Restoran Barbeku Sihir Api
Seorang gadis muda melakukan perjalanan seorang diri dari kampung halamannya yang terpencil, Desa Jerami Gandum, menuju Kota Kolan yang berjarak ratusan kilometer untuk menuntut ilmu. Dalam situasi di mana ia sama sekali tak memiliki sanak saudara, satu-satunya teman sebaya yang ia kenal dekat hanyalah Jialan. Di lingkungan yang asing, mau tak mau muncul perasaan bergantung, keinginan tak sadar untuk selalu bersama teman dan enggan berpisah.
Sementara itu, Jialan yang sejak kecil tumbuh di bawah asuhan guru, hanya dikelilingi oleh para penyihir senior yang umumnya sudah berumur. Hal ini membuatnya belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi sandaran bagi teman sebaya yang lebih muda. Perasaan semacam ini baginya sangat baru, dan harus diakui, menjadi seseorang yang dibutuhkan dan diandalkan… rasanya sungguh menyenangkan.
Dengan senyum hangat, Jialan menepuk lembut kepala gadis yang rambutnya disanggul itu, lalu mengambil kembali barang-barang yang tak terlalu berat dari tangan sang gadis, dan berjalan menuju Perpustakaan Besar.
Ailan sempat tertegun oleh sikap akrab Jialan, namun dengan cepat kedua pipinya memerah malu. Ia pun melompat-lompat kecil mengikuti dari belakang dengan gembira, sambil menceritakan berbagai hal baru yang ia temui di Universitas Sihir Kolan.
Tanpa ia sadari, cara bicaranya pada Jialan perlahan berubah menjadi agak manja, mirip seperti saat ia kecil mengikuti kakak laki-laki dari desanya.
Universitas Sihir Kolan, sebagai bangunan kota yang menampung ratusan ribu orang, selain dilengkapi fasilitas hidup yang sangat lengkap seperti pasar dan restoran, juga menyediakan berbagai tempat hiburan untuk mahasiswa bersantai, seperti kedai minum, aula musik, dan teater.
Setiap fakultas pun memiliki fasilitas layanan sendiri, dan restoran khas jurusan masing-masing tentu tak dapat dilewatkan. Misalnya, restoran Panggang Api dari Fakultas Sihir Api yang khusus menjual aneka makanan panggang dan sangat tersohor. Tiap jam makan, selalu saja ramai oleh mahasiswa dari fakultas lain yang datang.
Namun, karena kepopulerannya, hal itu juga menjadi kendala bagi para pengunjung. Restoran Panggang Api yang cukup luas itu selalu penuh sesak, sehingga mencari tempat duduk sangatlah sulit.
Ketika Jialan dan Ailan tiba di fakultas sihir api, waktu sudah cukup larut dan tentu saja sudah tak ada lagi kursi kosong. Mereka pun harus memilih: menunggu sampai pengunjung lain selesai dan mendapatkan tempat, atau membeli makanan untuk dibawa pulang.
Namun, hidangan andalan restoran Panggang Api, yaitu “Paha Anak Rusa Panggang Berbumbu”, paling nikmat disantap selagi masih hangat. Jika dibawa pulang dan sudah dingin, rasanya akan jauh berkurang. Itulah mengapa banyak mahasiswa yang sengaja rela menunggu demi bisa menikmati hidangan itu di tempat.
Jialan sendiri tidak terlalu suka dengan keramaian dan kebisingan. Menurutnya, lebih baik membeli makanan untuk dibawa ke asrama, meski rasanya menurun sedikit, daripada harus berdesakan di tengah keramaian.
Namun, Ailan tampak kecewa melihat lautan manusia di restoran. Ia sudah sengaja ingin mentraktir Jialan di sini sebagai tanda terima kasih. Mana mungkin makanannya dibungkus dan dimakan seadanya? Menghadapi keinginan keras gadis itu, Jialan pun akhirnya bersedia menunggu bersama.
Mereka menunggu lebih dari satu jam hingga perut Ailan mulai berbunyi, barulah tiba giliran mereka. Ailan dengan gembira menarik Jialan menuju meja yang baru saja kosong.
Namun, tiba-tiba dua orang muda-mudi berpakaian mewah, dengan sikap tak acuh dan diiringi pelayan, langsung menempati meja yang seharusnya menjadi milik Jialan dan Ailan.
Kejadian tak terduga ini membuat Ailan yang sudah berada di samping meja tertegun. Ia melirik pria tampan dengan aura bangsawan yang mengenakan pakaian mahal, lalu pada wanita cantik yang mengenakan perhiasan permata lengkap, dan akhirnya melihat ke jubah sihir sederhana yang ia kenakan. Ia pun merasa minder dan dengan suara ragu berkata, “Maaf... Teman, ini sebenarnya tempat duduk kami!”
Bagaikan seekor ayam jantan yang pamer bulu demi menarik perhatian betina, pemuda bangsawan itu, dengan penuh semangat pada wanita di depannya, menatap Ailan dan Jialan dengan kesal. Ia bahkan enggan berkata-kata dan hanya mengibaskan tangan seolah mengusir dua lalat.
Jialan menarik tubuh Ailan ke belakang, lalu melangkah mendekat dan hendak berbicara. Namun, pelayan di belakang si bangsawan tiba-tiba menghadang dan mencegah mereka mendekat. Dengan suara rendah dan penuh hinaan, ia berkata, “Pergi sana, kalian rakyat jelata yang kotor! Tidakkah kalian lihat Tuan Muda Kasmer dan Nona Mari sedang makan?”
Jialan hanya bisa tertawa geli; tak menyangka ia akan mengalami saat dihardik pelayan sebagai “rakyat jelata”. Ia menunjuk ke meja, “Kalian sepertinya salah duduk. Meja ini sudah kami pesan…”
Pelayan itu menilai penampilan Jialan dan Ailan, lalu dengan nada menghina berkata, “Tempat semewah ini, mana layak kalian datangi?” Ia sempat mengeluarkan beberapa koin perak, tampak ingin memberikannya pada Jialan.
Namun, setelah melirik ke arah Tuan Muda Kasmer yang sedang asyik berbincang dengan Nona Mari, ia memasukkan kembali koin perak itu dan menggantinya dengan beberapa koin tembaga, lalu melemparkannya ke arah Jialan. Dengan ekspresi jijik, ia mengibaskan tangan dan membisiki, “Pergi sana! Ambil saja hadiah dari Tuan Muda Kasmer, belilah roti hitam dan jangan ganggu orang-orang terhormat sedang makan di sini!”
Jialan tetap tersenyum ramah, melangkah melewati pelayan itu, dan mengetuk meja dengan sopan, “Maaf, silakan minggir! Meja ini sudah kami pesan. Jika kalian ingin makan, silakan antre di luar.”
Tuan Muda Kasmer dan Nona Mari menatap heran, seolah tak percaya ada yang berani mengganggu mereka. Pelayan yang merasa diabaikan itu lantas marah dan mendorong bahu Jialan, “Kamu…”
Namun, bahkan sebelum tangannya menyentuh Jialan, langkahnya seperti kehilangan pijakan. Tubuhnya oleng dan jatuh ke depan. Ia berteriak kaget, berusaha menyeimbangkan diri, lalu tersandung beberapa langkah hingga akhirnya berhasil menarik taplak meja sebelah, menumpahkan seluruh piring dan alat makan dengan suara gaduh.
Dua mahasiswi di meja sebelah melompat sambil menjerit, panik menepuk-nepuk jubah sihir mereka yang terkena kuah makanan. Kejadian itu langsung mengundang perhatian seluruh mahasiswa yang sedang makan di restoran, membuat suasana mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Jialan dan Ailan.
“Kamu siapa? Kenapa mengganggu kami makan!?”
Tuan Muda Kasmer berdiri marah. Barulah saat itu pikirannya beralih dari pesona Nona Mari, menandakan bahwa sejak tadi ia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Jialan.