Bab Tujuh Puluh Sembilan: Formasi (Bagian Satu)
Pemandangan di sekeliling terus berubah; baru saja aku masih berada di padang rumput yang hijau, tiba-tiba sudah sampai di gurun pasir yang tandus. Perubahan pemandangan yang tiada henti benar-benar membuatku kewalahan. Kenapa Tuan Muda Keempat memasang formasi di sini? Bagaimanapun, tidak banyak orang yang bisa merasakan bahaya lewat aura seperti diriku, kecuali dia punya tujuan lain. Kalau tidak, sangat jarang ada yang memilih jalan ini karena dari arah ini menuju wilayah pusat adalah yang paling jauh.
Dengan mengandalkan indra aura, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa Zhuang Zhengli bergerak ke arah utara. Aku tak tahu kenapa dia begitu yakin bahwa inti formasi ada di sana. Jika dia berhasil memecahkan formasi, tentu aku juga akan keluar dari sini. Aku tidak mengerti apa tujuan sesungguhnya dia ingin berpisah denganku. Sejak kami masuk ke dalam formasi, pasti sudah diketahui orang; mungkin saja Tuan Muda Keempat sedang duduk santai minum teh sambil melihat kami kesulitan di dalam sini.
Memikirkan ini, aku mendongak ke langit dengan sinis lalu melayangkan jari tengah ke atas. Meski hanya spontan, siapa sangka adegan ini justru terlihat oleh Tuan Muda Keempat. Meski dia tak tahu arti isyarat itu, dia pasti tahu aku tak sedang mendoakannya, melainkan sedang mengutuknya. Maka, niatnya yang semula hendak membiarkanku keluar dari formasi pun langsung diurungkan. Ia santai saja memperhatikanku yang berlarian tanpa arah di dalam formasi.
Pil yang tadi kutelan sudah benar-benar larut, jadi aku tak bisa lagi sembarangan berkeliling. Bisa jadi aku malah keracunan. Kuambil sebongkah batu untuk duduk dan mulai menata pikiran. Ada kemungkinan besar inti formasi berada di utara, tapi belum pasti juga. Tuan Muda Keempat bukan orang bodoh yang akan melakukan sesuatu yang mudah ditebak.
Aku bangkit, menepuk-nepuk debu di tubuh, lalu berjalan perlahan menyusuri sekitar, tak melewatkan satu pun detail. Inti formasi biasanya berupa benda nyata, berbeda dengan pemandangan yang diciptakan oleh ilusi formasi. Selama aku teliti, pasti akan menemukan sesuatu.
Tak lama, aku memang menemukan kejanggalan. Permukaan tanah di sini berbeda dari biasanya, terlalu halus seperti telah dipoles dengan saksama, bahkan bayanganku sendiri terlihat jelas di sana. Aku tertegun; situasi seperti ini hanya mungkin terjadi di dalam ruangan. Mungkinkah formasi ini dipasang di sebuah ruangan? Jika aku yang melakukannya, di mana aku akan menaruh inti formasi?
Pintu terlalu mencolok dan mudah dirusak. Jendela pun sama saja, kadang-kadang buka-tutupnya bisa mempengaruhi kestabilan formasi.
Lalu, di mana? Aku mengernyit, berpikir keras tentang tata letak ruangan pada umumnya.
Jika dihitung dari waktu kami masuk ke dalam formasi, berarti tak lama setelah memasuki wilayah Suku Ular kami sudah terjerat. Ini menandakan bahwa formasi ini tidak berada di pusat wilayah Suku Ular. Kalau begitu, di area pinggiran Suku Ular, hanya ada satu tempat yang lantainya dipoles dengan sangat rapi, yaitu pemandian air panas Suku Ular yang terkenal itu.
Konon, pemandian itu terbentuk secara alami, luasnya setengah lapangan sepak bola. Raja Ular memerintahkan untuk merenovasinya menjadi kamar mandi khusus bagi keluarga kerajaan. Sekarang, Tuan Muda Keempat telah kembali ke Suku Ular dan menjadi orang paling berkuasa di sana. Menguasai sebuah kamar mandi kecil bukanlah perkara besar baginya. Dengan tabiat Tuan Muda Keempat, sangat mungkin ia memasang formasi di sekitar pemandian.
Mungkin saja dia sekadar ingin mencegah orang lain masuk saat ia mandi, jadi sembarangan saja memasang formasi di luar. Aku dan Zhuang Zhengli sungguh sial, tanpa sengaja malah masuk ke dalam formasi itu dan terperangkap.
Menyadari hal ini, aku pun menghela napas lega. Kalau formasi ini terpasang di kamar mandi yang dibuat dari pemandian air panas, masalahnya lebih mudah diatasi. Kalau aku jadi dia, pasti aku akan menyembunyikan inti formasi di tempat yang tak mudah dijangkau orang, yaitu di sumber air panas tempat mandi itu sendiri.
Mengingat kembali jalan yang tadi kulalui, sepertinya aku memang sempat melihat sebuah danau kecil. Di seluruh formasi ini, hanya ada satu perairan. Karena tadi tertutup kabut putih, aku tak memperhatikannya dengan saksama. Sekarang aku sudah paham, aku tak peduli lagi soal racun dan langsung berbalik berlari ke arah danau itu.
Benar saja, danau itu dikelilingi kabut tipis. Sekarang aku sadar kabut itu hanyalah uap panas dari pemandian, sama sekali tidak beracun. Tanpa ragu, aku melepas pakaian luar, menarik napas panjang, lalu melompat ke dalam air...
Pemandangan di hadapanku tampak berubah, tapi aku sudah tak peduli lagi, buru-buru mencari apapun yang mungkin menjadi inti formasi di dalam air.
Air danau itu hangat seperti dugaanku, tapi tidak panas, tepat sekali untuk musim ini. Tuan Muda Keempat memang tahu cara menikmati hidup. Tempat mandi seperti ini adalah dambaan semua orang—alami, menyehatkan, dan mempercantik kulit...
Saat aku hendak mengambil napas, tiba-tiba kulihat tak jauh di depan ada dua benda putih. Hatiku girang, tak sempat naik ke permukaan untuk bernapas, aku langsung berenang ke arah itu.
Eh, kenapa bentuknya seperti kaki manusia? Meski aneh, aku tetap meraih benda putih itu dan menariknya keras-keras ke arahku. Huh, aku memang cerdas, berhasil juga menemukan inti formasi!
Benda ini cukup kuat, susah sekali ditarik. Aku memakai kedua tangan, memeluk salah satunya, dan menarik dengan lebih kuat lagi... Licin sekali, bahkan agak elastis. Sebenarnya Tuan Muda Keempat membuat inti formasi dari benda apa? Aku belum pernah lihat benda seperti ini sebelumnya.
Saat sedang bingung, tiba-tiba kurasakan sesuatu menyentuh kepalaku. Salah satu tanganku meraba ke atas...
Panas sekali!
Aku buru-buru mendongak...
Eh, ini jamur kecil? Warnanya merah muda, tampak sangat menggiurkan. Tanpa pikir panjang, aku pun menjulurkan lidah dan menjilatnya... Rasanya agak asin.
“Sssst.”
Eh, ada orang lain? Sepertinya kudengar suara terkejut. Mungkinkah Zhuang Zhengli juga menemukan jalan ke sini? Aku buru-buru muncul ke permukaan, hendak memanggilnya untuk ikut membantu.
Baru saja naik ke permukaan, pemandangan di depan mataku berubah lagi. Pepohonan di tepi danau sudah lenyap, yang tersisa hanya lantai licin, bahkan air danau pun sudah berubah menjadi bening...
“Kau, dasar nakal!”
Aku masih bingung, tiba-tiba suara menggoda datang dari belakang, lalu aku langsung dipeluk ke dalam dekapan hangat.
Aku terpaku sesaat, akhirnya sadar benda putih tadi sama sekali bukan inti formasi, melainkan paha seseorang! Dan jamur kecil tadi...
Wajahku langsung memerah, ingin rasanya menghilang ke dalam tanah. Ya ampun, apa saja yang sudah kulakukan barusan...
Tapi otakku seolah tak bisa diajak kerja sama, mendadak terasa lamban. Begitu keluar dari air, pikiranku langsung jernih. Jangan-jangan air tadi memang mengandung sesuatu yang bisa membingungkan orang...
“Kenapa diam saja, hm?” Suara itu terdengar lagi. Pelukan di pinggangku semakin erat, tubuh panasnya menekan keras ke pinggulku...
“Aku... aku...” Tak perlu bertanya lagi, sudah pasti itu suara Tuan Muda Keempat. Aku semakin malu, dalam hati memaki kebodohanku sendiri...