan dari sore hingga malam. Setelah itu, Sekretaris Wang mengantarku kembali ke Rumah Kehampaan. Selama beberapa hari berikutnya, semuanya berlangsung seperti itu. Kami berangkat pagi dan pulang larut malam, bermain sampai kelelahan. Hampir semua kabupaten dan kota di sekitar tempat itu kami datangi. Lagi pula, ada orang yang membayar makan, minum, dan segala kesenangan kami. Siapa yang akan menolaknya?
Hingga pada hari kelima, Sekretaris Wang membawa seorang pria paruh baya lainnya.
Sekretaris Wang memandangku dan Sye Cian dengan wajah agak malu. “Hari ini aku harus menghadiri rapat, jadi tidak bisa menemani kalian keluar. Namun, orang ini berpengalaman. Dia adalah salah satu pejabat kota kita yang bertanggung jawab atas urusan transportasi. Kalian bisa memanggilnya Direktur Liu. Dia yang akan menemani kalian. Pasti akan menyenangkan.”
Aku menolak dengan halus. “Kalau kau ada urusan, kita pergi lain kali saja. Tidak perlu merepotkan orang lain.”
Tak kusangka, Direktur Liu justru menatapku dengan penuh rasa terima kasih. “Guru Zhao, kaulah yang menyelamatkan nyawa anakku. Hari ini, bagaimanapun juga, aku harus melakukan sesuatu untukmu.”