Tulang Belulang Naga
Dengan teriakan penuh semangat dari Prajurit Makam Xiaoling, kami serempak menengadah dan memandang ke depan. Di ujung koridor gelap itu, berdiri dua buah gerbang perunggu yang megah dan penuh wibawa.
Gerbang di depan kami ini memang sedikit lebih kecil dibandingkan gerbang di pintu masuk makam, tingginya sekitar dua meter. Namun, meski demikian, kedua pintu perunggu ini tetap memancarkan aura yang luar biasa dahsyat!
Begitu kami mendekat, barulah aku sadar bahwa kedua pintu itu telah runtuh. Mereka terlepas sepenuhnya dari engselnya, kini bersandar miring pada dinding batuan makam.
Tak perlu diragukan lagi, di balik pintu perunggu itu adalah ruang utama makam kuno Negeri Shu ini.
“Entah siapa sebenarnya pemilik makam ini? Apakah mungkin salah satu Raja Shu yang legendaris? Bisa jadi Sang Penguasa Sutra, atau Sang Raja Nelayan, atau bahkan Duyou…” ucap Liang kecil penuh harap.
Jiang Yongguang meliriknya sekilas dan memuji, “Luar biasa, mahasiswa memang berbeda, pengetahuanmu tentang sejarah Negeri Shu kuno cukup mendalam. Kalau begitu, boleh kutanya, apa prestasi utama dari tiga raja besar kuno Negeri Shu itu?”
Liang kecil berpikir sejenak lalu menjawab, “Konon, Sang Penguasa Sutra mengajari rakyat memelihara ulat sutra, sehingga namanya mengandung kata ‘sutra’. Sang Raja Nelayan mengajarkan cara menangkap ikan dan mengembangkan perikanan untuk Negeri Shu, sedangkan Duyou membimbing rakyat bertani, membantu Negeri Shu bertransformasi dari era berburu menjadi era pertanian.”
Jiang Yongguang mengangguk puas, “Jawabanmu benar. Memang beda mahasiswa.”
Mendengar diskusi mereka, aku merasa seperti orang bodoh. Jujur saja, nama-nama seperti Sang Penguasa Sutra, Sang Raja Nelayan, atau Duyou, sama sekali belum pernah kudengar sebelumnya.
Sambil berbincang, kami sudah tiba di depan ruang utama makam. Saat itu Jiang Yongguang memberi isyarat agar kami menurunkan suara dan meningkatkan kewaspadaan. Sebab, menurut Tuxingsun, sangat mungkin masih ada para pencuri harta yang tersisa di ruang utama.
Ia tidak langsung masuk, melainkan berdiri di ambang pintu, mengamati ke dalam.
Cahaya lampu kepala berkelebat, dan seketika aku melihat banyak bayangan tubuh tinggi besar!
Pemandangan itu membuatku langsung menahan napas. Paman Mei pun terkesiap, bergumam, “Banyak sekali orang!”
Namun Jiang Yongguang berbisik, “Pencuri itu penakut, pasti sudah melarikan diri sejak mendengar suara kita. Tidak mungkin mereka berdiri di dalam ruang makam menunggu kita. Bayangan itu bukan manusia.”
Benar saja, saat sorotan lampu kepala menimpa bayangan-bayangan itu, barulah aku sadar bahwa semua itu adalah patung perunggu yang sangat mirip manusia. Mereka berbaris di kedua sisi ruang utama, layaknya pasukan penyambut, masing-masing memegang senjata yang bentuknya agak mirip tongkat golf, berdiri tegak tanpa bergerak.
Jiang Yongguang mengamati dengan saksama, lalu memasang telinga, memastikan tak ada tanda-tanda pencuri, barulah ia melangkah perlahan masuk ke dalam.
Kami bahkan menahan napas, hati-hati mengikuti di belakangnya, masuk ke ruang utama.
Sambil berjalan, aku waspada mengawasi patung-patung perunggu di kedua sisi. Entah karena terlalu sering menonton film horor atau imajinasi yang kelewat liar, aku merasa patung-patung itu sewaktu-waktu bisa saja hidup dan mengayunkan senjata ke arah kami!
Namun nyatanya kekhawatiranku berlebihan. Dunia nyata tidak sefantastis itu, patung-patung perunggu itu tetap diam, tidak menyerang kami.
Hanya saja, salah satu patung perunggu yang sudah sangat lapuk tiba-tiba roboh dan pecah, seperti patung di gerbang makam tadi, membuat kami semua terkejut.
Selain itu, tak ada kejadian aneh lain dari patung-patung itu.
Tanpa sadar, kami pun sampai di tengah ruang utama. Saat aku masih khawatir dengan patung-patung perunggu itu, tiba-tiba Jiang Yongguang yang berada di depan mendesah pelan.
Orang setenang dia jarang sekali bereaksi seperti itu. Begitu mendengar desahannya, aku tahu pasti ada sesuatu yang besar terjadi.
Aku menengadah ke depan, dan langsung menarik napas dalam-dalam!
Di tengah ruang utama, terbentang sebuah kerangka raksasa yang luar biasa besar!
Kerangka itu lebih besar dari kerangka makhluk manapun yang pernah kulihat. Satu-satunya yang bisa menandinginya mungkin hanya fosil dinosaurus atau tulang paus yang pernah kulihat di televisi.
Kerangka di depan mata, hanya tengkoraknya saja sudah lebih dari lima meter panjangnya! Tingginya lebih dari tiga meter! Benar-benar seperti fosil tengkorak T-rex!
Yang membuatku lebih terkejut, di bagian atas tengkorak itu tumbuh dua tanduk mirip tanduk rusa!
Aku langsung mengenalinya!
Ini pasti kerangka seekor naga!
Bukan dinosaurus purba, bukan ular raksasa hasil mutasi!
Tapi naga!
Totem Negeri Timur—Naga!
Aku benar-benar tertegun, lama tak mampu mengucap sepatah kata pun.
Di sisiku, Liang kecil dan Paman Mei juga melongo, terutama Liang kecil, si mahasiswa cerdas itu bahkan tak mampu menjelaskan apa yang ada di depan matanya!
Bahkan Jiang Yongguang pun tertegun, setengah tersenyum setengah tidak, berkata:
“Apa-apaan ini? Apa kita semua salah tebak? Ternyata pemilik makam ini bukan bangsawan Negeri Shu kuno, melainkan seekor naga sejati? Ini ternyata makam naga kuno?”
Salah satu Prajurit Makam Xiaoling di samping kami berkata dengan suara gemetar, “Astaga… ternyata naga benar-benar ada! Di dunia ini benar-benar ada naga! Berarti peristiwa jatuhnya naga di Yinkou, di Heishanzi… semua itu ternyata nyata!”
Aku benar-benar lemas kala itu, terpaku menatap kerangka naga di depan mata, perasaanku campur aduk antara takjub dan tak percaya!
Meski aku tidak percaya pada hantu, namun aku mau percaya bahwa naga memang pernah ada di dunia ini.
Terlebih setelah menyaksikan langsung kerangka naga kuno itu, kepercayaanku semakin teguh.
Aku terpaku memandangi mahkluk raksasa itu, tanpa sadar melangkah mendekat, bahkan nyaris mengulurkan tangan untuk menyentuh kerangka itu.
Tapi begitu aku mendekat, di bawah cahaya lampu kepala yang dingin, aku melihat tulang naga itu memantulkan kilau logam.
Aku mulai merasa ada yang aneh, lalu mendekat dan memperhatikan lebih saksama, seketika aku menjerit tertipu!
“Tidak benar! Ini tulang naga dari perunggu! Ini bukan kerangka naga sungguhan, hanya tiruan!”
Teriakanku langsung membuyarkan lamunan semua orang. Semula mereka masih bersemangat mengira telah melihat makhluk mitologi dengan mata kepala sendiri, kini rasa kecewa pun langsung menyeruak.
“Apa? Ternyata kerangka naga ini terbuat dari perunggu?”
“Palsu?”
“Masa sih? Seluruh kerangka itu dicetak dari perunggu? Keterampilan orang Shu kuno sungguh luar biasa!”
“….”
Sambil ramai bergumam, semua mendekati kerangka naga dan memeriksanya dengan seksama. Ternyata benar, seluruh kerangka itu terbuat dari perunggu, pada sambungan tulangnya bahkan masih tampak bekas-bekas penyambungan.
Liang kecil tampak sangat kecewa, mendesah, “Jadi sia-sia, kukira kita benar-benar menemukan tulang naga. Kalau saja terbukti naga ada di dunia, pasti jadi penemuan yang mengguncang dunia!”
Jiang Yongguang tertawa, “Jangan berkecil hati. Meski ini palsu, bukan berarti naga itu tidak pernah ada. Setahuku, banyak sejarawan dan arkeolog di negeri ini percaya bahwa naga bukan sekadar dongeng, melainkan makhluk nyata.”
“Serius?” Mata Liang kecil langsung berbinar, penuh harap.
“Tentu saja,” Jiang Yongguang mengangguk, “mereka sama sekali tidak pernah meragukan keberadaan naga.”
Tiba-tiba suara serak Paman Mei terdengar dari kejauhan:
“Kalian ke sini lihat, bukankah sebelumnya di sini ada sebuah peti mati? Ke mana petinya? Kok tidak ada?”
Kami semua segera menoleh ke arah suara itu, lalu terdiam dalam lamunan masing-masing.