Bab 124: Rutinitas Menyelinap ke Dapur Belakang
Tiga gadis kecil yang tadi sempat menghilang itu, tentu saja sudah menyelinap masuk ke dapur belakang Su Ji, bersiap meminta Feng Yifan untuk membuatkan mereka makanan lezat.
Saat masuk ke dapur, Yang Xiaoxi dan Chen Yaofei bersikap sangat sopan. Bahkan ketika melihat ayah Ruoruo sedang sibuk, kedua gadis kecil itu merasa sedikit sungkan untuk berbicara, mereka hanya berdiri terpaku di dekat meja dapur.
Namun, berbeda halnya dengan Feng Ruoruo. Dapur belakang Su Ji adalah wilayah kekuasaannya, terlebih lagi sejak ayahnya kembali, tempat ini menjadi dunianya sendiri.
Maka, si kecil Feng Ruoruo berdiri dengan gaya penuh percaya diri di dekat meja dapur lalu berkata kepada ayahnya, "Ayah, ibu Xixi serta kakek dan nenek Feifei sudah datang, Ayah boleh bersiap menghidangkan makanan untuk kami."
Mendengar ucapan putrinya, Feng Yifan menoleh sejenak untuk menyapa kedua gadis kecil itu, "Halo Xixi, halo Feifei."
Kedua gadis itu pun dengan kompak membalas sapaan ayah Ruoruo, "Halo Paman Feng."
Setelah itu, barulah Feng Yifan menanggapi putrinya, "Lalu, apa yang ingin kalian makan?"
Sebelum putrinya sempat menjawab, Feng Yifan kembali bersuara, "Teman kecil Feng Ruoruo, kau pasti tahu aturan restoran Kakek, kan? Siang hari kita hanya menyajikan nasi goreng dan mi."
Feng Ruoruo yang tadinya ingin menjebak ayahnya, justru dibuat terdiam oleh aturan restoran kakek yang disebutkan ayahnya.
Hal ini membuat Feng Ruoruo sangat tidak senang. Ia mengerucutkan bibir kecilnya dan berdiri terdiam, seolah sedang melakukan protes tanpa suara kepada ayahnya.
Feng Yifan yang sedang sibuk memasak nasi goreng sambil menunggu permintaan putrinya, merasa heran karena tidak mendengar suara apa pun setelah sekian lama. Ia pun menoleh untuk melihat ke arah posisi putrinya.
Begitu melirik, ia langsung melihat putrinya sedang mengerucutkan bibir dengan raut wajah yang sangat tidak senang.
Melihat aksi protes diam putrinya, Feng Yifan merasa geli sekaligus serba salah.
Feng Yifan menyelesaikan nasi goreng di wajan, menyajikannya, lalu memberikannya kepada sang murid, Lin Ruifeng, untuk diantarkan ke depan. Setelah itu, ia tidak terburu-buru memasak lagi, melainkan melangkah memutari meja dapur untuk menghampiri putrinya.
Saat melihat ayahnya mendekat, si gadis kecil malah memalingkan wajah sambil tetap mengerucutkan bibir, bersikap seolah tidak ingin memedulikan ayahnya.
Kedua teman yang berdiri di samping Feng Ruoruo, melihat sahabatnya sedang marah pada ayahnya, segera membujuk dengan suara pelan.
Yang Xiaoxi berbisik, "Ruoruo, jangan begitu. Paman pasti akan mencari cara."
Chen Yaofei menimpali, "Ruoruo, kakek dan nenekku sering bilang, aturan tetaplah aturan dan tidak boleh dilanggar sembarangan. Kalau dilanggar, nanti jadi tidak baik. Restoran kakekmu harus tetap menjaga aturan agar tetap hebat."
Feng Ruoruo yang mendengar perkataan Chen Yaofei menoleh ke arah sahabatnya dan bertanya, "Benarkah? Harus patuh aturan supaya hebat?"
Chen Yaofei mengangguk, "Iya, lihat saja orang-orang yang datang ke restoran kakekmu, bukankah mereka datang karena restoran ini punya aturan?"
Feng Yifan mendengar percakapan ketiga gadis kecil itu dan merasa bahwa Yang Xiaoxi serta Chen Yaofei sangat menggemaskan karena telah membantunya membujuk sang putri.
Melihat pipi putrinya yang tadi menggembung perlahan mengempis, ia tahu bahwa putrinya sudah tidak marah lagi.
Feng Yifan tersenyum kepada putrinya, "Begini saja, seperti kata Xixi, meskipun siang hari hanya bisa memasak nasi goreng dan mi, Ayah berjanji akan membuatkan nasi goreng dan mi yang spesial untuk kalian. Bagaimana?"
Ketiga gadis kecil itu pun mendongak menatap Feng Yifan dengan mata yang penuh harap.
Feng Ruoruo menatap ayahnya dengan penuh antusias, "Benarkah? Ayah tidak boleh membohongi anak kecil ya, Ayah harus buatkan kami nasi goreng dan mi yang berbeda."
Feng Yifan mengangguk mantap, "Hmm, Ayah janji. Ayah akan buatkan sesuatu yang sangat istimewa. Jadi, kalian mau makan nasi atau makan mi?"
Lucunya, ketiga gadis itu menjawab secara bersamaan, "Mau makan nasi."
Feng Yifan terpaku sejenak. Ketiga gadis itu pun ikut terpaku.
Kemudian mereka saling berpandangan dan tidak bisa menahan tawa, merasa kejadian menjawab bersamaan tadi sangat lucu.
Dalam benak Feng Yifan, sudah terbayang satu resep nasi goreng spesial untuk ketiga gadis itu. Setelah memutuskan, ia berkata sambil tersenyum, "Baiklah, Ayah berjanji akan membuatkan nasi goreng istimewa untuk Ruoruo dan teman-teman Ruoruo."
Mendengar janji ayahnya, Feng Ruoruo akhirnya tertawa bahagia, "Ayah hebat! Ayah harus membuatnya sangat lezat ya."
Feng Yifan memberikan isyarat tangan "oke", "Tidak masalah, Ayah jamin pasti lezat."
Baru saja kesepakatan dibuat, pintu dapur terbuka dari luar. Lin Ruifeng masuk lebih dulu, diikuti oleh Su Ruoxi di belakangnya.
Melihat ketiga gadis itu benar-benar ada di dalam dapur, Su Ruoxi menghela napas lega, "Kalian bertiga, kenapa menyelinap ke dapur tanpa bilang siapa-siapa? Semua orang jadi cemas."
Yang Xiaoxi dan Chen Yaofei merasa sedikit gugup saat mendengar teguran Bibi Su, mereka segera berbalik dan meminta maaf.
"Maafkan kami, Bibi Su, kami lupa."
"Maafkan kami, Bibi Su, seharusnya saya melapor pada kakek dan nenek."
Sebagai "penguasa kecil" di restoran Su Ji, Feng Ruoruo tentu tidak mungkin meminta maaf pada ibunya. Ia justru memprotes, "Ibu bodoh ya, kami bertiga pasti ke dapur karena mau pesan makanan pada Ayah."
Su Ruoxi tertegun mendengar putrinya menyebut dirinya "bodoh", lalu berkata kepada suaminya, "Feng Yifan, lihatlah anakmu ini, pasti karena terlalu dimanjakan olehmu sejak kau kembali, sampai berani menjawab ibunya seperti ini."
Sebenarnya, Feng Yifan pun terkejut mendengar putrinya menyebut sang ibu "bodoh".
Melihat istrinya yang tampak kesal, Feng Yifan ingin tertawa namun tidak berani. Ia terpaksa memasang wajah serius untuk "memperingatkan" putrinya, "Feng Ruoruo, tidak boleh bicara seperti itu pada Ibu. Tidak boleh bilang Ibu 'bodoh'."
Mendengar teguran ayahnya dan melihat wajah ibunya yang tampak tidak senang, Feng Ruoruo terpaksa menunduk dan mengakui kesalahannya. Ia lalu menerjang ke pelukan ibunya dan mengeluarkan jurus rahasia "merajuk".
"Ibu, jangan marah ya. Di mata Ruoruo, Ibu adalah yang paling cantik dan paling pintar. Ruoruo tidak bilang Ibu bodoh kok."
Di bawah serangan rayuan putrinya, Su Ruoxi tentu tidak bisa menahan diri. Setelah tertawa, ia mencubit hidung kecil putrinya, "Dasar anak kecil, benar-benar membuat Ibu kesal sekaligus gemas."
Feng Ruoruo melanjutkan, "Ibu jangan marah, tersenyum saja ya. Ibu sangat cantik kalau tersenyum."
Di bawah pujian terus-menerus dari putrinya, Su Ruoxi benar-benar tidak bisa lagi merasa marah. Ia mencubit pipi kecil putrinya dengan lembut.
Melihat dua gadis lainnya yang berdiri di samping, Su Ruoxi bertanya, "Jadi, kalian bertiga masuk ke sini untuk pesan apa pada Ayah? Eh, bukannya restoran kakek tidak melayani pesanan makanan di siang hari?"
Yang Xiaoxi tidak sabar ingin menjawab, "Bibi Su, Paman Feng berjanji akan membuatkan kami nasi goreng yang sangat spesial."
Chen Yaofei juga memberanikan diri, "Benar, Paman Feng menjamin rasanya pasti sangat lezat."
Su Ruoxi mendongak menatap suaminya. Saat bertatapan, ia merasakan tatapan hangat dari suaminya yang membuat jantungnya berdegup kencang, dan kedua pipinya memanas tanpa disadari.
Sambil menggigit bibir bawahnya sedikit, Su Ruoxi bertanya dengan nada berusaha tenang, "Nasi goreng seperti apa yang akan kau buat untuk ketiga gadis kecil ini?"
Feng Yifan melihat rona merah di pipi istrinya dan tatapan malu-malu yang diarahkan padanya. Ia pun mengerti bahwa istrinya masih merasa tersipu. Perasaan ini terasa seperti cinta pertama.
Setelah bertatapan sejenak, Feng Yifan menjawab dengan senyum, "Rahasia untuk sementara, tapi aku jamin akan sangat istimewa, cantik, dan lezat."
Mendengar suaminya menyebutkan kata rahasia, Su Ruoxi mendengus, "Terserah kalau mau dirahasiakan. Ayo anak-anak, kita pergi, biarkan dia sibuk sendiri."
Melihat istrinya yang bersikap sok jual mahal sambil menggandeng ketiga gadis kecil itu keluar dari dapur, Feng Yifan tersenyum lebar hingga tubuhnya secara tidak sadar ikut bergoyang mengikuti irama hati.
Namun, setelah berbalik, ia mendapati Lin Ruifeng berdiri di depan meja kerja dengan mulut ternganga.
Feng Yifan kembali bersikap normal, berdeham kecil dan berkata, "Ada apa? Sudah selesai latihan memotong? Ayo, lanjutkan."
Lin Ruifeng tersadar dari lamunannya dan menjawab, "Oh, baik, Guru."
Melihat muridnya bersiap memotong lobak lagi, Feng Yifan berpikir sejenak lalu berkata, "Jangan potong lobak, kupas beberapa kentang saja. Ganti potong kentang, iris tipis dulu, baru potong jadi batang."
Lin Ruifeng kembali tertegun, namun segera sadar dan bergegas melaksanakan perintah gurunya.