Bab Dua Puluh: Perburuan Besar
“Apa gunanya aku memberitahumu?” Jingnan mengerutkan kening. “Memangnya kau bisa mengubah sesuatu?”
“Aku... meskipun kau sudah punya tunangan, aku tetap saja menyukaimu,” ujar Lingsiang Er tiba-tiba dengan wajah memerah. “Lalu, selama ini kita berdua dianggap apa? Kau selalu begitu baik padaku.”
“Aku selalu menganggapmu sebagai adik.” Kalimat ini adalah alasan klasik seorang pria untuk menolak wanita. Bukan karena tidak suka, hanya saja menganggapmu sebagai adik, sehingga kau tak bisa membantah.
“Aku tidak mau jadi adik.” Lingsiang Er membalikkan wajahnya dengan tegas. “Aku pasti akan membuat Ayahanda menyetujui pernikahan kita.” Setelah berkata demikian, ia memandang Jingnan dengan penuh kekecewaan, lalu menunggang kudanya menyusul Putra Mahkota Kedua.
Duh, masih kecil saja sudah bicara soal pernikahan, bagaimana nasibku yang di kehidupan lalu bahkan sebatang kara? Sementara si biang keladi kita, Jingnan, tampaknya sedang puas dengan pesonanya sendiri. Melihat sudut bibirnya yang makin melebar, aku menepuknya dengan cakarku, menatapnya tajam dengan mata bulatku, biar dia tidak terlalu bangga.
“Ada apa? Tidak senang setelah tahu aku punya tunangan?” Ia merapikan buluku, bertanya pelan.
Bukan itu intinya. Aku menggelengkan kepala kecilku kuat-kuat. Aku sedang mengkritikmu, kenapa jadi membahas ke arahku? Lagipula, yang jadi tunanganmu bukan aku, apa urusanku?
“Tenang saja, meskipun aku punya tunangan, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ia tersenyum penuh makna.
Sudahlah, tak ada gunanya berdebat dengan orang yang merasa benar sendiri, tak nyambung.
Meski angin musim semi hangat bertiup, Gunung Qiyang tetap terasa dingin. Aku meringkuk dalam jubah Jingnan, hanya memperlihatkan kepala. Sesekali, di hutan, tampak pagar-pagar tinggi. Aku tahu itu adalah tempat perburuan keluarga kekaisaran. Setiap tahun saat ini, ada orang khusus yang menggiring hewan masuk ke arena berburu, menjadi ajang hiburan dan lomba bagi keluarga kerajaan.
“Sudah sampai.” Tak lama, terdengar suara di depan, memberi isyarat semua orang menuju tanah lapang di tengah hutan.
“Sesuai kelompok yang telah dibagi, setiap dua orang satu kelompok, tidak boleh keluar dari arena berburu,” lanjut suara itu. “Jingnan, ini kali pertama kau ikut lomba ini, kalau ada yang tidak paham, tanya saja pada Putra Mahkota.”
Eh, Putra Mahkota? Aku mengangkat kepala, menoleh ke sekitar. Padahal ia tidak akur dengan Putra Mahkota Kedua, kenapa kini berburu bersama?
Saat sedang berpikir, seorang pemuda berbaju ungu gelap menoleh, tersenyum tipis pada Jingnan. Sinar matahari menembus celah dedaunan, jatuh di atas kepalanya, menambah kesan misterius dan anggun. Aku terpana menatap pria yang raut wajahnya mirip Putra Mahkota Kedua itu; pasti dia Putra Mahkota.
“Aku satu kelompok dengan Putra Mahkota.” Jingnan tertawa melihat reaksiku, memelukku erat. “Nanti hati-hati sendiri, jangan sampai terjatuh.”
Aku mengibaskan kepala tidak puas, huh, meremehkanku saja. Malah kau, tubuh sekecil itu mau berburu, kasihan Putra Mahkota dipasangkan denganmu.
“Nanti ikuti saja aku dari belakang, jangan memaksakan diri.” Entah sejak kapan Putra Mahkota berdiri di samping Jingnan, sedang memeriksa anak panah.
“Tenang saja, aku tahu batasanku.” Jingnan mengangguk, tersenyum, sambil mengelus tubuhku. Aku memejamkan mata, menikmati kelembutan itu.
“Kau sangat menyukainya?” Putra Mahkota menatapku.
“Ya.” Jingnan mengangguk. “Bukankah dia sangat imut?”
“Sayang, hanya punya satu telinga.” Putra Mahkota menggelengkan kepala, agak menyesal. “Sekalipun punya aura istimewa, tetap saja cacat fisik tak bisa disembunyikan.”
“Kau salah.” Jingnan menjawab dengan dewasa. “Bagi aku, kekurangannya sama sekali bukan masalah. Aku menyukai dia seutuhnya, termasuk apa yang kau sebut kekurangan fisik itu.”
Aku tertegun, jantungku berdetak kencang tanpa kendali. Yang ia maksud pasti wujud asliku. Anak ini, kenapa berkata seolah-olah... bisa disalahartikan orang.
“Ha ha.” Putra Mahkota mengelus hidungnya, tampak canggung. “Ternyata Jingnan sangat menyayangi hewan peliharaan barunya. Tak heran tadi Lingsiang Er mengeluh, semenjak kau punya peliharaan baru, kau tak peduli padanya.”
Aku mendelik, padahal Lingsiang Er sendiri yang pergi, kenapa aku yang disalahkan.
Jingnan mengangkat alis. “Itu tidak ada hubungannya dengan... peliharaanku. Jangan terlalu dipikirkan, Putra Mahkota.”
“Jangan dipedulikan.” Putra Mahkota melambai. “Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Siang Er sejak kecil selalu dimanja, terbiasa jadi pusat perhatian. Beberapa hari lalu aku dengar Ayahanda ingin kau menjadi menantunya, aku tahu kau pasti menolak. Hanya saja...” Ia ragu, lalu melanjutkan, “hanya saja, kalau menolak Siang Er, tolong jaga perasaannya, jangan terlalu menyakitinya.”
Jingnan mengangkat bahu. “Aku sudah menolak, bilang aku punya tunangan.”
“Eh.” Putra Mahkota tertegun, tersenyum miris. “Itu memang alasan bagus, tapi Siang Er pasti tidak akan menyerah, mungkin malah akan mencari siapa tunangan yang kau sebut itu…”
“Aku tahu.” Jingnan mengangguk. “Tapi yang aku katakan itu sebenarnya, percaya atau tidak terserah kau.” Setelah berkata demikian, ia membalikkan kuda menuju pintu masuk arena berburu. “Ayo, lomba akan segera dimulai.”
Tiba-tiba, aku merasa udara sekitarku menekan, membuat napasku sesak. Tak menghiraukan Jingnan, aku keluar dari pelukannya, angin dingin menerpa, tubuhku bergetar. Memang benar, setelah terbiasa kehangatan, dunia luar terasa makin menusuk.
“Mau apa kau?” Ia mengernyit. “Apa tak cukup nyaman di pelukanku?”
Tidak, tidak. Aku buru-buru menggeleng. Tapi setelah melihat jarak pelana kuda dari tanah, aku jadi ragu. Kalau melompat, rasanya tidak terlalu sakit, ya?
“Diamlah.” Ia langsung menangkapku, mengembalikan ke pelukannya. “Nanti, setelah kau tidur sebentar, aku sudah menang. Setelah itu, kau bebas melakukan apa saja.”
Setelah perlawanan sia-sia, aku pun diam di pelukannya. Ada aroma khas di tubuhnya, hanya terasa jika sangat dekat. Tiba-tiba aku teringat malam itu di kediaman Kepala Biara Zhang, saat ia menggendongku ke tempat tidur, aroma yang tercium pun sama.
Aku menarik napas dalam-dalam, tenang meringkuk di pelukannya. Tak ada keramaian, tak ada masalah hidup, saat itu aku menikmati kedamaian yang langka. Mungkin, tak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Maka, aku pun tertidur lelap.
Saat terbangun, yang pertama kulihat adalah wajah besar tepat di depanku. Aku terperanjat, langsung meloncat.
“Apa? Baru bangun sudah pura-pura tak kenal?” Jingnan tertawa melihat reaksiku. “Barusan, siapa yang tidur pulas di pelukanku?”
Aku meluruskan kaki kecilku, buru-buru berubah jadi manusia, lalu mengetuk kepalanya, “Huh, kau tega mengatakannya, semua keuntunganku sudah kau ambil.”
“Aku difitnah.” Ia mengelus bagian yang kutepuk. “Kalau aku tak sempat menolongmu, entah bagaimana nasibmu sekarang.”
“Kalau kau berani tak menyelamatkanku...” Aku mengepalkan tangan. “Setiap ketemu, akan kupukul sampai kau minta ampun.”
“Kau memang kasar,” ia bergumam pelan.
“Jangan kira aku tak dengar.” Aku mengacungkan tinju. Lalu bertanya pelan, “Sekarang, kita di mana?”
“Di istana peristirahatan kaisar.” Ia meregangkan tubuh. “Arena berburu tak jauh dari sini. Setelah lomba, kami tinggal di sini.”
“Kapan kalian turun gunung?” Aku punya firasat buruk, sepertinya rombongan ini berniat tinggal lama di sini.
“Kau buru-buru sekali?” Jingnan menatapku heran. “Kau belum bilang, bagaimana caranya kau bisa naik kemari? Akhir-akhir ini kaki gunung dijaga ketat oleh prajurit. Jangan-jangan kau berubah jadi kelinci?”
“Eh.” Aku tertegun, tak tahu harus menjawab apa, ragu apakah akan jujur padanya.
“Sudahlah.” Jingnan menggeleng. “Kalau sulit, tidak usah diceritakan. Lalu, kenapa kau sendirian? Di mana adikmu?”
Mendengar ini, wajahku langsung muram. “Mereka tidak tahu aku ke mana. Aku diam-diam naik sendiri. Celaka, pasti mereka sekarang panik mencariku.”
“Bagaimana kalau begini?” Jingnan berpikir sejenak. “Kau ceritakan bagaimana bisa naik ke sini, aku bantu sampaikan kabar pada Shuangying, bagaimana?”
“Kau mau turun gunung sekarang?” Aku menatapnya penuh harap.
“Tidak.” Ia menggeleng. “Tapi, Ziye bisa turun.”
“Benarkah?” Aku bergegas keluar kamar, “Aku akan cari Ziye, minta bantuannya.”
“Kau pikir dia mau menurutimu?” Jingnan tetap berdiri di tempat, tampak misterius. “Lagi pula, kalau kau keluar sekarang, bagaimana menjelaskan pada orang lain?”
Aku menoleh, menatapnya lesu. “Lalu, bagaimana baiknya? Kau saja minta Ziye membawaku turun. Soal bagaimana aku naik, nanti kalau ada kesempatan akan kuceritakan. Sekarang belum saatnya.”
“Membawamu turun tak mungkin.” Ia menggelengkan jari. “Kau peliharaanku yang baru, mana boleh dibawa orang lain? Harus selalu di sisiku.”
Aku menatapnya dengan wajah kesal. “Tidak bisa tidak menyebut soal itu, ya? Kalau bukan karena kau menolongku, aku tak mau berurusan denganmu.”
“Ehem.” Ia berdeham canggung. “Kalau tidak begini, kau kira Lingsiang Er akan semudah itu melepaskanmu?”
“Eh.” Seperti yang sudah kusebutkan, Lingsiang Er memang sangat posesif, apapun yang ia inginkan tak akan mudah dilepas. Tapi, Jingnan adalah pengecualian. Jika Jingnan menginginkan sesuatu, sehebat apapun, pasti akan ia berikan dengan senang hati.
“Jingnan, aku bawakan makanan untukmu.” Belum sempat berpikir lebih jauh, suara Lingsiang Er terdengar di luar pintu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung berubah wujud, bersembunyi di balik selimut. Untuk perempuan ini, lebih baik jarang berurusan dengannya, siapa tahu suatu hari, ia juga jadi setega Putra Mahkota Kedua.