Bab Delapan Belas: Gulungan Amarah
Sebuah gulungan kosong tingkat rendah dibentangkan di atas meja, lalu Lu Xuan membuka botol giok yang berisi darah Serigala Ganas. Seketika, aroma liar yang kuat menyebar dari dalam botol. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menyalurkan energi dalam dari ujung telunjuknya. Setetes darah Serigala Ganas pun segera tertarik keluar. Begitu ia mengendalikan darah itu, Lu Xuan langsung merasa energi dalam yang ia salurkan bergetar hebat, hampir saja buyar.
Energi di dalam darah Serigala Ganas sangat liar dan sulit dikendalikan, jauh berbeda dengan energi dalam yang lebih tenang. Menggunakan darah yang begitu liar untuk melukis gulungan sihir jelas berkali lipat lebih sulit. Inilah alasan mengapa saat Xia Chenxi mendengar Lu Xuan ingin menggunakan darah Serigala Ganas murni untuk membuat gulungan sihir, ia terlihat begitu terkejut.
Bukan hanya darah Serigala Ganas, darah binatang lainnya pun energinya sangat kacau dan liar, sehingga para peramu sihir tak mungkin memadukannya untuk membuat gulungan sihir. Karena itu, di seluruh Benua Pedang Langit, semua peramu sihir selalu memakai cairan khusus yang telah dicampur bahan-bahan lain demi menetralkan khasiat obat dan menenangkan energinya.
Cara itu memang memudahkan proses pembentukan gulungan sihir, tetapi juga melemahkan efek utama bahan utama. Alhasil, gulungan sihir yang dihasilkan menjadi kurang ampuh. Namun, tidak ada pilihan lain. Tanpa cara itu, mereka takkan bisa membuat gulungan sihir sama sekali.
Andai sekarang ada seorang peramu sihir yang melihat Lu Xuan langsung memakai darah binatang murni untuk melukis gulungan, pasti ia akan menertawakan Lu Xuan. Itu hampir mustahil. Setiap peramu sihir sejak awal selalu diwanti-wanti: bahan untuk sihir harus memakai cairan khusus. Jika memakai bahan murni, pasti akan terjadi konflik hebat, dan tidak mungkin bisa melukis simbol-simbol dengan bebas.
Kini, Lu Xuan tengah menghadapi kesulitan itu. Demi memaksa mengendalikan darah Serigala Ganas untuk melukis gulungan, ia harus meningkatkan penyaluran energi dalamnya. Namun, dengan cara itu, konsumsi energinya jauh melampaui perhitungannya. Walaupun kini sudah mencapai tingkat Empat Latihan Tubuh, energi dalamnya jauh lebih kuat dari sebelumnya, tetap saja masih belum cukup.
Ujung jari Lu Xuan terus bergerak, menarik seutas darah Serigala Ganas dan menorehkannya di gulungan kosong sesuai pola simbol Amukan. Garis-garis rumit segera muncul di atas gulungan itu. Namun, semakin rumit simbolnya, semakin cepat energi dalamnya menipis. Tak lama, keringat mulai membasahi dahinya, padahal simbol Amukan baru setengah jadi!
Mengetahui energinya sudah hampir habis, Lu Xuan akhirnya memutuskan untuk menghentikan proses pelukisan. Jika ia memaksakan diri, hasilnya tetap akan gagal. Lebih baik menghemat bahan.
Begitu Lu Xuan menghentikan proses, tanpa dukungan energi dalam, simbol yang baru setengah jadi itu langsung kehilangan cahaya dan berhenti terhubung dengannya. Percobaan pertama gagal, dan baik gulungan kosong maupun darah Serigala Ganas pun terbuang sia-sia.
Itu nilainya belasan tael emas! Mata Lu Xuan memancarkan sedikit rasa sakit hati.
Akan tetapi, sekarang bukan waktunya untuk menyesali. Jangan kan bagi pemula seperti Lu Xuan, para peramu sihir yang sudah berpengalaman pun tak bisa menjamin tingkat keberhasilan seratus persen. Bisa mencapai tingkat keberhasilan tiga puluh persen saja sudah layak dibanggakan.
Kini, Lu Xuan baru benar-benar memahami perbedaan antara berlatih dengan energi dalam dan langsung melukis gulungan. Energi dalam adalah milik diri sendiri, mudah dikendalikan, tapi darah Serigala Ganas sungguh berbeda.
Mengingat kembali pengalamannya barusan, Lu Xuan merasa penyebab kegagalannya bukan seperti yang tertulis di buku dasar—khasiat darah Serigala Ganas terlalu kuat sehingga terjadi konflik simbol—melainkan karena ia tak mengenal khasiat darah itu, sehingga konsumsi energi dalamnya terlalu besar.
Setelah merenung sejenak, Lu Xuan kembali menyalurkan setetes darah Serigala Ganas, menutup matanya, dan merasakan khasiatnya dengan seksama.
Karena tadi ia sempat menghentikan proses sebelum terlambat, masih tersisa cukup banyak darah. Jadi, membuang sedikit sekarang tidak masalah.
Darah yang terkena udara perlahan kehilangan khasiatnya. Lu Xuan terus menarik seutas demi seutas darah, berulang kali merasakan dan mencoba bagaimana cara mengendalikannya dengan konsumsi energi dalam paling minimal.
Setelah menghabiskan lebih dari setengah jam, Lu Xuan sudah sangat mengenal khasiat darah Serigala Ganas. Ia kembali duduk bersila dan mulai memulihkan energi dalamnya dengan jurus Taiyi Guiyuan. Apa pun yang terjadi, hanya dengan praktik nyata ia bisa berkembang.
Satu botol darah Serigala Ganas bisa dipakai sekitar delapan sampai sepuluh kali. Meski tadi sudah terbuang, masih cukup untuk tujuh atau delapan kali percobaan. Asalkan berhasil sekali saja, biaya sudah kembali.
Begitu energi dalam pulih, Lu Xuan sekali lagi membentangkan gulungan kosong tingkat rendah, lalu dengan terampil menarik setetes darah dari botol. Darah itu tetap liar, tetapi Lu Xuan sudah sangat mengenal khasiatnya sehingga tak perlu lagi memaksakan energi dalam untuk menahan, membuat pengeluaran energi jauh lebih hemat.
Setetes demi setetes darah Serigala Ganas jatuh di gulungan kosong, pola simbol Amukan mulai terbentuk. Kali ini, Lu Xuan bertahan lebih lama daripada sebelumnya. Ia baru kehabisan energi setelah simbol selesai delapan puluh persen.
Kali ini, Lu Xuan akhirnya yakin: selama energi dalamnya cukup, ia benar-benar bisa menggunakan darah Serigala Ganas murni untuk melukis simbol Amukan. Tidak seperti yang tertulis di buku dasar yang mewajibkan cairan khusus.
Mengapa bisa begitu? Lu Xuan menduga, kemungkinan besar berkaitan dengan perbedaan simbol. Simbol yang ia gunakan berasal dari Roh Pedang, mungkin memang lebih unggul dari yang lainnya.
Ia terus memulihkan energi, terus mencoba, meski hasilnya masih gagal. Namun pada percobaan ini, ia berhasil menyelesaikan sembilan puluh persen simbol, tinggal sedikit lagi.
Dua kali kegagalan ini tidak sia-sia, karena memberi Lu Xuan pengalaman sangat berharga, yang tak bisa didapat hanya dari teori.
Setelah sekali lagi memulihkan energi, dengan pengalaman dua kali gagal, Lu Xuan merasa keyakinannya sudah mencapai tujuh puluh persen. Ia berpikir sejenak, lalu mengambil gulungan kosong yang baru. Gulungan ini jauh lebih indah dan halus daripada yang sebelumnya, nilainya sepuluh tael emas—gulungan kosong tingkat atas!
Demi keberhasilan, kali ini Lu Xuan benar-benar bertaruh besar. Sebelumnya, gulungan kosong yang terbuang hanya bernilai satu tael emas. Jika kali ini gagal, bersama dengan darah Serigala Ganas yang terpakai, total kerugian hampir dua puluh tael emas—bukan jumlah kecil.
Setetes darah liar Serigala Ganas kembali ditarik oleh Lu Xuan. Ujung jarinya bergetar halus, dan sebuah simbol kecil nan indah pun muncul di gulungan itu, berkilauan dengan cahaya kristal.
Lu Xuan benar-benar berkonsentrasi, matanya menatap tajam ke gulungan kosong. Ujung jarinya terus bergetar, satu demi satu simbol ditorehkan. Seluruh simbol Amukan terdiri dari ribuan simbol kecil. Salah satu saja salah, akan gagal total. Jika bukan karena ia memiliki ingatan Kristal Pedang, mustahil ia bisa mempelajari teknik sihir sedemikian cepat.
Energi dalamnya mengalir sangat cepat. Darah Serigala Ganas terus ditarik keluar, membentuk simbol-simbol rumit di gulungan kosong. Anehnya, darah yang semula begitu liar kini sama sekali tak menunjukkan konflik, seluruh sifat liarnya terkekang oleh susunan simbol Lu Xuan.
Butiran keringat perlahan muncul di wajah Lu Xuan. Energi dalamnya nyaris habis, tapi ujung jarinya tetap stabil, tanpa ada getaran sedikit pun. Kini, gerakan jarinya sudah berubah menjadi bayangan samar, simbol demi simbol jatuh dengan cepat.
Seluruh simbol sudah selesai sembilan puluh persen, tinggal bagian terakhir!
Kepala Lu Xuan terasa sangat sakit, fokus penuh membuat kekuatan mentalnya terkuras habis. Namun, ia tetap memaksa bertahan, mengandalkan tekad yang kuat. Ini adalah kesempatan terdekat pada keberhasilan, ia tak boleh gagal!
Tinggal lima simbol lagi!
Kesadarannya mulai kabur, gerakan tangannya pun tak bisa lagi secepat tadi. Akan tetapi, secara naluriah ia tetap mengendalikan jemarinya dengan mantap, proses pelukisan simbol tak berhenti.
Satu, dua, tiga, empat... Begitu hanya tersisa satu simbol terakhir, ujung jari Lu Xuan akhirnya bergetar sedikit.
Saat itu, Lu Xuan menggigit lidahnya, memaksa diri tetap sadar, mengumpulkan sisa energi dalam terakhir. Dengan satu getaran tajam, ia melukiskan simbol kecil terakhir, yang langsung jatuh ke gulungan kosong!
Simbol kelima selesai!
Begitu simbol terakhir selesai, seluruh simbol Amukan pun lengkap!
Cahaya menyilaukan sejenak meliputi gulungan kosong. Setelah cahaya itu lenyap, simbol di gulungan itu tampak berkilauan seperti kristal.
Gulungan Amukan... akhirnya berhasil dibuat!
Melihat pemandangan itu, wajah Lu Xuan menampakkan senyum lega. Namun, ia segera menutup mata dan roboh ke belakang. Ia benar-benar kelelahan, baik energi dalam maupun kekuatan mentalnya telah terkuras habis. Begitu ia rileks, ia tak lagi sanggup bertahan.
Namun, bahkan dalam keadaan pingsan, senyum puas tetap terukir di wajah Lu Xuan.
"Akhirnya berhasil," itulah pikiran terakhir Lu Xuan sebelum tumbang.