Bab 5: Tulisan di Batang Bambu
Orang tua Sun Xingye juga baru mendapatkan putri bungsu ini setelah usia mereka melewati empat puluh tahun. Ditambah lagi, Sun Xingmei sedang melalui masa pemberontakan, sehingga mereka sangat memanjakannya namun tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengannya. Karena itu, pasangan tua itu sendiri pun tidak tahu apa yang paling disukai oleh putri mereka.
Kini masalah ini memang terasa rumit, tetapi untungnya kamar Sun Xingmei masih sama seperti ketika ia masih di rumah. Karena begitu merindukan putri mereka, pasangan itu tak pernah mengubah apapun di kamar itu, berharap suatu hari putri mereka akan pulang sendiri.
Begitu aku melangkah masuk ke kamar Sun Xingmei, tercium aroma lembut dan samar yang khas, aroma yang hanya dimiliki oleh kamar seorang gadis muda. Tatanan kamar itu sederhana, hanya ada sebuah meja belajar dan tempat tidur tunggal. Dindingnya penuh dengan poster Jay Chou, dan di atas kepala ranjang terdapat beberapa CD-nya.
Tampaknya Sun Xingmei adalah penggemar berat Jay Chou. Aku pun mengambil salah satu CD itu, berharap bisa merasakan sedikit petunjuk tentang keberadaan Sun Xingmei, namun tak merasakan apapun.
Sedikit kecewa, aku terus mencari di dalam kamar, namun tak menemukan satupun benda yang berguna. Tiba-tiba, sebuah buku harian berwarna merah muda menyita perhatianku. Di kamar yang sederhana ini, buku itu tampak mencolok.
Saat aku mengambil dan melihatnya, ternyata buku harian itu dilengkapi kunci sandi. Tapi aku tahu, saat ini sandi itu tidak lagi penting, karena isinya pasti hanya catatan kecil khas gadis muda yang sedang jatuh cinta. Namun, ketika aku menyentuh buku harian itu, sebuah perasaan familiar langsung menyeruak dalam benakku...
Desah nafas berat seorang pria terdengar di telingaku.
Hamparan rumput hijau melintas di depan mataku, lalu terasa bumi berputar, seolah dunia terbalik. Langit muncul, dan di sekelilingku berdiri pohon-pohon tinggi dan rapat, bergoyang ditiup angin...
Ternyata ini sebuah hutan bambu? Aku sadar, inilah pemandangan terakhir yang dilihat Sun Xingmei sebelum ia meninggal. Pria yang terengah-engah di sampingnya pasti pelakunya, tapi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Bambu-bambu di sini tumbuh dengan subur, dan di beberapa batangnya tertulis tanda tertentu dengan cat merah. Apa itu? Aku berusaha melihat lebih jelas. Namun tiba-tiba bayangan hitam menutupi pandanganku, dan kali ini aku melihat jelas wajah pria itu! Seorang lelaki paruh baya berusia sekitar empat puluhan, wajahnya penuh garis keras, matanya yang dingin menatapku—atau lebih tepatnya, menatap Sun Xingmei—dengan penuh nafsu.
Tangannya bergerak liar di tubuh Sun Xingmei, terdengar suara sobekan pakaian. Sungguh biadab! Di saat itu juga aku bisa merasakan keputusasaan dan ketidakberdayaan Sun Xingmei...
Gerakan pria itu semakin liar, dan penglihatanku mulai mengabur. Aku tahu, Sun Xingmei sebentar lagi akan pingsan. Dalam detik-detik terakhir itu, aku berusaha keras melihat tulisan di batang-batang bambu: ternyata itu adalah huruf “bawah”?
Sekejap mata, aku terlepas dari ingatan Sun Xingmei, namun benakku dipenuhi tanda tanya besar: di mana ada hutan bambu dengan tulisan “bawah” di batangnya?
Saat aku membawa buku harian Sun Xingmei keluar kamar, kulihat ayah, ibu, dan kakaknya sudah menunggu dengan cemas di luar. Aku berusaha menyusun kembali petunjuk tentang lokasi jasad Sun Xingmei, tapi tak banyak jejak yang bisa diandalkan. Satu-satunya yang pasti adalah: jasadnya ada di hutan bambu yang batang-bambunya bertuliskan huruf “bawah”.
Dari keluarga Sun Xingmei, hanya kakaknya yang masih terlihat tenang. Aku benar-benar tak tega menceritakan langsung apa yang baru saja aku lihat pada kedua orang tua itu. Maka aku memberi isyarat pada Sun Xingye, dan ia pun segera paham maksudku, lalu mengajakku keluar ke pinggir sawah.
“Saudara Jinbao, Guru Li sudah bilang padaku bahwa kau punya kemampuan untuk menemukan Xingmei. Apa pun yang kau tahu, katakan saja. Aku siap menerimanya…” ujar Sun Xingye dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku menarik napas panjang, lalu berkata dengan berat hati, “Yang bisa kupastikan, adikmu sudah tiada. Jasadnya ada di sebuah hutan bambu.”
Mata Sun Xingye langsung memerah, namun saat aku menyebut hutan bambu, ia bertanya dengan bingung, “Hutan bambu? Tapi di sini hampir semuanya hutan bambu!”
Aku melirik ke sekeliling. Memang benar, di mana-mana hutan bambu, tapi jenis bambu di sekitar sini jelas berbeda dengan yang kulihat dalam ingatan Sun Xingmei! Maka aku menunjuk ke sebuah hutan bambu dan bertanya, “Bambu apa yang ada di sana?”
Sun Xingye melihat ke arah yang kutunjuk, meski ia tak paham mengapa aku menanyakan hal itu sekarang, ia tetap menjawab, “Itu bambu panah besar, di sini sangat umum.”
Aku berpikir sejenak, lalu berkata, “Bisakah kau tunjukkan foto-foto berbagai jenis bambu di sini? Aku ingin melihatnya.”
Sun Xingye segera mengeluarkan ponselnya dan mencari beberapa foto jenis bambu, lalu memperkenalkan satu per satu kepadaku. Tiba-tiba, mataku terpaku pada satu jenis: bambu ci.
“Berhenti! Di mana ada bambu ci seperti ini?”
Sun Xingye tampak ragu, “Bambu ci juga cukup banyak di sini, hampir setiap hutan bambu ada.”
“Lalu, apakah kau tahu ada tempat yang menulis sesuatu di batang bambunya?” tanyaku lagi.
Sun Xingye berpikir sejenak lalu menggeleng, “Aku benar-benar tidak tahu soal itu. Menulis apa di batang bambu?”
“Tulisan ‘bawah’. Jasad adikmu ada di hutan bambu yang batang-bambunya penuh tulisan ‘bawah’...” jawabku lirih.
Sun Xingye terdiam cukup lama. Aku tahu ia sedang berusaha mengingat-ingat adakah hutan bambu seperti itu. Namun setelah berpikir keras, ia tetap tak ingat.
Kulihat wajahnya penuh kebingungan. Aku sadar, menebak-nebak di sini takkan membawa hasil. Lebih baik kami turun langsung mencari. Maka aku pun berkata, “Ayo, kita cari bersama. Aku yakin pasti ada yang tahu di mana letak hutan bambu dengan tulisan ‘bawah’ itu.”
Sore itu juga aku bersama Sun Xingye menyusuri semua hutan bambu ci di sekitar sini, juga bertanya pada banyak penduduk setempat. Beberapa orang ternyata tahu tentang kebiasaan menulis di batang bambu. Rupanya, bambu yang diberi tanda itu adalah bambu yang akan ditebang dan dijual tahun ini, jadi petani bambu sering menandai batang yang akan ditebang.
Namun, tulisan “bawah” di batang bambu... tak seorang pun pernah mendengarnya! Seharian kami bolak-balik mencari, namun tetap tak membuahkan hasil. Dalam hati aku merasa kecewa. Sebenarnya, aku lebih takut menghadapi tatapan orang tua Sun Xingmei. Aku benar-benar tidak tega memberitahu mereka bahwa Sun Xingmei sudah meninggal, sementara jasadnya pun belum ditemukan.
Melihat aku diam saja, Sun Xingye malah berusaha menghiburku, “Saudara Jinbao, jangan putus asa. Aku percaya pada Guru Li, jadi aku juga percaya padamu. Hari ini belum ketemu, masih ada hari esok! Kau pasti lelah seharian, ayo, kita makan dulu.”
Dengan kepala tertunduk, aku mengikuti Sun Xingye masuk ke sebuah rumah makan kecil. Ia memesan beberapa hidangan khas, juga dua botol bir. Terus terang, seleraku sama sekali hilang. Setiap teringat apa yang dialami Sun Xingmei, rasanya perutku benar-benar tak sanggup menelan apapun.