Bab 59: Menanamkan Fondasi
Ketika seseorang merasa percaya diri dan memegang kendali penuh, langkah kakinya akan terasa begitu mantap dengan angin sepoi-sepoi yang mengikuti di belakangnya.
Karena semuanya sudah pasti dan urusan berikutnya akan beres seratus persen, persiapan yang matang membuat hatinya merasa tenang, dilingkupi oleh rasa aman yang begitu nyata.
*[Luar biasa.]*
Su Che dengan gembira bersenandung kecil mengikuti nada-nada musik *subculture*.
Jam istirahat kelas sebenarnya berjalan tanpa ada kejadian berarti, namun karena suasana hatinya sedang sangat bagus, sisa-sisa energi gembiranya bahkan meluap keluar.
Oleh karena itu, untuk pertama kalinya ia pergi ke kantin sekolah, membeli roti mentega, kue *mousse*, minuman energi *Monster* berwarna merah, beberapa camilan ringan dalam kemasan kecil, serta lima kotak Pocky dengan berbagai rasa, lalu berjalan menuju gerbang sekolah dengan senyuman lebar di wajahnya.
Bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk pergi menemui murid kecilnya di sekolah sebelah.
Waktu istirahat siang berlangsung selama dua jam, dan letak gerbang sekolah mereka saling berhadapan, jadi saat ada dorongan spontan, ia bisa pergi untuk memberi makan "burung kecilnya".
"Yuan Xiao, sudah jam istirahat belum? Aku datang untuk membawakanmu sedikit makanan."
Su Che mengirimkan pesan suara dengan senyuman terkembang.
Yuan Xiao langsung memunculkan status sedang mengetik, lalu membalas dengan kecepatan kilat:
"Belum! Aku ditahan, PR-ku belum selesai jadi disuruh guru diam di ruang belajar untuk menyelesaikannya! Tapi tidak apa-apa! Aku akan membolos sekarang juga!"
"Bur...?"
Tujuan awal Su Che bukanlah menyuruh anak itu keluar dengan cara seperti ini... namun ia bisa menebak bahwa pikiran anak itu sudah melayang pergi, jadi sekalipun ia mencegahnya, itu tidak akan ada gunanya.
"Baiklah, baiklah, aku hanya akan tinggal sebentar saja, siang nanti aku masih ada satu kelas lagi."
Ia berjalan keluar gerbang sekolah, menenteng kantong belanjaannya, dan tiba di area taman bunga dekat gerbang Akademi Khusus Putri Sacred Heart, lalu duduk sambil berjemur di bawah hangatnya sinar matahari untuk menunggu.
Cuaca hari ini sangat cerah, langit bersih dengan warna biru yang terlihat jelas oleh mata telanjang.
Dalam kamus suasana hati Su Che, langit tanpa awan itu kalau tidak terik ya berdebu.
Ia tidak suka keluar rumah pada cuaca seperti itu.
Sebaliknya, langit biru dan awan putih yang jarang dijumpai selalu mampu menyegarkan pikiran, terutama di bulan April.
Para siswi yang lewat di depan gerbang sekolah berjalan berlalu-lalang.
Tatapan yang tertuju padanya juga terus bertambah, bagaikan tumpukan hadiah dalam undian.
Su Che tidak memperdulikannya, ia hanya sedang menunggu seseorang yang ingin ditemuinya.
Sekitar belasan menit kemudian, Yuan Xiao berlari kencang dari ujung sebelah kiri pandangannya.
"Gu-gu-guru~!!! Aku daaaang!"
"...Pelan-pelan, jangan sampai jatuh. Aku duduk di sini tidak akan kabur kok."
Senyuman terukir di wajah Su Che saat ia bangkit berdiri menghadap gadis itu dan mengamatinya sejenak.
Yuan Xiao hari ini terlihat berbeda dari biasanya—
Ia mengenakan *sweater* bertudung sambung berbahan *PVC* berwarna biru air, celana gaya olah raga bergaris biru-putih yang tampak lembut.
Bagian atasnya berpotongan agak longgar dan berukuran besar, dari merek *ililil*, barang asli dengan desain yang sangat modis.
Su Che melihatnya dan merasa gadis itu sepertinya sengaja pergi ke ruang ganti perempuan untuk berganti pakaian secara mendadak... lagipula pakaian itu terlalu baru, tidak seperti penampilannya di rumah yang biasanya berantakan.
"Hehehehehe! Aduh, aku kan sudah sangat merindukanmu! Guru, datang menemuiku saja sudah bagus, kenapa masih membawakan makanan? Aku tidak akan sungkan-sungkan padamu ya. Aku akan makan semuanya!"
"Tentu saja tidak perlu sungkan... Oh benar, mulai sekarang di depan orang lain sebaiknya jangan memanggilku guru dulu, kita kan belum resmi mulai belajar, memanggil dengan sebutan itu terlalu cepat rasanya."
Su Che takut orang-orang salah paham dan mengiranya sebagai penjahat yang merayu gadis muda dengan kedok ilmu pengetahuan, jadi ia sengaja ingin menjaga jarak.
Yuan Xiao tentu saja merasa itu bukan masalah besar, namun ia tetap menerima usulan tersebut dan mengganti panggilan itu menjadi "A-Che".
"Baiklah kalau begitu, selama Guru tidak menganggapku kurang ajar, aku akan menganggap kita berada di tingkat yang sama ya. Kau harus tahu, hubungan sesama tingkat berarti kau tidak boleh menganggapku sebagai anak kecil!"
Gadis itu merasa sangat senang, wajahnya tampak berbunga-bunga dengan semburat merah muda, bahkan lebih menyilaukan daripada matahari di langit.
Su Che mengangguk pelan, memberikan persetujuannya.
Ia mengeluarkan makanan dari dalam kantong dan menyerahkannya kepada sang gadis.
Keduanya berpindah dari tepi taman bunga ke sebuah bangku taman yang tidak jauh dari area luar sekolah, menikmati kesejukan matahari sore di bawah pepohonan bersama-sama.
"Senangnya, hari ini tidak ada yang memakai bangku ini."
"Begitukah?"
"Iya, biasanya tempat ini selalu dipakai oleh pasangan kekasih. Entah kenapa hari ini kosong, mungkin karena takdir tidak ingin aku membolos dengan sia-sia, jadi ia memberiku sedikit hadiah, hihi."
"..."
Su Che menatap gadis yang sedang gembira itu, melihatnya melahap roti yang dibelikannya tanpa memperdulikan citra sama sekali.
Banyak krim yang menempel di sudut bibirnya tanpa ia sadari.
Su Che tersenyum geli.
Tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan mengulurkan ibu jarinya.
Seperti memperlakukan seorang anak kecil, ia menghapus noda putih di pipi gadis itu.
"Yuan Xiao, apakah kau selalu makan dengan terburu-buru seperti ini di rumah?"
Sebelum kata-katanya selesai, ia melihat wajah kecil sang gadis berubah merah seketika bagaikan buah jeruk bali, lalu menoleh dengan kaku dan berkata:
"A-apa-apaan! Di rumah aku... aku makan dengan sangat baik! Aku, aku..."
"Kau sebenarnya jarang makan dengan benar, kan?"
Su Che melihat ekspresi kecilnya dan langsung menebak inti masalahnya.
"!"
Begitu mendengarnya, Yuan Xiao langsung panik salah tingkah, mengalihkan pandangan sambil melambaikan tangan: "Mana mungkin! Keluargaku kan tidak kekurangan uang, kalau terdesak aku bahkan bisa menjual lukisan yang ada di dinding, satu lukisan bisa laku beberapa ribu..."
"Jangan."
Su Che membatin, barang itu paling murah bernilai puluhan ribu, kalau tidak beruntung bisa ratusan ribu. Kalau benar-benar kausuual sebagai barang murahan seharga beberapa ribu saja, mungkin bingkai lukisan cat minyaknya pun tidak akan sebanding dengan harganya...
"Kau tidak begitu suka makan, dan kalaupun makan selalu kelihatan terpaksa. Aku bisa melihatnya, kalau tidak, kau tidak akan terlihat begitu kurus dan kecil."
"Sembarangan! Siapa yang kecil! Tidak boleh meremehkanku!"
Gadis itu bereaksi keras, membusungkan dadanya yang rata.
Namun ia tetap tidak mau mengalah secara lisan dan mencoba membela diri:
"A-Che! Kau harus tahu, manusia itu akan terus berkembang! Tubuh ini juga sama! Semuanya butuh waktu! Paham maksudku!"
"Iya, iya."
Su Che mengangguk, tersenyum tanpa berkata apa-apa.
"Jangan sering begadang lagi, kalau begitu kau masih bisa memanfaatkan sisa masa pertumbuhanmu." Ia menatap ke arah langit di kejauhan.
"......Huh! Kalau begitu lihat saja nanti! Aku pasti bisa melakukannya!"
Karena sang guru sudah memberikan nasihat, sang kucing malam yang biasa berkeliaran jam tiga pagi itu pun dengan tegas memutuskan untuk pensiun dari profesinya dan mulai hari ini berubah menjadi anak baik yang tidur lebih awal.
Keduanya mengobrol sebentar, menghabiskan makan siang mereka, lalu membicarakan urusan serius mengenai *Band*.
"Waktu malam itu kau tidak membalas pesanku, A-Che, menurutmu... bagaimana permainan mereka bertiga? Apakah aku benar-benar punya kesempatan untuk menyainginya?"
Anak itu termasuk tipe orang yang terisolasi dari informasi luar. Karena pernah menjadi korban perundungan siber, ia jarang mengunjungi forum atau komunitas online sekolah, lagipula setiap kali ia melihatnya, selalu ada teman sekelas yang membicarakannya di sana, yang justru membuatnya menutup diri.
*[Membuat rumor hanya butuh membalikkan telapak tangan, tapi membuktikan kebenarannya butuh perjuangan setengah mati.]*
Yuan Xiao memilih untuk menunggu suapan dari Su Che.
"Menyaingi?"
Su Che tersenyum, "Lebih percaya diri sedikit, ubah kata itu menjadi mengalahkan."
Ia mengulurkan keempat jarinya, berkata dengan sedikit serius: "Empat bulan, ambil kelas denganku sekali seminggu, kerjakan PR selama 6 hari, latihan minimal 1-2 jam setiap hari, dan sisa waktunya terserah kau. Aku jamin tanpa membuang waktu pada jalan yang salah, aku bisa membuat Ling Yao merasakan tekanan."
"Eh-eh?! Benarkah! A-Che, bagaimana kau tahu nama lengkapnya, namanya Ling Yao ya?"
Kedua mata gadis itu berbinar-binar, dipenuhi rasa penasaran sekaligus harapan besar untuk latihan di masa depan.
"Hm, detailnya tidak usah dipikirkan. Aku sudah menyusun jadwal secara garis besar berdasarkan waktuku: aku bekerja paruh waktu pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, hari Sabtu aku ada kelas lain, dan hari Minggu mungkin bekerja sambilan juga. Jadi kita pilih hari Selasa atau Kamis, kelasnya fleksibel.
Untuk waktunya, setelah pulang sekolah aku akan pergi ke rumahmu, atau kau ikut aku menyewa ruang latihan di studio musik 「Grammy」 terdekat untuk evaluasi latihan. Aku kenal pemiliknya, jadi bisa dapat setengah harga."
Su Che memaparkan seluruh rencana alurnya dengan serius.
"!!"
Begitu mendengar bahwa Su Che bahkan sudah merencanakan sampai sejauh itu, bagaimana mungkin Yuan Xiao merasa keberatan?
Ia langsung melebarkan kedua matanya, memasang ekspresi terkesan ala kucing, mengangguk penuh semangat, lalu mengulurkan tangan kecilnya untuk memberikan janji kepada Su Che:
"Setia!"
"PR pasti selesai dikerjakan!"
"Kalau tidak selesai..."
"Aku rela menerima hukuman apa pun dari A-Che! Hukuman apa pun akan kuterima! Sekalipun A-Che mencekikku sampai mati! Mencekikku sampai aku tidak bisa bernapas! Aku tidak akan pernah mengucapkan sepatah kata 'tidak' pun!"