Bab Tiga: Sahabat dalam Kesulitan
Di dalam hati setiap orang, tersembunyi sebuah sungai kesedihan. Kau punya lukamu, aku punya bebanku, bukan tak saling mengerti, hanya saja tak sempat peduli. Dari pengamatan diam-diam yang dilakukan oleh Xia Meng, Xu Qiaofen tak pernah sekali pun mengambil lauk di kantin. Setiap kali selesai mengambil nasi, ia langsung kembali ke asrama, dan begitu setiap hari. Xia Meng tahu betul, pasti ia makan lauk yang dikirimkan ayah dan adiknya dari rumah. Namun di musim panas seperti ini, lauk yang dibiarkan di luar dua hari saja pasti sudah basi. Melihat Xu Qiaofen yang jelas-jelas lebih pendek dari teman sebayanya, baju dan celananya penuh tambalan, hati Xia Meng tak bisa menahan rasa iba.
Guru matematika berdiri di depan kelas dengan penuh semangat mengulas hasil ujian semester, “Soal terakhir nomor paling sulit kali ini, butuh pengetahuan kelas sembilan yang memang belum kita pelajari, jadi wajar bila tak ada yang bisa menjawab. Tapi, soal itu, satu-satunya yang berhasil menjawab di seluruh angkatan hanya satu orang, yaitu Xu Qiaofen dari kelas kita! Nilai matematika tertinggi kali ini juga diraih oleh Xu Qiaofen!”
Semua mata memandang ke arah Xu Qiaofen dengan penuh keterkejutan. Sebelumnya, tak ada yang pernah memperhatikan gadis yang selalu bersembunyi di sudut kelas dengan kepala tertunduk itu. Wajahnya dipenuhi jerawat remaja, tubuhnya kurus dan tampak tak menarik, baju yang dikenakannya pun lusuh dan sobek. Jika ia pernah membekas di benak teman-temannya, itu pun hanya karena penampilannya yang tidak menarik. Suara bisik-bisik rendah terdengar di mana-mana, mereka tak percaya.
Hanya Xia Meng yang tahu alasan Xu Qiaofen bisa meraih nilai setinggi itu.
Saat jam istirahat siang, Xia Meng membawa selembar soal dan mendekati Xu Qiaofen, bertanya, “Qiaofen, bagaimana cara menyelesaikan soal ini? Aku sudah menghitung lama sekali, tapi tetap tak menemukan jawabannya.”
Xu Qiaofen mengangkat wajahnya yang dipenuhi luka dan jerawat, di matanya tersirat keterkejutan dan sedikit ketakutan. Ia sama sekali tak menyangka, gadis paling populer di kelas akan menyapanya lebih dulu, bahkan meminta bantuannya.
Xia Meng mengambil sebuah bangku, menghamparkan kertas buram, lalu duduk di samping Xu Qiaofen, “Qiaofen, lihat, aku sudah pakai rumus ini, tapi setelah dihitung, hasilnya tetap salah. Kira-kira di mana letak kesalahannya?”
“Eh? Oh, baiklah…” Xu Qiaofen segera menenangkan diri, “Biar kulihat dulu soalnya, a+b sama dengan… Menurutku, harusnya pakai konsep ini…” Suara Xu Qiaofen lembut, penjelasannya ringkas dan logis, alur pikirannya jelas dan mudah dipahami. Lebih mengejutkan lagi, dasar matematika Xu Qiaofen sangat kuat, cara berpikirnya pun unik, sama sekali tidak terikat pada buku pelajaran.
“Qiaofen, kemampuan matematikamu memang luar biasa,” kata Xia Meng dengan tulus.
“Tidak, tidak, justru kamu yang paling hebat. Kali ini aku hanya beruntung saja.” Xu Qiaofen menunduk, tak berani menatap Xia Meng langsung. Hanya saat belajar dan mengerjakan soal, ia merasa tenang dan nyaman.
“Ayo, kita makan siang bersama,” ajak Xia Meng sambil menarik tangan Xu Qiaofen.
“Tidak, aku tidak lapar. Lagipula, di kantin sedang ramai, nanti saja aku makan,” Xu Qiaofen menolak tegas.
“Ayo, aku paling jago berdesakan di kantin. Tubuhku tinggi, jadi banyak yang kalah cepat dariku,” kata Xia Meng tanpa memberi Xu Qiaofen kesempatan, langsung menariknya menuju kantin.
“Aku tidak bawa alat makan. Aku lebih suka makan di asrama,” ucap Xu Qiaofen pelan dengan wajah sedikit memerah.
“Hari ini, temani aku makan di kantin, ya? Lagipula aku masih ada satu soal yang ingin kutanyakan padamu.” Xia Meng menarik Xu Qiaofen masuk ke kantin, “Qiaofen, kamu bawa kupon makan, kan? Di loket nasi tidak ramai, sekalian ambilkan satu porsi untukku juga, ya. Aku mau ambil lauk.” Xia Meng berdesakan di antara siswa lain, meminta beberapa macam lauk, lalu membawanya ke meja. Xu Qiaofen sudah selesai mengambil nasi dan duduk di meja makan. Melihat Xia Meng datang dengan lauk, ia segera berdiri hendak mengambil lauk.
Xia Meng langsung menahan Xu Qiaofen, “Eh, hari ini kok tukang masak baik sekali, aku dapat lauk banyak banget. Mana mungkin aku habiskan sendiri? Qiaofen, tolong bantu aku, ya? Kalau semua dibuang, sayang sekali, dosa!” Xu Qiaofen berdiri di hadapan Xia Meng, tampak canggung.
Xia Meng mendorongnya duduk di depan meja, lalu berkata, “Eh, aku kan nggak punya kupon nasi, jadi kuponmu nggak bakal kukembalikan, ya.” Mendengar itu, Xu Qiaofen justru merasa lega, tersenyum dan berkata, “Tak perlu dikembalikan, aku tinggal di desa, punya beras sendiri. Setiap minggu ayahku antar beras, lalu kutukar dengan kupon makan di kantin. Sayangnya, beras tidak bisa ditukar dengan kupon lauk…”
“Baguslah. Mulai sekarang kita makan bersama, ya? Setiap kali aku dapat jatah lauk terlalu banyak, tak mungkin kuhabiskan sendiri, jadi terpaksa kubuang. Sayang sekali! Mulai sekarang, kamu bantu aku habiskan sisanya, ya?” Xia Meng berbisik di telinga Xu Qiaofen dengan nada rahasia, “Aku ini idola semua orang, sampai tukang masak pun terpesona padaku, makanya lauknya banyak banget.”
Xu Qiaofen menahan tawa, “Semua orang memang suka kamu, karena kamu sangat manis.”
“Kamu juga manis, lho. Serius, aku justru iri dengan gadis bertubuh mungil sepertimu,” kata Xia Meng sambil memeluk lengan Xu Qiaofen.
“Aku malah bermimpi bisa setinggi kamu,” Xu Qiaofen mendongak dan tertawa.
“Haha, kalau begitu, kita saling tukar saja,” tawa Xia Meng pun pecah.
“Haha, kamu serius, ya…”
Sejak saat itu, Xia Meng dan Xu Qiaofen menjadi sahabat. Dari situlah Xia Meng mulai tahu latar belakang keluarga Xu Qiaofen.
Ayah Xu Qiaofen berasal dari keluarga dengan empat bersaudara, ia anak bungsu. Ayahnya sudah yatim sejak kecil, ibunya harus membesarkan empat anak sendirian dalam kemiskinan. Hanya anak sulung yang menikah dan punya anak, tiga saudara lainnya—termasuk ayah Xu Qiaofen—karena miskin, tak satu pun yang mampu menikah, mereka tetap membujang.
Ketika ayah Xu Qiaofen hampir berusia lima puluh, kerabat dari desa sebelah menjodohkannya dengan seorang perempuan yang juga berasal dari desa yang sama, namun mengalami gangguan jiwa. Perempuan itu sepuluh tahun lebih muda darinya, hidupnya hanya sekadar bisa mengurus diri sendiri, tanpa kemampuan untuk bekerja.
Perempuan yang mengalami gangguan jiwa itulah ibu Xu Qiaofen. Saat Xu Qiaofen lahir, ayahnya sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Untuk menghidupi keluarga yang terdiri dari empat orang, sang ayah bekerja keras di ladang dari pagi hingga malam, namun hasilnya hanya cukup untuk makan seadanya bagi Xu Qiaofen dan adiknya. Untungnya, Xu Qiaofen memang gemar belajar sejak kecil, prestasinya selalu menonjol dan akhirnya diterima di SMP unggulan di kota. Demi membiayai sekolahnya, adiknya yang lima tahun lebih muda terpaksa berhenti sekolah saat kelas tiga SD dan tinggal di rumah. Ayah mereka yang sudah tua tak sanggup membiayai dua anak sekaligus, apalagi ibu mereka yang sakit jiwa sering kabur dari rumah, jatuh dan terluka, butuh biaya pengobatan.
“Xia Meng, kau tahu tidak? Rumahku, kalau hujan turun, tak ada satu pun sudut yang tidak bocor, termasuk tempat tidur, semuanya basah. Rumah kami terbuat dari tanah liat tua puluhan tahun, ada satu dinding yang sudah roboh, ayahku hanya menutupinya dengan beberapa papan kayu agar angin tidak masuk.” “Kenapa tidak memperbaiki atapnya?” tanya Xia Meng. “Dindingnya tak sanggup menahan berat badan manusia,” jawab Xu Qiaofen datar.
“Kalau begitu, tinggal di situ sangat berbahaya, kan?” tanya Xia Meng dengan cemas.
“Tak apa, di dalam rumah, ayahku sudah menopangnya dengan kayu yang kuat,” Xu Qiaofen menjawab pelan, “Aku harus giat belajar, agar ayahku yang sudah tua sedikit bisa bernapas lega. Kami benar-benar sangat miskin. Xia Meng, mohon jangan ceritakan kondisi keluargaku pada siapa pun.”
“Tuhan akan membalas kerja keras, aku percaya kamu pasti akan berhasil,” kata Xia Meng sambil memeluk Xu Qiaofen, menepuk punggungnya, menghibur. “Qiaofen, kalau kamu butuh bantuan, katakan saja padaku.”
Namun, Xu Qiaofen tak pernah sekalipun meminta bantuan kepada Xia Meng.