Bab Empat Puluh: Pavilun Hujan dan Kabut
Mereka pun melangkah menuju Gedung Hujan dan Kabut.
"Saudara, jangan-jangan engkau adalah Zhao Yun, Zhao Zilong, yang mengalahkan Ning Pingzhi hanya dengan satu jurus?" tanya Li Xiangyang dengan rasa ingin tahu saat matanya tertuju pada Zhao Yun.
Zhao Yun mengangguk pelan.
Dalam ingatannya, Li Xiangyang memang sejak kecil gemar berlatih ilmu bela diri. Tadi Yun Yi sempat memeriksa potensinya, dan ternyata mencapai sembilan puluh poin—sungguh bakat yang luar biasa.
"Aku mendengar Saudara Zilong sangat piawai dalam ilmu bela diri. Jika ada waktu senggang, bolehkah aku meminta petunjuk darimu?" Mata Li Xiangyang menatap Zhao Yun dengan penuh semangat.
Zhao Yun tentu tak menolak, ia tersenyum dan menjawab, "Asal Tuan Muda Qin tidak keberatan, kita bisa saling bertukar ilmu!"
"Terima kasih banyak, Saudara Zhao!" ujar Li Xiangyang bahagia seraya memberi salam hormat.
"Tuan Muda Qin, jangan sungkan begitu!" Zhao Yun segera mengibaskan tangannya, menolak dengan sopan. Ia adalah bawahan Yun Yi, sementara hubungan Li Xiangyang dan Yun Yi sangatlah dekat, hingga mereka saling menganggap saudara. Mana mungkin ia melampaui batas itu.
Melihat reaksi Zhao Yun, Yun Yi menepuk pundaknya sambil berkata, "Zilong, hubungan kita sudah seperti saudara sendiri. Mereka pun orang-orang yang mudah akrab, anggap saja kita semua saudara!"
"Tapi... itu tak pantas," jawab Zhao Yun cepat-cepat sambil menggeleng.
"Apa? Perkataanku tidak berlaku di hadapanmu?" Yun Yi memasang wajah tegas.
"Ini... Terima kasih, Yang Mulia!" Mendapat perlakuan seperti itu, Zhao Yun sungguh terharu dan memberi hormat dalam-dalam pada Yun Yi.
Di sisi lain, Yan Zikun menatap Yun Yi dalam-dalam. Beberapa hari ini ia sering mendengar kabar tentang Yun Yi. Kini ia benar-benar yakin, kakaknya telah banyak berubah sejak jatuh sakit.
Gedung Hujan dan Kabut sangat terkenal di Chang'an. Hampir semua cendekiawan dan bangsawan dari seluruh negeri akan mampir ke sini begitu tiba di ibu kota.
Alunan kecapi dan suara nyanyian selalu terdengar dari tempat ini, membuat siapa pun yang melintas tergoda untuk masuk. Yun Yi di kehidupan sebelumnya bersama kawan-kawan lamanya adalah pelanggan tetap di sini, jadi ia sudah sangat akrab dengan tempat ini.
Begitu melangkah masuk, seorang pelayan wanita segera menyambut mereka.
Yun Yi meneliti sekeliling. Masih banyak kursi yang kosong. Di lantai dua, terdapat ruang-ruang privat berbentuk lingkaran yang mengelilingi sebuah panggung luas di tengah, dengan langit-langit yang menjulang tinggi hingga atap.
Dekorasi di sini sangat mewah, banyak bagian yang dihiasi emas, menambah nuansa kemewahan dan gemerlap.
Ruang privat di lantai dua sangat mahal, biasanya hanya dipakai oleh bangsawan dan orang-orang kaya raya. Sedangkan kursi-kursi di lantai satu dipenuhi cendekiawan, pedagang, dan pendekar.
"Para Tuan Muda, hari ini kalian datang di waktu yang sangat tepat!" Sambut seorang perempuan setengah baya bertubuh subur dengan wajah penuh senyum pada Yun Yi dan rombongannya.
Sudah bertahun-tahun ia bekerja di sini dan mengenal baik para pelanggan tetap, termasuk rombongan Yun Yi yang merupakan pelanggan utama.
Soal reputasi seorang pangeran mengunjungi rumah hiburan, baginya itu bukan urusan besar. Bisnis tetap berjalan lancar.
"Para Tuan Muda, hari ini adalah hari dimana Nona Chan menerima tamu!"
"Setiap tamu yang bisa menjawab pertanyaan dari Nona Chan, berhak masuk ke kamar pribadinya dan berbincang dengannya!"
Mendengar itu, mata Yu Zhaofeng langsung berbinar. Nona Chan adalah primadona yang tadi ia sebut-sebut.
Bisa masuk ke kamar pribadinya—ah, membayangkannya saja sudah membuat Yu Zhaofeng tersenyum-senyum sendiri.
Saat itu, tiba-tiba muncul sosok anggun di lantai dua, langsung menarik perhatian banyak orang.
Seorang gadis muda yang tubuhnya semampai, mengenakan kerudung tipis menutupi wajah, namun alis dan matanya sangat cantik. Matanya menyimpan kesedihan dan kemurungan, membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.
Di belakangnya, seorang pelayan membawa nampan, lalu mengumumkan kepada para tamu,
"Para Tuan Muda, hari ini nyonya kami mengajukan sebuah baris kalimat, silakan kalian melanjutkannya!"
"Siapa pun yang bisa membuat kelanjutan terbaik, akan dipilih untuk masuk ke kamar dan berbicara langsung dengan nyonya kami!"
"Bagaimana, kalian mau mencoba? Kalau ada yang berhasil, bisakah kesempatan itu diberikan padaku?" Yu Zhaofeng tertawa kecil, memandang para saudaranya.
"Pergi saja sana! Kalau kami yang berhasil, jelas tidak akan diberikan padamu!" jawab Yan Zikun sambil tertawa.
"Kami memang tidak terlalu berminat dengan adu kecerdasan semacam ini. Kalau kau ingin menggoda sang primadona, jangan ajak-ajak kami!" yang lain pun ikut tertawa.
Saat itu, Zhang Zefang mendongak ke atas dan tiba-tiba memperhatikan seseorang, lalu menepuk bahu Yun Yi.
"Kakak, lihat, bukankah itu Pangeran Keempat di atas sana?"
Yun Yi mengikuti arah yang ditunjukkan, dan matanya sedikit menyipit. Benar saja, di kursi tamu lantai dua, ada sosok yang sangat dikenalnya.
"Pangeran Keempat?"
Itu adalah Pangeran Keempat, Raja Xiangcheng, Yun Hong.
Melihat Yun Yi, Yun Hong turun dengan enggan dan memberi salam hormat.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
"Masih muda sudah datang ke tempat hiburan seperti ini, kalau Ayahanda tahu, pasti kau akan kena omelan!"
Yun Yi memasang wajah serius, membuat Yun Hong sedikit terkejut, lalu segera sadar dan menatap Yun Yi dengan marah.
Sebenarnya Yun Yi memang tak pernah menyukai adik keempatnya itu.
Dalam ingatannya, Yun Hong dan ibundanya sama-sama berhati gelap, hanya saja Yun Hong punya ambisi tapi tak punya kemampuan.
Dulu, sebelum Yun Yi jatuh sakit, Yun Hong sering mencari masalah dengannya.
"Saudara Ketiga, kau merasa punya hak menegurku? Bukankah kau juga datang ke sini?"
"Kurang ajar!" Yun Hong menatap Yun Yi dengan tajam, "Saat aku seusiamu, aku masih sibuk belajar dan membaca kitab-kitab suci!"
"Usia muda bukan untuk bersenang-senang, harusnya giat belajar menimba ilmu, bukan malah datang ke tempat hiburan seperti ini. Kau terlalu berfoya-foya!"
Yun Yi bicara dengan nada menggurui, seolah-olah hendak melapor pada ayah mereka, membuat Yun Hong nyaris muntah darah karena kesal.
Kau sok belajar kitab suci? Siapa yang tidak tahu sejak muda kau sudah menjadi langganan rumah hiburan? Bahkan beberapa tahun terakhir, kau hampir tak pernah meninggalkan Gedung Hujan dan Kabut. Dulu pun sempat memukul kepala pengawas pendidikan negara.
Kalau semua orang belajar seperti kau, negeri ini sudah lama hancur!
Dalam hati, Yun Hong terus memaki Yun Yi.
Sementara itu, Yu Zhaofeng dan yang lain sudah tertawa terbahak-bahak. Belajar kitab suci katanya? Kakak kedua memang selalu bisa membuat suasana jadi lucu.
Wajah Yun Hong berganti-ganti antara merah dan ungu, ia menatap Yun Yi dengan marah, "Kalau Saudara merasa paling pintar, mari kita adu saja!"
"Oh?" Yun Yi menatap Yun Hong dengan rasa ingin tahu.
"Kita adu membuat syair. Bukankah Nona Chan tadi sudah mengajukan baris pertama? Kita buatkan kelanjutannya, biar Nona Chan yang menilai siapa yang terbaik!"
Yun Hong menatap Yun Yi penuh percaya diri. Dalam hal ilmu pengetahuan, ia memang merasa lebih unggul. Banyak memang yang lebih pintar darinya, tapi Yun Yi jelas bukan salah satunya.
Paling tidak, ia pernah serius belajar, sedangkan Yun Yi sama sekali tidak.
"Baik!"
Yun Yi mengangguk menyetujui.
Melihat Yun Yi menerima tantangan, Yun Hong makin agresif, "Kalau begitu, taruhan juga harus ada, kan?"
Kening Yun Yi berkerut, ia membentak, "Yun Hong, kita ini saudara sendiri. Kalau bertaruh seperti ini, apa kau tidak takut mempermalukan keluarga kerajaan kalau sampai tersebar?"
Taruhan antara Yun Hong dan Yun Yi tentu berbeda dengan taruhan Xu Xian. Jika mereka bertaruh, lalu kabar itu sampai ke telinga Kaisar Shang, Yun Yi akan mendapat masalah, entah menang atau kalah.
Nada Yun Yi begitu tegas sehingga Yun Hong tak bisa membantah. Ia menundukkan kepala, wajahnya kelam, matanya menyimpan dendam.
"Sudahlah, tunggu saja pertanyaannya. Hari ini, biar aku yang mengajarkanmu bagaimana jadi manusia!"
"Haha, Saudara yakin mau menantangku?" ejek Yun Hong.
Yun Yi hanya melirik sekilas, tak menaruh Yun Hong di dalam hati.
"Baik, kita lihat saja nanti!"
Tatapan Yun Hong pada Yun Yi penuh sindiran. Ia sudah membayangkan wajah Yun Yi yang akan menanggung malu ketika kalah.
Yu Zhaofeng dan yang lain mulai merasa khawatir pada Yun Yi. Mereka tak yakin Yun Yi bisa menang. Secara logika, seharusnya ia tidak bisa... tapi, tokh selama ini Yun Yi nyaris tak pernah kalah dalam urusan apapun, jadi mereka memilih diam.
Saat itu, Nona Chan di atas panggung telah mengumumkan pertanyaannya, yang kemudian dibacakan oleh pelayannya.