Bab Tujuh Puluh Lima: "Membawa Serigala ke Dalam Rumah"
Gu Qingqiu begitu khawatir hingga tak berani memejamkan mata. Ketika lelah dan mengantuk, ia hanya meringkuk di sudut ranjangnya, setiap beberapa saat bangun untuk meraba keningnya. Di tengah malam, ia juga sempat membersihkan tubuh bagian atasnya dengan air hangat. Ia sempat membuka mata dengan samar-samar, menatapnya, lalu kembali tertidur.
Pada malam ketiga demamnya, panas tubuhnya akhirnya turun. Tidurnya pun menjadi jauh lebih tenang. Barulah Gu Qingqiu berani keluar dari kamar tidurnya. Begitu menutup pintu, entah mengapa ia tiba-tiba merasa sangat marah. Ia langsung mencari komputer, dan mencari tahu siapa pemilik resmi Gunung Pang. Setelah memastikan itu adalah Xiao Lai, ia mengambil ponsel milik Luo Junzhuo dan mencari nomor Xiao Lai.
Dengan amarah yang menyesak di dada, ia pun menekan nomor Xiao Lai.
"Junzhuo, bagaimana keadaan di sana?" tanya Xiao Lai dengan semangat.
"Menurutmu bagaimana?" Gu Qingqiu membalas dengan suara tajam.
Xiao Lai tertegun, memeriksa nomor yang masuk, lalu bertanya, "Siapa ini?"
"Tak perlu tahu aku siapa. Perusahaan kalian itu apa, setan? Kenapa menyiksa orang seperti ini? Hanya demi uang, kalian tak peduli nyawa manusia? Kau tak punya hati nurani, mana yang lebih penting, uang atau nyawa?"
"Nyawa," jawab Xiao Lai kaku.
"Perlu kau tahu, Song Ge-mu barusan sembuh demam. Kalau masih juga tak sembuh, aku akan gugat kalian ke pengadilan karena menindas karyawan!"
"Song Ge? Oh, benar, Junzhuo." Sudah lama tak ada yang memarahinya seperti itu, Xiao Lai jadi linglung. "Bukan aku yang menindasnya. Aku sudah melarang, dia sendiri yang keras kepala, ngotot lembur terus."
"Siapa yang percaya! Kalau Song Ge sampai sakit lagi, aku akan datang memburumu dengan pisau dapur. Aku serius, dasar kau kapitalis kejam!"
Usai mengumpat, ia langsung menutup telepon, meninggalkan Xiao Lai yang masih bergumam sendiri di seberang sana.
"Kapitalis kejam? Sialan, punya uang juga salah? Tapi, perempuan ini siapa? Kenapa Junzhuo tak pernah cerita?"
Luan Songtian masuk dan melihat Xiao Lai melamun, lalu melambai di depan wajahnya.
"Ngomong apa sih?"
"Aku baru saja dimarahi."
"Bapakmu?"
"Sekarang, bapakku pun kalau mau memarahiku harus pikir-pikir dulu."
"Lalu siapa?"
"Seorang perempuan."
"Pacarmu?"
"Perempuan yang mau memburuku dengan pisau dapur, berani kau jadikan pacar?"
"Ganas, aku jelas tidak mau. Dengar saja sudah merinding."
"Dia memanggilku kapitalis kejam."
"Haha, siapa sih sebenarnya dia?"
Setelah melampiaskan amarah, Gu Qingqiu langsung merasa jauh lebih lega. Ia meletakkan telepon dan berbalik, ternyata Luo Junzhuo sudah berdiri di depan pintu kamar tidur dengan piyama, wajah pucat namun tersenyum menatapnya.
Beberapa hari sakit membuatnya tampak lebih kurus.
"Kau memaki kapitalis kejam dengan baik, sudah lega?"
Tertangkap basah.
"Ah! Ini ponselmu, Song Ge." Ia menyerahkan ponsel itu, lalu mundur beberapa langkah.
Luo Junzhuo memeriksa riwayat panggilan, dan begitu melihat siapa yang dimarahi, ia tertawa terbahak-bahak.
"Benar, dia memang kapitalis kejam."
"Dia tidak akan mempersulitmu, kan?" Kini pikirannya sudah lebih tenang, tahu apa yang telah ia lakukan.
"Tidak apa-apa, kalaupun iya, toh ada yang akan membelaku. Aku malah menantikan adegan seseorang membawa pisau dapur memburu orang."
"Hehe, aku pegang pena, mana mungkin pegang pisau dapur."
Luo Junzhuo teringat dua kali ia melihat Gu Qingqiu bertindak impulsif: sekali menuangkan panci hotpot panas ke preman, dan sekali ini, memarahi Xiao Lai demi dirinya.
Ia mendapati Gu Qingqiu kini tampak sangat menggemaskan di matanya. Tiba-tiba muncul keinginan untuk menggoda gadis itu. Dulu ia hanya menganggapnya adik kecil tetangga, tapi baru saja, pandangannya berubah.
Melihat waktu di ponsel, ternyata sudah tiga hari berlalu. Melihat wajah Gu Qingqiu yang lelah, ia tahu selama ini dia yang merawatnya. Hatinya terharu, ia melangkah dan memeluknya.
"Terima kasih sudah merawatku. Aku sudah sembuh, kamu istirahatlah."
Dipeluk seperti itu, Gu Qingqiu merasa canggung. Ia berusaha melepaskan diri, namun pelukannya tak dilepaskan juga.
Bukankah dia yang menyuruhnya istirahat? Kenapa masih belum melepaskan?
"Song Ge, itu... aku mau tidur."
"Mulai hari ini aku bukan cuma Song Ge-mu, aku juga Junzhuo."
"Ah?" Ia tak mengerti, kenapa masih Junzhuo?
"Kau tak mengerti? Aku ingin mengubah peranku, Qingqiu. Mulai sekarang aku tak akan menganggapmu adik lagi."
Sekarang ia mengerti, semuanya jelas, ya Tuhan, bercanda apa ini, bagaimana ia bisa menerima?
Ia melepaskannya, melihat ekspresi Gu Qingqiu yang terpaku, ia sangat puas. Sepertinya gadis itu sudah paham maksudnya.
Gu Qingqiu berbaring di ranjang, masih memikirkan kata-kata Luo Junzhuo. Masa dia serius? Tapi nada bicaranya sungguh serius. Ia pun tertidur, kelelahan.
Tidurnya sangat lelap. Saat ia tidur, Luo Junzhuo membersihkan rumah, membereskan diri, keluar makan, bahkan membawakannya makanan karena tak tahu kapan ia akan bangun.
Setelah semua selesai, ia duduk di sofa, mengingat potongan-potongan selama beberapa hari ini. Ia ingat kedua orang tuanya muncul dalam mimpinya, ingat suara dan wajah cemas Qingqiu setiap kali ia membuka mata, ingat saat ia mengganti handuk di dahinya... Ia mengingat setiap momen bersama gadis itu. Ya, perasaannya pada Qingqiu memang berbeda. Sejak awal, ia mudah sekali menerima kehadirannya dalam hidup. Mungkin memang sudah suratan.
Setelah menyadari itu, hatinya menjadi lebih jernih, meski baru terasa sekarang, tapi tak pernah terlambat. Sudut bibirnya pun terangkat.
Malam itu langit sangat sunyi, bulan emas besar dan terang, sungguh hari yang pantas dikenang.
Ia masuk ke kamar Qingqiu, mengusap kepalanya, duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah begitu lama di sisiku, baru sekarang aku sadar perasaanku padamu. Saat kau marah pun sangat menggemaskan. Mulai sekarang kau takkan bisa lari dariku, dan aku takkan membiarkanmu lari."
Gu Qingqiu membalikkan badan, tangannya memeluk pinggangnya. Ia tersenyum hangat, menyingkirkan tangan itu, menyelimuti gadis itu, lalu meninggalkan kamar.
Hujan mengetuk-ngetuk jendela, sesekali angin berhembus. Dalam suasana itu, Gu Qingqiu membalikkan badan, tidur dengan nyaman, pikirnya.
"Sudah bangun?"
Suara yang akrab itu terdengar di atas kepalanya.
Ia membuka mata, melihat Luo Junzhuo duduk di sampingnya, menatapnya dengan senyum lebar. Ingatan semalam langsung kembali.
Ia panik bangkit dari ranjang.
"Nampaknya kau belum lupa," sengaja ucap Luo Junzhuo.
"Song Ge, jangan bercanda," ia memohon. Hidup sudah sulit, kenapa harus dibuat serumit ini? Tak bisakah lebih sederhana?
Ia mendekat dan mengecup keningnya. Ia tertegun.
"Aku tak bercanda. Keputusan anak sains tidak bisa digoyahkan."
Setelah berkata begitu, Luo Junzhuo keluar dari kamarnya, meninggalkan tatapan nakal.
Gu Qingqiu memegangi kening, menyesal. Ini apa namanya?
Ia benar-benar sudah mewujudkan pepatah mengundang serigala ke dalam rumah.
Kenapa dulu ia menyarankan Junzhuo tinggal di rumahnya?
Ning sempat tinggal, kini Junzhuo juga, ia bahkan pernah tampil tak rapi di depan Shu Haibin. Entah lelaki itu kini menganggapnya seperti apa. Ya Tuhan, kenapa ia malah memikirkan lelaki itu? Pikirannya benar-benar kacau sekarang.