Bab Tujuh: Mimpi Musim Panas yang Canggung
Hujan di pegunungan datang begitu saja. Li Han dan Xia Meng basah kuyup seperti ayam kehujanan. Saat itu, ponsel Xia Meng berdering tak henti-hentinya, ternyata dari Zhang Li. “Xia Meng, aku dan Yu Meng sudah turun gunung dengan selamat. Kalian di mana? Perlu aku jemput?” Li Han segera merebut ponsel dan berkata, “Kami sebentar lagi sampai. Kalian berdua tunggu saja di pondok kayu di kebun buah.” Lalu, Li Han menggendong Xia Meng dan berlari menuruni bukit.
Jalan setapak yang menurun itu sangat licin karena hujan. Agar tidak terjatuh, Xia Meng harus memeluk erat leher Li Han. Seumur hidupnya, baru kali ini Xia Meng merasa bersalah karena berat badannya. Tinggi badannya 168 cm dengan berat 48,5 kg! Digendong di jalan setapak seperti ini pasti sangat melelahkan. Namun, begitu mengingat segala kejadian sial dan rasa sakit hati yang ia alami gara-gara Li Han sejak kecil, rasa bersalah itu pun sirna seketika!
Dulu waktu SD, Xia Meng adalah ketua kelas dan selalu menjadi juara satu. Sedangkan Li Han adalah murid dengan nilai terburuk di kelas. Guru wali kelas membuat program bimbingan belajar dan Xia Meng ditugaskan membina Li Han. Hampir setiap hari Xia Meng harus mengajarinya sepulang sekolah, tapi hanya sekali saja nilai Li Han membuatnya puas: saat ujian seleksi masuk SMP. Sehari-hari nilai Li Han hancur-hancuran, membuat Xia Meng malu di depan guru dan teman-teman. Padahal, bahkan seekor babi pun jika dibimbing sepenuh hati setiap hari seperti itu, pasti bisa jadi siswa berprestasi.
Di kelas dua SMP, gara-gara Li Han menyelipkan kartu ucapan tahun baru berisi kata-kata aneh seperti "suka" dan "mengagumi" ke dalam tasnya, kartu itu ditemukan ayah Xia Meng. Tanpa ampun, sang ayah menganggap peristiwa itu sebagai tanda pacaran dini dan menghukum Xia Meng berlutut semalaman.
Di kelas dua dan tiga SMP, berkali-kali Xia Meng kena tampar beberapa siswi yang curiga ia pacaran dengan Li Han, sebagai peringatan. Pengalaman seperti itu terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Mengingat semua itu, Xia Meng jadi kesal dan langsung menggigit bahu Li Han dengan keras.
Hujan pun reda. Xia Meng masih menempel di punggung Li Han, kedua tangan memeluk lehernya erat-erat. Bibir mungilnya berbisik di telinga Li Han, membuat daun telinga Li Han terasa geli, sampai ia ingin sekali Xia Meng menggigitnya pelan-pelan.
Di balik baju tipis yang basah, dada Xia Meng menempel ketat di punggung Li Han. Mungkin karena Xia Meng masih dalam masa pertumbuhan, Li Han merasa dadanya tidak besar (ukuran yang disukai Li Han, dia memang tidak suka yang terlalu besar), ukurannya kira-kira sebiji aprikot, tapi sangat kencang dan tegak. Jalan setapak yang berliku membuat dada Xia Meng bergesekan lembut dengan punggung Li Han, membuat seluruh tubuh Li Han terasa panas dan tidak nyaman. Inilah pertama kalinya Li Han dan Xia Meng bersentuhan sedekat ini. Li Han pun tak bisa menahan pikirannya yang melayang-layang.
“Ah!” Xia Meng tiba-tiba menggigit bahu Li Han dengan keras, meninggalkan bekas gigi yang perlahan berdarah. ”Biar saja aku gigit kamu sampai mati! Kamu benar-benar pembawa sialku! Sejak bertemu kamu, aku selalu kena sial!” Gigitannya itu membuat Li Han langsung tersadar.
Ketika Li Han dan Xia Meng tiba di kebun buah, langit sudah gelap total. Yu Meng dan Zhang Li berdiri di depan pondok kayu, menunggu dengan cemas.
“Akhirnya kalian datang juga!” Yu Meng dan Zhang Li tercengang melihat Xia Meng yang digendong Li Han dengan kaki kanan telanjang. Xia Meng menceritakan secara singkat kejadian yang menimpanya.
“Li Han! Tangan kananmu berdarah!” seru Chen Yu Meng dengan mata membelalak penuh ketakutan. Xia Meng baru teringat, saat di bawah air terjun, Li Han menolongnya ketika ia terjatuh. Siku tangan kanan Li Han lebih dulu membentur batu.
Li Han melirik lukanya dan tersenyum menenangkan Yu Meng, “Tak apa, tidak sakit. Tadi waktu turun gunung, kena duri saja.”
“Baju kita semua basah kuyup. Kalau tidak segera ganti, bisa masuk angin. Apalagi kalau Yu Meng dan Xia Meng pulang ke sekolah dengan kondisi begini, bisa ketahuan guru atau teman. Rumahku tak sampai 500 meter dari sini. Aku sudah telepon ke rumah, kakakku sudah menyiapkan baju ganti untuk Yu Meng dan Xia Meng. Bagaimana kalau kita mandi dan makan malam dulu di rumahku sebelum pulang?” Zhang Li meminta persetujuan semua.
“Zhang Li, orang tuamu pasti demokratis ya? Kalau seperti Kepala Sekolah Lai, kita bisa celaka,” canda Xia Meng.
“Tenang saja!” jawab Zhang Li sambil tertawa. “Orang tuaku sangat demokratis! Terutama ibuku, dia sahabat baikku dan kakakku, sangat menghormati dan memahami anak-anaknya! Lihat saja aku yang sedewasa ini, pasti karena ibuku! Apalagi kalau tahu kalian berdua gadis cantik datang ke rumah, pasti dia senang sekali!”
“Asal bukan ibu seperti Kepala Sekolah Lai yang galak, gadis-gadis secantik kita pasti bisa mengatasi semuanya!” ujar Chen Yu Meng sambil tertawa.
“Haha, Kepala Sekolah Lai memang menakutkan. Kalau di sekolah, malam-malam ke toilet, ketemu hantu, aku cukup teriak tiga kali 'Kepala Sekolah Lai datang', hantunya langsung kabur,” ucap Xia Meng sambil tertawa lepas.
Li Han mengangkat bahu dan berkata, “Sekarang aku lapar sekali! Walaupun ibunya Zhang Li seperti Kepala Sekolah Lai, aku tetap harus ke rumahnya, soalnya ada makanannya!”
“Haha, ayo berangkat!” Yu Meng membantu Xia Meng yang pincang, berjalan ke rumah Zhang Li.
Rumah Zhang Li terletak di tepi barat, di seberang SMA Daniu, membelakangi bukit hijau dan menghadap ke sungai. Lingkungannya tenang dan misterius, diisi keluarga pejabat sekolah dan pemerintah.
Rumah Zhang Li bertingkat dua. Pintu dibuka oleh kakaknya, Zhang Shanshan, yang juga duduk di kelas tiga SMA Daniu. “Lihat kalian basah kuyup begitu, kenapa harus bakar-bakar di tempat sejauh itu? Kalau tidak cari gara-gara, tak bakal kena musibah!” Zhang Shanshan tersenyum lebar sambil “menegur” adik-adiknya, lalu mempersilakan mereka masuk.
“Ayah dan ibuku lagi di dapur menyiapkan makanan. Melihat kalian seperti hantu, mereka pasti kaget, jadi biarkan mereka di dapur dulu!” canda kakak Zhang Li, “Zhang Li, bawa temanmu yang besar itu mandi ke atas! Aku urus dua gadis ini!”
Zhang Shanshan mengantar Yu Meng dan Xia Meng ke dua kamar mandi terpisah. Tinggi badannya hampir sama dengan Xia Meng. “Kakimu cedera ya? Nanti setelah mandi, aku bantu perban,” ujar Zhang Shanshan dengan perhatian.
Xia Meng buru-buru menggelengkan kepala, “Tak apa, sudah banyak merepotkanmu!”
Zhang Shanshan mengambilkan gaun untuk Xia Meng dan rok pendek untuk Yu Meng, lalu mengantar mereka ke kamar mandi. “Kalau butuh bantuan, panggil saja, kakak tunggu di luar.” Xia Meng merasa hangat di hati, benar-benar kakak yang perhatian.
Ia anak tunggal di rumah, orang tua sibuk berbisnis dan tak pernah punya waktu untuknya. Di rumah, ia hanya menonton TV, main internet, atau belajar dan mengerjakan PR. Tak ada teman bicara, makanya Xia Meng sangat iri pada teman-teman yang punya kakak.
Setelah mandi, Xia Meng keluar dan melihat Zhang Shanshan sudah menunggu di depan kamar mandi sambil membawa plester. “Di rumah tak ada alat perban luka, hanya ada plester, jadi tempel dulu ya.” Xia Meng mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Kak Shanshan!”
Setelah semuanya selesai mandi dan hendak makan malam, Xia Meng melihat ponselnya. Li Han mengirim pesan: “Setelah ini, kamu harus dengar semua perkataanku! Kalau tidak, soal celana robek itu—aku bukan tipe orang yang bisa menjaga rahasia, lho!” Wajah Xia Meng langsung merah padam, melihat Li Han santai saja memasukkan ponsel ke sakunya.
“Makan malam sudah siap!” Pintu dapur terbuka. Seorang ibu bertubuh pendek dan berisi serta seorang ayah tinggi tampan keluar dari dapur. Mereka memakai baju pasangan abu-abu, membawa hidangan sambil tersenyum ramah menyapa semua.
Xia Meng, Li Han, dan Chen Yu Meng sampai ternganga saking terkejutnya, terutama Xia Meng yang wajahnya pucat seperti hendak dieksekusi, “Habis sudah, habis sudah—” dalam hati Xia Meng berulang kali menjerit.