Bab 139: Mengusir dengan Ketakutan
"Karena kalian berdua hanya kebetulan lewat, sebaiknya menyingkirlah. Pemuda di belakang kalian itu memiliki dendam kesumat dengan Kelompok Yuanshan kami. Dia telah membunuh banyak saudara kami, dan hari ini aku datang untuk menangkapnya agar dibawa kembali ke markas dan dijatuhi hukuman oleh ketua kami." Nada bicara Ye Ziyun membuat Yan Kuo terpaksa menahan amarah yang hampir meledak. Dengan dingin ia berkata, "Kelompok Yuanshan kami berada di bawah perlindungan Menara Yuhai. Kalian berdua, pasti tidak ingin menyinggung Menara Yuhai, bukan?"
Melihat kedua bersaudara marga Ye itu tetap tidak mau mengalah, Yan Kuo terpaksa membawa-bawa nama Menara Yuhai.
"Menara Yuhai? Aku memang pernah mendengarnya, tetapi semua orang mengatakan bahwa ketiga penguasa Menara Yuhai adalah tokoh-tokoh hebat yang disegani di Benua Senjata Dewa. Mengapa mereka sudi melindungi orang-orang rendahan seperti kalian?" Ye Ziling masih bersikap tenang. Ia menjepit jambangnya yang panjang dengan dua jari sambil berkata dengan nada datar.
"Teman, kata-katamu itu membuatku tidak suka mendengarnya." Yan Kuo yang biasanya selalu merasa superior, kini merasa kesal karena urusannya diganggu oleh dua orang ini, terlebih lagi dengan sindiran mereka yang tajam. Ia membentak dengan marah, "Huh, jika kalian berdua tidak mau menyingkir dan menyerahkan bocah itu, jangan salahkan aku jika harus menggunakan kekerasan."
Begitu selesai berbicara, Yan Kuo membuka telapak tangan kanannya. Tiga anak panah yang memancarkan energi misterius muncul begitu saja. Ia memasang anak panah ke busur, menarik talinya, dan melepaskannya. Tiga anak panah melesat dengan suara siulan ke arah Chen Shi, Ye Ziling, dan Ye Ziyun. Masing-masing anak panah mengunci aura sasarannya. Kemampuan seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh praktisi biasa.
"Hehe, trik murahan!" Melihat tiga anak panah yang melesat ke arah mereka, Ye Ziling tertawa kecil. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan dan meraih ke udara. Seketika, sebuah tombak panjang muncul di depannya dan ia genggam dengan erat. Tombak itu panjangnya sekitar tiga meter lebih, berwarna perunggu, dengan ukiran kepala harimau yang menggigit ujung tombak, tampak sangat perkasa. Itulah senjata takdir milik Ye Ziling—Tombak Kepala Harimau.
Ia memutar tombak itu dengan lembut di depannya, membentuk lapisan pelindung yang menghalangi serangan Yan Kuo.
"Ting! Ting! Ting!"
Terdengar tiga suara dentuman logam. Ketiga anak panah itu menghantam lapisan pelindung tombak Ye Ziling, terpental, dan akhirnya lenyap di udara.
"Apa? Begitu mudah menangkis seranganku? Pria berbaju putih ini, kekuatannya mungkin jauh di atasku." Yan Kuo menyipitkan mata, otaknya berputar dengan cepat.
"Aku sarankan kalian jangan mengganggu adik kecil ini. Segeralah pergi, atau jika tidak, tanpa perlu kakakku turun tangan, aku sendiri pun cukup untuk menghabisi kalian semua!" Ye Ziyun tersenyum sombong. Ia melangkah maju dan memanggil senjata takdirnya—Tombak Ular Roh. Senjata ini berbeda dengan milik kakaknya; gagangnya berliku seperti tubuh ular yang ditutupi sisik, dan di ujungnya terdapat kepala ular yang sedang menjulurkan lidah.
Kedua senjata itu sangat kontras: yang satu memancarkan kekuatan harimau yang gagah perkasa, sementara yang lain memancarkan aura dingin dan aneh dari ular roh yang mengerikan.
"Sudah kukatakan, bocah itu membunuh banyak orang kami. Jika aku tidak menangkapnya hari ini, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya kepada saudara-saudaraku yang telah gugur?" Yan Kuo kini berada dalam posisi sulit. Ia tidak bisa maju maupun mundur. Jika ia mundur setelah hanya satu jurus, wibawanya di depan puluhan anak buahnya akan hancur. Namun, ia tahu lawannya bukanlah orang sembarangan.
"Jadi, kau tidak mau pergi?" Ye Ziyun mengejek dan langsung melompat, lalu menghentakkan Tombak Ular Roh ke tanah.
"Ular Roh Keluar dari Sarang!"
Seketika, energi dahsyat memancar dari ujung tombak, membentuk wujud ular besar yang menerjang Yan Kuo dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Sss!"
"Serangan ini... mungkinkah dia sudah mencapai Alam Zong? Sial, aku bertemu lawan yang tangguh. Aku harus kabur!" Yan Kuo yang ketakutan segera mengerahkan energinya dan melarikan diri ke udara, meninggalkan anak buahnya yang malang.
Ular energi itu menghantam puluhan anak buah Kelompok Yuanshan. Dalam sekejap, jeritan terdengar dan dalam dua tarikan napas, puluhan orang itu tewas mengenaskan.
Chen Shi menatap mayat-mayat itu dengan terpaku. Ia kagum sekaligus ngeri melihat kekuatan Ye Ziyun. "Keduanya benar-benar luar biasa. Siapa sebenarnya mereka?"
"Huh! Pria itu benar-benar pengecut, tega meninggalkan anak buahnya demi menyelamatkan diri sendiri," ejek Ye Ziyun setelah menyimpan tombaknya.
"Ziyun, jurusmu semakin kuat. Bagus sekali! Saat kompetisi klan nanti, kau pasti bisa meraih hasil lebih baik daripada tiga tahun lalu," puji Ye Ziling sambil menepuk bahu adiknya.
"Hehe, kakak terlalu memuji. Tapi kalau bertemu kakak, aku pasti kalah. Dan kalau bertemu orang-orang gila di klan kita, aku mungkin akan babak belur," keluh Ye Ziyun sambil bergidik ngeri saat mengingat sesuatu.
"Sudahlah, mari kita lihat bagaimana kondisi pemuda ini," ajak Ye Ziling, mengalihkan pembicaraan ke arah Chen Shi yang masih pucat. Keduanya kemudian melangkah mendekati Chen Shi.