Bab 86 Mayat Mengapung di Laut
Aku menyesap teh di tanganku sambil memandangi pemandangan di luar jendela... Langit biru, awan putih, angin membelai ladang gandum, sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata betapa indahnya suasana itu.
“Tempat apa ini? Hanya kau sendiri yang mengurusnya?” tanyaku.
Orang aneh itu mengangguk dan berkata, “Ini kampung halamanku. Dalam ingatanku, tempat ini memang seindah ini. Sayangnya, hanya aku sendiri yang tinggal di sini. Tapi sekarang tidak lagi, kau sudah datang.”
Aku terkejut mendengarnya. Apa maksudnya? Jangan-jangan orang aneh ini ingin aku tetap tinggal menemaninya? Sekalipun aku bukan orang yang terlalu bodoh, aku bisa merasakan bahwa semua pemandangan di sini terasa seperti mimpi dan tidak nyata. Orang di depanku ini juga tidak sesederhana tampak luarnya yang ramah. Pasti ada semacam ilmu hitam yang telah digunakannya untuk menahanku di sini!
Aku tidak ingin berputar-putar dalam pembicaraan, jadi kutanya langsung, “Sebenarnya siapa kau?”
Orang aneh itu mengisi ulang cangkir tehnya, lalu baru menjawab, “Namaku Du Jianguo, seorang pemuda intelektual yang pernah dikirim ke desa.”
Pemuda intelektual? Istilah itu jelas bukan dari zamanku; usianya paling tidak pasti seumuran ayah ibuku. Tapi meski wajahnya menakutkan, penampilannya paling-paling baru sekitar tiga puluhan! Bagaimana mungkin?
“Kenapa kau ada di sini? Dan... kenapa kau jadi seperti ini?” tanyaku tak percaya.
Du Jianguo mengelus wajahnya pelan, lalu berbalik mengambil sebuah bingkai foto dari rak buku di belakangnya dan menyerahkannya padaku.
Saat kuterima dan kulihat, di foto itu tampak seorang pemuda tinggi kurus berpakaian abu-abu gaya kuno, tangannya memegang buku karya Lu Xun.
Aku tak paham kenapa dia menunjukkan foto itu padaku. “Siapa ini?”
“Itulah aku...” jawab Du Jianguo tenang.
Aku begitu terkejut sampai tak bisa menutup mulut. Mana mungkin itu dia? Tak ada sedikit pun kemiripan—baik dari tinggi badan maupun wajah, benar-benar seperti dua orang berbeda! Tapi dari raut wajahnya, dia tampak sangat serius.
“Kau... bagaimana bisa jadi seperti ini?” tanyaku penuh keraguan.
Du Jianguo tersenyum pahit. “Susah dijelaskan dengan satu dua kalimat. Kami, generasi itu, menanggung derita yang tak bisa kau bayangkan. Kalau kau tertarik, aku bisa ceritakan masa lalu itu. Sudah lama aku tak pernah bicara panjang lebar seperti ini dengan siapa pun.”
Aku mengangguk, siap menjadi pendengar setia, karena entah mengapa aku merasa Du Jianguo ini pasti punya kaitan erat dengan legenda di pulau itu...
Kampung halaman Du Jianguo ada di Baoding. Karena ia lahir tepat saat perayaan satu tahun berdirinya negara, ayahnya menamainya Jianguo. Ia lahir dari keluarga terpelajar. Namun, saat Revolusi Kebudayaan dimulai, kedua orang tuanya dijadikan sasaran dan dicap sebagai kaum terpelajar yang dianggap musuh negara. Sebelum badai itu datang, ayah dan ibunya adalah guru di SMP Baoding II; Du Jianguo sendiri adalah pemuda berpendidikan yang penuh harapan.
Begitu peristiwa itu dimulai, kedua orang tuanya dikirim ke desa. Para guru di sekolah juga menerima nasib serupa sehingga kegiatan belajar-mengajar terhenti. Tak lama kemudian, gerakan pemuda intelektual dikirim ke desa pun dimulai.
Karena latar belakang keluarga yang dianggap buruk, Du Jianguo ditempatkan di sebuah desa terpencil di Guangdong bernama Bukit Xitou. Daerah itu sangat terpencil dan miskin. Penduduknya rata-rata nelayan yang hanya mengandalkan hasil laut untuk bertahan hidup.
Saat pertama kali tiba, semuanya terasa asing baginya. Jatah makanan untuk para pemuda intelektual sangat terbatas. Agar cukup makan, mereka harus ikut pergi ke laut bersama para nelayan. Meski begitu, Du Jianguo tak pernah kehilangan harapan. Ia yakin semua akan berlalu, hanya soal waktu...
Meski keadaan sangat sulit, Du Jianguo sama sekali tak merasa berat karena ia sedang jatuh cinta! Ia menyukai seorang pemudi intelektual asal Shanghai yang datang bersamaan dengannya, namanya Xia Qingqing.
Keluarga Xia Qingqing bahkan lebih buruk status sosialnya. Kedua orang tuanya adalah pengusaha sebelum kemerdekaan, memiliki banyak usaha di Shanghai dan pernah bekerja sama dengan orang Jepang. Meski kemudian ayahnya menyumbangkan sebagian besar hartanya, begitu gerakan dimulai, keluarganya tetap jadi sasaran pertama.
Mungkin karena nasib mereka mirip, mungkin juga karena dua hati yang saling menghangatkan, akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta...
Ketika hati telah dipenuhi cinta, bahkan musim dingin terasa hangat. Mereka sering berkhayal tentang masa depan bersama. Xia Qingqing berjanji kelak jika kembali ke kota, ia pasti akan mencari Du Jianguo ke Baoding dan mereka tak akan pernah berpisah lagi.
Sayangnya, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Malapetaka sudah menanti di persimpangan hidup mereka...
Orang-orang di Bukit Xitou sangat percaya takhayul. Mereka memuja Dewi Laut, dan ada banyak pantangan saat melaut, terutama bagi perempuan—misalnya perempuan dilarang naik perahu, ikut upacara persembahan laut, atau turun ke laut saat sedang haid, karena diyakini bisa mendatangkan bencana.
Du Jianguo sendiri pernah beberapa kali menyaksikan perempuan lokal yang dihukum dengan cara dimasukkan ke keranjang babi dan dilemparkan ke laut karena melanggar pantangan. Intinya, mereka dipaksa masuk ke keranjang bambu tempat anak babi, lalu dilempar ke laut sebagai persembahan dan umpan ikan.
Suatu hari, beberapa pemuda intelektual laki-laki ingin melaut mencari hasil tangkapan. Du Jianguo meminjam perahu kecil dari penduduk, dan beberapa gadis pemuda intelektual juga ingin ikut. Du Jianguo tahu peraturan setempat melarang perempuan melaut, tapi begitu melihat tatapan penuh harap Xia Qingqing, hatinya luluh dan ia pun mengizinkan mereka.
Agar tidak ketahuan, para gadis itu disuruh mengenakan pakaian laki-laki lengkap dengan topi. Mereka mengira bisa pergi dan pulang diam-diam tanpa diketahui siapa pun. Namun, takdir berkata lain...
Awalnya semua berjalan lancar. Tapi dalam perjalanan pulang, mereka menyelamatkan sepasang laki-laki dan perempuan yang terapung di laut di atas sepotong papan kayu. Rencana untuk kembali diam-diam pun buyar.
Orang-orang di pantai melihat para pemuda itu membawa dua "mayat hanyut" ke darat, langsung panik. Kepala desa dipanggil, dengan tegas melarang mereka membawa orang itu ke kampung.
Para pemuda intelektual tak sampai hati membiarkan dua orang itu mati, tapi penduduk desa pun tak mau menerima mereka. Menurut mereka, membawa mayat hanyut ke kampung adalah pertanda buruk dan bisa mendatangkan bencana!
Saat kedua pihak berdebat, tiba-tiba ada yang menyadari bahwa di perahu itu bukan hanya ada dua "mayat hanyut", tapi juga beberapa gadis pemuda intelektual! Seketika suasana menjadi kacau.
Warga desa yang marah mengusulkan agar para gadis pemuda intelektual yang turun ke laut dihukum dengan keranjang babi. Namun kepala desa sadar bahwa para pemuda itu berasal dari kota. Bila sampai ada masalah dan pemerintah pusat menyelidikinya, para warga mungkin tak apa-apa, tapi dia sebagai kepala desa pasti akan celaka!
Akhirnya, kepala desa dengan tegas melindungi para gadis itu. Setiap dari mereka diminta menulis surat pernyataan tak akan turun ke laut lagi. Sementara dua "mayat hanyut" yang diselamatkan itu pun dibawa ke kampung, tapi tak ada satu pun warga yang mau merawat mereka. Akhirnya mereka hanya ditempatkan di asrama para pemuda intelektual.