Jilid Pertama Bab 38 Keluarga Chen, keparat terkutuk!
Beberapa hari terakhir, Li Dongsheng hidup bagaikan gasing yang berputar tanpa henti. Ia harus merawat Li Chunhua yang baru saja melahirkan dan kondisinya masih lemah, sekaligus mengurus bayi mungil yang baru lahir, mulai dari mengganti popok hingga membersihkan kotorannya.
Ia sibuk luar biasa, tidak bisa berhenti sedetik pun.
"Kakak Ketiga, bagaimana kalau aku saja yang tinggal di sini untuk menjaga? Kakak pulanglah untuk menjenguk Kakak Ipar dan memberi kabar, supaya mereka tidak khawatir."
Li Qiusheng menawarkan diri. Meski usianya masih muda, ia sudah mulai bisa berempati dan ingin meringankan beban keluarga.
Li Dongsheng menatap Li Qiusheng dengan perasaan hangat di dadanya. Bocah ini, meskipun biasanya ceroboh dan temperamental layaknya mercon yang mudah tersulut, ternyata bisa diandalkan di saat genting dan tahu cara memikirkan anggota keluarga lainnya.
"Baiklah, kalau begitu kau tinggallah di sini untuk menjaga Kakak Keduamu. Aku akan pulang untuk menangkap ayam atau kelinci agar Kakak Iparmu bisa membuatkan sup untuk dibawa ke sini..."
Li Dongsheng menepuk bahu Li Qiusheng dan berpesan, "Ingat, jika ada apa-apa, segera cari dokter atau perawat, jangan mencoba mengatasinya sendiri. Kakak Keduamu sekarang sedang dalam kondisi yang sangat rapuh!"
"Tenang saja Kak, aku pasti akan menjaga Kakak Kedua dengan sebaik-baiknya!" Li Qiusheng menepuk dada sebagai jaminan, dengan keseriusan yang tampak sangat meyakinkan.
Setelah meninggalkan puskesmas, Li Dongsheng melangkah dengan cepat seolah kakinya memiliki sayap, ingin sekali segera terbang kembali ke Gunung Matou. Hatinya gelisah karena terus memikirkan Jinhua dan si kecil Miaomiao.
...
Sementara itu, di Gunung Matou.
Jinhua sedang duduk di tepi dipan sambil menjahit sol sepatu. Miaomiao sedang berjongkok di tanah, mencorat-coret lingkaran dengan ranting kayu, asyik bermain sendiri.
"Miaomiao, kenapa Ibu merasa mendengar suara di halaman? Apakah Ayah dan yang lainnya sudah pulang?"
"Belum, Bu!" suara mungil itu menjawab dengan nyaring, disusul tawa polos si gadis kecil. "Ibu, apakah Ibu merindukan Ayah? Hari ini Ibu sudah salah dengar lebih dari sepuluh kali! Lebih banyak daripada kemarin!"
Tangan Jinhua bergetar, ia tidak menjawab. Bukan sekadar rindu, ia juga merasa takut. Sudah dijanjikan akan pulang malam itu juga, tetapi sudah berhari-hari berlalu, mereka belum kembali dan tidak ada kabar sama sekali. Bagaimana mungkin hatinya tidak cemas? Jika terjadi sesuatu pada Dongsheng, bagaimana nasib keluarga ini? Dan apa yang harus ia lakukan?
"Istriku, Putriku!"
Tiba-tiba, sebuah seruan terdengar jelas dari luar halaman. Itu Li Dongsheng!
Jinhua merasa hatinya girang. Begitu keluar dari rumah, ia melihat sosok yang familiar dan berwajah cerah itu melangkah masuk ke halaman, berjalan dengan tegap ke arahnya.
Cahaya matahari bulan April terasa begitu hangat, menyelimuti tubuh pria itu dengan lingkaran cahaya keemasan, membuatnya tampak semakin tampan dan hampir saja melelehkan hati Jinhua.
"Dongsheng!" matanya terasa panas. Untuk pertama kalinya di hadapan sang anak, ia menghambur ke pelukan Li Dongsheng. "Kau hampir membuatku mati ketakutan! Bukankah kau bilang akan pulang malam itu juga? Kenapa tertahan sampai selama ini?"
Bersandar di dada yang lebar dan hangat itu, hati Jinhua yang tadinya menggantung akhirnya mendarat dengan tenang.
"Kebetulan Kakak Kedua melahirkan, jadi aku tertahan beberapa hari di puskesmas..." Li Dongsheng tersenyum tipis.
Saat mereka berbicara, Miaomiao berlari dengan langkah-langkah kecilnya. Ia memeluk kaki Li Dongsheng dengan satu tangan dan merangkul lengan Jinhua dengan tangan lainnya, lalu mendongakkan kepala mungilnya dengan manja.
"Ayah! Ibu, kenapa kalian melupakan Miaomiao? Miaomiao juga ingin dipeluk!"
"Baik, baik, Tuan Putri kecilku!" Li Dongsheng tertawa gemas dan segera mengangkat tubuh Miaomiao.
"Tunggu, bukankah usia kehamilan Kakak Kedua baru delapan bulan lebih? Bagaimana bisa sudah melahirkan?" Jinhua tampak bingung.
Li Dongsheng menghela napas, menurunkan Miaomiao, lalu duduk di tepi dipan bersama Jinhua. Ia menceritakan semua kejadian yang menimpa Li Chunhua dan keluarga Chen secara rinci. Setelah mendengarkan, kening Jinhua berkerut rapat.
"Keluarga Chen itu benar-benar bukan manusia! Terkutuklah mereka!" seru Jinhua. "Kakak Kedua sudah melahirkan keturunan untuk mereka dan mengurus rumah tangga, bagaimana bisa mereka sekejam itu? Apakah mereka masih manusia? Mereka itu binatang!"
Li Dongsheng menghela napas dan menggeleng. "Zaman sekarang, pola pikir mengutamakan laki-laki daripada perempuan masih terlalu kuat. Di mata mereka, bayi perempuan hanyalah beban yang merugikan, seperti air yang tumpah yang tak lagi berguna."
"Lihatlah di desa kita, berapa banyak anak perempuan yang bisa bersekolah? Semuanya dinikahkan sejak dini hanya demi mendapatkan uang mahar." Status perempuan yang rendah membuat mereka hanya bisa bersyukur bisa bertahan hidup, apalagi berani bermimpi hal lain.
Mendengar itu, air mata Jinhua tak terbendung lagi. Ia teringat saat melahirkan Miaomiao dulu, ia pun hampir kehilangan nyawa. Saat itu, ibu mertuanya terus memarahinya, menyebutnya melahirkan anak pembawa sial, bahkan hampir mengusir ia dan Miaomiao dari rumah. Nasib wanita memang malang!
"Istriku, jangan sedih. Mulai sekarang selama aku ada, tidak akan ada yang boleh menindas kalian berdua!" Li Dongsheng tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih. "Oh iya, kondisi fisik Kakak Kedua lemah, dia butuh banyak asupan. Aku akan pergi ke gunung lagi untuk mencari hewan buruan."
"Bukankah di rumah sudah ada beberapa ayam dan kelinci hutan? Tidak usah pergi ke gunung lagi, istirahatlah," bujuk Jinhua dengan khawatir. "Lihatlah dirimu, baru beberapa hari saja sudah kurus sekali!"
"Istriku, aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi ayam dan kelinci hutan itu sulit dijinakkan. Yang kita pelihara di rumah itu sangat berharga, tidak boleh disembelih, kita masih mengharapkan mereka beranak pinak," Li Dongsheng tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Tenang saja, tubuhku kuat, tidak akan terjadi apa-apa."
Jinhua menghela napas, ia mengerti maksud Li Dongsheng. "Kalau begitu, kau harus sangat berhati-hati saat di gunung sendirian. Jangan sampai mencelakai dirimu sendiri hanya demi berburu!"
"Dengan kemampuanku, apa yang perlu kau khawatirkan?" Li Dongsheng menepuk dadanya dengan penuh percaya diri. Setelah itu, ia mengambil golok dan tali di sudut dinding, lalu berbalik keluar halaman.
...
Sudah hampir dua bulan ia melintasi waktu ke sini. Li Dongsheng sudah menjelajahi hampir seluruh hutan di sekitar sini; ia tahu persis di mana sarang ayam hutan dan lubang kelinci berada.
Ia sampai di sebuah semak belukar, tempat favorit ayam hutan. Ia melangkah dengan ringan, menyibak semak-semak, dan mencari dengan teliti. Tiba-tiba, matanya berbinar. Tidak jauh dari sana, seekor ayam hutan sedang mencari makan. Bulunya mengilap, terlihat sangat gemuk!
Ia menahan napas dan mendekat perlahan, seperti macan tutul yang sedang mengintai mangsa, tanpa suara sedikit pun. Kemudian, ia melompat dan menindih ayam itu dengan kuat. Ayam itu mengepakkan sayapnya sambil berkokok kencang, mencoba meloloskan diri, tetapi Li Dongsheng tidak akan membiarkannya.
Ia menekan ayam itu kuat-kuat, lalu mengikat kakinya dengan tali. Kini, ayam itu tidak akan bisa terbang lagi!
"Hehe, keberuntunganku hari ini bagus, dapat yang gemuk!" Li Dongsheng menimbang-nimbang ayam di tangannya. Ayam ini setidaknya seberat tiga atau empat kati, cukup untuk memulihkan kondisi Kakak Keduannya.
Li Dongsheng mengikat ayam itu dan terus berkeliling di hutan. Ia menyusuri jalan setapak sambil terus mencari. Tiba-tiba, suara gesekan dedaunan masuk ke telinganya!