Bab 97: Tanpa Perlu Berteriak, Pelanggan Datang Sendiri
Ketika Feng Ruoruo kembali ke kedai kecil milik kakeknya, ia mendapati ruangan itu sepi tanpa seorang pun di dalamnya. Gadis kecil itu seketika murung. Senyum yang semula mengembang di wajahnya lenyap, kepala mungilnya tertunduk lesu, lalu ia berbalik dan kembali ke sisi ibunya.
Lu Cuiling yang melihat cucu perempuannya seperti itu, langsung bertanya heran, "Ada apa ini, Ruoruo kecil sayang? Mengapa tampak sedih begitu?"
Feng Ruoruo pun berpindah dari pelukan ibunya ke pelukan neneknya, lalu berkata dengan nada sedih, "Nenek, hari ini tidak ada pelanggan sama sekali. Kemarin waktu Ruoruo pulang, banyak sekali orang di sini."
Setelah mendengar ucapan cucunya, Lu Cuiling segera memahami maksud hati sang cucu. Ia tersenyum, berjongkok, dan merengkuh cucunya ke dalam pelukan.
"Aduh, nenek kira ada apa. Ternyata hanya karena tidak ada pelanggan, ya? Itu pasti salah ayahmu. Kita suruh saja ayah ke depan, memanggil-manggil orang biar masuk. Nenek yakin sebentar lagi akan banyak pelanggan yang datang."
Mendengar ucapan neneknya, Feng Ruoruo merasa ada benarnya juga, lalu ia pun berbalik hendak keluar sendiri untuk memanggil pelanggan.
Lu Cuiling melihat cucunya begitu bersemangat, segera menahan dan berkata, "Ruoruo kecil, jangan, biar ayah saja yang ke luar. Ruoruo kecil tidak boleh memanggil-manggil pelanggan, ya."
Feng Ruoruo menggeleng, lalu berkata pada neneknya, "Tidak apa-apa, Ruoruo juga bisa memanggil, kok. Ayah harus masak, pasti sangat sibuk."
Feng Yifan pun mendorong kursi roda ayah mertuanya mendekat, kemudian menunduk dan berkata pada putrinya, "Sudah, tidak usah memanggil. Tidak ada pelanggan karena ayah dan kakek sedang mencoba menu baru di dalam, jadi belum buka pintu untuk pelanggan hari ini."
Sambil berkata, Feng Yifan menyerahkan ayah mertuanya pada istri dan orang tuanya agar mereka menjaga, lalu ia berjalan ke pintu depan dan melepas papan bertuliskan "Tutup Sementara".
Setelah papan "Tutup Sementara" diturunkan dan pintu kedai dibuka lebar, benar saja, tidak lama kemudian orang-orang mulai berdatangan satu demi satu.
"Akhirnya buka juga, sudah lama menunggu, loh."
"Benar, tadi siang nonton videonya, sore ini langsung ke sini."
"Akhirnya buka juga, kalian juga ke sini gara-gara nonton video itu, ya?"
"Iya, sepertinya semua orang juga, ya?"
"Hahaha, iya, semua gara-gara itu."
Melihat orang-orang mulai berdatangan, Su Ruoxi pun mendorong kursi roda ayahnya ke samping. Lu Cuiling dan Feng Jiandong mengajak cucu perempuan mereka menyingkir, sehingga dalam waktu singkat dua meja terisi, ada enam atau tujuh orang yang sudah duduk.
Wajah Feng Ruoruo langsung berseri-seri, ia menggandeng tangan neneknya sambil berkata, "Nenek, lihatlah! Ruoruo sudah bilang, masakan ayah pasti enak, buktinya banyak orang yang datang."
Lu Cuiling pun tersenyum menjawab, "Benar, ayah Ruoruo memang paling hebat."
Mendengar itu, gadis kecil itu pun dengan bangga mengangkat dagunya, lalu berseru pada ayahnya, "Ayah, ayo cepat, cepat masak, ya!"
Feng Yifan menoleh dan mengangguk pada anaknya, "Baik, ayah ke dapur, ya. Yang di sini Ruoruo yang urus?"
Feng Ruoruo tersenyum lebar, "Siap, Ruoruo pasti bantu ayah menyambut tamu."
Feng Yifan ingin berkata pada orang tuanya, namun ibunya yang memang lebih gesit, langsung menukas, "Cepat ke dapur sana, biar kami yang urus di sini, jangan sampai orang-orang keburu lapar."
Karena didesak ibunya, Feng Yifan hanya bisa tersenyum pasrah, lalu berkata pada ayahnya, "Ayah, nanti makan duluan saja bawa Ruoruo, kalau tamu makin banyak, takutnya nanti makan malah jadi kemalaman."
Feng Jiandong mengangguk memahami maksud anaknya, "Iya, kamu ke dapur saja, kami urus yang di depan. Kami juga tidak buru-buru makan."
Setelah memberi salam pada istri dan ayah mertuanya, Feng Yifan bergegas ke dapur untuk menyalakan kompor dan memulai memasak.
Karena hari ini suaminya tidak menuliskan menu khusus, Su Ruoxi pun dengan wajar mengambil daftar menu dan membagikan ke dua meja pelanggan untuk memesan.
Melihat ibunya membagikan menu, Feng Ruoruo segera melepaskan tangan neneknya dan menghampiri ibunya.
Su Ruoxi yang melihat putrinya mendekat, tentu tahu maksud hati anaknya: ingin membawa menu itu ke dapur untuk ayahnya. Ia hanya bisa tersenyum dan menggeleng sambil berkata, "Jangan buru-buru, mereka belum pesan, kok."
Sementara Su Ji mulai buka dan menyambut pelanggan pertama, pasar malam di jalan tua itu pun mulai menggelar putaran pertama dagangannya di sore hari.
Saat lampu-lampu mulai menyala, Su Lanxin memimpin sekelompok orang, seolah-olah sedang mendampingi seseorang, melangkah masuk dari ujung barat jalan tua yang ramai itu.
Su Liancheng tidak ikut bersama mereka, di sisi Su Lanxin yang menemani hanya ada sekretaris wanita pribadinya dan seorang wanita berambut kuda satu yang tampak anggun dan tenang.
Orang yang mereka dampingi adalah seorang lelaki tua berambut perak dan seorang pria paruh baya berwajah tegas.
Rombongan itu berjalan di tengah keramaian jalan tua, mata mereka mengamati setiap toko di sepanjang jalan, namun tak ada tanda-tanda hendak masuk ke salah satu toko.
Setelah berjalan cukup jauh, atas isyarat Su Lanxin, sekretaris pribadinya mulai berbicara, "Seperti yang Anda lihat, pasar malam ini sebenarnya kurang teratur, karena di antara rumah makan juga ada toko-toko lain."
Si lelaki tua berambut perak tidak menyahut, hanya mengamati sekeliling, memandang toko-toko non-kuliner yang tersebar di sana, lalu mengangguk pelan.
Sekretaris wanita itu melanjutkan, "Direktur Su sangat menyayangi jalan tua ini, karena beliau bisa dibilang besar di sini. Jadi beliau selalu berharap jalan tua ini bisa direnovasi menjadi jalan kuliner yang standar."
"Bukan seperti sekarang, toko-toko bercampur aduk, terkesan agak semrawut."
Kali ini, pria paruh baya itu berkata, "Kami tidak keberatan dengan rencana Anda, tapi untuk mengambil alih sepenuhnya proyek kuliner di jalan ini, saya rasa itu tidak tepat."
Setelah pria itu bicara, Su Lanxin tak lagi membiarkan sekretarisnya menjawab, ia sendiri bertanya, "Menurut Anda kurang tepat? Boleh dijelaskan alasannya?"
Mendengar itu, lelaki tua berambut perak pun berkata, "Ini adalah salah satu jalan kuliner tertua di Kota Huai. Mungkin di mata Anda yang lama tinggal di Barat, tempat ini tampak tidak sesuai standar."
"Tapi justru suasana rakyat di sini sangat mencerminkan wajah Kota Huai. Selain itu, menurut Asosiasi Kuliner Kota Huai, seharusnya renovasi ini menjadi ajang berkumpulnya cita rasa khas Huai."
Pria paruh baya itu melanjutkan, "Jadi, masakan Barat dari grup restoran Anda, saya rasa belum tentu bisa mewakili cita rasa Kota Huai, bukan?"
Baru saja kata-kata itu selesai, si wanita berambut kuda satu berkata, "Restoran kami juga punya masakan Tionghoa, bahkan masakan Tionghoa kami benar-benar bercita rasa asli Kota Huai."
Lelaki tua dan pria paruh baya itu tampak agak terkejut melihat wanita itu dan Su Lanxin.
Su Lanxin tersenyum, "Ketua Lin, soal cita rasa Kota Huai, saya kira pengetahuan saya tak kalah luas dari Anda. Mungkin Anda dan Pak Jiang belum tahu, restoran ayah saya ada di jalan ini, dan sudah buka puluhan tahun."
Lelaki tua berambut perak, Ketua Asosiasi Kuliner Kota Huai, Lin Youqi, menatap Su Lanxin dengan ragu, "Restoran ayahmu? Masih buka di jalan ini? Yang mana?"
Wajah Su Lanxin merekah, ia menunjuk ke arah timur, "Itu, di ujung sana, namanya 'Su Ji'."
Lin Youqi menatap Su Lanxin dengan tak percaya, "Jadi Su Ji itu restoran ayahmu? Ayahmu itu koki yang pernah terlibat di jamuan kenegaraan itu?"
Su Lanxin kembali mengangguk. Ia pun merasa bangga setiap kali ada orang membanggakan ayahnya yang pernah ikut serta dalam jamuan kenegaraan.
Namun pria paruh baya itu, Jiang Zhongjian, pengurus Asosiasi Kuliner, masih tampak tak yakin, "Bagaimana bisa? Saya kenal dengan pemilik Su Ji, Su Jinrong, tapi tak pernah dengar ia punya anak sepertimu."
Ekspresi Su Lanxin sempat redup, tapi ia tersenyum dan berkata, "Itu soal keluarga, saya tak bisa jelaskan rinci. Kalau Pak Jiang tak percaya, malam ini kita bisa ke Su Ji, Anda dan Ketua Lin bisa bertanya langsung pada ayah saya."
Lin Youqi dan Jiang Zhongjian saling pandang, samar-samar mulai merasa, undangan Su Lanxin malam ini untuk berkeliling di jalan tua ini, tampaknya memang sudah direncanakan sejak awal.