Bab Lima: Warisan Lu Bu, Kuda Dewa Merah Bata!
Lapangan latihan berada tepat di sebelah kandang kuda. Tentu saja, Pangeran Ketiga yang dulu dianggap tak berguna tidak pernah memanfaatkannya, dan para pengawal di kediaman pun jarang menggunakannya. Akibatnya, lapangan latihan yang luas itu menjadi terbengkalai. Untungnya, para pelayan rutin datang untuk membersihkan tempat itu, sehingga meskipun peralatannya sudah tua, tidak ada rerumputan liar yang tumbuh lebat di sana.
Saat ini, Yun Yi berdiri di tengah lapangan latihan. Selain kuda merah dan Diao Chan, tidak ada seorang pun di sekitarnya. Penampilan Yun Yi kini sangat gagah, mengenakan zirah perang yang mengesankan, tangan menggenggam tombak bergagang panjang. Aura yang dipancarkannya berubah drastis, dari seorang pangeran yang lembut menjadi dewa perang yang tak terkalahkan di medan laga.
Ia lalu melompat ke atas pelana. Bulu burung pada mahkotanya bergoyang lembut, menambah kesan gagah pada dirinya. Duduk di atas kuda, Yun Yi merasa seolah ia telah menyatu dengan kuda merah, menjadi satu kesatuan, dan kekuatan yang mengalir dalam dirinya pun meningkat luar biasa.
Dengan semangat membara, ia mengayunkan tombaknya, memperlihatkan jurus warisan dari Lü Bu. Mata tombaknya melibas tiang-tiang kayu di lapangan, membuatnya tumbang seperti ladang gandum yang dituai.
Dari kejauhan, Diao Chan menyaksikan pemandangan itu, seakan melihat Yun Yi berlari di tengah medan perang. Tak terkalahkan, selalu menang dalam setiap pertempuran. Tatapannya perlahan menjadi terpana, namun segera ia tersadar dan menundukkan kepala.
Setelah beberapa saat menebas tiang-tiang kayu hingga lapangan latihan porak-poranda, Yun Yi merasa bosan. Ia pun menyimpan peralatan tempurnya, turun dari kuda, lalu berjalan ke tengah lapangan, berhenti di depan sebuah gentong besar.
Konon, Xiang Yu dikenal memiliki kekuatan luar biasa, mampu mengangkat gentong seribu kati. Kini Yun Yi telah memperoleh warisan dari Lü Bu, ia ingin mencoba seberapa besar kekuatannya sendiri.
Ia berjongkok, kedua tangan mencengkeram kaki gentong, lalu berteriak keras. Gentong besar yang beratnya hampir seribu kati itu perlahan-lahan terangkat oleh kekuatan Yun Yi. Setelah mengangkatnya sampai di atas kepala dan bertahan belasan detik, ia melemparkannya ke tanah, menghasilkan dentuman yang menggetarkan bumi.
Sejak kehidupan sebelumnya hingga kini, Yun Yi selalu bertubuh lemah dan rapuh. Kini, dengan tubuh sekuat ini, ia tak bisa menahan kegembiraannya.
“Tuan Muda!”
Tiba-tiba, terdengar suara panggilan cemas. Seorang lelaki bertubuh besar masuk berlari bersama sekelompok pengawal. Mendengar suara gaduh di lapangan, mereka khawatir sesuatu terjadi pada sang pangeran, sehingga segera bergegas datang.
Yun Yi menatap pria yang memimpin rombongan itu, kenangan tentangnya perlahan muncul dalam benaknya.
Pria itu adalah Xu Zhen, kepala pengawal di Kediaman Zhongling. Dulu, ia adalah panglima pengawal istana di negeri Shang, namun karena kelalaian, ia dicopot dan dipindahkan menjadi kepala pengawal di kediaman ini.
Konon, jurus pedang Xu Zhen sangat terkenal di ibu kota. Namun, dalam ingatan masa lalu, Pangeran Ketiga hanya sibuk bergaul dengan teman-teman buruk dan wanita cantik, sama sekali tak peduli pada seorang pengawal, sehingga Yun Yi pun tidak terlalu mengenalnya.
“Sistem, bisakah kau memperlihatkan atribut Xu Zhen?”
Begitu suara itu terlintas dalam benak, sebuah layar cahaya biru muncul di depan Yun Yi.
[Nama]: Xu Zhen
[Loyalitas]: 70 (maksimum 100)
[Keahlian]: Ilmu Pedang (menambah 3 poin kekuatan saat menggunakan senjata jenis pedang)
[Jurusan Khusus]: Delapan Belas Tebasan Keluarga Xu, Pedang Angin Badai
[Kekuatan]: 95
[Kecerdasan]: 77
[Kepemimpinan]: 83
[Politik]: 75
“Hebat juga! Kekuatannya sudah level atas, atribut lain pun tinggi. Di seluruh negeri Shang, mungkin hanya ada segelintir orang seperti ini,” gumam Yun Yi kagum pada atribut Xu Zhen, sembari dalam hati mengejek dirinya yang dulu. “Pangeran ketiga yang tak berguna, sudah memiliki harta karun di depan mata, tapi bisanya hanya bersenang-senang dengan wanita!”
“Tuan Muda! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Xu Zhen bersama para pengawal telah tiba di hadapan Yun Yi. Melihat lapangan latihan yang porak-poranda dan gentong besar tergeletak di tanah, ia tampak tertegun.
“Oh, tidak ada apa-apa. Aku sudah terlalu lama berbaring, tubuh jadi lemas, jadi aku keluar untuk berolahraga!” jawab Yun Yi santai. “Kebetulan, suruh orangmu bereskan tempat ini.”
Ekspresi Yun Yi tenang, seolah semua yang terjadi hanyalah hal sepele dan bukan sesuatu yang layak dibesar-besarkan.
Mendengar jawabannya, sudut bibir Xu Zhen sedikit berkedut. Ia sangat tahu siapa Pangeran Ketiga itu. Dengan kondisi lapangan seperti ini, jelas hanya orang dengan kekuatan luar biasa yang bisa melakukannya. Jika harus memilih, ia bahkan lebih percaya itu dilakukan oleh pelayan kecil yang cantik di kejauhan sana daripada pangeran yang selama ini dikenal lemah.
“Apa kau tidak percaya?” Melihat Xu Zhen ragu, Yun Yi mengangkat alis dan berkata kepada para pengawal lain, “Kalian boleh pergi, biarkan Xu Zhen tetap di sini!”
Orang berbakat seperti Xu Zhen tentu harus dijinakkan. Kini saatnya tepat, Yun Yi pun mengambil keputusan. Setelah semua orang, termasuk Diao Chan, mundur, tinggallah Yun Yi dan Xu Zhen di lapangan itu.
Xu Zhen menatap Yun Yi dan bertanya ragu, “Tuan Muda, ada hal penting yang ingin Anda sampaikan?”
Menghadapi pria yang tingginya hampir satu kepala di atasnya, Yun Yi tersenyum tipis, matanya berkilat tajam. Tanpa berkata-kata, ia langsung menerjang.
Menebas tiang kayu tidak cukup untuk menguji kekuatan sendiri. Jika Xu Zhen tidak percaya, lebih baik mengujinya langsung. Ingin tahu, seberapa besar perbedaan antara kekuatan 108 miliknya dengan 95 milik Xu Zhen.
“Tu-Tuan Muda, jangan…” Xu Zhen langsung panik melihat Yun Yi hendak menyerangnya. Dalam benaknya, Yun Yi selama ini hanyalah pangeran lemah yang tubuhnya sudah hancur oleh minuman dan wanita. Tidak perlu dipikirkan bagaimana kondisi fisiknya.
Bahkan, Pangeran Ketiga di masa lalu seperti anak kecil berusia tiga tahun di hadapannya; disentuh sedikit saja pasti akan celaka. Jika sampai tanpa sengaja menyakitinya, bisa-bisa kepala taruhannya!
Namun, meski Xu Zhen sudah berusaha menghindar, ia tetap tak mampu menahan langkah Yun Yi. Gerakannya sangat cepat, dalam sekejap sudah berada di depan Xu Zhen dan melayangkan pukulan disertai angin kencang.
Melihat kepalan tangan seputih giok itu, entah mengapa Xu Zhen tiba-tiba merasa seolah tak sanggup menahan serangan ini.
Tak mungkin! Xu Zhen sudah berlatih bela diri sejak kecil tanpa pernah berhenti, hingga kini, ia merasa belum pernah bertemu lawan sepadan. Bahkan menghadapi Pangeran Kedua, Yun Zheng, ia masih yakin bisa menang. Apalagi Yun Yi, pangeran yang hanya tahu bersenang-senang, mustahil bisa mengalahkannya!
Namun...
Menatap tinju itu, Xu Zhen merasa matanya bergetar hebat dan secara refleks langsung mengangkat kedua lengannya untuk menangkis.
“Duar!”
Benturan itu mengeluarkan suara berat yang menggelegar. Xu Zhen terlempar mundur, melangkah tujuh delapan kali sebelum akhirnya jatuh terduduk. Melihat lengannya, tampak jelas bekas pukulan yang membiru.
Xu Zhen membelalakkan mata, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Tak mungkin! Bagaimana mungkin! Apakah semua orang selama ini salah? Pangeran Ketiga ternyata tidak selemah yang terlihat, melainkan menyimpan kekuatan besar yang tersembunyi?
“Sudah mengaku kalah? Kalau sudah, segera kerjakan tugasmu! Bereskan lapangan ini! Dan jangan lupa, rawat kudaku dengan pakan terbaik!”