Dia bertemu dengannya yang telah kehilangan cahaya setelah kecelakaan pesawat, dan membawa sinar hangat ke dalam dunianya yang gelap. Ketika segalanya mulai membaik baginya, justru dunia perempuan itu
“Jun Zhuo, urusan yang kamu minta sudah aku selesaikan.”
“Kamu mau menghilang berapa lama kali ini? Biar aku siap-siap.”
“Long Xin sempat ribut besar gara-gara kamu menghilang, tapi sekarang sudah tidak apa-apa.”
“Sudah tiga hari, kamu tidak bisa balas pesanku satu saja?”
“Ya sudah, sampai jumpa nanti!”
...
Ponsel milik Luo Jun Zhuo tergeletak di ambang jendela, satu per satu pesan suara diputar berturut-turut. Begitu semua pesan selesai, jari ramping menekan tombol di sisi ponsel hingga layar menjadi gelap, lalu pemilik jari itu beranjak menuju ruang kerja.
Luo Jun Zhuo memiliki tinggi 178 sentimeter, rambutnya pendek dan sedikit bergelombang. Saat ini ia mengenakan handuk mandi, kulit dada putihnya tampak mencolok, matanya yang dalam terlihat sedikit cekung akibat tubuhnya yang kurus, bibirnya merah seperti dioles lipstik.
Ia menanggalkan handuknya, berganti pakaian santai, memasang kacamata, lalu duduk di depan meja belajar. Meja itu menempel ke jendela yang terbuka, di depan rumah terdapat sebuah jalan, dan di seberangnya terdapat taman hutan. Duduk di situ, ia bisa menikmati pemandangan di hadapannya tanpa halangan. Ia sangat menyukai perasaan duduk di tepi jendela seperti itu; tenang, panjang, pikirannya kosong, tak memikirkan apa pun, hanya membiarkan dirinya melayang. Walaupun sendiri, ia seolah memasuki dunia lain, dunia yang terasa seperti mimpi.
Tiba-tiba terdengar suara bel sepeda. Di sini, orang-orang menggunakan sepeda untuk bepergian, tak ada polusi mobil sehingga udara pun sangat segar. Sosok berseragam kuning muncul