Bab Lima: Bersabar Menanti
Perasaan terbaik adalah ketika kau menemukan seseorang yang bisa menjadi teman berbincang. Beragam topik tak pernah habis untuk didiskusikan, dan kata-kata yang berulang pun tak pernah terasa membosankan. Kebersamaan adalah kebiasaan yang tumbuh dari dua hati yang saling menyukai; saling mengerti adalah keterikatan dua jiwa yang saling terhubung. Waktu bersama selalu terasa terlalu singkat, ternyata yang berlalu cepat bukanlah waktu, melainkan kebahagiaan saat bersama.
Kebahagiaan adalah ketika ada seseorang yang mampu memahami dirimu, dan kehangatan adalah saat kau memiliki seseorang yang bersedia menemani. Bersama, Xia Meng dan Xu Qiaofen selalu memiliki segudang bahan pembicaraan, dari pelajaran, teman sekelas, guru, sahabat, hingga kisah masa kecil. Xia Meng yang sejak kecil kekurangan teman bermain selalu merasa ada ruang kosong di hatinya, dan kehadiran Xu Qiaofen mengisi kekosongan itu.
Xu Qiaofen tumbuh besar di desa, dan pengalamannya kaya akan warna. Setiap kali ia menceritakan kehidupannya bersama ayah dan adiknya di pedesaan dengan penuh semangat, Xia Meng seolah ikut merasakan sendiri kehangatan itu. Namun, saat Qiaofen meminta Xia Meng menceritakan masa kecilnya, Xia Meng hanya bisa menggeleng. Selain belajar di sekolah, sebagian besar waktu di rumah ia habiskan sendiri. Sepi dan sunyi menjadi warna utama masa kecilnya. Bahkan saat beberapa kali bepergian ke luar negeri bersama orang tuanya pun, ia merasa hambar dan membosankan. Kebahagiaan terbesar bagi Xia Meng adalah saat bersama orang tua, meski tak melakukan apa-apa, hanya diam pun sudah menjadi kebahagiaan yang tak terucapkan.
Dengan cekatan, Xu Qiaofen membantu Xia Meng memasang sarung selimut sambil berkata, “Meng, jangan selalu berlindung di balik alasan tidak bisa. Kau harus belajar melakukan segalanya sendiri.”
“Qiaofen, tak ada yang pernah mengajariku.”
“Maka belajarlah denganku. Hari ini kita mulai dari memasang sarung selimut, lalu nanti aku ajari melipat selimut, mengukus nasi, membereskan kamar, mencuci baju, hingga memasak masakan sederhana—”
“Siap, Bos!” Xia Meng menjawab dengan gembira.
“Memasang sarung selimut itu mudah saja. Pertama, ratakan selimut dan sarungnya, lalu cari keempat sudut selimut, pegang erat! Selaraskan dengan sudut sarung, masukkan—”
“Baik, hari ini kau belajar sangat baik! Tapi sebagai perempuan, setidaknya kita harus punya satu kebiasaan: mata harus jeli melihat pekerjaan rumah. Begitu melihat, langsung kerjakan.”
“Itu mudah saja.” Sesungguhnya, Xia Meng memang tertarik pada pekerjaan rumah.
“Itu belum tentu. Sekarang, apa yang kau lihat masih harus dikerjakan?” tanya Xu Qiaofen sambil menggeleng.
“Aku... aku...” Xia Meng memandang sekeliling kamar, lalu menggeleng.
“Baiklah, mari kita mulai dari langkah pertama saat masuk ke rumah. Begitu masuk, apakah kau sadar sepatu tak tertata rapi? Sofa penuh buku, bunga hampir layu, toilet sudah lama tak disikat, pakaian dalam di atas mesin cuci perlu dicuci tangan, dan masih banyak lagi—”
“Baik, aku mengerti!” Xia Meng langsung berdiri, menata sepatu, membereskan sofa, dan menyiram bunga.
“Perempuan harus membiasakan diri untuk rajin, itulah yang sering nenekku katakan,” Xu Qiaofen berkata lembut. “Sejak kecil kau hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan, jadi semua urusan rumah selalu ada yang membantu. Tapi jika suatu hari kau menghadapi kesulitan dan tak ada yang bisa membantu, apa yang akan kau lakukan? Hanya dengan ikut bekerja, kau akan lebih menghargai jerih payah orang lain, dan hatimu akan tumbuh lebih penuh cinta dan simpati.”
“Aku akan selalu ingat.” Xia Meng mengangguk. “Jadikan rajin sebagai kebiasaan”—kata-kata Xu Qiaofen itu selalu membekas di hati Xia Meng. Dari Qiaofen, ia belajar bekerja keras, belajar kuat, dan belajar berani.
“Nenekku sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun, mengidap diabetes dan tekanan darah tinggi, sudah lama terbaring sakit. Dulu aku yang selalu merawatnya, dan setelah aku sekolah di kota, adik dan ayahku yang menggantikan. Setiap pulang ke rumah, aku pasti membantunya bangun dari tempat tidur, memandikannya, mencuci rambut, hingga memotong kuku.”
“Lalu paman-pamanmu? Tidakkah mereka juga merawat ibu mereka sendiri?”
“Paman sulungku setelah lulus kuliah tinggal di kota H, tak pernah kembali. Dua paman yang lain malas dan hanya memikirkan diri sendiri, untuk hidup saja susah.”
“Qiaofen, uang saku yang ayahku beri setiap bulan tak pernah habis kupakai. Biarkan aku meminjamkannya padamu, boleh?”
“Meng, aku tak perlu itu! Selama ini, kau adalah satu-satunya teman yang benar-benar mengerti aku. Aku sangat menghargai persahabatan kita. Uangmu, aku tak bisa terima. Jangan khawatir, tahun ini ayahku panen semangka besar-besaran, rumah kami dapat banyak rezeki.” Usai berkata, air mata bening menggenang di mata Xu Qiaofen. Tak ingin Xia Meng tahu, ia membalikkan badan dan diam-diam menyeka air matanya.
“Qiaofen, kenapa kau tidak jujur padaku?” Xia Meng memegang tangan Qiaofen. “Hari itu, saat hujan, aku melihat adikmu datang ke sekolah sambil menangis mencarimu. Aku mendengar semua yang ia katakan—”
Memang benar Xu Qiaofen tidak berkata sejujurnya. Semangka yang mereka tanam di lahan pemakaman tua memang panen besar tahun ini, tetapi harganya sangat rendah. Pedagang semangka yang datang hanya memberi delapan sen per kilogram. Seluruh lahan hanya menghasilkan beberapa ratus yuan.
Ayah Qiaofen merasa tak terima. Beberapa ratus yuan saja tak cukup untuk membeli pupuk. Maka bersama putranya, ia meminjam gerobak dari desa untuk membawa dua ribu kilogram semangka ke kota, berharap mendapat harga lebih baik karena semangka mereka besar dan manis.
Namun, di tengah perjalanan, hujan deras turun. Dua hari berlalu, tak satu pun semangka terjual. Mereka berdua menunggu di pinggir jalan, berteduh di tempat darurat, lapar makan semangka sendiri, kedinginan saling berpelukan. Pada hari ketiga, hujan mulai reda, namun datang empat pria bertubuh besar yang memaksa membeli dan membawa pergi semangka mereka. Setelah pergi, mereka hanya meninggalkan tiga lembar uang seratus yuan.
Ayah dan anak itu pergi ke toko pupuk dengan uang itu, namun diberi tahu dua dari tiga lembar uang tersebut palsu. Bagai petir di siang bolong, mereka pun berlari ke bank untuk memastikan, dan bank juga menyatakan dua lembar uang itu palsu.
Mendengar kenyataan itu, ayah Xu Qiaofen langsung jatuh pingsan.
“Maaf, Xia Meng, bukan maksudku membohongimu. Hidup kadang terasa berat hingga aku hampir tak sanggup bernapas,” ucap Qiaofen sambil menangis.
“Qiaofen,” Xia Meng memeluknya, “kau hanya perlu menjadi orang baik, selebihnya biarlah langit yang mengatur.”
Sambil menepuk punggung Qiaofen, Xia Meng melanjutkan, “Tak perlu memaksa hidup memberi jawaban yang kau mau sekarang juga. Kadang, kau hanya perlu sabar menunggu. Bukankah kau sering berseru di lembah sunyi, dan baru setelah menunggu sejenak kau mendengar gema suaramu yang panjang itu?”
“Artinya, hidup pasti akan memberimu jawaban, hanya saja tidak akan langsung mengungkap semuanya.”
“Hidup ini bagaikan pohon besar dengan dahan-dahan yang bersilangan, dan kehidupan kita adalah burung kecil yang terbang ke sana kemari di antara rantingnya. Sekarang kau sedang menghadapi angin dingin dan hujan lebat dalam hidupmu. Aku tahu hatimu sudah letih, tapi Qiaofen, tetaplah bersabar. Ketahuilah, pohon besar itu diam-diam sedang menumbuhkan musim semi untukmu di balik angin, dan perlahan-lahan akan mendekatimu. Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berusaha.”
“Segala usahamu mungkin tak langsung membuahkan hasil, tapi selama kau sabar, keindahan hidup pasti akan datang tanpa kau sadari. Jadi, Qiaofen, jangan tolak kebaikanku. Mungkin penantianmu akan lama, tapi aku akan selalu mendukungmu.”
Ucapan Xia Meng membuat air mata Xu Qiaofen mengalir deras. Ia menggeleng dan berkata, “Memilikimu sebagai sahabat, didukung olehmu, itu sudah lebih dari cukup. Tapi uangmu, aku benar-benar tak bisa terima. Uang dua ribu yuan yang kau berikan pada adikku waktu itu, ia sudah memberitahu aku. Aku memang belum bisa mengembalikannya, dan itu saja sudah membuatku malu. Tolong, biarkan aku menjaga harga diriku sebagai temanmu.”