Bab Sembilan Puluh Tiga: Bahaya Mengancam (Bagian Pertama)
Putra Mahkota Kedua baru saja naik takhta. Pondasinya belum kokoh. Ditambah lagi dengan urusan kerja sama dengan Suku Ular, sehingga ia sangat sibuk. Beberapa pangeran pun masih tinggal di istana, belum membangun kediaman sendiri di luar istana.
Kamar tidur Putra Mahkota Pertama tidak jauh dari Istana Menatap Bulan. Aku baru tahu belakangan, Istana Menatap Bulan adalah tempat untuk menikmati bulan, para pelayan istana dan kasim biasa jarang mendekat ke situ, hanya anggota keluarga kekaisaran saja yang boleh masuk.
Aku menundukkan kepala, mengikuti di belakang Putra Mahkota Pertama. Ia berpesan, “Agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati Kaisar, malam ini kau temani aku tidur.”
Aku tertegun, “Bukankah kau sudah menikah?”
Ia menjawab datar, “Hanya membantuku melepas pakaian saja. Kenapa kau begitu tegang?”
Wajahku memerah. Baiklah, aku akui aku terlalu banyak berpikir.
Saat itu, sudah lewat tengah hari. Di istana, para pelayan perempuan kadang lewat. Melihat kami, mereka membungkuk memberi salam, “Yang Mulia.”
Ia mengangguk tipis, lalu membawa kami melewati mereka.
Baru ketika sampai di depan ruang baca, ia berhenti. “Kau tunggu di kamar kecil sebelah. Jika kubutuhkan, akan kupanggil.”
“Oh.” Aku mundur beberapa langkah, membuka pintu kamar kecil, lalu masuk.
Tempat ini sepertinya hanya ruang istirahat sementara. Kamarnya tidak besar, menghadap pintu terdapat dua baris rak buku. Buku-buku di sana tampak rusak parah, tampaknya memang buku-buku lama yang sudah tidak terpakai. Tidak jauh dari rak, menempel di dinding, ada sebuah dipan empuk berlapis bulu putih, terlihat sangat hangat.
Meski sudah awal musim semi, karena kehamilan, aku selalu memakai pakaian lebih tebal daripada orang lain. Baju pelayan yang diberikan Putra Mahkota Pertama sangat tipis, bagian dada terbuka lebar, sama sekali tidak bisa menahan dingin. Aku berpikir sejenak, asal mengambil sebuah buku dari rak, lalu berbaring di dipan empuk itu.
Di atas bulu yang lembut tercium aroma harum, seperti wangi bunga yang menenangkan hati. Aku hanya membuka beberapa halaman buku, tapi sudah tidak bisa membaca. Badanku terasa lemas, mata pun tak sanggup terbuka. Akhirnya, aku meletakkan buku di samping, berniat tidur sebentar.
Dalam mimpi, aku merasa diriku diikat dengan tali dan dibawa ke suatu tempat yang gelap. Rasa empuk hilang, digantikan lantai yang keras dan dingin. Wangi bunga di hidung pun lenyap, kini tergantikan bau busuk menusuk. Sepertinya juga terdengar suara wanita yang mengamuk. Setelah itu, tubuhku seperti dicambuk, terasa panas dan perih.
Tiba-tiba aku terbangun dari tidur, akhirnya sadar akan keadaanku. Seorang wanita dengan riasan tebal, wajahnya dipenuhi bedak putih, menyeringai dingin ke arahku. “Dasar pelayan jalang, berani-beraninya kau menggoda Putra Mahkota Pertama.”
“Aku…” Belum sempat bicara, ia sudah menamparku. Aku tak sempat mengelak, tamparannya mendarat keras di pipiku.
“Hmph, masih berani mengelak. Ikat dia!” Ia memerintah bawahannya agar mengikatku ke sebuah tiang kayu. “Ikat yang kencang!”
Baru saja bangun dari tidur, aku benar-benar tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Di mana Putra Mahkota Pertama? Apakah ini semua atas perintahnya? Siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Putra Mahkota Pertama? Di mana aku sekarang?
Semua ini membuatku tidak siap. Aku menyesal telah tertidur tadi. Kalau saja tidak tidur, pasti tidak akan seperti ini.
Tempat ini khusus untuk menginterogasi tahanan. Di sekeliling berjejer alat-alat penyiksaan. Tak jauh dariku, ada perapian yang apinya menyala terang. Tubuhku sangat lemas, seperti habis diberi obat. Tangan dan kakiku tak bertenaga.
Sebenarnya aku bisa berubah ke wujud asliku dan kabur, tapi aku tidak ingin merepotkan Suku Kelinci. Aku hanya bisa membiarkan mereka memperlakukan sesuka hati.
Wanita itu membawa semangkuk ramuan tak dikenal, memandangku dengan benci, lalu memerintahkan bawahannya membuka mulutku. “Kau masih mau mengelak? Minum ramuan ini, lihat apakah kau masih bisa mengelak lagi!”
“Mm… mm…” Meski tak tahu ramuan apa itu, pasti bukan sesuatu yang baik. Aku menggeleng keras berusaha melawan, tapi mereka terlalu banyak. Aku tak mampu melawan, akhirnya ramuan itu dipaksa masuk ke mulutku.
“Puh…” Begitu mereka melepaskanku, aku langsung menyemburkan ramuan itu ke wajah wanita itu. “Kau jelek, iri pada kecantikanku, pantas saja Putra Mahkota Pertama tak pernah menyentuhmu!” Bisa menebak siapa dia, aku langsung memakinya.
Kudengar dulu Putra Mahkota Pertama memang sudah menikah, tapi tak pernah menyentuh istrinya.
“Kau gila, tak ada pria yang menyentuhmu makanya tubuhmu rusak, lantas kemarahanmu kau lampiaskan padaku. Kalau berani, lepaskan aku, kita bertarung satu lawan satu!”
“Kau… dasar gila!” Wanita itu menghapus ramuan di wajahnya, lalu marah besar. “Pukul dia! Hajar dia sekuatnya!”
Ia mundur ke belakang, menyuruh dua orang maju. “Kalau aku tak bilang berhenti, jangan berhenti!”
“Ah!”
Belum juga cambuk mendarat di tubuh, aku sudah berteriak. Sejak dilukai Ling Xiang’er dulu, aku sangat takut sakit, serasa kematian begitu dekat. Apalagi aku sedang hamil. Aku tak apa-apa, tapi bagaimana bila anakku celaka?
Aku mencoba meringkuk, melindungi perutku.
Sekarang aku yakin semua ini bukan atas perintah Putra Mahkota Pertama. Tapi di mana dia? Kenapa tidak menolongku?
“Hmph, penakut!” Wanita itu memberi isyarat agar mereka berhenti, lalu perlahan berjalan ke depanku, mencengkeram daguku. “Katakan, bagaimana kau bisa menggoda Putra Mahkota Pertama?”
“Ptuih.” Aku meludah ke arahnya, ingin membuatnya marah, tak akan memberi tahu apa pun.
“Plak.” Ia kembali menamparku.
Sudut bibirku terasa hangat, mungkin berdarah. Pipiku terasa panas, pasti bengkak. Wanita ini benar-benar kejam. Jangan senang dulu, tamparan ini akan kubalas suatu saat nanti.
“Jalang.” Ia tak berkata lagi, duduk di kursi dekat penjara.
Orang yang memegang cambuk kembali maju. Tanpa berkata-kata, cambuk itu mendarat keras di tubuhku. Tidak seterasa sakit seperti yang kubayangkan, tapi bagiku tetap tak tertahankan. Aku menggigit bibir menahan suara, tak ingin terlihat lemah di hadapannya.
Aku tak melakukan apa pun, tapi dipfitnah sebagai pelayan jalang yang menggoda suaminya. Apakah aku serendah itu?
Melihat aku tetap diam, wanita itu berdiri, mengambil cambuk yang lebih besar dari antara alat penyiksaan. “Kalian minggir.” Setelah berkata, ia mengayunkan cambuk di tangannya.
Aku terkejut. Apakah wanita ini pernah berlatih sebelumnya?
Cambuk itu menghantam tubuhku dengan keras. Aku akhirnya tak tahan menahan suara. Setiap cambukan seperti sebilah pisau tajam, mengoyak tubuhku tanpa ampun, merangsang setiap sarafku. Ia tertawa puas, seolah mencurahkan semua dendam bertahun-tahun lewat cambukan itu.
Pakainku sudah hancur berantakan, memperlihatkan dadaku yang putih. Para pengawal di belakangnya menatapku seperti melihat mangsa.
Ia berhenti sejenak, lalu mencambuk lebih keras lagi, mulutnya menggerutu, “Aku akan membunuhmu, jalang, kubunuh kau!”
Akhirnya cambukan itu mengenai perutku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana melindungi bayi di dalam kandungan. Aku menerima cambukan itu langsung di perut.
Luka lamaku terasa nyeri. Perutku seperti kejang sebentar, menimbulkan rasa kebas. Cambukan kembali mendarat, perutku tak sanggup menahan sakit lagi, tubuhku mulai kejang. Dari bawah, cairan menetes, membasahi lantai, membentuk bunga darah.
Kaki-kakiku lemas, aku bergumam, “Anak… anakku... kembalikan anakku...”
Salah satu pengawal berkata pelan, “Nyonya, sepertinya dia hamil.”
Cambuk di tangan wanita itu terhenti, matanya menatap tajam pada darah di lantai, tatapannya semakin kejam. “Ternyata kau mengandung anaknya. Jalang, kau mengandung anaknya!” Setiap cambukan mendarat di perutku. Cairan dari bawah semakin deras, seolah ada sesuatu yang akan keluar.
Saat aku hampir tak tahan lagi, terdengar suara marah, “Jalang, tangkap dia!”
Aku tak sanggup mengangkat kepala, hanya terus bergumam, “Anak... anakku... tolong selamatkan anakku...”
Putra Mahkota Pertama berjalan mendekat, melihat darah di lantai, ia panik memanggil, “Cepat panggil tabib!” Sambil segera melepaskanku dari tiang, melepas jubahnya untuk menutupi tubuhku, “Maafkan aku, aku terlalu ceroboh.”
Hatiku hancur, aku memegang perutku, “Anak... anakku...”
Ia menggendongku, menenangkan dengan suara lembut, “Jangan takut, anakmu akan baik-baik saja. Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu.” Setelah berkata, ia segera pergi.
“Yang Mulia!” Terdengar suara wanita itu memanggil di belakang, “Kenapa kau melindungi pelacur ini? Apa kurangku dibanding dia?”
Putra Mahkota Pertama berbalik, menatapnya tajam, “Kau tidak ada yang lebih baik darinya. Dan lagi, anak dalam kandungannya bukan anakku. Jaga dirimu baik-baik.” Setelah berkata, ia memerintahkan para penjaga, “Masukkan mereka ke penjara air. Tanpa perintahku, jangan lepaskan.”
“Hamba...” Setelah keluar dari penjara, baru terdengar suara wanita itu memohon ketakutan. Aku tidak tahu apa itu penjara air, yang kutahu, semua penderitaan hari ini, suatu saat akan kubalas.
Di luar, matahari bersinar cerah. Aku tak tahan cahaya yang mendadak, segera memalingkan kepala ke arah tubuh Putra Mahkota Pertama. Tubuhnya memiliki aroma harum, berpadu wangi bunga, membuat hatiku perlahan tenang.
Dengan suara bergetar aku berkata, “Yang Mulia, tolong selamatkan anakku.”
Ia mengangguk, suaranya sangat lembut. “Tenanglah, Dan’er. Anakmu pasti akan baik-baik saja. Pejamkan mata, tidur sejenak, nanti semuanya akan membaik.”
Saat itu, aku tak lagi memikirkan kenapa ia tahu namaku, atau apa yang akan dilakukannya. Aku hanya tahu, saat ini hatiku sangat tenang. Aku tahu, anakku pasti baik-baik saja. Meski sudah mengalami begitu banyak penderitaan dan luka, tapi itu hanya akan membuatnya semakin kuat.
Anakku, ibu minta maaf padamu. Ibu gagal melindungimu. Tapi mulai sekarang ibu akan lebih menyayangimu, tak akan membiarkanmu terluka lagi.
Air mata menetes di sudut mataku, membasahi pakaiannya. Tiba-tiba aku sangat merindukan hari-hari bersama Jingnan. Entah bagaimana keadaannya sekarang, apakah ia juga sedang merindukanku.