Jilid Pertama Bab 9 Nenek Datang Berkunjung
Wang Ping berlari terhuyung-huyung kembali ke rumah orang tuanya. Begitu masuk, ia langsung menghambur ke pelukan Shen Lanfen dan menangis tersedu-sedu.
"Ibu, Ibu harus membela kami! Si Bungsu sekarang sudah berani melawan dan tidak tahu diri lagi!"
Sambil menangis, ia terus mengadu dengan terbata-bata. Sesekali ia menyeka air mata dan ingus dengan lengan bajunya hingga mengotori pakaian Shen Lanfen.
"Ibu, Ibu tidak tahu saja, si Bungsu sedang beruntung. Entah dari mana dia mendapatkan beberapa potong tulang babi dan memasaknya menjadi sup. Saya kebetulan melihatnya dan berniat membawakannya untuk Ibu, tapi dia benar-benar tidak mau memberikannya, bahkan tega memperlakukan saya dengan buruk!"
Apa? Sup tulang babi!
Bagus sekali kau, Li Dongsheng. Setelah kenyang sendiri, kau malah tidak memedulikan ibumu ini!
Dada Shen Lanfen berdegup kencang karena marah, giginya gemeletuk menahan geram.
Keesokan harinya, Shen Lanfen membawa Wang Ping dan pergi menuju Gunung Matou dengan penuh amarah.
Pagi hari di Gunung Matou, udaranya segar dengan kicauan burung yang merdu. Li Dongsheng sedang membelah kayu di halaman rumahnya.
Begitu sampai di kaki gunung dan melihat Li Dongsheng, amarah Shen Lanfen langsung meledak. Ia menunjuk-nunjuk hidung Li Dongsheng dengan ludah yang menciprat ke mana-mana.
"Li Dongsheng! Kau anak durhaka! Masihkah kau menganggapku ibumu? Kakakmu dan istrinya datang ke rumahmu untuk meminta semangkuk sup hangat saja kau tidak beri, apakah kau masih manusia?"
Li Dongsheng mencibir, ia bersedekap dengan dagu terangkat, matanya penuh dengan tatapan meremehkan.
"Saat pembagian harta keluarga, semua perhitungan sudah jelas. Kalian sendiri sadar, bukan, berapa banyak keuntungan yang sudah kalian ambil?"
Melihat Shen Lanfen tidak bisa membantah Li Dongsheng, Wang Ping segera membusungkan dada dan melangkah maju. Sambil berkacak pinggang, ia berteriak, "Si Bungsu, bagaimana caramu bicara pada Ibu? Jangan lupa siapa yang membesarkanmu!"
Tatapan Li Dongsheng menajam. Ia menatap lurus ke arah Wang Ping dan melangkah maju, membuat Wang Ping mundur selangkah secara naluriah.
"Dia melahirkanku dan mengurusku, bukankah itu sudah sewajarnya? Lagipula, selama bertahun-tahun ini, aku dan Jinhua sudah cukup banyak bekerja untuk keluarga, sudah cukup menjadi budak bagi kalian!"
Melihat sikap Li Dongsheng yang begitu tegas, Shen Lanfen merasa marah sekaligus cemas. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam amarahnya, lalu memaksakan senyum dengan nada bicara yang melunak.
"Si Bungsu, Ibu tahu kau menyimpan dendam, tapi bagaimanapun kita ini keluarga. Air dicincang tidak akan putus. Lihatlah sup daging ini..."
Li Dongsheng tidak goyah sedikit pun. Ia mendengus dingin dan menggelengkan kepala.
"Keluarga? Kapan kalian pernah menganggapku sebagai keluarga?"
Shen Lanfen tertegun mendengar ucapannya. Wajahnya berubah pucat pasi, bibirnya gemetar, namun tidak sepatah kata pun keluar. Akhirnya, ia memutar bola matanya dan menjatuhkan diri ke belakang dengan kaku, sambil merintih-rintih berakting.
"Aduh, malang sekali nasibku! Membesarkan anak yang tidak tahu berterima kasih! Durhaka sekali kau..."
Wang Ping yang melihat situasi tersebut segera ikut berbaring di tanah.
Li Dongsheng menatap aksi sandiwara murahan itu dengan dingin, wajahnya tanpa ekspresi, hatinya tidak bergeming sedikit pun.
"Ibu, hari sudah mulai larut, lebih baik kalian segera pulang. Dan Kakak Ipar, kau juga pasti lelah. Tanah ini dingin, jangan sampai kalian jatuh sakit."
"Baik, Li Dongsheng! Hari ini aku akhirnya paham, kau pindah ke gunung ini hanya demi ibu dan anak ini, kan?" Saat melihat cara itu tidak berhasil, Wang Ping langsung melompat berdiri dan menunjuk hidung Jinhua serta Miaomiao sambil memaki dengan ludah yang berhamburan.
"Kalian berdua pembawa sial! Makhluk yang hanya tahu membawa malapetaka! Pantas saja si Bungsu berubah akhir-akhir ini, pasti karena kau yang menghasutnya di belakang!"
"Kalau tahu akan begini, seharusnya dulu gadis kecil ini kujual saja untuk ditukar tepung putih! Daripada kau berulah dan membuang-buang makanan!"
Tubuh mungil Miaomiao meringkuk dalam pelukan Jinhua. Mata bulatnya yang hitam berkaca-kaca, tangan kecilnya yang lembut mencengkeram erat ujung baju Jinhua.
Jinhua mendekap Miaomiao dengan penuh kasih sayang, sambil menepuk punggungnya pelan, "Miaomiao yang pintar, jangan takut, ada Ibu di sini."
Ia mengangkat kepala, menatap Wang Ping dengan tatapan benci, bibirnya terkatup rapat.
Li Dongsheng melangkah maju, berdiri di depan Jinhua dan Miaomiao. Tatapannya tajam seperti pisau yang menghujam ke arah Wang Ping.
"Jaga mulutmu! Putriku sangat berharga! Jangan harap ada yang bisa menyentuh sehelai rambutnya pun!"
Ia beralih menatap Shen Lanfen dengan nada dingin, "Ibu, kalau Ibu benar-benar merasa tidak enak badan, aku akan pergi ke desa memanggil tabib. Tapi, biaya kunjungannya mungkin harus Ibu tanggung sendiri."
Begitu mendengar itu, Shen Lanfen seolah terduduk di atas api; ia langsung melompat berdiri, membersihkan pakaiannya, dan tidak ada lagi sisa-sisa wajah sekarat tadi.
Ia menunjuk Li Dongsheng dengan jari yang gemetar, wajahnya membiru karena murka.
"Kau... kau anak durhaka! Setelah punya istri, kau lupa pada ibumu! Aku... aku cepat atau lambat akan dibuat mati olehmu!"
Setelah memaki, ia mengibaskan lengan bajunya dan pergi dengan penuh amarah. Punggungnya bungkuk, namun ia berjalan dengan sangat cepat.
Wang Ping pun meninggalkan umpatan, "Dasar tidak tahu diuntung!" lalu segera mengejarnya.
...
Beberapa hari berikutnya, Li Dongsheng sesekali pergi berkeliling gunung.
Hanya saja cuaca terlalu dingin dan buruan pun sedikit. Untungnya ada anak babi hutan yang ia simpan, kalau tidak, entah bagaimana nasib mereka jika harus kelaparan.
Tepat pada hari itu, sebuah suara yang familier terdengar dari kejauhan:
"Kakak Ketiga! Kakak Ketiga!"
Li Qiusheng ingat bahwa Li Dongsheng pernah menyebut ingin membangun tungku tanah, jadi saat sedang senggang, ia pun datang mencarinya.
"Kakak Ketiga, hari ini aku tidak ada kerjaan, mau kubantu membuat tungku tanahnya?"
Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan wajah penuh semangat.
Li Dongsheng tersenyum dan melambaikan tangan, "Tungku tanahnya sudah kubuat."
Mendengar itu, Li Qiusheng menjadi tertarik, matanya berbinar, "Benarkah? Kakak Ketiga, biarkan aku melihatnya!"
Li Dongsheng membawanya ke tempat tungku tanah itu berada dan menyingkap kain penutupnya, memperlihatkan tungku yang dibangun dari tanah liat merah.
Tungku itu tidak besar, namun dibangun dengan kokoh dan rapi. Terlihat jelas bahwa pembuatnya melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Di dalam mulut tungku, daging babi yang diasapi oleh Jinhua beberapa hari lalu masih tergantung di sana. Meski baru beberapa hari, aromanya sangat sedap!
Mata Li Qiusheng berbinar menatap potongan daging babi berwarna kemerahan yang diasapi di dalam tungku. Ia menelan ludah, membayangkan semangkuk sup daging yang mengepul hangat.
Teringat wajah serakah kakak tertua dan istrinya beberapa hari lalu, ia merasa semakin kagum pada kakak ketiganya.
Sama-sama bersaudara, mengapa perbedaannya begitu besar?
Si kakak tertua hanya tahu mengambil keuntungan, sementara kakak ketiganya mampu membangun kehidupan yang layak dengan usahanya sendiri.