Bab 82: Jutawan
Ye Ping pulang membawa dua ribu tali uang. Jumlah sebesar itu hampir setara dengan dua meter kubik—terlalu besar untuk disimpan dengan aman di rumahnya. Karena itu, ia mulai berpikir untuk menaruh seluruh uang itu ke dalam ruang penyimpanan miliknya. Toh, satu meter kubik hanya membutuhkan seribu poin, dan kini ia mengantongi 6510 poin. Ia pun berniat menambah ruang penyimpanan dengan menukar beberapa poin lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, Xue Rengui tampak sangat bersemangat. Barangkali, seumur hidupnya, ia belum pernah melihat uang sebanyak ini. Bagi kebanyakan orang, setahun saja belum tentu bisa menghasilkan sepuluh tali uang, tetapi Ye Ping berhasil mengumpulkan dua ribu tali uang hanya dalam waktu dua jam berkat kecerdikannya. Benar-benar luar biasa! Xue Rengui pun semakin kagum kepada Ye Ping, dalam hatinya sudah bertekad ingin terus mengikuti jejaknya.
Satu tali uang setara dengan seribu keping, jadi dua ribu tali berarti dua juta keping. Dengan demikian, Ye Ping sudah bisa disebut sebagai jutawan zaman ini.
Setibanya mereka di rumah, nyonya Xue sudah menunggu di luar, membuat Ye Ping sedikit heran. Suasananya seperti seorang istri yang menanti suami pulang dari perjalanan panjang. Namun, perasaan aneh itu segera sirna. Ia menggelengkan kepala, berjanji dalam hati untuk tidak berpikir terlalu jauh. Di satu sisi, ia memandang Xue Rengui sebagai saudara, di sisi lain, nyonya Xue adalah ibu dari saudaranya. Ia tak boleh memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Saudara Ye, kita sudah sampai!" seru Xue Rengui.
"Oh, sudah sampai. Suruh orang menurunkan barang-barang," jawab Ye Ping.
Nyonya Xue segera bertanya setelah melihat kedatangan mereka, "Tadi Rengui bilang sudah mengirimkan perabotan ke rumah. Pasti habis banyak uang, ya?"
"Ibu, tidak banyak kok, sungguh. Aku tidak bohong," sahut Xue Rengui.
Namun, nyonya Xue tampak ragu. "Aku dengar sendiri dari pemilik toko…"
"Memang tidak mahal, hanya tiga tali uang saja," jawab Ye Ping.
"Apa? Benarkah begitu?" tanya nyonya Xue terkejut.
Ye Ping hanya tersenyum tanpa menjelaskan lebih lanjut, lalu memerintahkan Xue Rengui untuk menurunkan kotak-kotak uang dari gerobak.
Menerima perintah, Xue Rengui lantas mulai menurunkan satu per satu kotak uang ke dalam rumah.
"Itu apa?" tanya nyonya Xue penuh curiga.
"Ibu, ayo masuk ke dalam!" sahut Xue Rengui sambil memandang sekeliling.
Di zaman seperti ini, jumlah uang sebanyak itu tak boleh terlihat orang luar. Ia pun cukup peka akan hal itu.
Saat itu, sebuah keping uang jatuh dari kotak dan menggelinding hingga ke kaki nyonya Xue.
"Itu… uang!" ucapnya terkejut.
"Rengui, jangan-jangan kalian melakukan hal buruk? Ini uang siapa yang kalian ambil? Ibu sudah bilang, jangan pernah melakukan kejahatan…"
Dalam benak nyonya Xue, uang sebanyak itu pasti berasal dari jalan yang tidak benar, bahkan mungkin hasil merampok. Keadaan sekarang memang serba kacau.
"Ibu, jangan berpikiran buruk. Semua ini hasil jerih payah Saudara Ye, didapat dari keluarga Wang!" jelas Xue Rengui.
"Bagaimana ceritanya?" tanya sang ibu.
"Ayo masuk, ceritanya seru sekali!" kata Xue Rengui, semakin bersemangat.
Mereka pun membawa semua kotak uang ke kamar Ye Ping di belakang rumah. Di sana, Xue Rengui menceritakan bagaimana Ye Ping berhasil membeli sepuluh bidang tanah keluarga Wang, lalu memanfaatkan informasi yang ia miliki untuk mendapatkan dua ribu tali uang. Ia juga menceritakan soal seratus ribu karung garam yang belum dijual, dan sedikit tentang peristiwa dengan Bangsa Turki.
"Apa? Benarkah bangsa Turki sudah mundur? Itu sungguh kabar baik. Saya kira mereka takkan pergi secepat itu, ternyata Baginda begitu hebat, sungguh keberuntungan bagi Dinasti Tang!" seru nyonya Xue.
Namun, Xue Rengui tak tahan mendengar itu. "Itu semua berkat strategi Saudara Ye, yang disampaikan melalui Li Lao. Kalau bukan karena Saudara Ye, bangsa Turki pasti belum akan mundur!"
Mata Xue Rengui berbinar penuh kekaguman, seakan tak ada orang lain di dunia ini yang lebih ia kagumi selain Ye Ping.
Nyonya Xue pun tak kalah terkejut. "Kalau begitu, Saudara benar-benar berbakat. Kenapa tidak ikut ujian kerajaan dan mengabdi pada Dinasti Tang saja?"
"Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, Nyonya Xue. Saya rasa hidup seperti ini sudah cukup baik," jawab Ye Ping dengan tenang.
"Iya, maaf kalau saya lancang," balas nyonya Xue.
Nyonya Xue memang belum banyak tahu tentang Ye Ping, dan sarannya tadi hanyalah pemikiran kebanyakan orang. Tapi Ye Ping memang tidak bercita-cita menjadi pejabat, apalagi jika harus terikat oleh aturan penguasa seperti Li Shimin. Baginya, hidup seperti ini sudah sangat memuaskan—untuk apa menjadi pejabat hanya untuk diperintah ke sana kemari?
Tentu saja, kalaupun suatu saat harus menjadi pejabat, ia hanya mau jabatan tinggi, bukan yang mudah dipermainkan atau ditekan orang lain. Kalau sekarang Li Shimin menawarinya jabatan, bisa jadi itulah yang akan terjadi, dan ia jelas tidak tertarik.
"Ibu, menurutku seperti ini saja sudah cukup baik. Kita hidup bahagia. Siapa tahu kehidupan para pejabat itu sebenarnya seperti apa? Katanya, mengabdi pada raja itu seperti berjalan di atas es tipis—tiap hari was-was. Saudara Ye juga bukan orang biasa, cita-citanya pasti tak bisa kita bayangkan," kata Xue Rengui.
"Cukup, Rengui, nanti aku jadi besar kepala," sahut Ye Ping sambil tersenyum.
Pujian seperti itu memang menyenangkan didengar, dan siapa pun pasti suka, termasuk Ye Ping.
Setelah itu, ia berkata, "Aku masuk kamar dulu, mau istirahat sebentar!"
Ia pun beranjak ke kamar. Xue Rengui menunjuk sebuah kotak uang dan bertanya, "Lalu, kotak uang ini bagaimana?"
Ternyata Ye Ping sengaja meninggalkan satu kotak di luar.
"Itu untuk kalian berdua. Gunakanlah dengan baik," ujar Ye Ping.
"Ini… setidaknya ada seratus tali uang di sini. Aku tak bisa menerimanya!" Xue Rengui langsung menolak.
"Kenapa tidak berani menerima? Bukankah uang itu memang untuk dipakai? Belikan pakaian bagus untuk ibumu, dan untukmu sendiri juga. Beli saja apa pun yang kalian butuhkan," kata Ye Ping.
Nyonya Xue terdiam.
Barangkali, tak ada orang yang sebaik hati Ye Ping, langsung menghadiahkan seratus tali uang sekaligus. Orang kaya baru pun tak seberani itu.
Xue Rengui tetap tak berani menerima, sementara nyonya Xue pun melarangnya.
Ye Ping pun mengerutkan wajahnya. "Kalau kau tidak mau menerima, berarti kau meremehkanku!"
"Tapi…"
"Rengui, sejak kapan kau jadi mirip perempuan begini? Sudahlah, aku mau tidur dulu. Nanti saat makan malam baru panggil aku!"
Selesai berkata, Ye Ping langsung masuk ke kamar, tak peduli lagi apa yang akan dikatakan Xue Rengui.
"Ibu, ini…"
"Kalau Saudara Ye ingin memberikannya, kita terima saja. Nanti kita bisa membeli kebutuhan sehari-hari, tak usah membebani beliau lagi," ujar nyonya Xue.
"Benar juga," balas Xue Rengui.
Sementara itu, Ye Ping sudah masuk ke kamarnya. Kini ruang penyimpanannya sudah tak cukup lagi, apalagi setelah nanti uang hasil penjualan garam masuk, jumlahnya bisa mencapai seribu tali uang lagi. Ia butuh setidaknya tiga meter kubik ruang kosong tambahan.
Begitu masuk kamar, Ye Ping langsung berseru, "Sistem, tambah lima meter kubik ruang penyimpanan!"
Sekali minta, langsung banyak, siapa tahu nanti bisa dapat keuntungan lebih besar lagi.
Tak lama, sistem pun memotong lima ribu poin dan memperluas ruang penyimpanan. Kini ia punya tujuh meter kubik ruang, cukup untuk menampung semua uangnya.
Setelah itu, seluruh uang yang didapat tadi ia masukkan ke dalam ruang penyimpanan.
Kini ia bisa beristirahat dengan tenang, menunggu saat Li Shimin datang lagi. Begitu berhasil membujuknya membeli garam, ia akan mengantongi tiga ribu tali uang—benar-benar kekayaan luar biasa.