Bab 10: Kumkuduk
Aku mendengar hal itu dengan terkejut dan berkata, “Begitu murah hati, sepertinya orang ini pasti sangat penting. Kalau berhasil ditemukan, berapa imbalannya?” Namun, setelah melontarkan pertanyaan itu, aku mulai merasa sedikit menyesal. Bagaimanapun juga, sekarang Paman Li adalah pemimpin tim, dan menanyakan soal uang secara langsung seperti ini mungkin kurang pantas.
Tak disangka, Paman Li menjawab tanpa berpikir panjang, “Kalau berhasil menemukan jasadnya, imbalannya seratus juta. Semua biaya perjalanan mereka yang tanggung. Kita bicara bisnis, setiap kasus ke depan, imbalan akan dibagi rata, satu orang setengah. Bagaimana menurutmu?”
Mendengar itu aku tersenyum bodoh sambil menggaruk kepala dengan gembira, tapi mataku langsung melirik ke pengemudi, Ding Yi.
“Bagaimana dengan Ding Yi?” tanyaku.
Paman Li juga menoleh ke arah Ding Yi dan berkata, “Kamu tak perlu khawatir. Dia memang tak punya konsep soal uang. Tapi tenang saja, aku sudah membuatkan kartu untuknya dan semua komisi selalu aku simpan di situ. Kalau suatu hari dia benar-benar ingin pergi, dia punya uang untuk bekal perjalanan.”
Aku merasa Paman Li cukup baik terhadap Ding Yi. Mereka bertemu secara kebetulan dan Paman Li langsung menampungnya. Meski Ding Yi banyak membantu Paman Li, dari nada bicaranya aku tahu bahwa Paman Li tidak pernah berhenti membantu Ding Yi mencari tahu asal-usulnya. Dari sini saja, Paman Li memang orang yang layak dihormati.
Mobil terus melaju sehari semalam, selalu Ding Yi yang mengemudi. Awalnya aku khawatir ia akan kelelahan dan berpikir untuk mencari tempat beristirahat sejenak. Tapi Paman Li hanya melambaikan tangan, “Tak perlu. Nanti kamu akan tahu kemampuan Ding Yi.” Melihat Paman Li begitu yakin, aku pun tak berkata apa-apa lagi. Saat pertama kali bertemu Ding Yi, aku memang sudah tahu ia sangat lihai, tapi ternyata ia punya kemampuan lain!
Meski Ding Yi tidak merasa mengantuk, Paman Li justru tertidur tak lama kemudian. Kini aku semakin tertarik dengan Ding Yi, jadi aku berusaha mengobrol dengannya, meski tak terlalu serius.
“Kamu tidak ngantuk?” tanyaku.
Ding Yi menatap lurus ke depan, “Aku bisa menahan diri untuk tidak tidur, nanti aku akan membalas waktu tidurku.”
“Serius? Bisa begitu?” aku bertanya terkejut.
“Ya, waktu bersama kamu dulu aku tak tidur sama sekali, setelah kembali ke penginapan barulah aku tidur lama.”
Baru setelah ia berkata begitu, aku teringat memang pagi itu ia tidur cukup lama.
“Lalu, berapa lama kamu bisa bertahan tanpa tidur?” tanyaku lagi.
“Tidak tahu, belum pernah mencoba… Tapi sepertinya bisa cukup lama.”
Aku hanya bisa memandangnya dengan pasrah, tampaknya mengobrol dengan Ding Yi adalah hal paling membosankan di dunia.
Sesampainya di rumah, aku benar-benar kelelahan. Meski selama perjalanan aku cukup sering tidur, tetap saja tak bisa dibandingkan dengan tidur di kasur empuk. Aku tidur di ranjangku sampai siang hari berikutnya, dan ketika bangun, kepala masih terasa pening, entah karena tidur terlalu lama. Aku bangkit, mencuci muka agar sedikit segar, lalu mengambil amplop kertas coklat yang diberikan Paman Li, berniat mempelajari kasus ini lebih lanjut.
Di dalam amplop ada beberapa berkas fotokopi, kemungkinan aslinya sudah lama. Ini adalah kasus orang hilang lebih dari tiga puluh tahun lalu; korbannya seorang ahli biologi. Dulu, pencarian terhadapnya dilakukan secara besar-besaran, namun tetap tidak membuahkan hasil.
Informasi dalam berkas itu tidak banyak, bahkan nama dan foto si ahli biologi itu pun tidak ada, membuatku sedikit heran. Namun, melihat sang pemberi dana begitu dermawan, aku pun tidak terlalu peduli. Toh, untuk mencari jasad, aku tidak perlu tahu nama korban.
Berkas mencatat cukup detail soal pakaian orang hilang itu. Usianya sekitar lima puluh tahun, saat hilang mengenakan seragam kerja biru-abu, memakai topi matahari hijau, sepatu kerja kulit berbulu ukuran 42. Barang-barangnya meliputi botol air aluminium, kamera, tas selempang kuning yang berisi catatan penelitian dan beberapa peralatan kecil.
Saat hilang, ia meninggalkan tim ekspedisi sendirian, tanpa meninggalkan petunjuk mengenai arah tujuannya.
Setelah membaca berkas itu, benakku dipenuhi tanda tanya besar. Sudah lewat puluhan tahun, mengapa masih ada orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk mencari seseorang yang hampir mustahil ditemukan? Selain itu, berkas menunjukkan selama puluhan tahun ini, pencarian terus dilakukan, walau tidak intens. Aku yakin, kalau kali ini kami gagal, pasti akan ada tim lain yang melanjutkan pencarian. Tampaknya, ahli biologi ini tidak sesederhana yang terlihat.
Aku lalu menelepon Paman Li, ingin tahu apakah ia bisa mendapatkan barang peninggalan si ahli biologi, terutama yang paling disukai. Tapi jawabannya mengecewakan. Paman Li bilang pencarian kali ini bukan didanai keluarga korban, jadi sang pemberi dana tidak punya barang peninggalan korban. Yang bisa kami lakukan hanyalah pergi ke lokasi hilangnya korban dahulu, menyusuri jalur lama. Jika benar jasadnya terkubur di bawah pasir seperti dugaan sebelumnya, maka di situlah kemampuanku akan berguna.
Meski begitu, berkas ini terlalu samar, tidak banyak informasi berguna di dalamnya. Aku pun mengeluh, “Paman Li, di berkas ini tidak ada lokasi hilangnya orang itu. Lantas, kita harus mencari di mana?”
Tak disangka, Paman Li menjawab pasrah, “Lokasi tujuan belum diketahui. Baru akan diberitahu setelah semua anggota tim berkumpul dan berangkat bersama.”
Aku tertegun, “Apa? Anda juga tidak tahu?”
“Tidak tahu, tapi pasti masih di dalam negeri,” kata Paman Li.
Dalam hati, aku merasa seperti ribuan kuda liar berlari kencang. Kasus ini semakin menarik...
Beberapa hari kemudian, aku menaiki pesawat menuju Urumqi. Tak disangka, tujuan kali ini ternyata Xinjiang. Tapi yang paling mengejutkan adalah, selain aku, Paman Li dan Ding Yi, ada tiga pria dan satu wanita yang ikut serta.
Kami berjumlah tujuh orang, Paman Li adalah ketua tim, dan anggota lainnya mengikuti instruksinya. Namun, Paman Li tidak memperkenalkan kami satu sama lain, membuatku sedikit heran. Aku sempat diam-diam bertanya pada Ding Yi apakah ia mengenal mereka, dan Ding Yi menjawab dengan tatapan tulus, “Tidak kenal.”
Akibatnya, suasana menjadi agak canggung. Sepanjang perjalanan hampir tidak ada komunikasi di antara kami. Aku benar-benar tidak yakin apakah tim aneh seperti ini bisa memenuhi tugas pemberi dana.
Setelah turun dari pesawat, kami dibagi ke dua mobil jeep Grand Cherokee. Aku bersama Paman Li dan Ding Yi, sedangkan tiga pria dan satu wanita naik mobil lain. Tak disangka, kami sama sekali tidak masuk ke kota Urumqi, melainkan terus melaju ke utara. Entah berapa lama perjalanan, yang pasti kami berangkat dari pagi hingga malam.
Akhirnya, mobil berhenti. Paman Li membangunkanku, “Jinbao, bangun, jangan tidur lagi. Malam ini kita berkemah di sini.”