Bab 34: Mayat Wanita di Hutan
Kami berjalan menuju arah asap dapur yang mengepul, tak lama kemudian beberapa rumah dari tanah liat pun tampak di depan mata... Tiba-tiba seekor anjing besar melompat keluar dan menggonggong keras ke arahku, untung saja lehernya terikat rantai besi yang tebal! Tak lama kemudian, seorang perempuan berkerudung keluar dari rumah. Ia memandang kami yang berjumlah banyak dengan sedikit bingung dan bertanya, “Siapa yang kalian cari?”
Ye Lei, yang paham adat setempat, mendekat sambil tersenyum, “Kakak, kami sedang mencari seorang gadis yang hilang beberapa waktu lalu di pegunungan ini. Hari sudah gelap, bolehkah kami menginap di rumahmu untuk semalam?”
Perempuan itu tertegun, lalu memandang rumahnya yang gelap dan sempit dengan canggung, “Rumahku kecil sekali, tak akan muat menampung kalian semua.”
Ye Lei segera mengibas-ngibaskan tangannya, “Tak apa, kami bisa tidur di luar, kami membawa tenda sendiri. Kami hanya ingin meminjam dapur untuk memasak makanan.” Zhao Qiang menimpali dengan menyelipkan dua ratus ribu ke tangan perempuan itu, “Maaf sudah merepotkan.”
Perempuan itu menatap uang di tangannya, senyumnya mulai mengembang, lalu berbalik memarahi anjingnya, “Danzi, diamlah! Mereka tamu kita!”
Anjing besar itu langsung patuh dan berhenti menggonggong. Beberapa anggota tim bersama Ye Lei menuju dapur perempuan itu, bersiap-siap memasak makan malam. Begitu masuk, ternyata perempuan itu juga sedang menyiapkan makan. Ye Lei memberikan lagi sejumlah uang, meminta agar ia memasakkan ‘mi tarik’.
Mi tarik adalah makanan khas Xinjiang, mirip dengan mi yang diguyur sayur tumis panas dan mie yang dibuat tangan, lalu diaduk bersama. Warga setempat menyebutnya ‘mi campur’.
Perempuan itu memiliki keahlian memasak yang hebat, tak lama kami pun menikmati mi tarik buatannya. Rasanya kasar tetapi lezat, ada sensasi khas yang cocok bagi pelancong kelaparan seperti kami. Kami makan dengan lahap, dan timbul rasa simpati pada perempuan itu, membayangkan betapa beruntungnya jika memiliki istri seperti dia.
Pada awalnya, perempuan itu hanya tersenyum malu mendengar pujian kami, namun setelah lebih akrab, ia bercerita bahwa beberapa rumah ini adalah milik para peternak. Ia dan suaminya memiliki kurang dari seratus ekor domba, suaminya sering pergi berhari-hari membawa kawanan domba mencari rumput segar.
Saat kami bercanda, malam pun mulai menyelimuti lembah. Perempuan itu membawa kayu bakar agar kami bisa menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Namun ketika kami sibuk memasang tenda, tiba-tiba terdengar suara lolongan seperti burung hantu dari kejauhan.
Semua orang mendengar suara itu, nyaris seperti suara setan, wajah-wajah kami berubah pucat. Hanya perempuan itu yang melambaikan tangan, “Jangan takut, itu suara istri gila si Jomblo Tua, tiap malam memang suka berteriak seperti itu!”
“Si Jomblo Tua?” aku bertanya heran.
Perempuan itu melihat keinginanku tahu, lalu duduk dan berkata pelan, “Si Jomblo Tua adalah tetanggaku, usianya sudah empat puluhan tapi belum menikah, makanya semua orang memanggilnya begitu.”
Paman Li ikut bertanya, “Kalau memang belum menikah, kenapa ada istri gila?”
Perempuan itu tersenyum, “Itulah, kami semua kira dia tak akan pernah punya istri. Tapi beberapa tahun lalu, entah dari mana, ia membeli seorang perempuan gila untuk dijadikan istri. Si Jomblo Tua akhirnya mendapat istri, walau perempuan itu benar-benar gila dan tak bisa bicara. Si Jomblo Tua selalu mengurungnya.”
“Bukankah perdagangan manusia itu melanggar hukum?” aku berkata.
Perempuan itu mengangkat bahu, “Memang, tapi perempuan gila itu mungkin dijual keluarganya sendiri. Coba pikir, siapa yang mau hidup dengan orang gila? Selama keluarganya tidak melapor, tak ada yang peduli.”
Beberapa kali suara “hu hu” terdengar lagi dari kejauhan. Tadinya terdengar biasa saja, namun setelah mendengar penjelasan perempuan itu, aku benar-benar merasa seperti suara perempuan gila yang meraung kesakitan.
Tengah malam, aku terbangun karena suara tangisan lirih. Kulirik Ding Yi di sebelahku, jarang sekali ia tidur nyenyak seperti itu. Karena ingin buang air, aku pun bangkit dan keluar dari tenda. Begitu keluar, kulihat Paman Li duduk sendirian di depan api unggun. Apa yang ia lakukan larut malam begini?
Saat ia melihatku, ia tersenyum, “Kenapa? Kau juga tak bisa tidur?”
Aku mengangkat bahu, “Tidak juga, hanya ingin ke toilet.” Aku pun segera menuju hutan kecil di samping, ingin cepat-cepat selesai dan kembali, angin musim gugur membuat hatiku bergetar cemas.
Baru saja masuk ke hutan, kepalaku serasa tersentak, jangan-jangan... di sini ada mayat? Kuperhatikan Paman Li yang duduk di depan api, jaraknya tak sampai sepuluh meter, sedikit membuatku tenang. Aku memberanikan diri melangkah beberapa langkah.
Rasa ingin buang air tadi langsung sirna oleh bayangan menyeramkan di benakku. Tak kusangka di lembah yang penduduknya sederhana ini, ada seorang perempuan yang baru saja meninggal terkubur di sana...
Perempuan itu berambut panjang kusut, tampaknya bertahun-tahun tak pernah dicuci, sudah membatu menjadi satu. Usianya sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun, tubuhnya sangat kotor.
Untuk mendapatkan informasi lebih, aku mendekat beberapa langkah. Seketika lebih banyak gambaran masuk ke benakku. Perempuan itu bertahun-tahun lalu dibawa ke sini oleh seorang pria yang ia panggil ‘Paman Tiga’. Saat itu ia ingin bekerja di kota mencari uang, namun malah dijual oleh Paman Tiga kepada si Jomblo Tua peternak domba.
Hidupnya bukan sekadar menyedihkan, melainkan neraka dunia. Si Jomblo Tua, agar perempuan itu tidak kabur, mengaku pada orang-orang bahwa istrinya mengalami gangguan jiwa dan sering mengurungnya di kandang domba.
Suatu kali, saat si Jomblo Tua pergi menggembala, perempuan itu berteriak minta tolong. Sayangnya ia bukan orang setempat, logatnya sangat berbeda. Orang yang mendengar hanya mengira ia sedang kambuh penyakitnya.
Saat si Jomblo Tua pulang, ia memotong lidah perempuan itu dengan pisau. Sejak itu perempuan itu tak pernah bisa bicara, hanya mampu mengeluarkan suara “hu hu” yang monoton. Bagi si Jomblo Tua, perempuan itu hanyalah pelampiasan nafsu, tak pernah terpikir memberinya kehidupan layak.
Lama kelamaan, perempuan itu putus asa dan berhenti mencoba kabur. Namun tak disangka, meski sudah menyerah, suatu malam si Jomblo Tua menariknya dari kandang domba, dan sebelum ia sadar, seutas tali sudah melilit lehernya...
Perempuan itu mati dicekik oleh si Jomblo Tua. Setelah mati, wajahnya masih tersungging senyum, mungkin baginya itu adalah pembebasan. Daripada hidup seperti anjing, mati lebih baik.
“Jin Bao?” Suara Paman Li membangunkanku dari kenangan perempuan itu.