Mengikuti
Begitu mendengar bahwa Kak Hong ingin memanggil temannya untuk mengangkut jenazah, kami langsung tahu dia akan menghubungi rekan-rekannya, ini adalah kesempatan bagus untuk menelusuri jejak mereka. Aku bertanya apakah dia butuh bantuan, apakah perlu dibantu memasukkan jenazah ke mobil dan sebagainya.
Namun Kak Hong buru-buru menggeleng dan menolak, katanya urusan seburuk ini tak perlu merepotkan kami berdua. Ia bahkan tampak sangat khawatir kalau kami terlibat dalam urusan ini, langsung saja ia melunasi upah mengevakuasi mayat pada kami dan menyuruh kami pergi.
Padahal sebelumnya ia jelas-jelas bilang tak punya banyak tabungan dan harus mengandalkan pijat gratis sebagai pembayaran, tapi ia dengan enteng mengeluarkan setumpuk uang seratus ribuan dari sakunya, mengambil tiga lembar lalu bertanya apakah cukup.
Aku tersenyum menerima uang itu dan mengangguk bilang sudah cukup. Setelah itu kami pun tak berlama-lama, aku mengajak Xiao Liang pergi dengan perahu pencari mayat.
Saat berangkat, aku melirik sekilas, kulihat Kak Hong sedang mengeluarkan ponselnya dan menghubungi rekannya, sepertinya mereka akan segera bergerak.
Waktu itu kondisi ekonomi sedang sulit, orang biasa tak sanggup membeli ponsel, kebanyakan masih pakai telepon rumah atau kartu telepon. Yang agak mampu pakai telepon nirkabel kecil.
Tapi Kak Hong justru memakai ponsel, dan aku sempat mengamatinya — wah, ternyata ponsel Nokia N70! Setara dengan iPhone terbaru di masa sekarang!
Ternyata ia benar-benar berpura-pura miskin!
Ini lagi-lagi sebuah kejanggalan.
Setelah perahu berjalan agak jauh, Xiao Liang tiba-tiba menarik lenganku dan berkata, “Chen Rongsheng, menepi! Aku mau membuntuti Kak Hong, cari tahu di mana markas mereka.”
Kulihat tubuh Xiao Liang yang kurus kecil, aku jadi khawatir dan berkata, “Kamu yakin bisa sendiri? Para pencuri makam itu nekat, kalau kamu ketahuan bagaimana? Terlalu berbahaya, bagaimana kalau kita urungkan saja?”
Tapi kali ini Xiao Liang sangat berani, dengan tegas berkata, “Kesempatan tak datang dua kali! Chen Rongsheng, kamu tidak ingin menemukan Kak Mei? Tidak ingin membalaskan dendam Bibi Mei?”
“Tentu saja aku ingin!” jawabku tanpa ragu.
“Kalau begitu menepilah! Biar aku turun membuntuti mereka. Tenang saja, aku sudah terlatih secara profesional, tak akan ketahuan.” Xiao Liang menatap mataku saat berkata demikian.
Meski aku tetap khawatir, tapi memang ini kesempatan langka. Setelah ragu sejenak, akhirnya aku menepikan perahu, membiarkan Xiao Liang turun dan membuntuti mereka.
Setelah itu, aku sendiri mengemudikan perahu kembali ke rumah untuk menemui Paman Mei.
Saat tiba di rumah, Paman Mei sedang duduk di depan pintu halaman sambil merokok. Melihat aku pulang sendirian, ia heran dan bertanya, “Xiao Liang mana? Bukannya kalian bersama?”
Aku buru-buru berkata, “Paman, kami berdua punya penemuan penting. Mbak pijat di tepi Sungai Itik itu ternyata anak buah Tuan Wang, dia jadi pengintai!”
Paman Mei sempat tertegun, lalu perlahan mengangguk, “Masuk akal! Tukang pijat seperti itu memang sering berpindah-pindah, dan wanita memang suka mencari tahu, cocok sekali jadi pengintai.”
Lalu ia bertanya lagi, “Lalu Xiao Liang ke mana?”
Aku menceritakan bagaimana kami membantu Kak Hong mengevakuasi mayat, lalu menambahkan bahwa Xiao Liang pergi membuntutinya. Jika berhasil, mungkin bisa menelusuri jejak sampai ke sarang para pencuri.
Mendengar itu, wajah Paman Mei tampak cemas, “Aduh, Xiao Liang itu kan gadis, jangan-jangan ada bahaya menimpanya? Rongsheng, bagaimana kalau kita menyusulnya?”
Tapi aku menggeleng, “Paman, Xiao Liang terlatih secara profesional, seharusnya tak akan terjadi apa-apa. Lagipula kalau kita ikut mencari, malah bisa memperkeruh suasana. Lebih baik kita tunggu di rumah.”
Paman Mei berpikir sejenak, lalu merasa pendapatku benar.
Saat itu aku bertanya, “Ngomong-ngomong, bagaimana hasil mencari informasi di kota hari ini?”
Baru saat itu Paman Mei teringat dan buru-buru berkata, “Hampir lupa, aku memang dengar kabar. Sekitar setengah tahun lalu, ada seorang pengusaha dari luar kota datang ke Kota Hongyan, katanya mau menyumbangkan sekolah dasar harapan secara cuma-cuma untuk kota ini. Tapi sebenarnya penduduk Hongyan sedikit, anak-anak lebih sedikit lagi, sekolah yang ada saja kekurangan murid, jadi tak perlu membangun sekolah baru. Tapi si pengusaha ngotot bilang nanti anak-anak pasti makin banyak, harus bersiap dari sekarang, pokoknya ia bersikeras membangun sekolah harapan di sini...”
Semakin aku dengar, semakin aneh. Jalan pikir si pengusaha ini memang tidak biasa.
Paman Mei melanjutkan, “Namanya juga sumbangan gratis, pemerintah kota pikir tak ada salahnya menerima. Akhirnya disetujui juga, dan pembangunan sekolah harapan pun dimulai. Tapi anehnya, padahal banyak lahan kosong di kota, tapi sekolah harapan itu justru harus dibangun di tepi Sungai Itik. Waktu itu banyak warga setempat yang menasihati, kalau nanti sungai meluap, sekolah bisa-bisa kebanjiran, sebaiknya lokasi digeser ke daratan, tapi si pengusaha itu keras kepala, sama sekali tak mau mendengar.”
Mendengar itu aku tak kuasa menahan tawa sinis, “Jangan-jangan pengusaha itu adalah Tuan Wang?”
Paman Mei langsung mengangguk, “Aku juga berpikir begitu, sepertinya sumbangan sekolah harapan itu hanya kedok, yang sebenarnya ingin menggali makam secara diam-diam. Siang membangun fondasi, malam menggali terowongan, pura-pura membangun di muka, diam-diam menjarah di belakang!”
Aksi semacam ini memang sangat umum dilakukan pencuri makam. Contoh terdekat adalah proyek lain Tuan Wang — makam kuno Shu di Sungai Tuo, caranya persis sama.
Menurut penuturan Jiang Yongguang, saat Tuan Wang menggali makam kuno Shu di Sungai Tuo, ia juga memakai cara serupa untuk mengelabui orang.
Maklum, makam kuno itu sangat besar, dan ada pekerjaan berat seperti penyelaman dan pengeringan kuburan, tak mungkin dilakukan secara diam-diam, pasti menimbulkan banyak keributan.
Saat itulah mereka perlu memutar otak.
Waktu itu Tuan Wang bekerja sama dengan perusahaan konstruksi, pura-pura membangun dermaga di Sungai Tuo, menggunakan itu sebagai kedok untuk menutupi kejahatan sesungguhnya.
Dan waktu pembangunan dermaga Sungai Tuo itu, kebetulan juga sekitar setengah tahun lalu!
Jika dikaitkan dengan pembangunan sekolah harapan di Hongyan, semua teka-teki pun terjawab.
Aku tak bisa menahan kekaguman, “Tuan Wang memang lihai, dua makam di Sungai Tuo dan Sungai Itik digarap bersamaan, operasi ganda, dalam waktu singkat menjarah harta dan kabur.”
Paman Mei juga mengangguk, “Benar, bisa jadi makam kuno Shu itu sekarang sudah dikuras habis oleh Tuan Wang. Kalau kita tidak segera bertindak, bisa-bisa lagi-lagi dia lolos!”
“Tidak bisa dibiarkan, kita harus menangkap Tuan Wang!” seruku sambil mengepalkan tangan.
Nasib Kak Mei, dendam darah Bibi Mei, semua tertumpu pada Tuan Wang.
“Semoga saja Xiao Liang bisa menemukan markas Tuan Wang di Hongyan, begitu tahu tempatnya kita langsung hubungi Jiang Yongguang, biar dia dan pasukan penjaga makam bergerak. Kalau beruntung, mungkin Tuan Wang bisa tertangkap.” kataku pada Paman Mei.
Karena Tuan Wang meninggalkan putranya, si Kecil Wang, untuk memimpin di Sungai Tuo, maka kemungkinan besar dia sendiri akan menjaga langsung di Sungai Itik.
Aku cukup yakin bisa menangkap dalang utama ini.
Paman Mei pun sama, ia menggertakkan gigi, “Benar, kita harus menangkap Tuan Wang! Tak boleh lagi membiarkan bajingan itu kabur!”
Saat kami tengah sibuk berdiskusi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari kejauhan. Kami menoleh, melihat sosok anggun berlari kecil ke arah kami.
Ternyata itu Xiao Liang yang tadi membuntuti Kak Hong.
Rambutnya yang diikat ekor kuda tampak berantakan, keningnya penuh keringat.
Aku segera bangkit menyambut, cemas bertanya, “Bagaimana? Kamu tak apa-apa? Dapat apa saja?”
Xiao Liang kelelahan, bertopang pinggang sambil terengah-engah. Ia menunjuk ke dalam rumah, lalu berkata, “Masuk... kita bicara di dalam...”