115. Membaca Buku

Kisah Hidupku Sebagai Penyelam Mayat Chen Rongsheng 2374kata 2026-03-30 04:35:06

Pasangan muda itu sedang dimabuk asmara, tengah asyik-asyiknya, sampai akhirnya aku dan Liang tidak sengaja memergoki mereka. Keduanya tampak cukup kikuk.

Si wanita yang cukup genit itu memanyunkan bibirnya sambil bermanja-manja kepada pacarnya, "Sayang, menyebalkan sekali! Aku rasa mereka sengaja ingin merebut tempat duduk kita!"

Si pria yang mungkin tak ingin kehilangan muka di depan pacarnya, melotot ke arahku dan berkata dengan ketus, "Kawan, jangan cari masalah. Cepat pergi dari sini!"

Mendengar ucapannya, amarahku tersulut. Aku segera melangkah maju dan bertanya, "Kenapa? Bicara baik-baik tidak mempan, ya? Harus pakai cara kasar?"

Saat itu, Liang segera berjalan mendekat dan berdiri di hadapanku. Ia melirik seragam yang dikenakan kedua remaja itu lalu bertanya, "Kalian murid SMA Negeri 6, kan? Kalau tidak mau cari masalah, sebaiknya segera menghilang. Kalau tidak, besok aku akan datang ke sekolah kalian dan bicara dengan wali kelas kalian, percaya tidak?"

Begitu mendengar ancaman itu, raut wajah keduanya langsung berubah. Namun, si pria masih tidak terima dan membalas dengan keras kepala, "Memangnya kamu siapa?"

Liang tidak membuang waktu. Ia langsung mengeluarkan lencana polisinya dan menunjukkannya di depan mereka, lalu mendengus dingin, "Lihat sendiri! Kamu tanya aku siapa? Kalau wali kelas tidak bisa mendisiplinkan kalian, aku akan bicara dengan kepala sekolah kalian. Kalau masih tidak bisa, memanggil orang tua kalian untuk duduk bersama minum teh juga tidak masalah."

Begitu lencana itu muncul, kedua remaja tersebut langsung ciut. Si wanita tidak berani berkicau lagi, dan si pria pun seperti balon kempes; mereka segera menarik tangan satu sama lain dan lari menunduk.

Aku tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Liang, "Keren sekali, Inspektur Liang. Gerakan mengeluarkan lencana tadi pasti sudah dilatih, ya? Mulus sekali."

Liang menyimpan lencananya, tersenyum tipis, dan berkata, "Kamu ini ada-ada saja. Siapa yang berlatih khusus untuk itu? Ini sudah jadi memori otot, tidak perlu dilatih."

Setelah pasangan tadi pergi jauh, aku menatap Liang dan berkata, "Baiklah, sepasang kekasih malang itu sudah pergi. Sekarang tinggal kita berdua, giliran kita."

Wajah manis Liang seketika merona merah. Ia menunduk dan bertanya, "Giliran... giliran apa?"

Aku menunjuk buku berjudul *Ikhtisar Sejarah Kabupaten Guanghan* di rak buku dan berkata, "Tentu saja membaca buku, apalagi?"

"Oh... begitu!" Wajah Liang makin memerah. Ia segera berdeham dan berkata, "Ya, ya, benar. Membaca, saatnya membaca!"

Setelah itu, ia berjalan ke rak buku untuk mengambil buku tersebut, lalu mengambilkan satu buku lagi berjudul *Sejarah Kabupaten Guanghan* untukku, dan mengajakku duduk di dekat jendela.

Aku duduk sambil mendekap buku tebal itu. Begitu membukanya, aku langsung terperangah. Sial, buku ini adalah catatan sejarah yang disusun pada zaman Dinasti Qing dan seluruhnya ditulis dalam bahasa klasik!

Namun, bukan itu yang paling parah. Yang paling fatal adalah entah edisi tahun berapa buku ini, tulisannya vertikal dari kanan ke kiri, menggunakan aksara tradisional, dan yang paling parah, tidak ada satu pun tanda bacanya!

Aku benar-benar bingung, memegang buku itu seolah-olah aku buta huruf. Aku saja tidak lulus sekolah menengah, disuruh membaca catatan sejarah Dinasti Qing? Ini namanya bercanda. Aku merasa tidak bisa berkata-kata, tapi juga malu mengatakannya pada Liang karena takut ditertawakan.

Untungnya, Liang cukup peka. Dari sudut matanya, ia melihatku tampak kesulitan memegang buku itu, lalu ia berinisiatif berkata, "Apakah kamu kesulitan membaca buku ini? Kalau tidak keberatan, berikan saja padaku, kamu cari buku lain di rak saja."

Aku merasa seperti mendapat pengampunan dari kaisar. Aku segera menutup "buku langit" itu dan menyodorkannya pada Liang. Aku kembali berdiri untuk mencari buku lain. Namun, setelah berkeliling di seluruh bagian sastra dan sejarah, aku tidak menemukan satu pun buku yang bisa kubaca. Kalau tidak ditulis dengan bahasa klasik, isinya terlalu membosankan hingga membuatku mengantuk.

Setelah berkeliling beberapa kali, aku tidak sengaja bertemu dengan pasangan lain di sudut lantai dua. Keduanya sedang "bertempur" sengit dan sangat asyik, sampai-sampai aku tidak tahan dan bersembunyi di balik rak buku untuk menonton selama lebih dari setengah jam.

Hingga pagi berakhir, aku tidak menemukan satu pun buku yang menarik. Aku kembali dengan tangan hampa dan mendapati Liang sedang membaca dua buku sejarah tebal dengan sangat serius. Aku merasa tidak enak dan segera bertanya, "Liang, sudah hampir siang, kamu lapar? Mau makan apa? Biar aku yang belikan."

Liang berpikir sejenak, "Apa saja boleh, terserah kamu saja."

Aku pun pergi keluar sejenak untuk membeli makan siang. Saat itu, membawa makanan ke perpustakaan masih diperbolehkan, meski belakangan ini peraturannya semakin ketat; jangankan makanan, segelas teh susu pun dilarang.

Saat makan siang, aku memanfaatkan kesempatan untuk bertanya apakah ada temuan baru. Liang berkata dengan pasrah bahwa mencari petunjuk di dalam buku sejarah ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, tidak mungkin menemukannya dalam waktu singkat. Aku pun tidak enak hati mendesaknya karena dia sudah berusaha keras.

Setelah makan, ia lanjut membaca, dan aku bertugas membersihkan meja. Sore harinya, aku kembali menyisir rak buku. Kali ini aku menemukan kategori yang menarik, tepat di sebelah bagian sastra dan sejarah, yaitu "Kisah-kisah Rakyat".

Kategori ini berisi catatan sejarah tidak resmi—bisa benar, bisa salah, atau setengah benar. Meski sulit dijadikan referensi, setidaknya aku bisa menikmatinya. Aku mengambil beberapa buku, lalu duduk berhadapan dengan Liang. Ia membaca sejarah dengan serius, dan aku membaca cerita dengan tekun.

Hingga pukul enam sore, perpustakaan tutup dan kami pun pergi. Hari itu kami tidak mendapatkan hasil apa pun, dan kami berjanji untuk datang lagi besok.

Keesokan harinya, kami datang pagi-pagi sekali. Liang masih membaca dua buku sejarah yang sama. Aku menghabiskan waktu pagi dengan membaca kisah rakyat tentang Du Yu. Ceritanya cukup menarik dan masih kuingat sampai sekarang.

Ceritanya, saat zaman Du Yu, terjadi banjir besar. Du Yu mengirim menterinya, Bie Ling—yang aku tebak mungkin berarti "Perdana Menteri Kura-kura"—untuk mengatasi banjir. Namun, Du Yu justru berselingkuh dengan istri Bie Ling. Aku merasa geram membacanya; Du Yu benar-benar keterlaluan, bahkan istri menterinya pun disikat.

Belakangan, saat Bie Ling kembali setelah berhasil mengatasi banjir, ia mengetahui hal itu dan menyatakan bahwa Du Yu tidak bermoral dan tidak pantas menjadi raja, lalu memaksanya turun takhta. Du Yu yang merasa bersalah akhirnya menyerahkan takhta kepada Bie Ling dan mengubah dirinya menjadi burung tekukur yang berkicau di sawah setiap musim semi.

Itu cerita yang bagus dan penuh pesan moral, tetapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan pencarian makam kuno Shu.

Setelah selesai, aku mengembalikan buku itu dan mulai mencari yang baru. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi membaca cerita tidak berguna dan harus mencari buku tentang makam kuno Shu agar Liang tidak berjuang sendirian.

Tepat saat itu, mataku terpaku pada judul sebuah buku di rak: *Liu Bowen Memutus Garis Naga Dunia*.