Bab Tiga Puluh Empat: Detak Hati
Bagaimana mungkin Gu Tianhao mengetahui kekhawatiran ayahnya, Gu You Song? Seluruh perhatiannya kini tertuju pada dua orang yang sedang bertarung di atas arena. Memang, gadis kecil itu tampak lemah lembut, namun kemahirannya dalam menggunakan ilmu sihir sangat luar biasa. Pedang kecil yang ia kendalikan terus berputar di atas kepala pria besar berjanggut lebat, memaksanya menghabiskan banyak tenaga hanya untuk menghindari pedang itu, sehingga tak ada lagi sisa kekuatan untuk menyerang. Saat gadis itu melafalkan mantra, tiba-tiba ia menggunakan jurus tanah yang langsung menimbun tubuh pria besar itu hingga ke leher. Di atas kepala pria itu ada pedang yang menggantung, sementara bagian bawahnya sudah terbenam dalam tanah. Wasit yang merupakan seorang ahli tahap pondasi pun segera mengumumkan kemenangan si gadis kecil.
Melihat gadis kecil dan pria berjanggut meloncat turun dari arena, Gu Tianhao pun tak dapat menahan kekagumannya, “Gadis ini kelak pasti akan menjadi murid inti Sekte Yuan Dao.”
Meski ia menganggap sekte mereka, Sekte Awan Merah, juga cukup baik, namun bagaimanapun juga Sekte Yuan Dao adalah salah satu sekte terbesar di Benua Cang Zhong, dengan sumber daya yang jauh melampaui Sekte Awan Merah yang kecil. Contohnya, adik laki-laki Jia Baishuang, sepupunya Jia Shi Hao, yang usianya dua tahun lebih muda darinya, sudah menjadi murid luar Sekte Yuan Dao dan kini telah mencapai tingkat enam Penyempurnaan Qi. Tentu saja hal ini juga berkat bakatnya yang memiliki dua akar spiritual. Namun, di Sekte Awan Merah, Zuo Liu Zhi dan Song Yu yang juga memiliki dua akar spiritual, bahkan telah menjadi murid para ahli tahap pondasi di sekte, namun hingga kini Zuo Liu Zhi yang bahkan menjadi satu-satunya murid ahli tahap pondasi akhir, baru mencapai tingkat delapan Penyempurnaan Qi, padahal usianya hampir dua puluh tahun. Kata ibunya, kitab yang diberikan Sekte Yuan Dao kepada murid tahap Penyempurnaan Qi jauh lebih tinggi kualitasnya daripada yang ada di Sekte Awan Merah. Selain itu, para ahli tahap inti dan pondasi di sana juga rutin memberikan pelajaran, suatu hal yang tak mampu disaingi Sekte Awan Merah.
“Itu belum pasti. Masih ada dua pertarungan berat yang harus dilaluinya!” Saat Gu Tianhao tengah membayangkan betapa besar manfaat menjadi murid sekte besar seperti Yuan Dao, terdengarlah suara Xu Wenbo.
“Masih ada? Bukankah dia sudah menang?” Gu Tianhao bingung, bahkan Gu You Song pun memandang Xu Wenbo dengan raut penasaran.
Xu Wenbo menjelaskan, “Pemilihan murid inti Sekte Yuan Dao sangatlah ketat, paling tidak harus mengalahkan tiga orang seangkatan.”
“Masuk menjadi murid inti begitu sulit?” Gu Tianhao tak bisa menahan desahannya.
“Kakak Song dan yang lain ada di sana, ayo kita temui!” Begitu pertandingan di arena usai dan gadis kecil itu butuh waktu untuk mengatur napas, Xu Wenbo pun mencari-cari dan benar saja ia melihat Song Yu bersama beberapa murid Sekte Awan Merah di seberang, lalu mengajak Gu You Song dan Gu Tianhao mendekat.
Saat mereka bertiga tiba, mereka melihat Song Yu tengah berbincang dengan seorang senior tahap pondasi. Senior itu mengenakan jubah putih, wajahnya tampak bersih dan tampan, sudut bibirnya selalu tersenyum saat berbicara, sehingga terkesan selalu ramah. Mungkin karena wajahnya yang mudah bersahabat inilah Song Yu memilih bertanya padanya.
“Apa yang sedang dibicarakan Kakak Song dengan senior itu?” Xu Wenbo maju dan bertanya pada salah satu murid Sekte Awan Merah yang seusia dengannya.
“Dia ingin masuk ke Sekte Yuan Dao,” jawab murid lain yang berbadan hitam gemuk, bermata sipit dan tampak memandang rendah Song Yu yang sedang berbicara dengan ahli pondasi Sekte Yuan Dao.
“Apa?” Xu Wenbo terkejut, begitu juga Gu Tianhao yang langsung menoleh ke arah Song Yu.
Song Yu membungkuk sopan, wajahnya penuh senyum. Karena suasana di sekeliling cukup ramai, Gu Tianhao dan yang lain tak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Ahli pondasi itu duduk di meja yang penuh dengan kepingan giok, di belakangnya berdiri dua murid berpakain biru muda, tampaknya murid Penyempurnaan Qi dari Sekte Yuan Dao.
Ahli pondasi yang tampan itu jelas tidak terlalu mengindahkan Song Yu. Terlihat Song Yu terus berbicara, namun ahli pondasi itu hanya sesekali melirik tanpa menunjukkan sikap. Akhirnya, entah apa yang dikatakannya, salah satu murid berpakain biru di belakangnya maju dan berbicara beberapa patah kata pada Song Yu. Song Yu pun tampak sedikit malu, menunduk lesu dan kembali ke kelompoknya.
Tanpa perlu bertanya, sudah jelas Song Yu telah ditolak. Meski tak tahu alasan Sekte Yuan Dao menolaknya, padahal Song Yu memiliki dua akar spiritual, setidaknya menjadi murid luar seharusnya bukan masalah.
Gu You Song berkata pelan, “Sekte besar seperti itu tak mungkin mau memungut sisa orang dari sekte lain.”
Meski Gu You Song berkata pada diri sendiri, namun ucapan itu membuat Gu Tianhao dan Xu Wenbo saling bertukar pandang, seolah mulai paham. Memang, sekte besar sekelas Yuan Dao takkan mau menerima murid bekas sekte lain, baik mereka yang diusir maupun yang membelot. Mereka pasti menganggap rendah dan takkan mau menerimanya.
Meski sudah tahu Song Yu gagal, tetap saja ada murid Sekte Awan Merah yang maju bertanya, “Bagaimana, Kakak Song, apa kata senior itu? Apakah kami juga bisa bergabung ke Sekte Yuan Dao?”
Song Yu menjawab ketus, “Kalau mau masuk, tanya saja sendiri!” Jelas ia meluapkan amarahnya pada mereka. Murid yang kena semprot Song Yu itu memang kesal, namun karena Song Yu adalah murid utama Guan He, ia pun hanya bisa menahan diri.
“Ngomong-ngomong, Paman Guru Guan tidak datang?” tanya Gu Tianhao pelan, sebab hampir separuh murid Sekte Awan Merah hadir, dan lebih dari sepuluh di antaranya tampak tertarik untuk pindah sekte ke Yuan Dao. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin paman guru mereka, Guan He, selaku pemimpin rombongan, membiarkan hal itu terjadi, apalagi di antara mereka juga ada muridnya sendiri.
Mendengar pertanyaan Gu Tianhao, Gu You Song dan Xu Wenbo juga merasa ada yang aneh. Hal yang paling mereka curigai bukan ketidakhadiran Guan He, sebab sebagai ahli pondasi, mungkin ia memang tak tertarik dengan keramaian seperti ini. Yang membuat mereka heran justru keberanian Song Yu, bagaimana mungkin ia berani terang-terangan mencoba keluar dari sekte di hadapan gurunya sendiri dan bergabung ke sekte lain, meskipun sekte itu sebesar Yuan Dao. Bagi Sekte Awan Merah dan Guan He, itu adalah sebuah bentuk pengkhianatan.
“Paman Gu, apa Anda merasa perilaku Paman Guru Guan kali ini berbeda dari sebelumnya?” Xu Wenbo bertanya pelan.
Gu You Song mengangguk, memandang sekitar, lalu menggelengkan kepala pada Xu Wenbo, memberi isyarat agar tidak membahasnya di hadapan para murid lain, karena bisa berakibat buruk jika terdengar.
Xu Wenbo pun sadar dan langsung diam, namun hatinya tetap tak tenang, seolah firasat buruk menyelimuti dirinya.
Gu Tianhao juga merenung. Dalam ingatannya, Guan He selalu dikenal sebagai pribadi yang ramah. Setiap kali sekte mengirim murid ke Kota Yuan Cang, dialah yang selalu memimpin rombongan murid Penyempurnaan Qi. Konon, seratus tahun lalu ia sudah mencapai tahap awal pondasi, namun sampai sekarang tetap di sana, sementara para kakak seperguruannya bahkan telah melampaui. Ada yang bilang, Guan He terlalu jujur, sumber daya Sekte Awan Merah memang terbatas, ia pun tak pandai mencari muka, kemampuan bertarungnya pun biasa saja. Bahkan Jia Yong, yang masuk tahap pondasi belakangan, kini sudah mencapai tahap menengah, sementara Guan He masih di tahap awal.
Karena masih muda, Gu Tianhao tidak terlalu peduli urusan para paman gurunya, dan tak tahu apakah gosip para kakaknya itu benar atau tidak. Namun, kali ini ia merasa aneh: sejak sikap pasif Guan He menyikapi hilangnya dua murid Gunung Zi Feng, lalu penggunaan tekanan spiritualnya secara sembarangan di penginapan Kota Yue Xia, sampai saat memilih penginapan di Kota Yuan Cang dan menyerahkan semua urusan pada para murid, bahkan tak pernah menampakkan diri. Semua itu terasa janggal baginya. Hanya saja, karena semua orang diam saja, sebagai murid baru tingkat empat, ia tak berani bersuara.
Apa pun yang tengah direncanakan Guan He, semoga saja tidak sampai menyeret para murid muda seperti mereka ke dalam masalah.