Bab 106: Divisi Naga Pengawal Air Hitam
Harus diakui, iring-iringan kendaraan Kota Air Hitam melaju dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu lebih dari setengah jam, mereka telah membawa rombongan Desa Hanlong tiba di Kota Air Hitam. Ditambah dengan sekelompok besar Pengawal Air Hitam yang mengawal di sisi iring-iringan, pemandangan saat melintasi jalan raya utama Kota Air Hitam membuat banyak warga yang tidak tahu apa-apa merasa heran. Siapa gerangan tokoh besar yang ada di dalam iring-iringan ini sampai-sampai harus dikawal oleh pasukan elit Pengawal Air Hitam yang tersohor itu?
"Siapa sebenarnya orang-orang di dalam kereta kuda ini? Sampai-sampai harus dikawal dengan formasi sebesar ini?"
"Sepertinya jumlah mereka tidak sedikit. Melihat banyaknya kereta, mungkin ada hampir dua ratus orang."
"Mungkin mereka bangsawan dari suatu tempat yang sedang melakukan perjalanan bersama ke wilayah Kota Air Hitam kita."
Bisik-bisik warga di sekitar terdengar jelas di telinga Chen Shi dan rombongannya, membuat para pemuda itu terkikik geli.
"Jaga sikap kalian, jangan memalukan!" Han Li menegur dengan wajah tegas kepada para pemuda di dalam kereta yang sama. Kemudian, ia menyibak tirai belakang kereta dan menatap bangunan-bangunan di sepanjang jalan raya. Dalam hati ia menghela napas, "Sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat ini. Dulu, aku sering menyelinap turun dari gunung bersama rekan-rekan seperguruan untuk bermain ke Kota Air Hitam. Tempat ini masih seramai dulu." Sembari melamun, Han Li mengedarkan pandangan ke arah lautan manusia di sekitarnya. Kenangan masa lalu berkelebat satu per satu. Ia teringat masa-masa bahagia bersama rekan-rekannya, teringat kebanggaan di Gerbang Naga Guncang, dan teringat pula malam ketika sekelompok pendekar misterius yang kejam tiba-tiba datang. Hingga saat ini, setiap kali teringat momen itu, kepalan tangan Han Li akan mengerat dengan sendirinya, bahkan hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan dan mengeluarkan sedikit darah tanpa ia sadari.
"Tetua Ketiga, Anda tidak apa-apa?" Chen Shi, yang duduk di samping Han Li, melihat gurunya melamun dan memperhatikan darah di telapak tangan Han Li, lalu bertanya dengan cemas.
"Oh." Setelah dipanggil oleh Chen Shi, Han Li tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum getir, mengusap sedikit darah di telapak tangannya, lalu menatap Chen Shi dan bertanya, "Shi-er, menurutmu, untuk apa kita bersusah payah berlatih selama bertahun-tahun di Desa Hanlong?"
"Tujuannya adalah untuk membangkitkan kembali Gerbang Naga Guncang dan menyelamatkan Ayah," jawab Chen Shi dengan tegas.
"Hm, bagus. Ingatlah selalu, bagaimanapun keadaannya, jaga keteguhan hatimu dan pertahankan tekad awal itu. Gerbang Naga Guncang di masa depan membutuhkanmu untuk memimpin rekan-rekan membangunnya kembali dan mengembalikan kejayaan yang seharusnya ia miliki," ujar Han Li dengan wajah serius dan penuh makna.
"Tetua Ketiga, jangan khawatir. Saya tidak pernah melupakan misi saya. Lagi pula, setiap orang di Desa Hanlong senantiasa mendukung saya, membuat saya semakin paham akan apa yang harus saya lakukan. Suatu hari nanti, saya akan memimpin saudara-saudara kembali ke Puncak Naga Guncang, mengibarkan panji Gerbang Naga Guncang, dan mengumumkan kepada seluruh Benua Senjata Dewa bahwa Gerbang Naga Guncang telah kembali," jawab Chen Shi mantap sambil menatap Han Li dengan tatapan penuh keyakinan.
"Baguslah, aku pun percaya suatu hari nanti kau bisa memimpin mereka mengembalikan Gerbang Naga Guncang ke puncak kejayaannya," Han Li tersenyum puas dan menepuk bahu Chen Shi.
Chen Shi menatap mata Han Li dengan rasa ingin tahu, lalu bertanya dengan ragu, "Tetua Ketiga, mengapa saya merasa kata-kata Anda hari ini agak aneh? Apakah ada sesuatu yang Anda sembunyikan dari saya?"
"Haha, tidak ada, Shi-er, jangan berpikir macam-macam," Han Li tertawa terbahak-bahak sambil melambaikan tangan. Namun, ada sedikit keraguan di matanya yang tertangkap oleh Chen Shi.
Tepat saat Chen Shi hendak bertanya lagi, suara Lian Meng terdengar dari luar kereta, "Kita sudah sampai di kamp Pengawal Air Hitam, silakan turun."
Begitu suara Lian Meng hilang, Chen Shi mendengar keributan di luar kereta; jelas itu adalah suara warga Desa Hanlong yang turun dari kendaraan.
"Sudahlah, Shi-er. Ayo kita turun juga," Han Li segera mengalihkan pembicaraan.
"Baik, segera!" Chen Shi masih memikirkan kata-kata Han Li tadi, merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, tak lama kemudian ia menggelengkan kepala, lalu turun dari kereta untuk bergabung dengan penduduk desa lainnya.
Di bawah bimbingan Han Li dan Chen Shi, lebih dari dua ratus orang dari Desa Hanlong tiba di gerbang kamp Pengawal Air Hitam. Tampak Anyang Fu, Bai Kong, serta dua wakil komandan Pengawal Air Hitam, Yin Ye dan Bi Yan, sudah menunggu di sana.
"Haha, sungguh suatu kehormatan bagi Kota Air Hitam karena Tetua Han bersedia membawa rombongan Desa Hanlong berkunjung ke sini. Mari, mari, perjalanan ini pasti melelahkan. Silakan beristirahat sejenak di ruang rapat kamp Pengawal Air Hitam sambil minum teh, sementara saya mengatur tempat tinggal kalian di Kota Air Hitam," sambut Anyang Fu dengan senyum ramah dan gestur tangan yang sopan. Harus diakui, sikap seorang penguasa kota yang begitu hormat kepada rakyat jelata adalah hal yang langka.
"Tuan Penguasa Kota Anyang, Anda terlalu berlebihan. Janganlah bersikap sungkan seperti ini. Shi-er, Tie Ta, dan Tie Hu pernah ke sini, mereka bertiga bisa memandu kami. Anda tidak perlu repot-repot," jawab Han Li dengan terburu-buru. Setelah berbasa-basi sejenak, karena desakan keramahan Anyang Fu, rombongan itu pun masuk ke dalam kamp Pengawal Air Hitam.
Bai Kong, Yin Ye, dan Bi Yan berdiri di gerbang dengan tersenyum sembari memperhatikan rombongan yang masuk satu per satu.
Ketika mata Bi Yan tertuju pada Chen Shi, secercah kebencian terlintas di matanya. Karena Chen Shi lah ia kini kehilangan kekuatan mistisnya dan tidak punya harapan untuk berkembang sedikit pun selama sepuluh tahun ke depan. Namun, rasa benci itu segera berganti dengan rasa takut yang mendalam. Bi Yan tahu siapa sosok di balik Chen Shi—seorang pendekar yang telah lama menebar ketakutan di Benua Senjata Dewa, yang tak lain adalah kakek dari Chen Shi.
Memikirkan hal itu, muncul rasa tak berdaya di hati Bi Yan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan lesu dan memaksakan senyum untuk menyambut rombongan yang sangat ia benci itu.
Dipimpin oleh Anyang Fu, rombongan Desa Hanlong berjalan melintasi kamp Pengawal Air Hitam. Seperti Chen Shi, Tie Ta, dan Tie Hu saat pertama kali tiba, mereka terus takjub melihat betapa luas dan lengkapnya fasilitas di tempat tersebut.
"Tempat ini luar biasa besar, berkali-kali lipat lebih luas daripada desa kita!"
"Jika kita bisa berlatih di sini, mungkin kekuatan kita akan meningkat pesat."
"Lihat ke sana, ada tempat latihan yang luar biasa!"
Para pemuda Desa Hanlong yang seusia dengan Chen Shi terus mengagumi sekeliling dengan penuh semangat. Akhirnya, mereka sampai di aula rapat utama. Meskipun jumlah orangnya banyak, aula tersebut sangat luas sehingga tetap terasa lapang.
"Tetua Han, karena semua orang dari desa Anda sudah tiba, saya akan segera mengatur tempat tinggal agar kalian bisa menetap dengan tenang," ujar Anyang Fu yang duduk di kursi utama.
"Terima kasih banyak, Tuan Penguasa Kota. Kami tidak menuntut banyak, cukup tempat untuk beraktivitas dan berlatih, serta atap untuk berteduh sudah sangat cukup," jawab Han Li.
"Haha, Tetua Han jangan sungkan. Jika ada permintaan, katakan saja," sahut Anyang Fu.
"Betul apa kata Tuan Penguasa Kota, katakan saja jika ada yang dibutuhkan. Kota kami memang bukan kota metropolitan, tapi tempatnya cukup luas," tambah Bai Kong yang duduk di sampingnya, diikuti anggukan setuju dari Yin Ye dan Bi Yan.
"Kami tidak berani meminta lebih, semua kami serahkan pada keputusan Tuan Penguasa Kota," jawab Han Li dengan sopan.
"Baiklah, kalau begitu biar saya yang atur," Anyang Fu berdiri dan berkata, "Tetua Han dan para tetua, pelatih, serta guru dari desa Anda, silakan menempati kediaman besar di samping rumah dinas penguasa kota. Tempat itu sudah lama kosong dan belum pernah ditempati, sangat cocok untuk tempat tinggal kalian."
"Terima kasih banyak, Tuan Penguasa Kota," Han Li dan rombongan segera berdiri untuk memberi hormat.
Di sisi lain, Bi Yan membatin dengan kesal, "Tempat itu bukan kosong karena tidak ada yang mau menempati, tapi karena kau sendiri yang tidak mengizinkan siapa pun tinggal di sana! Cih, kediaman sebagus itu justru diberikan kepada sekumpulan orang desa ini. Itu adalah tempat yang dulu bahkan tidak bisa kumiliki meski sudah memohon!" Bi Yan merasa semakin geram dan iri, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk diam dengan wajah masam.
"Tidak perlu terlalu formal," Anyang Fu memberi isyarat agar mereka duduk kembali. Setelah semua tenang, matanya beralih ke arah seratus pemuda yang dipimpin Chen Shi.
"Mengenai para pemuda ini, seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka semua akan direkrut ke dalam Pengawal Air Hitam sebagai pasukan khusus yang berada langsung di bawah kendali saya, dengan Chen Shi sebagai pemimpinnya. Fasilitas mereka akan disetarakan dengan Pengawal Air Hitam biasa. Bagaimana kalau pasukan ini kita beri nama 'Divisi Naga'?" Anyang Fu menatap Chen Shi sambil menunggu jawaban.