Bab Delapan: Perubahan Besar dalam Keluarga
Saat dewi takdir perlahan menutup sebuah pintu di hadapanmu, pintu itu pun akan menjepit kepalamu yang penasaran mengintip ke dalam.
Kepala Xu Qiaofen kini terjepit kuat di pintu takdir. Adiknya, Xu Fuqiang, yang baru sebulan bekerja mengangkut batubara di tambang batubara gelap, mengalami musibah longsor di sana. Karena usianya yang masih muda, ia tak sempat melarikan diri dan terkubur di dalam tambang.
Untunglah warga sekampung, yang iba pada Fuqiang karena ia masih kecil dan keluarganya hanya terdiri dari ayah yang sakit dan ibu yang gila, mengabaikan larangan juragan tambang, lalu menggali selama dua hari dua malam hingga akhirnya berhasil menyelamatkan Fuqiang. Namun, juragan tambang itu kabur membawa lari uang, sehingga lebih dari empat puluh orang, termasuk mereka, tak menerima sepeserpun upah.
Malapetaka belum berakhir. Fuqiang harus dirawat di rumah sakit, biayanya lebih dari dua ribu yuan, semuanya ditanggung secara patungan oleh warga sekampung. Sementara itu, penyakit ayah Qiaofen memburuk dengan cepat, dokter memperingatkan bahwa bila tak segera dioperasi dan menjalani kemoterapi, tak ada pilihan lain selain menunggu ajal di rumah. Nenek Qiaofen yang sudah berusia 87 tahun, menderita diabetes parah dan tekanan darah tinggi, tak mampu membeli obat, terbaring lumpuh di ranjang. Warga desa yang iba padanya, kerap mengantarkan makanan, namun karena tak ada yang mengurus kesehariannya, ia menderita luka baring hingga daging di bokongnya membusuk, tulangnya terlihat jelas, dan seluruh ruangan penuh bau busuk. Ibunya yang gila, berlarian di desa dengan pakaian compang-camping, tubuh penuh lebam dan luka, tak ada yang peduli. Sedangkan Xu Fuqiang, setelah kembali dari tambang, harus beristirahat total di ranjang karena masih ada darah yang menggenang di rongga dadanya.
Qiaofen menceritakan semua yang terjadi selama setahun terakhir pada Xia Meng dengan suara tenang, seolah sedang membicarakan kisah orang lain. Hidup telah membuat seorang gadis yang tadinya penuh harapan akan masa depan, menjadi mati rasa dan tak peduli lagi.
Xia Meng mendengarkan sambil menitikkan air mata. Qiaofen telah memikul terlalu banyak beban, hatinya sudah tak sanggup menahan lagi.
“Meng, tahukah kau? Berkali-kali aku terpikir untuk mati. Mungkin jika aku mati, menutup mata, semua penderitaan ini akan berakhir. Tapi setiap kali maut sudah di depan mata, aku merasa tidak rela. Bagaimanapun, aku baru tujuh belas tahun…” Setelah berkata demikian, mereka berdua saling berpelukan dan menangis sejadi-jadinya.
“Ingatan ku makin buruk, apa pun yang kupelajari tak bisa masuk ke kepala. Aku sudah tak punya harapan lagi…” Qiaofen berkata dengan pilu.
“Qiaofen, bagaimanapun juga, manusia hanya hidup sekali. Janjilah padaku, kau harus bertahan dan terus hidup. Tunggu aku, aku akan menolongmu.”
Sejak mengetahui keadaan keluarga Qiaofen, hati Xia Meng seakan-akan tertindih batu besar, membuatnya sulit bernapas. Ia sangat butuh uang, uang dalam jumlah besar, agar bisa menolong Qiaofen keluar dari kesulitan.
Jika ia menggalang donasi di sekolah, pasti akan melukai harga diri Qiaofen yang sensitif dan rapuh. Ia adalah gadis yang sangat kuat, dan selain pada Xia Meng, ia tak pernah bercerita pada siapa pun soal keluarganya. Donasi terbuka jelas bukan pilihan yang bisa diterima Qiaofen. Maka, Xia Meng hanya bisa meminta bantuan ayahnya.
“Mengmeng, pulanglah. Ayah sudah pulang,” tiba-tiba ponsel Xia Meng berdering, ayahnya menelpon.
“Ayah? Ayah di mana? Di rumah kota B atau kota A?” Xia Meng berseru penuh semangat. Baru saja ia memikirkan ayahnya, kini ayahnya malah menelpon. Benar-benar seperti ada ikatan batin antara ayah dan anak!
“Ayah di rumah Kota A. Hari ini Minggu, kan? Tak ada pelajaran?” tanya Xia Xiukai memastikan. Kalau Xia Meng ada pelajaran, ia akan datang ke sekolah, tidak memaksa anaknya pulang. Ia tahu Xia Meng selalu menganggap pelajaran sebagai hal yang utama.
“Ayah, tidak ada pelajaran. Aku memang mau menelpon ayah, tapi ayah sudah menelpon duluan. Aku akan segera pulang, ada hal yang ingin kubicarakan dengan ayah.”
“Kau mau menelpon ayah? Apa ada sesuatu?”
“Hm… sebenarnya tidak terlalu penting. Nanti saja, aku bicara di rumah.” Xia Meng menutup telepon, lalu bergegas pulang. Sekarang, ada harapan untuk menolong Qiaofen.
Begitu masuk rumah, Xia Meng melihat ayahnya sedang sibuk di dapur. Entah sejak kapan, ayahnya jadi suka memasak.
“Ayah, masakan ayah enak sekali, aku kagum! Tapi kenapa ada begitu banyak sup di meja?” Xia Meng melihat sup kaki babi, sup ikan mas, dan sup ayam hitam di meja makan, agak heran.
“Ah, akhir-akhir ini ayah memang sering berlatih masak sup-sup ini, sampai sudah sangat ahli. Coba kau cicipi!” Ayahnya menunjuk berbagai masakan di atas meja, matanya berbinar.
“Hmm, rasanya memang enak!” Xia Meng mengacungkan jempol pada ayahnya.
“Ayah baru saja pulang dari rumah nenek dan kakekmu. Mereka baik-baik saja dan sangat merindukanmu. Mungkin akhir pekan nanti, kalau tak ada pelajaran, kau sempatkan ke sana ya.”
“Baik, nanti aku cari waktu. Nenek tidak menitipkan makanan untukku? Oh ya, kenapa mama tidak ikut ke kota A?” Xia Meng bertanya heran. Biasanya kalau pulang ke kota A, ayah dan ibu selalu bersama. Sudah hampir setengah semester ia tidak bertemu ibunya. Sibuk belajar, ia jarang menelpon ke rumah. Biasanya, ibunya yang menelpon, menanyakan kabar dan pelajaran.
“Nenekmu mengirimkan asinan dan sambal buatan sendiri, ada di dapur. Sekarang kita makan dulu,” Ayahnya menunjuk pipi Xia Meng, “Kau makin kurus! Makan yang banyak. Ayah dan ibu jauh darimu, jadi kau harus pandai menjaga diri.”
“Ayah, aku bukan kurus, tapi tambah tinggi!” Xia Meng sambil mengunyah makanan, berpikir bagaimana cara membicarakan masalah Qiaofen nanti setelah kenyang.
Setelah mereka selesai makan, Xia Meng membereskan dapur lalu masuk ke ruang tamu. Ia melihat ayahnya duduk di sofa dengan ekspresi rumit, membuatnya heran.
“Mengmeng, duduklah di sini. Hari ini, ayah ada hal yang sangat penting untuk diumumkan.”
Xia Meng terkejut. Jangan-jangan, ayah mau mengumumkan perceraian? Mau bertanya ia akan ikut siapa?
“Aku sudah besar, tak ikut siapa pun! Asal kalian bahagia, aku sudah cukup.” Xia Meng berkata cepat, matanya berkaca-kaca.
“Apa yang kau bicarakan?” Ayahnya, Xia Xiukai, tampak bingung.
Ternyata bukan berita perceraian. Xia Meng pun lega. Jangan-jangan Li Han sudah datang mengadukan hubungannya dengan Zhang Li pada ayah? Ia pun jadi tegang.
Ayahnya melihat perubahan ekspresi Xia Meng yang begitu beragam, jadi geli dan heran. “Ayah akan umumkan hal pertama dulu.”
Xia Xiukai menyesap teh, lalu berkata pelan, “Bulan lalu, ibumu melahirkan adik perempuan untukmu.”
“Apa!” Xia Meng langsung melompat dari sofa, “Adik perempuan? Kenapa baru sekarang aku punya adik? Selama ini kalian ke mana saja!” Xia Meng benar-benar terkejut. Baru setengah semester, tiba-tiba ia punya adik.
“Bukankah dulu kau selalu ingin punya adik?” tanya ayahnya.
“Dulu waktu kecil, aku tak punya teman, jadi ingin punya saudara. Tapi sekarang aku sudah besar, tiba-tiba ada adik kecil…” Xia Meng teringat, ayahnya baru 39 tahun, ibunya 38. Mungkin adik itu justru diharapkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga.
“Adikmu sangat lucu, mirip sekali dengan dirimu waktu kecil. Kalau kau melihatnya, pasti suka,” janji ayahnya dengan mata berbinar.
“Asal kalian bahagia, itu sudah cukup. Tapi kabar ini terlalu tiba-tiba, aku butuh waktu untuk menerimanya. Kenapa aku tidak tahu apa-apa sebelumnya?”
“Ibumu tak ingin mengganggu belajarmu.” Ayahnya mengusap kepala Xia Meng dengan penuh kasih, “Kau tetap menjadi anak yang paling kami cintai. Kehadiran adikmu tak akan mengurangi cinta kami padamu. Sekarang, ayah akan memberitahu hal kedua…”