Bab Tiga Puluh Enam: Hadiah
Ponsel milik Gu Qingqiu berbunyi, sebuah pesan dari Xun Xiyan masuk. Ia membuka pesan itu.
“Gu Qingqiu, kamu belum pergi ke Gedung 25?”
“Nanti malam,” ia membalas.
Sejak Xun Xiyan pergi, ia memang belum sempat ke Gedung 25 lagi.
Malam itu, ia pulang ke rumah untuk mengambil kunci Gedung 25.
“Qingqiu, sebentar lagi makan malam, kamu masih mau keluar?” tanya Gu Xiu ketika melihat putrinya mengenakan jaket, bersiap hendak pergi.
“Xun Xiyan dari Gedung 25 memintaku untuk mengecek rumahnya.”
“Dia begitu percaya padamu? Setahuku anak itu selalu berwajah dingin, tidak suka bergaul.”
“Itu dulu.”
“Kalau begitu, pergilah cepat dan pulang lebih awal.”
“Iya, Bu. Kalau nanti sudah matang, makan saja dulu. Tadi siang aku dan Kaiyang makan burger sampai jam dua, jadi aku belum lapar.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
Begitu melangkah keluar, suara guntur menggelegar di langit, kilatan petir sesekali menyambar di antara awan kelabu, tanda hujan deras segera turun. Dengan cuaca seperti ini, hujan pasti akan lebat.
Lebih baik cepat saja, pikirnya, lalu melangkah cepat menuju Gedung 25.
Di dalam rumah, semuanya tampak rapi, tak ada perubahan sejak terakhir kali ia datang. Ia memeriksa setiap kamar, memastikan air, listrik, dan gas dalam keadaan baik. Saat hendak pergi, hujan deras tiba-tiba saja mengguyur.
“Hujan deras menahan tamu, kau lebih berperasaan dibanding Xun Xiyan,” gumamnya sambil menatap derasnya hujan.
Melihat hujan yang tak kunjung reda, ia membuka aplikasi cuaca di ponselnya. Tertulis, dari pukul enam sore hingga tengah malam akan turun hujan tanpa henti. Ia menghela napas.
“Demi tahun baru yang cerah, langit pun sampai begini repotnya.”
Ia pun menuju kamar tidur Xun Xiyan. Di rumah ini, hanya di ruangan itu ada buku untuk dibaca.
Ia mengambil alas duduk, menggelarnya di pojok lantai, duduk bersila sambil membaca. Ketika merasa lapar, ia membuka kulkas, mengambil beberapa buah untuk dimakan. Makanan, buku, dan minuman bertebaran di lantai.
Saat itu, ponselnya berdering — panggilan dari Xun Xiyan.
Gu Qingqiu menoleh ke kiri dan kanan, merasa agak bersalah karena sedang makan dan minum di rumah orang. Untungnya, tak ada siapa-siapa.
Ia menjawab panggilan itu.
“Aku sudah cek rumahmu, semuanya baik-baik saja.”
“Kamu sudah pulang?” tanya Xun Xiyan.
“Belum, hujan deras membuatku terjebak di sini.”
“Sebenarnya aku ingin memberimu hadiah tahun baru.”
“Aku terima niat baikmu. Usia menerima hadiah tahun baru sudah lewat buatku,” katanya sambil tertawa.
“Benar-benar tidak mau?”
“Tidak.”
“Itu bukan gayamu biasanya.”
“Orang punya banyak sisi, menghadapi kepribadian yang berbeda juga akan berbeda sikapnya.”
“Maksudmu, kepribadianku buruk?”
“Kemampuan ‘kesadaran diri gelap’mu adalah yang terbaik dari semua orang yang kukenal.”
“Haha.”
Ia pun tak membantah.
“Sepertinya hari ini kita tak perlu berdebat.”
“Tahun baru sebentar lagi, sebaiknya kita lebih dewasa.”
“Ini pelajaran moral ya.”
“Kau sepertinya tak suka diberi pelajaran.”
“Tergantung pelajarannya juga.”
“Aku belum pernah bertanya padamu, apa kau punya orang yang sangat kau kagumi?”
“Ada. Aku kagum pada orang yang bisa menulis lagu dari pengalaman hidupnya, kagum pada orang yang dengan imajinasi dari otaknya bisa menciptakan cerita yang kaya dan penuh daya cipta, dan kagum pada siapa saja yang dengan usaha keras bisa mewujudkan mimpinya... Banyak orang yang kukagumi.”
“Gu Qingqiu, mungkin suatu hari nanti kau juga akan jadi orang yang dikagumi.”
“Aku tak berani bermimpi dikagumi, cukup menjadi orang yang membuat iri.”
“Itu sudah kau capai sejak lama. Setiap orang pasti punya sesuatu yang membuat orang lain iri.”
“Berarti titik awalku tak terlalu tinggi?”
“Kau harus berterima kasih pada Jun Zhuo.”
“Aku paham.”
“Aku tak bisa memberimu hadiah yang paling kau butuhkan seperti dia, dan aku juga tak pandai menebak isi hati perempuan. Hadiahnya ada di rak buku, di belakang buku tebal berwarna hitam di rak kedua. Terimalah, semoga kau menyukainya,” katanya, lalu menutup telepon.
Itulah gayanya.
Gu Qingqiu meletakkan ponsel di samping, lalu mencari buku tebal berwarna hitam itu. Setelah ia geser, tampak sebuah kantong hadiah. Ia membukanya, di dalamnya ada sebuah kotak musik berbahan kayu. Saat dibuka, terlihat roda gigi halus yang berputar-putar. Di tutup kotak kayu itu terukir tulisan: “Datang begitu saja, ringan dan tanpa jejak…”
Alunan musik yang jernih mengalir laksana sungai kecil di tengah hutan, menyejukkan hati, membuat pikiran menjadi damai, dan dengan cepat melupakan segala keruwetan di kepala, membawa dirinya masuk ke dunia yang aneh dan melupakan diri sendiri.
Di dasar kantong hadiah, ada secarik kertas: “Kotak musik ini kudapat di sebuah kota kecil di luar negeri. Begitu mendengarnya, aku langsung suka dan selalu membawanya kemana-mana, sebagai pengingat agar jangan pernah melupakan diri sendiri yang paling awal. Setelah insiden itu, aku semakin tak sanggup mendengar suara ini. Setiap kali mendengar, aku teringat masa lalu dan mulai merindukan waktu itu, jadi aku ingin mencari pemilik baru untuknya. Kita memang belum lama saling kenal, tapi aku merasa kotak ini mungkin lebih cocok bersamamu. Tahun baru, saatnya benar-benar melupakan masa lalu, terima kasih telah menerimanya.”
Nada notifikasi pesan WeChat berbunyi di ponselnya. Ia membuka, pesan dari Xun Xiyan.
“Jangan tidur di tempat tidurku, tidurlah di kamar tamu atau sofa ruang tamu juga boleh.”
Gu Qingqiu tertawa lepas. Sifat Xun Xiyan memang lucu, apa pun yang ingin ia katakan pasti langsung dilontarkan, bahkan jika itu hanya dugaannya sendiri.
Malam itu ia tak bermalam di rumah Xun Xiyan. Setelah lewat pukul sebelas malam, hujan reda dan ia pun pulang ke rumah.
“Jun Zhuo, tinggal satu hari lagi sudah tahun baru. Aku di Amerika, aku sangat merindukanmu.” Setiap beberapa waktu, Long Xin akan mengirim pesan seperti itu padanya. Ia hanya menatap pesan itu dengan kosong.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, Gu Qingqiu masuk. Ia melihat ekspresi Jun Zhuo tampak kurang baik, ekspresi yang pernah ia lihat di wajah beberapa orang: di wajah Xun Xiyan, di wajahnya sendiri, dan kini kembali muncul di wajah Jun Zhuo.
“Kak Song,” panggilnya.
“Ah? Qingqiu, kamu datang,” Jun Zhuo baru tersadar.
“Ternyata Kak Song juga bisa galau karena cinta.”
“Hehe,” Jun Zhuo terkekeh kering.
“Berarti dugaanku benar,” ujar Gu Qingqiu sambil mengedipkan mata nakal padanya.
“Kenapa siang tadi tak datang?”
“Sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan bahan makanan dan keperluan untuk tahun baru.”
“Hanya berdua perlu sebanyak itu?”
“Bukan untuk berdua, ada keluarga Paman Wei, keluarga Bibi Ying, dan beberapa tetangga lain di kompleks ini. Setiap tahun kami selalu merayakan bersama.”
“Rame sekali.”
“Kak Song, Ibu bilang kamu juga harus ikut tahun baruan bersama kami.”
“Aku?”
“Iya! Merayakan bersama pasti lebih menyenangkan!”
“Terima kasih!”
“Tak perlu sungkan.”
“Apa aku harus menyiapkan sesuatu?”
“Tak perlu bawa apa-apa, cukup bawa mulut saja,” jawabnya sambil tertawa.
“Oke.”
Cahaya senja mewarnai seluruh ruangan, mentari merah menyala memancarkan sinar yang memabukkan di atas garis laut.
“Ayo kita lihat matahari terbenam,” ajak Jun Zhuo.
“Baik,” jawab Gu Qingqiu.
Di pantai, Jun Zhuo berdiri di tepi laut menatap lurus matahari merah yang perlahan tenggelam. Gu Qingqiu duduk di atas pasir, mereka berdua sama sekali tak berbicara, hanya mengagumi keagungan di hadapan mereka.
Ketika matahari benar-benar lenyap dari pandangan, Jun Zhuo pun duduk.
“Ekspresiku hari ini sangat bingung, ya?” tanyanya pada Gu Qingqiu.