Bab Tiga Puluh Empat: Tiba
Terhadap orang yang dibawa kembali oleh para tentara bayaran, sang konsul tidak terlalu mempermasalahkannya. Setelah mengingatkan semua orang untuk lebih waspada malam ini, ia pun naik ke salah satu kereta kuda untuk beristirahat. Aku memang mengenal Yin Moli, tetapi aku tidak memberitahu yang lain dan memilih untuk tetap tinggal merawatnya. Tabib yang ikut bersama rombongan memeriksa nadinya dan berkata ia kehilangan banyak darah. Setelah luka di pinggangnya dibalut dengan rapi, tabib itu pun pergi.
Sebagian besar tentara bayaran bersandar di kereta kuda untuk beristirahat. Aku duduk di sekitar api unggun yang baru dinyalakan kembali, sesekali melirik Yin Moli yang masih tak sadarkan diri. Sejak bertemu dengannya belasan tahun lalu, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang kaum Macan. Saat itu, kekacauan di dalam klan Macan dapat ia atasi dengan mudah, entah mengapa kali ini ia sampai terluka parah begini.
Menjelang tengah malam, kebanyakan orang sudah terlelap. Aku menguap sambil menambah kayu ke dalam api, dan tanpa sengaja menoleh ke belakang. Seketika darahku serasa membeku. Tidak tahu sejak kapan, Yin Moli sudah terbangun. Wajahnya yang baru saja dibersihkan kini kembali berlumuran darah. Kalau bukan karena matanya yang bergerak, nyaris saja aku menamparnya.
“Bisa tidak kau jangan menakut-nakuti orang?” Aku menepuk dadaku dan melemparkan saputangan bersih ke arahnya. “Kalau sudah sadar, bersihkan sendiri. Wajah berlumuran darah begitu bikin merinding.”
“Siapa kau?” Ia menerima saputangan itu dan sembarangan mengusap wajahnya, menatapku dengan curiga.
“Siapa aku tidak penting.” Aku meletakkan mangkuk berisi air hangat di tangannya dan melanjutkan, “Yang penting kenapa kau bisa sampai seperti ini. Kalau bukan karena kami, beberapa ekor harimau itu pasti sudah jadi teman kuburmu.”
“Mereka di mana?” Ia menatapku penuh gejolak.
“Sudah mati.” Jawabku datar, “Jangan khawatir, sudah kami kuburkan.”
“Sudah mati, ya.” Ia menunduk lesu, “Akhirnya tetap saja mati.”
“Sebenarnya siapa yang tega berbuat begini hingga kalian kaum Macan sampai sehancur ini? Bukankah kalian selalu terkenal tangguh?”
Ia menatapku waspada, “Siapa sebenarnya kau, kenapa tahu siapa kami?”
“Jangan menatapku seperti itu.” Aku menggelengkan kepala, lalu jujur memperkenalkan diri, “Aku dari kaum Kelinci, dulu pernah sekali bertemu denganmu di klan. Oh, aku juga tahu namamu, Yin Moli, bukan?”
“Ulurkan tangan kananmu.” Mendengar perkataanku, kewaspadaan di matanya perlahan menghilang, namun ia masih meminta agar aku mengulurkan tangan.
“Nih.” Aku sodorkan pergelangan tangan, ia mengangkat telunjuk dan menekan punggung tanganku, akhirnya mengangguk, “Ternyata benar dari kaum Kelinci. Tapi kenapa kau ada di sini, sembilan tahun lalu, bukankah kalian...”
“Sudahlah, jangan bahas itu dulu. Urusanmu lebih penting.” Aku memotong, membantu menegakkan tubuhnya agar bersandar di batang pohon, “Sebenarnya apa yang terjadi di klan Macan?”
Ia menggeleng pasrah, “Bencana sisa dari kekacauan dulu. Para tetua klan bersekongkol dengan Nyonya Mei, ingin membinasakanku.”
“Nyonya Mei lagi.” Aku mengepal tangan, marah, “Memang dia selalu ada di balik semua masalah.”
“Nyonya Mei tidak seburuk rumor yang beredar di luar.” Yin Moli menelan ludah dengan susah payah, “Memang dia kejam, tapi punya kecerdasan yang seharusnya dimiliki seorang penguasa. Klan Macan jadi begini karena kesalahanku sendiri. Aku terlalu lembut. Andai setegas Nyonya Mei, klan Macan tidak akan hancur seperti ini.”
Aku terdiam sejenak, lalu bertanya, “Lantas, apa rencanamu selanjutnya?”
“Apa lagi.” Ia menggeleng, tersenyum pahit, “Klan Macan tetap tanggung jawabku. Setelah sembuh, tentu aku akan kembali ke sana.”
Aku mengerutkan dahi, “Kau tidak takut mereka akan membunuhmu?”
“Aku, Yin Moli, hidup sudah sekian lama, tidak takut mati.” Ia batuk-batuk, lalu hati-hati mengambil sebuah botol kecil dari dalam bajunya, “Dulu, luka kecil seperti ini tak akan berarti apa-apa.” Setelah membuka tutup botol, ia menatapku, “Tolong ambilkan semangkuk air hangat lagi.”
“Oh.” Obat yang diambilnya pasti ramuan khusus kaum Macan, jauh lebih manjur dari obat biasa. Aku menuruti, menuangkan air hangat dari teko ke mangkuk. Ia mencoba suhu air dengan tangannya, lalu menuangkan bubuk obat dari botol ke dalam air dan mengaduknya hingga larut. Setelah selesai, ia menenggak habis isinya. Tak lama, ia mengeluarkan botol kecil lain, membuka perban di pinggang, lalu menaburkan bubuk obat pada lukanya dengan hati-hati.
Selesai melakukan semua itu, ia terengah-engah bersandar di pohon. Aku hanya mengamatinya dalam diam. Saat aku mulai merasa canggung melihat tubuh bagian atasnya yang telanjang, tiba-tiba terdengar langkah kaki di belakang. Aku menoleh, melihat seorang laki-laki berpakaian putih dengan wajah tertutup kain berjalan ringan ke arah kami, sepertinya ia turun dari kereta kuda yang tadi terasa aneh bagiku.
Ia berhenti di samping Yin Moli, memeriksa luka di pinggangnya dengan saksama. Setelah lama, ia baru mengangkat kepala, “Kau terkena racun ular, obatmu tak akan mempan.” Katanya, lalu mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan menyerahkannya padaku, “Oleskan di luar.” Kemudian, ia mengeluarkan botol yang lebih kecil, “Diminum.” Tanpa mempedulikan keterkejutanku, ia pun kembali ke keretanya.
“Orang itu...” Yin Moli menatapku curiga, “Bisa dipercaya?”
Aku ragu-ragu menggeleng, “Tidak tahu, aku juga tidak kenal dia.”
“Lakukan saja seperti katanya.” Yin Moli menunjuk luka di pinggangnya, “Tolong ya.”
“Baiklah.” Aku mengangguk, mencuci darah di sekitar lukanya dengan air. Meski tidak mengenal pria berbaju putih itu, aku rasa ia tak mungkin mencelakai Yin Moli tanpa alasan. Setelah selesai mengoleskan obat, aku bersandar di pohon lain dan tertidur pulas.
Karena kejadian semalam, rombongan dagang bergerak lebih cepat keesokan harinya. Kereta kuda berguncang keras, membuat selir muda keluarga Liang yang sedang hamil merasa sangat tidak nyaman, bahkan muntah beberapa kali di perjalanan. Namun, insiden tadi malam meninggalkan trauma pada dirinya, ia pun tidak berani meminta rombongan berhenti. Yin Moli yang masih terluka ditempatkan di kereta konsul, ditemani tabib untuk merawatnya.
Awalnya, aku tidak terlalu menaruh hormat pada para bangsawan, tapi karena kejadian ini, aku mulai memandang keluarga Liang dengan kagum. Mereka tidak abai pada nyawa, selalu berusaha sebisa mungkin membantu orang di sekitar. Hanya ini saja sudah jauh lebih baik daripada kebanyakan bangsawan lain.
Sebulan kemudian, rombongan yang letih akhirnya tiba di Kota Embun Putih. Setelah berpamitan dengan keluarga Liang, aku mencari penginapan sendiri. Untuk menemukan Mutiara Lima Kepergian, aku harus melewati Negeri Asing, di mana penduduknya sangat tertutup dan tidak ramah pada orang luar. Untuk melewati Negeri Asing butuh perantara. Dulu, aku dibantu orang dari kaum Elang, sehingga perjalanan lancar. Tapi karena urusanku kali ini menyangkut Mutiara Lima Kepergian, aku tak ingin merepotkan mereka lagi, harus mengandalkan diri sendiri.
Setelah semalam beristirahat dan memulihkan tenaga, aku pun berjalan ke arah luar kota. Seratus li dari Kota Embun Putih sudah masuk kawasan gurun, dan setelah melewatinya baru sampai ke Negeri Asing. Tak jauh dari pintu keluar kota, ada sebuah pondok kecil tempat para pelintas jalan beristirahat dan mencari informasi. Awalnya aku hendak langsung melanjutkan perjalanan, tapi begitu melihat pria berpakaian putih dan bermasker itu, aku segera masuk ke pondok dan duduk di depannya.
Ia mengangkat kepala, memandangku sebentar, lalu mengeluarkan koin tembaga dan meletakkannya di meja, “Silakan, Nona. Aku pergi dulu.”
“Hai!” Aku segera berlari keluar pondok, mengejarnya, “Jangan pura-pura tidak kenal! Kita sudah sebulan seperjalanan. Walau aku belum tahu namamu, tapi kita sudah makan sehidup semati, bukan?”
“Nona, kita hanya kebetulan bertemu di jalan. Kau salah orang.” Ia berbalik, menatapku datar, lalu melangkah pergi.
“Tidak mungkin!” Aku mengusap dahiku, terus mengejarnya dan meraih lengannya, “Hmph, jangan bohong. Di punggung tanganmu ada tahi lalat hitam, malam itu aku lihat jelas.” Aku menunjuk tangan belakangnya sambil tersenyum puas, “Bagaimana, ketahuan juga, kan?”
Ia mengernyit, “Nona benar-benar pernah bertemu denganku beberapa hari lalu?”
Aku tersenyum canggung, “Bukan cuma beberapa hari, satu bulan kita sekonvoi. Setiap malam kau merawat luka Yin Moli, tubuhmu selalu wangi obat khas, mana mungkin aku salah orang?”
“Kalau begitu kita sudah saling kenal, mari kita jalan bersama.” Ia berbalik melanjutkan perjalanan, “Nona juga hendak ke Negeri Asing?”
“Benar, benar.” Aku mengangguk cepat, “Perjalanan jauh, aku sendirian mana mungkin. Sekarang enak, sudah ada teman, tak perlu takut.” Dari jalur ini, hampir pasti tujuannya memang Negeri Asing, aku tak khawatir ia akan pergi ke tempat lain. Melihat ia mengangguk, aku tersenyum puas, urusan ini beres. Tapi, melihat sikapnya tadi, seolah benar-benar tak mengenalku. Jangan-jangan aku yang salah?
“Karena kita sudah saling kenal, tak perlu khawatir. Aku setiap bulan akan lupa dengan kejadian bulan sebelumnya, jadi wajar kalau aku tak ingat kau siapa.” Pria baju putih itu, melihat aku ragu, berbalik dan mengingatkan, “Jadi, sebulan lagi kalau kita masih bersama, kau harus mengingatkan siapa dirimu.”
“Apa?” Aku melongo kaget, ternyata pemuda tampan ini punya penyakit amnesia sesekali, pantesan tadi seperti tak kenal aku sama sekali.
“Oh iya, namaku Liang Yu Ze. Boleh tahu siapa nama Nona?” Ia tersenyum, tampak tak ambil pusing dengan reaksiku.
Aku buru-buru menjawab, “Namaku Bai Dan Er. Nanti aku panggil kau Liang... Eh, tadi kau bilang siapa? Liang Yu Ze?” Aku terpaku di tempat, baru sadar kenapa konsul keluarga Liang sangat menghormatinya. Ternyata Liang Yu Ze ini adalah putra bungsu keluarga Liang, sangat disayang oleh ayahnya. Tapi orang luar mengira ia bodoh, karena tak ada yang pernah melihat wajah aslinya, lalu berasumsi ia punya kekurangan. Sekarang aku sadar, rumor itu keliru. Meski Liang Yu Ze punya masalah ingatan, ia sama sekali bukan orang bodoh. Justru, di usia semuda ini, ia sudah piawai dalam pengobatan.
“Ada apa? Namaku aneh?” Liang Yu Ze menatapku tidak paham.
Aku buru-buru menggeleng, “Tidak, tidak. Namamu bagus, sangat bagus.” Tapi dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, apakah keputusanku pergi ke Negeri Asing bersama dia adalah pilihan yang tepat.