Bab 25: Siapa Anak Itu
Sawyer menatap Alex, namun pikirannya justru tertuju pada sosok lain—seorang ilmuwan besar yang telah tiada. Ia sangat mengagumi pencapaian Tesla. Menurutnya, kecerdasan Tesla jelas melampaui manusia kebanyakan.
Nikola Tesla membangun fondasi listrik modern dengan tangannya sendiri; tindakannya layak disebut sebagai nabi di era listrik! Sepanjang hidupnya, ia meraih sekitar seribu hak paten atas penemuannya. Tanpa dirinya, beragam peralatan elektronik di masyarakat modern takkan pernah ditemukan, atau setidaknya kemunculannya akan tertunda bertahun-tahun.
Lihatlah pembangkit listrik arus bolak-balik, transmisi listrik AC, pembangkit listrik tenaga air, radio, penyala otomatis, telepon, radio, televisi, mesin faks, radar, rudal berpemandu nirkabel, pesawat tanpa awak, sinar-X, lampu neon, pembangkit listrik tenaga surya, turbin tanpa bilah, dan sebagainya—semuanya berkaitan erat dengan Nikolas Tesla.
Namun, penemuannya memiliki ciri khas yang menonjol: gambar kerjanya selalu bersih, nyaris tanpa coretan atau revisi. Ketika ditanya bagaimana ia melakukannya, ia menjawab bahwa segala penemuan telah diputar dan dimatangkan berulang kali di dalam pikirannya, hingga sedetail-detailnya menjadi jelas, sehingga saat dituangkan ke gambar, tak perlu lagi direvisi.
Dalam hal ini, Alex memiliki kesamaan yang mencengangkan dengannya. Mereka sama-sama mampu memvisualisasikan suatu objek nyata di dalam benak, melakukan percobaan dan verifikasi dalam pikirannya, dan setelah itu bisa langsung digunakan di dunia nyata. Alex sendiri pernah mencoba melakukan berbagai eksperimen di ruang pikirannya, dan hasilnya selalu sama persis dengan kenyataan.
Berapapun Alex berusaha menyamarkan dirinya, sesekali ia tetap menampakkan sesuatu yang membuat orang yang jeli menjadi gentar. Sawyer adalah salah satu dari orang-orang jeli itu. Tujuannya adalah meneliti tes kecerdasan demi meningkatkan kualitas manusia secara keseluruhan.
Tanpa mengetahui apapun soal itu, Alex menulis dengan sangat cepat, dan segera rampung. Ia menyerahkan beberapa lembar kertas itu pada Sawyer, lalu berkata, “Berikan ini pada Shockley! Setelah dia membacanya, dia akan mengerti.”
Sawyer tak sanggup lagi menahan diri. Ia bertanya, “Bagaimana kau bisa memikirkan semua ini?”
Alex tersenyum, lalu mengetuk-ngetukkan jarinya pada kening, “Semuanya mengalir begitu saja, dari sini. Jika kau memintaku menjelaskan bagaimana prosesnya, itu seperti kau meminta seseorang yang buta sejak lahir untuk menjelaskan seperti apa warna. Bagaimanapun dijelaskan, tetap tak akan bisa dipahami sepenuhnya.”
Sawyer mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Namun sebelum ia mengirimkan hasil tulisan Alex, ia menelpon Shockley, memberitahu secara singkat isi tulisan Alex.
“Kirimkan segera padaku!” Suara Shockley terdengar berat, ia tahu isi tulisan Alex pasti sangat penting.
Sawyer segera memerintahkan seorang staf untuk mengantarkan kertas itu ke Laboratorium Bell. Begitu menerima kertas tersebut, Shockley langsung terperangah. Terutama prinsip kerja dan konstruksi transistor bipolar—topik yang selama ini terus ia teliti. Ia memang telah sampai pada tahap krusial, hanya saja belum juga menemukan terobosan.
Shockley yakin risetnya tidak pernah bocor ke luar. Data yang ia kirim pada Sawyer pun tidak berhubungan dengan hal itu, hanya data lama mengenai transistor yang sudah menjadi hak paten sejak lama, tidak lagi menjadi rahasia.
Tak pernah terlintas di benaknya, seorang anak berusia delapan tahun, entah bagaimana caranya, memahami prinsip transistor. Setelah membaca data itu, ia langsung mampu merancang beragam tipe transistor bipolar, lengkap dengan data parameternya.
“Jangan-jangan ada orang lain yang sudah lebih dulu menemukan ini?” Shockley lebih memilih percaya dirinya telah didahului, ketimbang percaya bahwa seorang anak jenius bisa memikirkannya begitu saja.
Kepalanya terasa nyeri memikirkan hal itu, namun akhirnya ia memutuskan untuk menyingkirkan dulu persoalan ini. Ia langsung menuju laboratorium, dan mulai membuat transistor bipolar baru sesuai petunjuk gambar kerja. Ia ingin membuktikan sendiri, apakah rancangan itu benar-benar sesuai deskripsi dan parameter yang tertulis.
Berdasarkan instruksi di kertas itu, ia mulai membuat transistor tipe pnp. Intinya, transistor itu memiliki tiga wilayah, dua sambungan, dan tiga kaki. Tiga wilayah tersebut adalah kolektor, basis, dan emitor. Dua sambungan itu adalah sambungan kolektor dan sambungan emitor. Sementara tiga kaki adalah kaki kolektor, basis, dan emitor.
Strukturnya sederhana, tapi jika tak tahu kiat pembuatannya, tetap saja sulit direalisasikan. Misalnya, tingkat doping emitor harus jauh lebih tinggi dari kolektor, dan doping kolektor harus lebih tinggi dari basis. Selain itu, basis harus sangat tipis, hanya beberapa mikron.
Laboratorium itu lengkap dengan material dan alat, dan yang terpenting, ia sudah terbiasa mengerjakan hal semacam ini. Dengan cepat, ia berhasil membuat sebuah transistor baru. Ia mengambil alat untuk mengujinya, memastikan apakah transistor itu berfungsi normal.
Ia menghubungkan wilayah p ke positif, wilayah n ke negatif, lalu memberi tegangan maju pada sambungan emitor, dan mengukur tegangan pada tiap kaki.
“Tegangan kolektor normal, sesuai parameter yang ditentukan.”
“Tegangan basis normal, sesuai parameter yang ditentukan.”
“Tegangan emitor normal, sesuai parameter yang ditentukan.”
Kemudian ia membalik polaritas, wilayah n ke positif, wilayah p ke negatif, lalu menguji kembali.
Semuanya normal, seluruhnya sesuai dengan parameter di gambar kerja. Shockley merasa tubuhnya mendadak lemas, hampir saja ambruk di kursi. Ia sama sekali tak mengerti, mengapa dirinya yang telah meneliti dua-tiga tahun tanpa menemukan terobosan, akhirnya justru dipecahkan seorang anak kecil dalam hitungan jam.
Shockley yang tak percaya, mengulang pengujian. Hasilnya tetap sama. Ia menoleh pada beberapa jenis transistor bipolar lainnya, lalu memilih tipe npn yang strukturnya lebih sederhana.
Transistor jenis ini juga berfungsi normal. Parameternya sedikit berbeda dengan yang tertulis, tapi Shockley tahu itu wajar karena pengaruh kemurnian material. Jika sudah diproduksi massal, masalah itu pasti teratasi.
“Anak itu!” Shockley tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia berbicara sendiri, “Siapa nama anak itu?”
Sawyer tak pernah menyebut nama Alex lewat telepon, hanya menyebut umur dan jenis kelamin. Selain itu, Shockley sama sekali tidak tahu apa-apa.
Shockley teringat ada yang pernah berkata, kecerdasan Leonardo da Vinci mencapai 220. Dulu ia sempat tak percaya, mengira itu hanya upaya generasi penerus untuk memuja tokoh besar. Ia percaya semua orang hebat sukses berkat keringat dan kerja keras. Namun kenyataannya, memang ada orang-orang yang berbeda, yang meraih keberhasilan jauh lebih mudah dari kebanyakan orang.
“Benar juga, inspirasi satu persen lebih berarti dari sembilan puluh sembilan persen kerja keras? Edison, kau benar lagi kali ini!” Shockley bergumam, lalu segera menelpon Sawyer.
“Halo? Siapa?” Sawyer terbangun dan mengangkat telepon dengan kesal, dalam hati memaki, “Sialan, siapa yang menelpon jam tiga pagi begini!”
Suara Shockley terdengar mendesak, “Ini Shockley! Kau pernah bilang, anak itu dapat nilai sangat tinggi di tes kecerdasan. Siapa namanya? Tinggal di mana?”
Sawyer langsung terjaga dan waspada, “Nama anak itu tidak bisa aku beritahu, orang tuanya meminta kami tidak memberitahu siapa pun. Ada apa? Bukankah kau tidak tertarik soal itu?”
Shockley mengabaikan sindiran Sawyer dan menjawab dengan getir, “Kertas yang kau berikan itu, benar-benar luar biasa! Ini bisa menimbulkan kehebohan besar, jika sampai bocor dari lembaga riset manapun.”
“Kau tidak bercanda, kan?” Sawyer menyadari keseriusan situasi ini, nadanya berubah tegas.
“Aku sudah membuktikan sendiri, aku baru menguji dua jenis transistor, dan keduanya sesuai dengan desain. Sisanya, kupikir juga benar, hanya strukturnya sedikit lebih rumit dan membutuhkan waktu untuk membuatnya,” jawab Shockley tanpa menutupi apa pun.
“Itu mustahil!” Sawyer mengingat kembali bagaimana Alex menulis semua itu. Ia tahu, mustahil jika ini berasal dari laboratorium mana pun. Semua itu hanya berasal dari satu tempat: otak Alex.
Shockley terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kau yakin?”
Sawyer menjawab, “Aku sendiri yang menyerahkan data itu ke tangan anak itu, melihat sendiri bagaimana ia berpikir dan menuliskan semuanya. Tak ada hal lain yang ia lakukan. Jika bukan karena memang sudah ada di kepalanya, lalu siapa yang menjejalkannya ke sana?”
Shockley terdiam tak mampu membantah. Ia lalu berkata, “Bersiaplah, aku akan segera ke tempatmu.”
Ia membereskan semua barang di meja, terutama kertas-kertas penting dan transistor bipolar baru hasil buatannya. Setelah memastikan tak ada barang mencurigakan yang tertinggal, ia meninggalkan laboratorium.
Ketika Shockley naik pesawat menuju Chicago, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat. Ia langsung menuju Universitas Chicago untuk menemui sahabat lamanya, Sawyer. Mereka dulu teman sekelas sekaligus sahabat dekat, hanya saja satu memilih bidang fisika dan yang lain matematika.
Begitu bertemu, kata pertama Shockley adalah, “Di mana anak itu? Aku ingin bertemu dengannya!”
Sawyer mengangkat kedua tangan, “Aku sudah berjanji pada orang tuanya untuk tidak sembarangan memberi tahu siapa pun.”
Shockley tak peduli, “Aku juga janji tidak akan memberitahu siapa pun tentang anak itu.”
Sawyer bertanya, “Kau bisa menjaga rahasia?”
“Tentu saja!” jawab Shockley tak sabar.
Sawyer mengangkat bahu, “Aku juga bisa!”
“Kita sudah berteman bertahun-tahun, masa kau masih tak percaya padaku?” Shockley agak kesal.
Sawyer menghela napas, “Baiklah, akan kutanya dulu pada anak itu. Kalau dia mau menemuimu, berarti aku tidak melanggar janji.”
Shockley langsung senang dan mendesak, “Cepatlah, sungguh aku ada urusan penting dengannya.”
Sawyer menelpon ke rumah keluarga Carpenter. Richard yang mengangkat, lalu menyambungkan telepon pada Alex. Setelah mendengar penjelasan Sawyer, Alex berpikir sejenak.
“Sebaiknya aku berbicara dulu dengan ayah dan ibu,” jawab Alex.
Sawyer tak bisa berbuat apa-apa, “Baiklah! Tapi tolong, jangan lama-lama. Temanku, Shockley, datang khusus dari Laboratorium Bell.”
Alex kemudian memberitahu ayah dan ibunya, Bart dan Angel. Di bawah tatapan terkejut mereka, Alex menceritakan dengan ringan bahwa ia baru saja merancang beberapa transistor, dan kini orang dari Laboratorium Bell sudah tiba di Chicago, ingin menemuinya.