Bab Delapan Puluh Tujuh: Berlayar ke Laut
Setelah menerima tugas itu, kelima orang tersebut langsung mulai mempersiapkan keperluan untuk berlayar pada hari itu juga. Bagaimanapun juga, baik itu Kristal Petir, Ikan Paus Karang, ataupun Kepiting Cakar Raksasa, untuk menemukan makhluk atau benda-benda tersebut, mereka harus pergi ke Laut Yuan, karena letak terdekatnya memang di sana. Sebenarnya, setelah melewati Laut Yuan dan terus ke arah yang lebih dalam, wilayah itu disebut Laut Luas, yang merupakan batas timur Benua Cangzhong. Mungkin para kultivator tingkat tinggi di Benua Cangzhong mengetahui apa yang ada di seberang Laut Luas yang tak bertepi itu, namun bagi murid-murid tingkat rendah seperti Gu Tianhao dan kawan-kawannya, yang bahkan belum memahami benar letak geografis Benua Cangzhong saja belum mampu, apalagi harus memikirkan dunia di balik Laut Luas yang luas tak berujung itu. Karena itu pada umumnya, kecuali benar-benar yakin pada kekuatan diri sendiri, para kultivator tingkat Qi hanya akan pergi ke Laut Yuan demi menyelesaikan tugas mereka, sangat jarang yang berani menyeberangi Laut Yuan menuju wilayah Laut Luas. Laut Luas yang dalam dan misterius, laksana jurang tak terlihat, menimbulkan rasa takut secara naluriah pada manusia.
Sebenarnya, batu roh yang dimiliki Gu Tianhao dan dua rekannya tidaklah banyak. Saat pergi ke pasar, mereka hanya bisa membeli beberapa lembar jimat dan beberapa formasi pertahanan sederhana. Untungnya, persediaan pil penambah energi dan obat penyembuh yang mereka siapkan sebelum berangkat ke dunia rahasia masih tersisa dalam kantong penyimpanan mereka, sehingga mereka tidak terlalu kekurangan.
Keesokan harinya, kelima orang itu keluar dari Gerbang Timur kota, menuju Laut Yuan. Di sepanjang perjalanan yang dilalui oleh pegunungan hijau dan danau biru yang beriak, mereka juga bertemu banyak kultivator lain yang juga sedang menjalankan tugas. Namun tidak ada kejadian perampokan atau kejahatan, perjalanan mereka berjalan cukup lancar.
Hal ini mungkin karena mereka berlima berjalan bersama. Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun dibandingkan para kultivator yang hanya berdua atau bertiga, mereka tampak lebih seimbang dalam kekuatan, dan setiap orang berada di tingkat akhir Qi. Para kultivator tingkat Qi biasa pun enggan mencari masalah dengan kelompok seperti mereka, sementara para kultivator tingkat dasar biasanya juga tidak sudi merampok kultivator tingkat Qi, karena perbuatan seperti itu tidak akan membawa manfaat apa pun bagi kemajuan batin mereka — hanya akan merusak suasana hati yang penting untuk berlatih. Kecuali benar-benar yakin harta yang dimiliki para kultivator tingkat Qi sangat berlimpah, barulah para kultivator tingkat dasar tergoda untuk bertindak, meski tahu tidak ada manfaat bagi kultivasi mereka.
“Jadi ini Laut Yuan!” Setelah hampir sepuluh hari perjalanan, mereka akhirnya tiba di tepi Laut Yuan. Melihat permukaan laut yang membentang luas, beriak lembut diterpa angin sepoi, Zhong Lancaopun tak kuasa berdecak kagum, “Ini pertama kalinya aku melihat lautan, sungguh menakjubkan!”
Di antara lima orang itu, selain Du Qixiang dan Hei Zhi, tiga orang lainnya memang baru pertama kali menginjakkan kaki di tepi laut dan menyaksikan kebesaran ombak samudra.
“Kristal Petir biasanya terbentuk dari batu laut di dasar laut yang tersambar petir sejati dari langit. Pada saat batu laut terkena sambaran petir, air laut yang juga tersambar akan menyatu dengan batu itu. Setelah bertahun-tahun, hanya sebagian kecil di bagian inti batu laut yang akan berubah menjadi Kristal Petir. Kristal ini umumnya berwarna hitam keunguan, dan kebanyakan tersembunyi di dalam batu laut biasa, sehingga sangat sulit ditemukan.”
Du Qixiang perlahan menjelaskan ciri-ciri Kristal Petir. Ia memang sengaja kemarin pergi ke pasar untuk menyalin sebuah gulungan giok berisi informasi sumber daya kultivasi di sekitar Kota Yuancang. Di dalamnya tidak hanya ada deskripsi tentang Kristal Petir, tapi juga ciri-ciri serta bentuk Ikan Paus Karang dan Kepiting Cakar Raksasa.
“Nih, aku sudah menyalin satu untuk masing-masing kalian.” Kata Du Qixiang sambil mengeluarkan empat gulungan giok dari kantong penyimpanannya, lalu membagikannya kepada Gu Tianhao dan tiga orang lainnya, termasuk Hei Zhi.
“Terima kasih, Du!” Gu Tianhao dan dua rekannya segera mengucapkan terima kasih. Meskipun kemarin Du Qixiang menyuruh mereka menyiapkan perlengkapan perjalanan sementara ia sendiri mencari tahu tentang tugas ini, mereka tak menyangka ia akan membagikan salinan gulungan giok itu kepada masing-masing orang, sehingga mereka buru-buru hendak mengeluarkan batu roh sebagai ganti.
“Ah, tidak usah segan, teman-teman. Walaupun aku menyalin lima gulungan, hanya satu yang kubayar dengan batu roh. Sisanya kutulis ulang dari salinan itu sendiri, jadi kalian tak perlu membayar.”
Du Qixiang buru-buru menolak, dan Hei Zhi menimpali, “Benar, teman-teman, tak perlu sungkan. Kita sudah satu tim, saling melengkapi memang sudah seharusnya.”
“Baiklah, terima kasih banyak, Du.” Melihat mereka berdua begitu tulus, Gu Tianhao pun mengurungkan niatnya membayar.
Feng Leyuan dan Zhong Lancaopun mengikuti Gu Tianhao, tidak jadi memaksa.
“Mumpung air pasang belum naik, mari kita berangkat ke pulau terdekat. Kalau hanya menunggu di pantai, baik Kristal Petir maupun makhluk laut takkan bisa ditemukan.” Du Qixiang berkata demikian, lalu Hei Zhi mengeluarkan sebuah benda dari kantong penyimpanannya dan meletakkannya di tanah. Tiga orang lainnya sempat terkejut, sebab benda besar berwarna hitam itu ternyata adalah sebuah perahu kecil—benar-benar perahu kayu biasa, bukan alat ajaib maupun alat sihir, melainkan jenis yang digunakan manusia biasa dengan cara mendayung.
“Kapal terbang terlalu mahal dan kita juga tak sanggup mengendalikannya lama-lama. Sementara itu, kalau hanya mengandalkan jurus meringankan tubuh, kita pasti kehabisan energi sebelum jauh. Dari yang kutahu, para kultivator tingkat Qi di Kota Yuancang umumnya memang memakai perahu dayung seperti ini untuk melaut. Meskipun lambat, tapi cukup praktis.” Hei Zhi tertawa santai menjelaskan. Melihat Du Qixiang dan Hei Zhi terus-menerus mengeluarkan perlengkapan, Gu Tianhao dan rekan-rekannya baru sadar betapa mereka benar-benar masih pemula di dunia kultivasi, atau lebih tepatnya pemula di dunia para kultivator lepas. Mereka saling berpandangan, merasa bahwa kalau bukan karena ikut bersama Hei Zhi dan Du Qixiang, perjalanan kali ini pasti akan sia-sia belaka.
“Memang benar, Hei sangat teliti,” kata Feng Leyuan sambil tersenyum. Namun wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun tampak gelisah karena tidak memikirkan hal itu sejak awal. Sikapnya membuat orang lain merasa seolah-olah ia memang sudah punya rencana, hanya saja rencananya tidak sebaik milik mereka. Dengan begitu, mereka bertiga tidak akan tampak terlalu lemah. Walaupun sejauh ini Du Qixiang dan Hei Zhi tampak dapat dipercaya, namun siapa yang tahu isi hati seseorang? Terlebih lagi di tempat asing seperti ini, terlalu sering memperlihatkan kelemahan hanya akan mengundang niat buruk dari orang lain.
Kelima orang itu naik ke atas perahu, bergantian mendayung. Setelah beberapa saat, mereka memang melihat bahwa tidak hanya perahu mereka saja yang berada di laut. Ada perahu-perahu lain, tiga atau dua, yang juga didayung oleh para kultivator tingkat Qi, mengapung di atas permukaan laut yang tenang, menghadirkan suasana damai seolah dunia tanpa sengketa. Namun Gu Tianhao tahu, ketenangan itu hanyalah permukaan belaka. Jika seekor makhluk laut tiba-tiba muncul dari bawah permukaan, jangankan damai, mereka pasti akan menghadapi bahaya besar.
“Kalau kita mengikuti jalur ini, seharusnya takkan bertemu makhluk laut yang berbahaya,” kata Du Qixiang sambil mengamati peta laut.
Gu Tianhao dan dua rekannya sekali lagi hanya bisa menghela napas dalam hati. Tiga “anak bawang” ini, meski berusaha bersikap tenang, mungkin Du dan Hei sudah sejak awal tahu bahwa mereka benar-benar tak punya pengalaman.
Mengikuti petunjuk di peta yang dipegang Du Qixiang, sepanjang perjalanan mereka hanya sempat bertemu satu-dua ikan iblis, namun semuanya tidak berbahaya dan dengan mudah dapat mereka atasi. Zhong Lancaopun bahkan memanggang ikan iblis itu dengan api pil, menyajikannya sebagai makan malam agar semua orang bisa mengisi tenaga sebelum menghadapi pertarungan.