Bab 143 Menepis Niat Mundur Sang Ayah Mertua
Di dapur, Feng Yifan mengawasi kukusan bakpao sambil terus memberikan pengarahan kepada Lin Ruifeng.
"Saat memotong dadu tadi, tanganmu kurang stabil. Potongan ayamnya terlalu besar, dan potongan rebungnya juga kurang halus. Kamu harus lebih teliti, detail sekecil apa pun tidak boleh diabaikan."
Lin Ruifeng mendengarkan dengan rendah hati dan mencatat setiap kesalahan yang ditunjukkan gurunya.
Setelah Feng Yifan selesai memasak bubur yang disiapkan pagi itu dan bakpao serta shumai di atas kompor sudah matang, ia meminta muridnya untuk membereskan dapur, sementara ia naik ke lantai atas untuk membantu ayah mertuanya bersiap.
Anggota keluarga lainnya mulai turun satu per satu setelah selesai mandi. Lin Ruifeng pun telah menata sarapan di meja dan menyelesaikan tugasnya.
Saat Feng Ruoruo turun, ia berjalan di belakang ayahnya, tangan kecilnya memegangi punggung sang kakek dengan lembut, seolah takut kakeknya akan merosot dari punggung ayahnya.
Kursi roda dibawa turun oleh Su Ruoxi, dan melihat itu, Lin Ruifeng sigap mengambil alih untuk membukanya. Setelah sang ayah mertua duduk dengan nyaman, Feng Yifan mendorong kursi roda itu ke meja makan.
Keluarga itu berkumpul mengelilingi meja. Melihat shumai berwarna hijau zamrud, Feng Ruoruo tidak tahan lagi dan berkata, "Ayah, cepatlah, Ruoruo sudah lapar. Mau makan shumai itu."
Feng Yifan mengambilkan shumai ke piring kecil putrinya dan memberikannya seraya berkata, "Hati-hati, masih agak panas."
Mendengar itu, Feng Ruoruo segera merengek, "Ayah, tiupkan untukku."
Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan penuh harap sambil menyodorkan piring kecilnya. Tingkahnya yang manja benar-benar menggemaskan.
Lu Cuiling tertawa melihatnya, "Lihat, sekarang kalau tidak ada Ayah, dia hampir tidak bisa makan sendiri."
Mendengar ucapan neneknya, Feng Ruoruo menjawab dengan bangga dan ceria, "Benar, harus Ayah yang meniupnya."
Feng Yifan memegang tangan kecil putrinya untuk menahan piring, lalu menunduk meniup uap panas dari shumai di piring itu.
"Nah, sudah Ayah tiupkan. Sekarang tidak panas lagi, coba cicipi."
Melihat ayahnya meniup makanannya dengan serius, Feng Ruoruo sangat senang. Ia mengambil shumai zamrud itu dengan tangannya, sempat memamerkannya di depan nenek, kakek, ibu, dan Paman Lin, sebelum akhirnya menggigitnya dengan lahap.
"Enak sekali! Suka shumai buatan Ayah, Ruoruo suka yang manis."
Lu Cuiling tidak bisa menahan rasa cemburunya, "Aduh, sekarang apa-apa harus Ayah ya. Padahal semalam saat tidur dengan Nenek, bilangnya Nenek yang paling hebat."
Feng Ruoruo segera mendekat ke neneknya dan memeluk lengannya dengan riang, "Nenek juga hebat!"
Melihat gadis kecil itu berusaha mengambil hati neneknya dan bahkan menyuapi nenek dengan shumai yang sudah ditiup ayahnya, seisi keluarga pun tertawa.
Setelah itu, Feng Yifan mengambil mangkuk kecil dan duduk di samping ayah mertuanya untuk menyuapinya bubur. Sembari menyuap, ia menceritakan tentang dua orang, seorang tua dan seorang muda, yang ia temui dua kali di pasar pagi tadi.
Su Jinrong menelan bubur putihnya, mendengarkan penjelasan menantunya, lalu berpikir sejenak dan berkata, "Orang yang kamu maksud adalah paman seperguruan dari Su Ji, asisten kakekmu saat perjamuan negara."
Mendengar hal itu, Feng Yifan dan Su Ruoxi terkejut, sementara Lu Cuiling pun menoleh dengan penasaran. Bagi Feng Yifan dan Su Ruoxi, partisipasi kakek Su Ruoxi dalam perjamuan negara adalah kenangan yang cukup jauh. Bahkan dalam ingatan kehidupan masa lalu Feng Yifan, ia belum pernah bertemu dengan sosok paman seperguruan tersebut.
Saat Su Ruoxi lahir, restoran Su Ji sudah mengalami kemunduran setelah bibi dan kakak seperguruan tertuanya pergi. Meski kakek masih hidup saat itu, kejayaan Su Ji mulai memudar. Dalam ingatan Su Ruoxi, kakeknya adalah sosok yang baik namun selalu tampak murung. Setelah kakeknya sakit, ayahnya mengurus segalanya sendirian, dari restoran hingga rumah sakit, sampai sang kakek mengembuskan napas terakhir. Karena situasi itulah, ayahnya terpaksa melewatkan kesempatan untuk ikut serta dalam perjamuan negara.
Su Jinrong melanjutkan dengan tenang, "Saat kakekmu meninggal, dia datang. Belakangan, dia datang lagi untuk membujukku pindah ke utara, tapi aku tidak bisa meninggalkan rumah ini, jadi aku menolaknya."
Mendengar ketenangan ayah mertuanya, Feng Yifan tersadar bahwa pria itu sebenarnya telah banyak mengorbankan kesempatan dalam hidupnya. Kesempatan perjamuan negara dilepaskan demi merawat sang ayah, tawaran merantau ke utara ditolak demi menjaga rumah, bahkan setelah istrinya meninggal pun, ia tetap memilih untuk tidak menikah lagi demi menjaga restoran.
Feng Yifan merasa, menjaga papan nama tua itu adalah janji suci sang ayah mertua kepada leluhurnya. Ia tidak ingin kejayaan materi, ia hanya ingin menjaga cita rasa asli Su Ji.
Su Jinrong terdiam sejenak lalu menambahkan, "Dia datang karena Su Lanxin."
Feng Yifan memahami bahwa di balik sikap tenang ayah mertuanya, ada rasa tidak rela jika orang luar mencampuri urusan mereka. Ia berkata dengan tegas, "Ayah, tenang saja. Siapa pun yang datang, mereka tidak akan bisa mengambil papan nama itu."
Su Jinrong menatap menantunya, lalu beralih ke arah putrinya, cucunya, dan besannya. Tiba-tiba, ia merasa bahwa bagi keluarga kecil yang bahagia ini, papan nama tua itu mungkin tidak lagi menjadi yang terpenting.
"Jika papan nama itu kuberikan pada mereka, apakah kamu tetap bisa menjalankan restoran ini?" tanya Su Jinrong.
Mendengar itu, Lin Ruifeng yang sedari tadi diam tiba-tiba menyahut, "Tidak boleh, Paman Rong! Itu barang milik Paman, bagaimana bisa diberikan pada orang lain?"
Ucapan penuh semangat Lin Ruifeng mengejutkan semua orang. Setelah hening sejenak, Feng Yifan menepuk pundaknya sambil tersenyum, "Lanjutkan makanmu."
Namun, Feng Ruoruo justru mendukung Paman Lin, "Ruoruo dukung Paman Lin! Barang Kakek tidak boleh diberikan ke orang lain. Barang Kakek ya milik Kakek."
Suasana yang tadinya tegang seketika mencair karena ucapan polos sang gadis kecil. Su Ruoxi tersenyum pada putrinya, "Tentu saja tidak boleh. Sekarang makanlah dengan benar, jangan bicara saat makan."
Feng Yifan menatap ayah mertuanya dengan senyum percaya diri, "Ayah, ada atau tidaknya papan nama itu, aku yakin bisa terus menjalankan restoran ini dengan baik. Aku akan berusaha keras."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Namun, menurutku Paman Lin dan Ruoruo benar. Papan itu adalah warisan kakek untuk Ayah, maka itu adalah milik Ayah. Ayah tidak perlu berkompromi atau menyerahkannya pada siapa pun."
Su Jinrong menatap menantunya dengan tatapan sendu, seolah merasa bersalah karena tidak bisa mengembangkan warisan tersebut.
"Ayah, aku mengerti perasaan Ayah. Ayah merasa telah gagal meneruskan warisan leluhur. Tapi bagiku tidak demikian. Ayah tetap bertahan di restoran ini, menjaga setiap hidangan dengan rasa yang otentik. Ayah tidak mengecewakan papan nama itu, Ayah telah menjaganya dengan sangat baik."
Kata-kata menantunya itu memberikan ketenangan di hati Su Jinrong. Ia merasa menantunya benar-benar memahami dirinya.
Feng Yifan tersenyum lembut, "Ayah, tenanglah. Papan itu milik Ayah, aku akan membantu menjaganya. Tidak akan ada yang bisa merebutnya dari tangan Ayah."
Feng Ruoruo ikut berseru, "Benar! Barang Kakek tidak boleh direbut orang lain. Ayah, Ayah harus melindungi barang Kakek ya!"
Feng Yifan mengambil tisu untuk mengelap sudut mulut putrinya, "Tenang saja Ruoruo, Ayah pasti akan menjaga barang Kakek dengan baik."