Bab 121: Menegangkan, tetapi Selamat (Bab Tambahan untuk 500 Pembelian Perdana!)
Halaman (1/3)
Beberapa orang itu segera memilih tugas mereka. Mereka mengambil masing-masing satu tugas bintang enam dan satu tugas bintang tujuh.
Tugas bintang enam adalah membunuh seekor cerpelai petir, binatang buas tingkat enam. Mereka hanya perlu membawa kembali bangkai cerpelai itu, tanpa harus mengurus hal lainnya. Imbalannya adalah empat ribu poin kontribusi.
Kelompok Luksuan terdiri atas empat orang. Jika tugas ini berhasil diselesaikan, masing-masing akan memperoleh seribu poin, jumlah yang terbilang cukup besar.
Sementara itu, tugas bintang tujuh yang dipilih Luksuan menawarkan poin kontribusi yang jauh lebih banyak, tepatnya sepuluh ribu poin, bahkan lebih dari dua kali lipat imbalan tugas bintang enam. Tentu saja, tingkat kesulitannya juga meningkat drastis. Tugas tersebut mengharuskan mereka membunuh seekor harimau api belang. Harimau api belang merupakan binatang buas tingkat tujuh, dengan corak merah menyala di sekujur tubuhnya, sehingga dinamai demikian. Nama itu bukan berarti ia mampu menyemburkan api.
“Berangkatlah. Nanti kalian semua tetap berada dekat satu sama lain dan jangan lengah,” pesan Luksuan.
Ini adalah kali pertama mereka memasuki pegunungan, dan mereka juga tidak ditemani murid senior. Dalam keadaan seperti ini, kecelakaan sangat mudah terjadi.
Tempat tinggal para binatang buas itu berada di pegunungan belakang Sekte Pedang Angin. Pegunungan belakang sekte tersebut merupakan hutan yang sangat luas, dihuni oleh tak terhitung banyaknya burung dan binatang. Konon, di kedalamannya bahkan terdapat makhluk iblis, sesuatu yang sama sekali tidak mampu dihadapi murid biasa.
Namun, makhluk-makhluk iblis itu hidup jauh di dalam hutan. Saat berburu, para murid Sekte Pedang Angin pada dasarnya tidak akan berjumpa dengan mereka. Selain itu, kecerdasan para makhluk iblis tersebut juga tidak rendah. Mereka tahu bahwa Sekte Pedang Angin dipenuhi para ahli, sehingga sama sekali tidak berani keluar. Jika berani melakukannya, mereka pasti akan dibunuh oleh gabungan para tetua sekte.
Seekor makhluk iblis memiliki nilai yang sangat tinggi dan seluruh tubuhnya dipenuhi harta. Bahkan daging dan darahnya pun merupakan suplemen terbaik yang sangat bermanfaat bagi para praktisi.
Dengan peta yang terukir pada lencana identitas mereka, tentu saja mereka tidak perlu khawatir tersesat. Mereka langsung menuju pegunungan belakang. Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan banyak murid lain. Melihat arah perjalanan mereka, para murid itu rupanya juga hendak menuju pegunungan belakang.
Setelah berjalan cepat selama hampir setengah jam, Luksuan merasa daerah yang mereka lewati semakin liar dan terpencil, dengan pepohonan yang tumbuh lebat. Sesekali, terdengar raungan binatang dari kejauhan.
“Seharusnya kita sudah memasuki wilayah pegunungan belakang. Semuanya, lebih berhati-hatilah,” ujar Luksuan sambil mengamati sekeliling dengan waspada.
Sinar pedang berkilat. Pedang Rindu telah dikeluarkannya dari cincin penyimpanan dan kini tergenggam erat di tangannya.
Saat berada di Kota Gunung Hijau, ia juga sering memasuki pegunungan. Ia tahu bahwa binatang-binatang di sana sangat licik. Siapa tahu kapan mereka akan terjebak. Terlebih lagi, binatang buas di tempat ini jauh lebih kuat daripada yang ada di Kota Gunung Hijau, sehingga kecerdasan mereka pun pasti lebih tinggi.
Melihat hal itu, Singfeng, Sia Ye, dan Lin Sini juga menggenggam pedang panjang mereka erat-erat. Mereka tahu bahwa ini bukan permainan. Begitu menghadapi bahaya, nyawa mereka bisa saja melayang. Namun, meskipun agak tegang, yang lebih mereka rasakan justru kegembiraan.
Pegunungan belakang memang berbahaya, tetapi tidak sebesar yang dibayangkan. Bagaimanapun, tak terhitung murid datang ke tempat ini setiap hari untuk membunuh binatang buas dan menyelesaikan tugas. Lagi pula, mereka masih berada di daerah luar. Kemunculan seekor binatang buas tingkat lima saja sudah merupakan kejadian langka.
Dengan sedikit kewaspadaan, keempat orang itu mulai bergerak menuju bagian dalam hutan di bawah pimpinan Luksuan. Bagaimanapun, sasaran tugas mereka adalah cerpelai petir tingkat enam. Binatang buas dengan kekuatan seperti itu tidak mungkin muncul di daerah luar.
Luksuan berjalan paling depan. Sia Ye dan Singfeng berada di belakang, melindungi Lin Sini di tengah. Sebenarnya, dengan kekuatan Lin Sini saat ini, tugas bintang enam saja sudah merupakan batas kemampuannya. Untuk tugas bintang tujuh, ia sama sekali tidak banyak membantu. Demi keselamatan, seharusnya ia tidak ikut.
Namun, Luksuan khawatir Su Wenyang akan membuat masalah lagi, jadi ia sekalian membawa Lin Sini bersamanya. Ia yakin menghadapi seekor binatang buas tingkat tujuh bukanlah masalah besar. Lagi pula, Lin Sini bukan orang yang tidak tahu diri. Meskipun tidak mampu membantu, setidaknya ia tidak akan menjadi beban.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Tepat pada saat itu, semak-semak di samping mereka tiba-tiba berguncang. Sesosok tubuh besar menerobos keluar dari balik semak dan melesat dengan cepat, langsung menyerang Luksuan dan yang lainnya.
Luksuan jelas menjadi sasaran pertama. Kecepatan serangan sosok itu memang sangat tinggi, tetapi di mata Luksuan, kecepatannya sama sekali tidak istimewa. Bagi seseorang yang menguasai Kilatan Petir Menggelegar, kecepatan seperti itu benar-benar tidak berarti.
Ia tidak menghindar maupun bergeser. Pergelangan tangannya bergerak, Pedang Rindu terayun, dan seberkas tenaga murni melesat, menghantam binatang buas itu dengan sangat tepat.
Binatang tersebut menjerit kesakitan. Sosoknya segera berhenti. Setelah melihat dengan saksama, mereka menyadari bahwa itu adalah binatang buas berbentuk serigala. Kini serigala itu menyeringai sambil menatap Luksuan dan yang lainnya, tampak sangat ganas. Namun, di balik tatapannya tersembunyi sedikit ketakutan, seolah-olah hanya garang di luar tetapi sebenarnya gentar.
Serangan yang semula diyakininya pasti mengenai sasaran telah dihentikan Luksuan. Ia pun tahu bahwa orang-orang di hadapannya tidak mudah dihadapi.
“Itu serigala semak, binatang buas tingkat empat. Berbeda dari serigala lainnya, jenis ini biasanya hidup menyendiri dan suka bersembunyi di antara semak-semak untuk menyergap musuh. Kecepatannya sangat tinggi. Jika serangannya berhasil mengenai sasaran, biasanya ia dapat membunuh dalam satu serangan,” kata Sia Ye sambil melangkah maju dan berdiri di sisi Luksuan.
Keluarganya tidak biasa. Kediaman penguasa kota menyimpan banyak kitab, termasuk buku-buku yang memperkenalkan berbagai jenis binatang buas. Karena dipaksa ayahnya, ia telah membaca cukup banyak buku semacam itu sejak kecil, sehingga langsung mengenalinya.
Luksuan mengangguk pelan, tetapi tatapannya tetap tertuju pada serigala semak itu tanpa sedikit pun mengendurkan kewaspadaan. Ia juga pernah mendengar tentang serigala semak. Konon, di Pegunungan Hijau yang berada di dekat Kota Gunung Hijau, terdapat pula jenis binatang ini. Namun, di sana, serigala semak merupakan pemangsa puncak dalam rantai makanan. Ia tidak menyangka bahwa di pegunungan belakang Sekte Pedang Angin, binatang itu hanya bisa bertahan hidup dengan berburu di wilayah luar.
Tiba-tiba, serigala semak itu mengeluarkan raungan dan bersiap menerjang, seolah-olah hendak menyerang lagi. Namun, gerakannya kemudian sama sekali di luar dugaan Luksuan dan yang lainnya.
Baru saja maju beberapa langkah, serigala itu mendadak menghentikan gerakannya dan melesat ke belakang. Ternyata ia hendak melarikan diri.
Serigala itu tentu tidak bodoh. Ia tahu bahwa orang-orang di hadapannya sulit dihadapi. Setelah serangan pertamanya gagal, ia segera berniat melarikan diri.
Namun, bagaimana mungkin Luksuan membiarkannya? Itu hanya seekor binatang buas tingkat empat. Jika ia bahkan membiarkan binatang seperti itu kabur, bagaimana mungkin mereka nanti dapat membunuh makhluk yang tingkatnya lebih tinggi?
Kilatan Petir Menggelegar segera diaktifkan. Tubuh Luksuan seketika muncul di depan serigala semak tersebut. Suara petir yang samar terdengar, lalu Pedang Rindu menebas turun mengikuti momentum gerakannya.
Itulah Jurus Pedang Cahaya Petir. Untuk menghadapi lawan sekelas ini, jurus tersebut sudah lebih dari cukup.
Namun, tepat pada saat itu, perubahan mendadak kembali terjadi. Dari semak-semak tempat serigala semak tadi menerobos keluar, kembali muncul gerakan. Sesosok tubuh lain melesat dengan kecepatan luar biasa.
Sasarannya adalah Lin Sini, yang berada paling belakang.
Ternyata serigala semak tadi hanyalah umpan. Kecerdasan binatang buas ini sungguh terlalu tinggi. Ia bahkan memahami cara mengalihkan perhatian lawan dan menyerang dari arah berbeda.
Sia Ye langsung pucat. Seharusnya ia berdiri di belakang Lin Sini, tetapi setelah mengira bahaya telah berlalu, ia melangkah ke depan. Ia sama sekali tidak menyangka masih ada musuh yang bersembunyi.
Singfeng bergerak sangat cepat. Dengan geraman rendah, ia segera bergegas menuju sisi Lin Sini. Namun, serigala semak memang mengandalkan kecepatan untuk bertahan hidup. Ia tetap tidak akan sempat tiba tepat waktu.
Saat menyadari dirinya menjadi sasaran, Lin Sini sempat panik sesaat. Namun, ia segera menenangkan diri. Pedang panjang di tangannya diayunkan, menampilkan jurus tingkat kuning menengah, Jurus Pedang Air Mengalir.
Meskipun kekuatannya paling rendah di antara semua orang, bukan berarti ia sekadar pajangan. Selama sebulan terakhir, ia setiap hari berada di sisi Luksuan. Tanpa sadar, ia telah banyak terpengaruh dan belajar darinya.
Dalam keadaan seperti ini, panik tidak akan berguna. Terlebih lagi, serigala semak itu hanya binatang buas tingkat empat. Lin Sini juga telah mencapai tingkat keempat Penguatan Tubuh, sehingga kekuatannya tidak jauh lebih rendah daripada lawannya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Karena Lin Sini menghunus pedangnya tepat pada waktunya, serigala semak itu langsung menabrak pedang panjangnya ketika menerjang.
Lin Sini tidak menahannya dengan kekuatan kasar. Jurus Pedang Air Mengalir memang tidak dikenal karena daya hancurnya. Ia hanya mundur sedikit, lalu mengibaskan pedangnya.
Serigala semak itu langsung terangkat. Dengan memanfaatkan momentum terjangannya sendiri, Lin Sini membantingnya sekuat tenaga ke samping.
Terdengar suara gedebuk berat. Serigala semak itu terhempas ke tanah.
Pada saat itu, Singfeng akhirnya tiba. Tanpa ragu, ia menerjang dan menebaskan pedangnya. Dalam sekejap, serigala semak yang melakukan penyergapan itu terbelah perutnya dan langsung tewas. Krisis pun berakhir.
Di sisi lain, Luksuan juga telah membunuh serigala semak yang dijadikan umpan dengan satu tebasan. Mereka berhasil melewati bahaya tanpa cedera.
“Aku yang ceroboh. Kalau tidak, Sini tidak akan terancam,” Sia Ye mengakui kesalahannya.
Jika tadi ia berdiri di sisi Lin Sini, ia bisa memberikan bantuan tepat waktu tanpa perlu menunggu Singfeng turun tangan.
“Mengetahui kesalahanmu sudah cukup. Jangan mengulanginya lagi. Ini baru wilayah luar, dan kita hanya menghadapi serangan dua ekor serigala semak. Kalau tadi jumlahnya bertambah dua ekor lagi, bukan hanya Sini yang akan terluka. Singfeng pun sangat mungkin ikut celaka,” kata Luksuan dengan wajah serius.
Dalam perkara seperti ini, sebaik apa pun hubungan mereka, Luksuan tetap tidak akan melunakkan tegurannya. Sebab, kesalahan kecil sewaktu-waktu dapat menyebabkan seseorang terluka, bahkan kehilangan nyawa.
“Sudahlah, Luksuan. Jangan salahkan Sia Ye. Aku datang bukan untuk melihat-lihat pemandangan. Masalah kecil seperti ini tentu tidak perlu kalian bantu,” ujar Lin Sini untuk meredakan suasana.
“Tidak apa-apa. Teguran Luksuan memang benar. Untung saja tidak terjadi kesalahan yang lebih besar. Kalau sampai terjadi, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana mempertanggungjawabkannya kepada ayah Sini,” kata Sia Ye sambil tersenyum kecut. “Sepertinya perkataan ayahku bahwa aku tidak cocok bepergian ke luar memang benar.”
Ia tentu tidak merasa kesal hanya karena ditegur Luksuan. Kesalahan itu memang berada di pihaknya, dan Luksuan hanya membahas persoalan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Jika Luksuan sama sekali tidak mengatakan apa-apa, justru itulah bentuk ketidakbertanggungjawaban terhadap kelompok ini.
Melihat sikap Sia Ye yang tulus, Luksuan menggumam pelan sebagai tanda mengerti. Tujuannya bukan untuk menyalahkan Sia Ye, melainkan agar ia mengingat pelajaran ini. Bagaimanapun, musuh-musuh yang akan mereka hadapi selanjutnya jauh lebih kuat, bahkan mungkin datang dalam jumlah yang lebih banyak.
“Simpan bangkai kedua serigala semak ini. Nanti saat kembali, kita lihat apakah ada tugas yang membutuhkan serigala semak. Sekecil apa pun hasilnya, tetap saja berharga,” ujar Singfeng.
Ia berjongkok dan menyimpan bangkai serigala semak yang dibunuhnya. Sia Ye kemudian memasukkan bangkai yang dibunuh Luksuan ke dalam cincin penyimpanan.
Setelah semuanya selesai, kelompok itu kembali melanjutkan perjalanan. Pengalaman barusan membuat mereka semakin waspada, terutama Sia Ye. Ia tidak lagi berani lengah.
Kesalahan pertama masih bisa dimaafkan. Namun, jika ia mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, ia sendiri tidak akan mampu memaafkan dirinya.
Selain itu, kini ia mulai memahami bahwa isi buku belum tentu sepenuhnya benar. Buku-buku menyatakan bahwa serigala semak selalu hidup menyendiri, tetapi kenyataannya, dua ekor serigala semak tadi bekerja sama. Demi bertahan hidup, kebiasaan apa pun dapat berubah.
(Bersambung.)