Bab Tujuh Belas: Semua Memiliki Titik Lemah
Jodoh sejati bukanlah sekadar mampu menarik perhatian seseorang dalam sekejap, melainkan adalah ketika setelah saling mengenal, dia tetap menghargai dirimu. Jodoh sejati bukan hanya perasaan menyesal baru bertemu saat perjumpaan pertama, melainkan setelah melewati pahit manis kehidupan, masih bisa berkata dari hati, “Senang sekali bisa mengenalmu.” Jodoh sejati bukan soal siapa yang datang lebih awal, tetapi siapa yang setelah datang, tak pernah pergi lagi.
Bahwa Guo Jiajie, yang terkenal malas belajar, bisa jatuh hati pada Wang Qi sang juara kelas, menurut Xia Meng sungguh di luar dugaan.
“Guo Jiajie sama sekali tidak tertarik pada pelajaran, tapi dia bisa bertahan setiap malam pergi ke ruang belajar sampai larut hanya demi menemuimu. Itu bukti dia sungguh-sungguh menyukaimu. Musim dingin di tengah malam seperti itu, harus bangun dari tidur, sungguh sebuah ujian berat!” Xia Meng membayangkannya saja sudah merasa kedinginan, tak sadar ia mengeratkan jaket bulunya.
Sulit dibayangkan, jika harus dirinya yang bangun jam dua dini hari di musim dingin, bagaimana perasaannya? Hampir pasti seperti sengsara tiada tara! Tapi, yang jelas, saat ini, demi siapa pun, Xia Meng merasa tak sanggup bangun jam dua lebih di tengah musim dingin untuk menunggu seseorang.
“Itulah sebabnya, menurutku dia memang aneh! Dia sampai di ruang belajar pun bukan untuk membaca, tapi hanya tidur di meja sebelahku,” kata Wang Qi kesal. “Dengkurannya keras sekali, bikin aku terganggu.”
“Aku tidak begitu kenal dia, jadi tak bisa membantumu,” Xia Meng menjilat bibirnya, putus asa. “Tapi dia cukup akrab dengan Li Han. Mungkin Zhao Yinuo sudah bilang pada Li Han tentang urusanmu,” kata Wang Qi.
“Zhao Yinuo hari ini memang janjian bertemu Li Han, memang untuk urusanku. Tapi malah jadi heboh begini. Mengmeng pulang ke asrama menangis terus, ditanya kenapa juga tidak mau cerita, pasti ada hubungannya dengan Li Han, kan? Aku sudah menemaninya sepanjang sore,” Wang Qi menatap Chen Yumeng yang terbaring di ranjang dengan pilu, lalu memandang daftar kemajuan belajarnya sendiri, dan hanya bisa menggelengkan kepala.
“Mengmeng bersikeras ingin melihat sendiri, ada apa sebenarnya antara Li Han dan Zhao Yinuo,” kata Xia Meng dengan senyum getir. “Akhirnya dia benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri, persis seperti yang selama ini ia curigai.”
“Apa yang dia lihat?” Wang Qi membelalakkan mata, hatinya berdebar-debar.
“Andai kita masuk sedikit lebih lambat, mungkin Li Han dan Zhao Yinuo sudah...” Xia Meng berkata lesu.
Wang Qi menunduk diam. Lama kemudian baru berkata, “Mungkin Li Han punya alasan sendiri.”
“Wang Qi, kamu masih saja membela dia di saat seperti ini? Kamu tidak tahu waktu itu aku lihat dia di rumah sakit—sudahlah, kamu nanti juga akan sadar sendiri siapa dia sebenarnya. Kalian semua terpesona oleh tampangnya saja. Padahal dia itu—benar-benar brengsek!” Xia Meng berkata dengan nada kesal.
Wang Qi belajar dengan kerja keras, hampir lupa waktu makan dan tidur. Satu-satunya alasan ia berusaha sekuat tenaga adalah agar bisa mendekati seseorang, yaitu Li Han. Ia tak ingin menerima kenyataan pahit yang disampaikan Xia Meng.
“Aku tak mau lagi menyebut nama Li Han, takut mulutku jadi kotor!” Xia Meng mengusap bibirnya dengan marah, teringat ciumannya dengan Li Han di atas gunung, lalu terbayang lagi Li Han dan Zhao Yinuo berpelukan di sofa, usapan bibirnya makin keras.
“Mengmeng, jangan digosok terus, bibirmu sampai berdarah,” Wang Qi mengingatkan dengan lembut. “Mengmeng, kamu itu punya prasangka pada Li Han. Bisa jadi, dalam hal ini, justru Zhao Yinuo yang mulai duluan? Li Han hanya pasrah saja?”
“Aduh, apa sih yang ada di kepala kalian? Mengmeng berpikir begitu, aku maklum, dia memang kekanak-kanakan. Tapi Wang Qi, kamu kan paling mandiri di antara kita bertiga, maksudmu apa? Yinuo menggoda Li Han, masa Li Han sebodoh itu? Dia itu justru paling pandai merayu—”
Wang Qi memandang Xia Meng dengan heran, lalu berkata, “Tunggu, Mengmeng. Barusan kamu bilang apa? Li Han pandai merayu? Dia pernah menggoda siapa?” Wang Qi semakin penasaran, sebab ia tahu persis, hati Li Han sama sekali tak tertuju pada Zhao Yinuo, juga bukan pada Chen Yumeng.
“Eh?!” Xia Meng sadar dia keceplosan, wajahnya memerah lalu buru-buru menutupi, “Dari SMP juga memang begitu. Dulu dia pendek, bau, nilainya buruk. Baru masuk SMP dia mulai tumbuh tinggi. Lalu, mulai deh, menggoda para cewek.”
Sebagian besar yang dikatakan Xia Meng memang benar. Sejak SMP, Li Han mulai bertambah tinggi. Banyak gadis mengelilinginya, ingin menarik perhatian. Kalau dia benar-benar anak baik, mana mungkin dikelilingi banyak gadis? Dan dia sering juga mendekati Xia Meng, gara-gara Li Han, Xia Meng sering kena tampar. Untung saja Xia Meng atlet, badannya tegap, sebagai ketua OSIS punya wibawa besar, jadi para gadis yang ingin cari masalah pun tak bisa mengalahkannya.
Wang Qi melirik Xia Meng curiga, merasa ada yang janggal, tapi tak tahu apa. Xia Meng selalu mengaku sangat membenci Li Han, tapi di dunia ini tak ada benci tanpa sebab, juga tak ada cinta tanpa alasan. Mungkin, kebencian yang mendalam itu justru... Wang Qi tak berani melanjutkan pikirannya. Ia pun bertanya pelan, “Bagaimana kabar Zhang Li akhir-akhir ini? Masih ada kontak?”
Cahaya di mata Xia Meng langsung redup, dia menggeleng, “Tidak ada kontak lagi. Sudahlah, lupakan saja. Di SMA aku takkan pacaran lagi. Aku ingin fokus belajar. Aku mau masuk Universitas P. Qi Qi, kamu sendiri mau ke mana?” Dulu Xia Meng pernah membahas pilihan universitas bersama Zhang Li, dan Zhang Li memilih Universitas P. Andai takdir, pasti akan bertemu lagi di kampus yang sama. Tapi Xia Meng tidak tahu, saat ini Zhang Li justru sedang berjuang keras untuk masuk MIT. Andaikan Xia Meng lebih awal tahu, mungkin nasib akan berubah total. Tapi, itu cerita nanti.
Wang Qi berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku ingin mengambil jurusan hukum. Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku, tapi di kelas IPS pun peringkatku baru masuk sepuluh besar. Kalau bisa masuk Universitas P tentu paling bagus. Tapi, yang paling mungkin untukku sepertinya Universitas Hukum Tiongkok.”
“Qi Qi, kamu harus percaya diri! Sebenarnya, menurutku kamu punya potensi jadi juara umum IPS,” kata Xia Meng.
“Mengmeng, kamu suka bercanda ya? Juara umum? Aku tak pernah berani berpikir sejauh itu. Dari sekian banyak ujian, peringkat terbaikku paling banter keempat di kelas IPS,” kata Wang Qi.
“Calon pengacara hebat masa depan, kok nggak percaya diri? Nanti gimana mau menang perkara? Qi Qi, menurutku masalah terbesarmu itu kamu terlalu tidak percaya diri, dan terlalu pandai menutupi perasaan. Itu tidak baik untukmu,” kata Xia Meng blak-blakan.
Tiba-tiba, Chen Yumeng bangkit dari tempat tidur, memandang Xia Meng dan Wang Qi, “Sekarang jam berapa? Ada pelajaran apa sore ini? Tidak masuk, pasti nanti dimarahi guru.”
Wang Qi dan Xia Meng saling berpandangan, heran. Pagi tadi masih menangis sejadi-jadinya, sekarang habis tidur malah seperti lupa semuanya?
“Mengmeng, aku sudah izin untukmu. Sekarang, perasaanmu sudah lebih baik?” tanya Wang Qi.
Chen Yumeng menutupi wajah dengan telapak tangan, lalu mengusap mata, ekspresinya ringan, “Aku sudah pulih, sekarang mood-ku bagus.”
Wang Qi dan Xia Meng saling melirik, mulut ternganga, ingin menghibur Chen Yumeng saat ia bangun, tapi semua kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tak tahu harus berkata apa.
“Mau menghibur aku? Nggak perlu,” kata Chen Yumeng dalam hati: Zhao Yinuo, hati-hati kau, sembunyikan baik-baik ekor srigalammu itu, kalau tidak, awas saja, akan kutarik keluar! Dengan tenang Chen Yumeng berkata, “Ayo, ke kantin makan, aku lapar!”
Xia Meng menjilat bibirnya, “Mengmeng, kalau kamu sudah baikan, aku nggak bisa menemani, aku ada urusan, pamit dulu.”
Wang Qi buru-buru mengambil tas, “Aku juga mau ke ruang belajar.”
Sekejap, asrama hanya tinggal Chen Yumeng. Ia duduk bengong di tempat tidur, dalam benaknya terus terbayang adegan Zhao Yinuo mencium Li Han, hatinya berkata penuh dendam, “Zhao Yinuo, tunggu saja kau.”
------
Guo Jiajie menatap Li Han, “Kenapa aku tidak boleh mengejar Wang Qi?”
“Wang Qi itu salah satu murid paling rajin di SMA A, kamu? Pemalas kelas kakap, seperti katak ingin makan angsa. Di SMA A, tak ada yang peduli kamu anak pejabat atau kaya, yang dilihat cuma nilai. Dengan kemampuanmu, mau mendaki puncak setinggi itu, memetik buah yang tampak indah, apa nggak capek? Di sekelilingmu juga banyak cewek cantik, jangan cari perkara sendiri,” kata Li Han. Walaupun terdengar kasar, itulah kenyataan. Dirinya sendiri, demi mengejar buah indah di puncak itu, hampir menghabiskan seluruh tenaganya, tetap saja Xia Meng membencinya, menolaknya. Teringat itu, Li Han semakin ingin menusuk hati Guo Jiajie, menyiraminya air dingin.
“Tetap saja, aku suka Wang Qi. Dia berbeda dengan semua cewek yang pernah kukenal. Aku hanya mau dia, harus dapat dia,” kata Guo Jiajie. Sebelumnya, tak pernah ada gadis yang menolak cintanya, atau tidak terpikat setelah tahu siapa dia. Hanya Wang Qi, sekeras apa pun ia berusaha, tetap dingin, bahkan muak padanya.
“Baiklah,” Li Han mengangguk pasrah, ia tahu, kalau lelaki sudah jatuh cinta, biarkan saja dia menabrak tembok sendiri, tak bisa dicegah. Saat dia menabrak, justru harus disemangati, baru ia merasa dimengerti, dianggap teman sejati. Li Han paham betul soal itu. “Aku dukung kamu, kejar saja buah itu. Walau menurutku kamu suka Wang Qi itu lucu, aku tetap dukung. Tapi, bisa nggak ubah cara mengejarnya? Jangan tiap malam ke ruang belajar cuma buat tidur, itu mengganggu orang lain. Dan jangan sering-sering teriak-teriak di bawah asrama putri, tampangmu saja sudah bikin orang pengen nampar, kalau teriak di situ, Wang Qi makin malu.”
Guo Jiajie kesal, “Mantan pacarku dulu direbut temanmu. Sekarang kamu harus ganti rugi satu pacar buatku. Aku cuma mau Wang Qi.”
Li Han mengangkat bahu, “Mana bisa aku bantu? Aku sendiri butuh bantuan!”
“Kenapa? Kamu juga ada masalah?” tanya Guo Jiajie.
“Aduh, masalah besar! Masuk ke sungai pun takkan bersih!” keluh Li Han.
ps:
Silakan bergabung di grup pembaca “Sahabat Kecil Bangkit Balik” di QQ 184331260