Warisan Teman-1
Tidak ada! Tidak ada! Tidak ada! Itu benar-benar sudah tidak ada! Hati Jialan perlahan-lahan mulai diliputi kegembiraan yang luar biasa. Memikirkannya, memang masuk akal—jiwa asing yang tidak pernah mempelajari hukum-hukum meditasi dan terperangkap dalam sebuah tubuh yang masih memiliki pemilik, sama sekali tidak mungkin memiliki cara apa pun untuk memperkuat kekuatan jiwanya. Seratus tahun, bahkan ratusan tahun, sudah cukup untuk membuat jiwanya melemah hingga tidak mampu lagi mempertahankan kesadaran, lalu lambat laun lenyap dalam ruang dan waktu.
Meskipun di Dunia Ajaib ada istilah “jiwa abadi”, itu hanya berlaku untuk makhluk-makhluk spiritual yang kuat. Jiwa biasa, setelah meninggalkan wadah tubuh, akan menghilang tanpa jejak dalam waktu yang sangat singkat.
Jiwa asing itu hanya bisa bertahan karena menumpang di tubuh Jialan, sehingga tidak langsung menghilang setelah ritual pemanggilan selesai. Namun, karena tetap terkurung dalam tubuh ini tanpa bisa memperkuat diri, ia hanya mampu bertahan selama umur jiwa manusia biasa—tidak lebih dari seratus tahun.
Entah mengapa, Jialan tiba-tiba merasa sedikit pilu. Bagaimanapun, jiwa asing yang menyebalkan itu adalah satu-satunya “manusia” yang berasal dari zaman yang sama dengannya. Kini, bahkan ia pun telah lenyap. Apakah itu berarti, di dunia ini hanya tinggal dirinya seorang yang masih membawa jejak zaman itu dalam ingatan?
Ia bukan milik zaman ini, dan zaman ini pun bukan miliknya!
Perasaan sunyi yang tak terjelaskan membuat semangat Jialan sedikit surut. Namun, ketika kesadarannya menyentuh keberadaan lain, ia hampir saja melompat kaget!
Masih ada?
Jialan tak tahu apakah ia seharusnya merasa senang atau justru kecewa. Perasaannya saat ini mirip seperti mendengar kabar kematian seorang teman yang sangat menyebalkan. Ketika masih ada, Jialan membencinya, bahkan sampai ingin mencekiknya setiap kali ia membuat keributan dalam benaknya. Namun saat benar-benar sudah tiada, Jialan justru merasa sedih dan kehilangan, juga khawatir kalau-kalau saat pemakaman nanti, teman sialan itu tiba-tiba bangkit dari peti mati, tertawa terbahak-bahak, dan mengumumkan bahwa semua itu hanyalah lelucon.
Jika temannya benar-benar berani melakukan hal seperti itu, Jialan yakin ia akan memaksanya kembali ke dalam peti lalu menimbunnya dengan tanah sendiri!
Jialan menyentuh keberadaan tak kasatmata itu dengan hati-hati. Terasa sangat ringan, sama sekali tidak memiliki “berat” yang seharusnya dimiliki sebuah jiwa.
Sepertinya, teman itu memang benar-benar sudah lenyap. Namun, mengapa masih tertinggal sebuah cangkang jiwa yang begitu tipis hingga hampir tak terlihat, bahkan Jialan sendiri nyaris tak menyadarinya jika tidak hati-hati?
Kejadian ini di luar pemahaman Jialan sebagai Seorang Cendekia terhadap dunia jiwa. Demi memastikan tak ada bahaya tersembunyi, dengan penuh kewaspadaan ia mengirimkan kesadarannya masuk ke dalamnya. Namun, begitu kesadarannya menembus “cangkang jiwa” itu, cangkang yang tadinya ringan itu tiba-tiba menutup seperti perangkap tikus, menggigit dan merobek sebagian besar kesadaran Jialan!
Brak!
Tubuh Jialan jatuh terhempas ke tanah, kaku seperti sebatang kayu...
“Halo! Halo? Teman? Tidur di sini bisa-bisa kamu jatuh sakit, lho!”
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, seorang gadis mengenakan jubah sihir biru muda mengguncang bahu Jialan dengan cemas, membangunkannya dari tidur lelap.
Dengan susah payah, Jialan membuka matanya yang berat. Ia menatap kosong ke arah gadis itu, seperti masih belum sepenuhnya sadar. Gambar-gambar yang berganti-ganti di depan matanya dan suara yang terdengar samar serta terdistorsi membuatnya merasa seperti sedang menghadapi tarian iblis dan auman binatang buas.
Itu bukan jebakan. Meski kesadarannya sempat terbelah dua, di tengah keterkejutan dan kemarahannya, Jialan justru menerima sejumlah informasi yang ditinggalkan oleh jiwa asing aneh itu dalam “cangkang jiwa”:
“Hai! Tuan rumah, izinkan aku memanggilmu demikian!”
“Jika suatu hari kamu bisa melihat pesan ini, terimalah dua jari tengahku sebagai tamu kos di tubuhmu!”
“Aku tidak tahu bajingan mana yang membawaku ke sini, dan juga tak paham kenapa bisa harus berbagi tubuh denganmu. Tapi ini bukan salahku!”
“Secara teori, menurut hukum para penjelajah dunia, karena aku sudah datang, bukankah seharusnya kamu yang mengalah dan menyerahkan tempat?”
“Aku sempat berpikir, tak lama lagi aku akan menjadi sangat kuat, menjadi penyelamat dunia, diangkat jadi raja agung, menikahi putri kecil, dan menapaki puncak kehidupan. Membayangkannya saja sudah cukup membuatku bersemangat, hehe~”
“Tapi ternyata tidak, dan aku bahkan tidak bisa merampas tubuhmu. Ini benar-benar membuatku kesal! Yang lebih menyebalkan lagi, kamu juga tak bisa menelan kesadaranku. Dua pria dewasa berbagi kesadaran dalam satu tubuh, ini sebenarnya maunya apa sih?”
“Baiklah, setelah sekian lama merasa frustasi, akhirnya aku pasrah. Mungkin tugasku memang menjadi kakek pembimbing yang selalu menempel, membantumu jadi penyelamat dunia, diangkat jadi raja agung, menikahi putri kecil, dan menapaki puncak kehidupan. Bukankah itu juga cukup membuatku semangat, hehe~”
“Tapi siapa sangka, ternyata kita berdua sama sekali tidak bisa berkomunikasi. Dari situ aku sadar, betapa pentingnya menguasai bahasa asing!”
“Aku pernah mencoba menarik perhatianmu, menyebutkan nama-nama benda yang kulihat lewat matamu, berharap bisa melatihmu menguasai bahasa asing agar kita bisa saling memahami. Tapi kau sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Ini sungguh aneh!”
“Kamu pasti penasaran, kenapa aku tidak sekalian belajar bahasa kalian?”
“Bukan aku tidak berusaha, tapi bahasa kalian jauh lebih rumit dari semua bahasa yang pernah kuketahui. Terutama bahasa yang sering kamu gumamkan itu, benar-benar berbeda dari yang biasa kamu gunakan sehari-hari!”
“Yang paling membuatku frustasi, kau ternyata memakai lebih dari sepuluh jenis bahasa sekaligus. Apa kau penerjemah internasional atau apa?”
“Sebagai orang yang delapan kali gagal ujian bahasa tingkat empat, aku benar-benar tertekan!”
“Baiklah, setelah waktu yang sangat lama, aku kembali pasrah... Eh? Kenapa aku bilang ‘kembali’?”
“Sampai akhirnya, suatu hari kau sial sekali dibekukan oleh bongkahan es besar. Aku curiga kau sudah mati, dan itu membuktikan dugaanku selama ini: kau memang bukan tokoh utama!”
“Kau tahu, dalam wujud jiwa, aku sudah kehilangan konsep waktu. Secara teori, seharusnya aku tak akan merasa bosan. Tapi kenyataannya, menontonmu tidur sepanjang hari benar-benar membosankan!”
“Aku tidak tahu apakah kau masih punya kesempatan untuk bangun lagi, tapi aku rasa aku sendiri sudah hampir tak tahan. Sensasi permainan tunggal seperti ini benar-benar menyiksa. Sepertinya aku pun tak bisa kembali, jadi aku memutuskan untuk menghilang sendiri, ya, istilahnya ‘bunuh diri’.”