Bab Empat Puluh Empat: Perpisahan
Begitu menerima panggilan dari Tetua Xu, para pendekar segera maju menyerahkan nomor pendaftaran mereka kepada pengurus Sekte Pedang Angin. Setelah diperiksa dan dinyatakan benar, mereka satu per satu naik ke alat terbang berbentuk pedang raksasa itu.
Ketika semua pendekar sudah naik, Tetua Xu segera mengaktifkan pedang raksasa tersebut. Pedang itu perlahan terangkat dari tanah dan dengan cepat melesat ke langit. Bersamaan dengan itu, sebuah tirai cahaya biru muda terpancar, menyelimuti semua orang di dalamnya.
“Tirai cahaya ini akan melindungi kalian dari terjangan angin kencang. Sekarang, semua pendekar duduk bersila. Sebelum tiba di Sekte Pedang Angin, dilarang sembarangan bergerak,” suara Tetua Xu kembali terdengar.
Mendengar itu, para pendekar buru-buru duduk bersila. Tentu saja, di ketinggian seperti ini, kalau sampai terjatuh, dengan kemampuan mereka, pasti tidak akan ada sisa jasad yang bisa ditemukan.
“Sekarang, akan kukenalkan pada kalian tentang struktur Sekte Pedang Angin. Sekte kita terbagi menjadi sembilan sub-sekte, yaitu Sekte Pedang, Sekte Golok…”
Mumpung sedang dalam perjalanan menuju Sekte Pedang Angin, Tetua Xu mulai menjelaskan tentang sembilan sub-sekte, agar para pendekar ini bisa lebih memahami sekte tersebut dan menentukan pilihan sub-sekte mana yang ingin mereka tuju nantinya.
Meskipun sudah pernah mendengar penjelasan ini dari Tetua Xu, Lu Xuan tetap mendengarkan dengan saksama sebagai bentuk penghormatan untuk sang tetua.
“Sekarang, kalian harus membuat keputusan. Nanti, saat tiba di Sekte Pedang Angin, masing-masing akan dipandu oleh orang dari sembilan sub-sekte menuju sub-sekte yang kalian pilih. Namun, tak perlu terlalu gugup. Jika merasa pilihan kalian tidak cocok, enam bulan kemudian akan ada kesempatan untuk mengganti pilihan!”
Meski sebagai tetua dari Sekte Pedang, Tetua Xu tidak pernah mempromosikan sub-sektenya sendiri. Itu adalah kebanggaan seorang pendekar pedang. Meski Sekte Pedang kini tak lagi berjaya, ia tidak sudi menggunakan cara seperti itu untuk mengajak orang, apalagi ia tahu, yang memang ingin bertahan pasti akan tetap tinggal, yang ingin pergi pun tetap akan pergi.
Setelah penjelasan selesai, para pendekar di atas pedang raksasa itu mulai berbisik satu sama lain, jelas mereka sedang mendiskusikan sub-sekte mana yang harus dipilih.
Lu Xuan sendiri sudah mantap memilih jalan pedang, jadi ia tak perlu ragu lagi. Ia pun segera memejamkan mata dan mulai menenangkan napas. Dalam keheningan itu, selain bisik-bisik para pendekar, hanya suara angin yang menderu yang terdengar, menandakan betapa cepatnya laju pedang terbang itu.
Tak tahu berapa lama telah berlalu, ketika Lu Xuan masih menenangkan diri, ia merasakan kecepatan pedang raksasa itu mendadak melambat. Ia pun membuka mata dan memandang keluar, tampak hutan lebat nan hijau membentang luas. Tak kuasa ia menahan decak kagum, sungguh tempat dengan pemandangan yang luar biasa indah.
Saat itu pula, pedang raksasa mulai perlahan turun dan berhenti di sebuah tanah lapang. Lu Xuan melihat ada cukup banyak orang yang sudah menunggu di sana.
“Semua murid, ikuti aku turun,” panggil Tetua Xu sekali lagi. Para pendekar mulai berdiri dan mengikuti sang tetua turun dari pedang raksasa.
“Haha, Tetua Xu, rombongan kalian yang paling terakhir tiba. Aku sudah menunggu lama, eh, mana Tetua Sun?” Saat Tetua Xu membawa rombongan turun, seorang pendekar paruh baya berjubah dengan sebuah pedang di punggungnya menyapa ramah.
“Ia ada urusan mendesak, jadi berangkat lebih dulu. Karena hanya aku dan Tetua Li yang tersisa untuk menggerakkan pedang raksasa ini, perjalanan jadi lebih lambat,” jawab Tetua Xu sambil lalu tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pendekar itu pun tak banyak bertanya lagi, melangkah ke depan para peserta dan mengedarkan pandangan. Ia lalu berseru lantang, “Siapa Xia Chenxi? Sekarang ikut denganku menuju tempat latihan murid inti.”
Seketika itu pula, semua mata tertuju pada Xia Chenxi, penuh rasa iri. Barusan mereka sudah mendengar dari penjelasan Tetua Xu tentang tiga tingkatan murid di Sekte Pedang Angin. Murid inti, jelas adalah yang paling tinggi. Sebagian besar dari mereka hanyalah murid luar, bahkan belum menjadi murid dalam, apalagi murid inti yang tampaknya begitu jauh dari jangkauan.
Xia Chenxi segera melangkah maju dan membungkuk hormat kepada pendekar paruh baya itu. “Menjawab panggilan, sayalah orangnya.”
Melihat Xia Chenxi, pendekar itu sempat tertegun. Jelas terpesona akan kecantikan Xia Chenxi, namun secepatnya ia mengangguk dan berkata, “Aku bukan tetua, di antara murid inti memang tidak ada tetua. Aku adalah pelatih bagi murid inti, kau bisa memanggilku Pelatih Yang. Kalau tak ada urusan lain, mari kita berangkat sekarang. Soal rincian, akan kujelaskan di perjalanan.”
“Mohon maaf, bolehkah aku berpamitan dengan teman-teman dulu?” tanya Xia Chenxi dengan sopan.
“Hm, asal jangan terlalu lama,” jawab Pelatih Yang tanpa keberatan. Status murid inti memang sangat tinggi di Sekte Pedang Angin, tentu saja tidak akan diperlakukan seperti murid biasa.
Setelah mendapat izin, Xia Chenxi pun menghampiri Lu Xuan dan yang lain. Ia menggenggam tangan Lin Xinyi lebih dulu, tersenyum dan berkata, “Xinyi, kau memang ceria, tapi Sekte Pedang Angin tak sama dengan Kota Lin. Jangan terlalu ceroboh. Tadinya aku agak khawatir, tapi sekarang ada Lu Xuan di sini, aku jadi lebih tenang. Dengarlah kata Lu Xuan baik-baik ke depannya.”
Lin Xinyi pun menahan haru, matanya memerah. Ia dan Xia Chenxi adalah sahabat sejak kecil, hampir tak pernah terpisah. Kini harus berpisah mendadak, tentu saja ia sangat berat melepas.
“Jangan khawatir, Chenxi. Selama ada Lu Xuan, takkan ada yang berani menggangguku. Aku akan giat berlatih supaya suatu hari bisa menyusulmu ke tempat murid inti,” jawab Lin Xinyi.
Xia Chenxi mengangguk, menyeka air mata di sudut mata Lin Xinyi, lalu memandang ke arah Xia Ye.
“Kakak sepupu, meski usiamu dua tahun lebih tua, tetap saja aku ingin mengingatkanmu. Kau terlalu angkuh dan tinggi hati. Tapi ingatlah, di atas langit masih ada langit, di Sekte Pedang Angin banyak sekali jenius yang tak bisa dibandingkan dengan Kota Lin. Jangan jadi terlalu sombong, nanti bisa mendatangkan celaka.”
Xia Ye tertawa lepas. “Dulu memang begitu, tapi setelah bertemu Lu Xuan, aku sadar gelar jenius nomor dua Kota Lin itu cuma bahan tertawaan. Mulai sekarang, aku akan berubah. Sekarang, Lu Xuan adalah targetku!”
Setelah menasihati kedua orang itu, Xia Chenxi akhirnya memandang Lu Xuan. Ada secercah kesedihan yang sulit diungkapkan di matanya. Ia sendiri tak tahu kenapa, dalam waktu kurang dari setengah bulan, Lu Xuan tanpa disadarinya telah masuk ke hatinya, membuka pintu terdalam di situ.
Menggigit bibir, Xia Chenxi hanya mengucapkan satu kalimat pendek, “Aku akan menunggumu di tempat murid inti.”
Mata mereka saling bertatapan dalam, Lu Xuan melihat kelembutan tersembunyi di balik tatapan Xia Chenxi. Sekilas terlintas di benaknya kenangan di lantai dua Gedung Harta Karun, saat ia mengajarkan Xia Chenxi teknik kuno pemujaan.
Mengingat itu, Lu Xuan tak bisa menahan senyum. “Takkan menunggu lama. Dalam setahun, aku pasti akan menyusulmu! Kalau ada waktu, latihlah teknik pemujaan itu.”
Xia Chenxi tentu paham maksud Lu Xuan. Mengingat saat dipeluk oleh Lu Xuan waktu itu, pipinya jadi merona. Diam-diam ia melirik Lu Xuan sambil pura-pura marah.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalau sempat, pasti akan menengok kalian,” kata Xia Chenxi sebelum berbalik pergi.
Melihat ia sudah selesai berpamitan, Pelatih Yang pun tak banyak bicara. Dengan lambaian tangan, gelombang energi tak kasat mata menyelimuti ia dan Xia Chenxi, lalu keduanya melesat pergi di udara.