Cahaya Bulan di Atas Lean
“Namaku Jalana, memang usiaku agak tua, warna rambut dan mataku seperti ini karena aku memiliki darah Timur…” Jalana tersenyum, menjawab pertanyaan Elan dengan mengalihkan inti pembicaraan, tanpa menyebutkan nama belakangnya. Ia lalu bertanya, “Kenapa kalau memakai jubah biru tua langsung dianggap kakak tingkat?”
“Kau tidak tahu ya? Tingkatan di Universitas Sihir Kolam Biru bisa dibedakan dari warna jubah dan bentuk lambang mahasiswa,” jawab Elan dengan mata bulatnya yang menggemaskan membesar. “Biru muda, biru langit, dan biru es untuk tingkat dasar; biru nila, biru zamrud, dan biru laut untuk tingkat menengah; biru samudra, biru tua, dan biru gelap untuk tingkat atas. Masing-masing juga dibagi menjadi tiga tingkat, lalu yang paling tinggi, biru permata di tingkat sepuluh, adalah warna khusus kelas akhir!”
“Semakin gelap warnanya, semakin tinggi tingkatnya. Sedangkan seperti aku ini… ya, model jubah biru muda untuk siswa baru tingkat satu.” Ia menunjuk jubah biru mudanya sendiri, lalu dengan malu-malu menarik ujung roknya, seolah tak terlalu menyukai bahan jubah itu. “Jalan, jubah yang kau pakai pasti milikmu sendiri ya? Biru gelap itu warna khas untuk kakak tingkat sembilan. Di dalam kampus harus memakai seragam sesuai tingkat masing-masing, tidak boleh asal pakai, nanti bisa disalahpahami! Kalau sampai dilihat kakak tingkat, bisa repot!”
[Gadis yang menarik.]
Terdapat secercah tawa di mata Jalana. Ia merasa bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya dari gadis ini. Sesuai penjelasan Elan, ia melirik kerumunan mahasiswa yang mulai sibuk di pelataran kampus. Benar saja, meski seluruhnya berbalut biru, warna biru itu beraneka tingkat kegelapannya.
Alasan Universitas Sihir Kolam Biru memilih “biru” sebagai warna identitasnya, barangkali berkaitan dengan bulan utama musim gugur, “Buku Leian”. Bulan terkecil di dunia Eberon ini memancarkan cahaya biru lembut. Pada malam yang terang, pegunungan di permukaannya terlihat jelas, bentuknya mirip goresan pena di halaman buku.
“Buku Leian” juga diyakini mampu meningkatkan daya ingat, kreativitas, dan kemampuan berpikir. Para penyihir, ilmuwan, peneliti, juga para penari, musisi, penyair, dan seniman lainnya, semua bisa memperoleh inspirasi dengan berjemur di bawah cahaya biru lembut bulan ini.
Di benua Kowarei tempat mereka berpijak, “Buku Leian” adalah simbol utama seluruh lembaga keilmuan, tapi tak satu pun lembaga berani mengklaimnya sebagai lambang eksklusif mereka. Bahkan tiga pusat pengetahuan terbesar di Kowarei: Perpustakaan Kolamburg di kota Kolamburg, Kerajaan Girago, yang memiliki dua belas akademi besar; Akademi Mogreif di kota Saan, Kerajaan Brulan, yang dijuluki “Kota Seribu Menara”; dan Akademi Kerajaan Winaen di kota Felheven, Kerajaan Andel, yang disebut “Kerajaan Sihir”, semuanya tidak berani menguasai simbol “Buku Leian”. Universitas Sihir Kolam Biru hanya meminjam warna bulan itu sebagai identitas, mengambil jalan tengah yang cerdik.
Jalana memperhatikan, di dada beberapa mahasiswa Universitas Sihir Kolam Biru terpampang lambang bulan sabit, namun bentuknya berbeda sesuai tingkatan. Tingkat dasar memakai “bulan sabit menurun”, tingkat menengah “bulan setengah”, dan tingkat atas “bulan sabit naik”. Di bagian bayangan sabit itu, terdapat gambar tumpukan satu, dua, atau tiga buku dan nomor angkatan, untuk menandai tingkatan dan identitas mahasiswa—maklum, tidak semua orang bisa membedakan gradasi biru dengan jelas.
Jalana tak melihat lambang “bulan purnama”, tapi ia menduga, siswa kelas akhir pasti memakai lambang itu, melambangkan kelulusan dan kesempurnaan.
Ia secara naluriah melirik dada Elan. Gerakannya yang sedikit tak sopan itu membuat gadis itu malu dan menunduk. “Aku baru menerima surat penerimaan dari Universitas Sihir Kolam Biru, belum resmi mendaftar, jadi belum diberikan lambang mahasiswa,” ucap Elan gugup.
Melihat Jalana tampak bingung, Elan pun menjelaskan, “Kau tidak tahu? Asal dapat surat rekomendasi dari keluarga terpandang di kampung halaman, selama masa festival masuk kampus seminggu penuh, bisa ikut ujian masuk Universitas Sihir Kolam Biru. Kalau lulus, barulah bisa belajar sihir di sana.”
Mendengar penjelasan itu, Jalana berpikir sejenak, lalu bertanya, “Elan, apakah surat rekomendasi dari daerahmu sulit didapat?”
Elan tertegun, lalu dengan wajah sedikit canggung dan nada minder, ia menjawab, “Ayahku adalah kepala rumah tangga di keluarga Tuan Maipdole, seorang ‘Ksatria Kehormatan Kelas Delapan Sementara’ di Desa Gandum, wilayah Grayan, dekat kota Talandor. Jadi… ayahku menukar jasanya selama tiga tahun tanpa bayaran demi mendapatkan surat rekomendasi itu untukku…”
Bahkan dengan daya ingat Jalana yang tajam, ia hampir dibuat pusing oleh penjelasan Elan yang berbelit-belit. Untungnya, ia akhirnya paham: sang “Ksatria Kehormatan Kelas Delapan Sementara” Maipdole itu tampaknya sekadar gelar kehormatan hasil sumbangan, tanpa hak waris atau lahan turun-temurun—hanya seorang bangsawan kecil yang tidak berarti.
Namun, gelar kehormatan tetaplah bangsawan. Jika bahkan bangsawan sekecil itu punya hak merekomendasikan, berarti ambang masuk Universitas Sihir Kolam Biru amat rendah—hampir tak terbayangkan!
Jalana jadi bingung, sejak kapan ilmu sihir tingkat tinggi mulai dibuka untuk rakyat jelata? Apakah ini demi menjaring bakat dari kalangan bawah? Atau, jangan-jangan ini hanya akal-akalan untuk mengeruk uang?
Perlu diketahui, pada masa Jalana, ada sebuah ungkapan: “Dunia Sihir, Orang Biasa (Miskin) Menjauh!” Memang kenyataannya begitu. Setiap penyihir butuh sumber daya melimpah agar bisa berkembang, dan biaya belajar sihir sangatlah fantastis—sungguh sebuah kemewahan yang tak mampu dijangkau orang kebanyakan.
Jalana bertanya hati-hati, “Elan, apakah kau yakin bisa lulus ujian masuk?”
“Aku belum tahu. Kabarnya ujian masuk terdiri dari dua bagian: teori sihir dan tes bakat unsur. Ujian teori cukup membayar lima keping perak Jim, tapi tes bakat unsur harus bayar lima keping emas Taran. Kalau ternyata punya bakat unsur, dapat hak masuk dan bisa ajukan pinjaman pendidikan ke kampus…” Elan ragu-ragu, lalu berkata cemas, “Ayah sudah memberikan semua tabungannya padaku. Kalau sampai hasil tesnya aku tak punya bakat unsur… Aku… aku…”