34. Jalan Buntu
Meskipun aku sudah sering mendengar dari Jiang Yongguang tentang betapa berbahayanya para Tikus, baru saat inilah aku benar-benar menyadari betapa kejam dan buasnya mereka! Mereka sama sekali tak berniat meninggalkan satu pun dari kami hidup, membombardir kami dengan busur silang mereka tanpa henti!
Andai saja tidak ada benda-benda perunggu yang melindungi kami, mungkin sekarang tubuh kami sudah seperti landak, penuh tertancap anak panah! Di bawah tekanan serangan mereka, kami semua terpaksa mundur sedikit demi sedikit, hingga akhirnya terdesak ke sudut ruang makam.
Saat itu, si kurus jangkung bersama anak buahnya keluar dari lorong makam sambil menenteng busur silang. Sekilas aku menghitung, jumlah mereka lebih dari sepuluh orang! Dan benar saja, masing-masing membawa busur silang!
Melihat pemandangan itu, hatiku langsung menciut. Begitu mereka mendesak kami ke dinding, habislah sudah nyawa kami! Jumlah mereka lebih banyak, senjata mereka pun lebih unggul, kami benar-benar tidak punya harapan menang!
Dalam situasi genting itu, Paman Mei terbakar amarah dan putus asa. Ia menatap Jiang Yongguang dengan tajam dan bertanya, "Sialan, di mana senjata kalian? Apa Satgas Makam Xiaoling bahkan tak punya pistol?"
Jiang Yongguang mengerutkan dahi dan menjawab, "Kami tak pernah membawa senjata api saat menyelam. Pertama, laras senjata mudah rusak dan meledak jika terkena air. Kedua, arus bawah tanah sangat kuat, bisa saja senjata kami hanyut... Kehilangan senjata dinas itu pelanggaran berat, bisa-bisa masuk penjara!"
Barulah belakangan aku tahu dari Xiao Liang, bahwa kehilangan senjata dinas itu memang pelanggaran fatal dan bisa dipenjara. Itulah sebabnya para anggota Satgas Makam Xiaoling tidak selalu membawa senjata.
Namun, dalam keadaan seperti itu, aku pun tak kuasa menahan keluh kesah, menyesali mengapa Jiang Yongguang dan kawan-kawannya tak membawa senjata yang layak, membuat kami hanya bisa menjadi bulan-bulanan.
Para Tikus semakin mendekat, aku benar-benar merasa ajal kami sudah di depan mata.
Saat itu, si kurus jangkung yang memimpin mereka mencibir dan sekali lagi menawarkan syarat kepada kami:
"Aku beri kalian kesempatan terakhir. Serahkan gulungan giok kuno Shu, dan aku akan biarkan kalian pergi. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji!"
Jiang Yongguang tetap teguh, ia dengan tegas menolak, "Cih! Omongan Tikus tak ubahnya kentut! Jangan harap kami akan tertipu!"
Si kurus jangkung itu mendengus, mulutnya menyeringai sinis, "Hmph, menolak kebaikan, pilih jalur kematian. Kalau begitu, akan kubunuh kalian semua! Pada akhirnya, gulungan giok itu tetap akan jadi milik kami."
Mendengar ucapan itu, Paman Mei mencoba membujuk, "Apa yang dikatakannya ada benarnya. Kalau kita tak menyerahkan gulungan itu, mereka tetap akan membantai kita dan mengambilnya juga. Lebih baik kita tukar gulungan itu demi hidup saudara-saudara kita!"
Namun Jiang Yongguang menggeleng, "Aku tak percaya pada Tikus! Aku yakin mereka takkan membiarkan kita hidup!"
Paman Mei menjawab, "Tapi tak ada salahnya mencoba, bukan?"
Salah satu anggota Satgas Makam Xiaoling yang bertugas menjaga gulungan giok itu akhirnya terpengaruh bujukan Paman Mei. Ia melangkah maju, mengangkat gulungan giok kuno itu dan berkata kepada si kurus jangkung, "Kau bersungguh-sungguh? Kalau gulungan ini kuberikan, kau benar-benar akan membiarkan kami pergi?"
Dalam situasi genting, segala cara harus dicoba. Sudah di ujung tanduk, tak mungkin kami rela mati sia-sia.
Si kurus jangkung menyeringai, "Tentu saja, kata-kata seorang pria tak bisa ditarik kembali!"
"Baik, setuju!" Anggota Satgas Makam Xiaoling itu pun melangkah hati-hati, menyerahkan gulungan giok kuno Shu pada si kurus jangkung.
Si kurus jangkung menerimanya dengan penuh kepuasan, menatapnya lama-lama seolah sedang memegang harta karun, senyumnya lebar tak terkira.
"Hahaha... Benar-benar barang langka! Pantas saja bisa menarik perhatian Penasehat Agung!"
Sambil berkata demikian, ia menyembunyikan gulungan itu di balik bajunya, lalu tiba-tiba mengangkat busur silang dan menembakkan panah tepat ke arah anggota Satgas Makam Xiaoling di depannya!
Ctar!
Anak panah tajam itu menancap tepat di kerongkongan korban, membuatnya tewas seketika!
Jiang Yongguang berteriak marah, "Shao Qiang!"
Aku menyaksikan sendiri pengorbanan Shao Qiang, perasaan marah dan sedih bercampur aduk dalam dadaku! Ternyata benar kata Jiang Yongguang, para Tikus itu memang licik dan tak punya hati nurani! Berurusan dengan mereka sama saja dengan menantang maut!
Setelah membunuh dan merebut harta itu, si Tikus pemimpin semakin jumawa. Dengan busur silang di tangan, ia mengejek kami dengan suara dingin,
"Bodoh! Benar-benar percaya aku akan membiarkan kalian hidup? Kalau musuh tak dimusnahkan sampai akar, mereka pasti akan kembali! Kalau aku tak habisi kalian, aku takkan bisa tidur nyenyak!"
Si kurus jangkung itu membantai anggota kami di depan mata, benar-benar kelewat batas. Jiang Yongguang pun tak bisa menahan diri lagi, segera mengangkat pisau selam dan benda perunggu, menggertakkan gigi dan berteriak,
"Saudara-saudara, lawan saja! Meski hari ini kita mati di sini, setidaknya kita harus menyeret beberapa Tikus ikut ke liang kubur!"
Para anggota Satgas Makam Xiaoling pun serempak berteriak dan menerjang ke depan, berusaha bertarung jarak dekat dengan para Tikus. Namun para Tikus sangat licik, begitu melihat serangan balik, mereka segera mundur sambil terus menembakkan busur silang, memanfaatkan jangkauan serangan untuk mengulur jarak.
Semakin banyak anggota Satgas yang terluka, aku, Paman Mei, dan Xiao Liang benar-benar cemas tak karuan.
Xiao Liang berkata dengan cemas, "Tak bisa begini terus, kalau diteruskan, Satgas Makam Xiaoling akan habis semua!"
Paman Mei memandangi sekeliling ruang makam dan berbisik, "Apa tak ada pintu belakang untuk melarikan diri?"
Di saat yang amat genting itu, tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku!
Aku menoleh ke arah dinding anti-air yang sebelumnya dibobol oleh profesor universitas, dan bekas lubang yang kini sudah ditutup, lalu berkata,
"Aku tahu! Kita buka kembali lubang itu, biarkan air bawah tanah masuk! Ingat bagaimana Tu Xing Sun dulu menjebak kita? Kita balas dengan cara yang sama, jebak para Tikus itu!"
Xiao Liang yang cerdas langsung menangkap maksudku, "Aku paham! Kita semua memakai perlengkapan selam, tak takut tenggelam! Tapi para Tikus itu tidak, begitu air mengalir masuk, mereka pasti mati lemas!"
Aku mengangguk serius, "Kemampuan berenang para Tikus belum tentu baik. Di darat, aku bukan lawan mereka. Tapi di air, aku adalah putra Dewa Laut! Saat itu, satu per satu akan kubasmi mereka!"
Setelah sepakat, kami bertiga segera bertindak!
Aku dan Xiao Liang bergegas ke lubang itu, mulai menyingkirkan puing dan batu yang menutupinya dengan tangan. Paman Mei berdiri di depan kami, menangkis serangan anak panah dengan pecahan perunggu sebagai perisai.
Dengan cepat lubang itu terbuka, dan air bawah tanah pun mengalir deras masuk ke dalam.
Melihat waktunya sudah tepat, aku segera berteriak pada anggota Satgas Makam Xiaoling, "Pakai masker oksigen! Air datang!"
Belum selesai ucapanku, kutendang tumpukan batu, dan seketika air bawah tanah memancar deras lewat lubang itu, membanjiri seluruh ruang makam dalam sekejap!
Aku segera memakai masker oksigen, membiarkan arus air membawa tubuhku, sementara mataku terus mengawasi si kurus jangkung yang membawa gulungan giok, menunggu saat yang tepat untuk bertindak!
Kedatangan air bawah tanah yang tiba-tiba itu membuat para Tikus panik bukan main. Mereka berteriak, "Cepat mundur! Air datang!"
Tapi mustahil manusia bisa lebih cepat dari air. Di bawah tanah, arus begitu kuat. Dalam hitungan detik, air sudah memenuhi seluruh ruang makam!
Para Tikus yang tak memakai perlengkapan selam langsung celaka, satu demi satu terjebak di air, berusaha berenang namun sia-sia. Sementara aku bagai naga kembali ke lautan, bebas melesat, menyelam mendekati si kurus jangkung tanpa suara.
Si kurus jangkung itu sama sekali tak sadar aku mendekat, masih berjuang keras untuk mengapung ke permukaan.
Gambaran bagaimana ia membunuh Shao Qiang tadi terlintas di pikiranku, membuat darahku mendidih. Aku pun membulatkan tekad, di bawah air kutangkap pergelangan kakinya dengan kuat dan menariknya ke bawah sekuat tenaga!
Di dalam air, aku adalah putra Dewa Laut Timur! Hidup dan mati, kini sepenuhnya ada di tanganku!