Bab 50: Mencari Istri (2)
Lin Hao menceritakan seluruh kejadian itu kepada Gu Qingzhou. Begitu mendengarnya, Gu Qingzhou tersenyum dan berkata, "Kukira masalah apa. Hei, Qinchuan tidak apa-apa."
"Yang mati bukan Istrimu, tentu saja kau tidak apa-apa."
Gu Qingzhou tersenyum, mengeluarkan seekor ular putih kecil dari ranselnya, lalu menyerahkannya kepadaku sambil berkata, "Lihatlah, Chen Gang tadinya ingin membuangnya, tapi aku melarangnya. Sebab, aku melihat riasan mata ular kecil ini sangat mirip dengan gadis di fotomu. Aku tahu inilah orang yang selalu kau bicarakan."
Dengan penuh kesedihan, aku menerima Dachihua. Sambil membelai kepala kecilnya dengan lembut dan menangis, aku berkata, "Xiaobai, akulah yang telah mencelakakanmu."
Gu Qingzhou yang berada di samping merasa tidak tega melihatnya dan berkata kepada Dachihua, "Kakak ipar, tenanglah! Aku akan menjaga Qinchuan dengan baik. Jangan mengkhawatirkannya, pergilah dengan tenang!" Setelah berkata demikian, Gu Qingzhou menoleh kepadaku dan berucap, "Qinchuan, berikan dia padaku! Yang sudah mati tidak bisa bangkit kembali, pada akhirnya dia harus dikuburkan."
Aku menggelengkan kepala dan berkata kepada mereka bertiga, "Kalian keluarlah dulu! Aku ingin berdua saja dengan Xiaobai."
Mendengar itu, mereka bertiga meninggalkan kamar rumah sakit. Melihat Dachihua terbaring dengan tenang di telapak tanganku, air mataku mengalir deras tak terbendung. Sambil tersedu-sedu, aku bergumam, "Istriku, selama bertahun-tahun aku selalu membayangkan setelah aku berhasil menemukanmu, kita akan memiliki anak dan menjalani kehidupan bertiga dengan bahagia. Katakan padaku, apakah aku harus terus membiarkanmu tetap berada di sisiku, atau haruskah aku membiarkanmu pergi dengan bahagia? Beritahu aku, beritahu aku..."
Tepat di tengah kesedihanku, tiba-tiba seberkas cahaya putih dari luar jendela rumah sakit menyoroti kamarku. Sesosok wajah yang tidak asing muncul di hadapanku—ternyata dia adalah Bai Jinghao.
Melihat Bai Jinghao, seolah-olah aku melihat secercah harapan lagi. Aku langsung bangkit dan berlutut di hadapannya sambil memohon, "Kakak, aku mohon, selamatkanlah istriku!"
Melihat ular putih di dalam pelukan-ku, Bai Jinghao pun tampak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. "Xiao Jiu ternyata..." Bai Jinghao buru-buru membantuku berdiri dan berkata, "Aku dengar Ayah melukai Xiao Jiu, dan kalian jatuh ke Laut Penderitaan. Aku tahu kalian pasti kembali ke dunia fana. Meskipun Xiao Jiu sekarang belum mati, kesadarannya tampaknya masih terikat di alam ilusi. Seseorang harus pergi ke sana untuk memanggilnya kembali."
"Aku yang akan pergi!" Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyanggupi, "Beritahu aku, bagaimana caranya kesana."
"Caranya sangat mudah. Sebentar lagi aku akan mengirimmu ke dalam alam ilusi Xiao Jiu. Kau harus memanggilnya pulang sebelum dua buah pelita minyak padam. Jika pelita itu padam dan kau belum juga kembali, kau akan menjadi sepertinya, terjebak di sana selamanya, dan raga aslimu akan benar-benar mati."
"Mulai sekarang!" Dengan hati-hati, aku membaringkan Dachihua di sisi lain ranjang, lalu aku pun ikut berbaring di sebelah-nya. Kami berbaring dengan tenang, seolah segala hal di dunia luar tidak ada hubungannya lagi dengan kami. Seakan-akan bumi berhenti berputar pada detik ini.
Aku tiba di sebuah tempat yang terasa asing sekaligus akrab. Tempat ini menyerupai klan naga, tetapi juga mirip dengan rumah lamaku. Aku berjalan ke atas sebuah jembatan kecil, dan benar saja, aku melihat rumah lamaku. Aku membatin dalam hati, bagaimana bisa aku berada di tempat ini? Tepat pada saat itu, Xiaobai muncul di hadapanku. Ia tampak seolah hendak pergi ke suatu tempat. Hatiku diliputi kebahagiaan luar biasa saat melihatnya; aku sama sekali tidak menyangka masih bisa bertemu dengannya lagi seumur hidupku. Namun, ia bersikap seolah tidak mengenaliku dan berjalan melewati begitu saja di sisiku. Aku tertegun sejenak, lalu buru-buru memanggilnya.
"Xiaobai?"
Mendengar panggilan itu, ia menghentikan langkahnya, berbalik menatapku, dan bertanya, "Ada apa, Suamiku?"
Mendengar Xiaobai memanggilku suaminya, itu berarti ia masih mengingatku. Aku bertanya, "Kau mau pergi ke mana? Bukankah kita sudah berjanji untuk hidup dan mati bersama."
Xiaobai menatapku dengan mata penuh kebingungan dan tersenyum, "Suamiku, ada apa denganmu hari ini, bicaramu aneh sekali."
Begitu suaranya usai, tiba-tiba seorang anak kecil berjalan keluar dari sisi lain jembatan. Anak itu langsung memanggil "Mama" begitu melihat Xiaobai. Aku seketika terpaku di tempat. Aku melihat Xiaobai mengangkat dan menggendong bocah laki-laki itu, lalu berjalan mendekatiku seraya berkata, "Bukankah kau mau pergi membelikan pakaian untuk anak kita? Apakah sudah dibeli? Besok anak kita sudah mulai masuk sekolah."
"Anak?" Hatiku dipenuhi kebingungan. Sejak kapan Xiaobai melahirkannya untukku? Lagipula, usianya sudah sebesar ini?
Melihatku terdiam dan tidak menjawab, Xiaobai melirikku sekilas dan melontarkan lima patah kata, "Kepala batu." Kemudian ia menoleh kepada anak itu dan berkata, "Jangan pedulikan Ayah, Mama akan mengantarmu membelinya."