Racun Kupu-Kupu, Kunci Bunga Kesembilan
Penulis ingin menyampaikan sesuatu:
Hari ini, saat menulis, aku terus mendengarkan lagu ini...
Tanpa sadar, hubunganmu dengan Shibo Junichi semakin akrab. Urusan pertunangan kalian pun mulai dibicarakan. Menurut keinginan Fumiko, kalian akan bertunangan pada pesta ulang tahunmu tahun ini, dan setelah lulus tahun depan, kalian akan menikah.
Meski di permukaan kau selalu tersenyum manis, seakan benar-benar gadis muda yang sedang jatuh cinta, namun di balik layar, jiwamu sudah mati rasa, bahkan berhenti berpikir.
Sejak kemunculannya terakhir kali, Wu Ciao setiap malam membawamu ke ruangan itu, memaksamu membunuh dan mengambil jantung orang lain. Lama-lama kau terbiasa dengan hal itu, tak lagi muntah hebat setelah memakan jantung orang lain. Teknikmu pun semakin mahir, mengambil nyawa orang lain dalam sekejap tanpa banyak rasa sakit bagi korbanmu.
Kau selalu bertanya-tanya, mengapa harus melakukan semua ini? Kenapa harus terus bertahan? Bukankah lebih baik mati saja?
Namun, setiap kali Wu Ciao mengancam dengan jiwa kedua orang tuamu, kau segera patuh tanpa ragu sedikit pun. Dalam bertindak, kau tak pernah bimbang. Sekalipun hatimu penuh kekacauan, saat harus bertindak, kau tetap tegas mengambil keputusan.
Tak apa, meski orang tuamu tak bisa hidup kembali, biarlah mereka bereinkarnasi, jangan biarkan jiwa mereka terus menderita. Itulah satu-satunya keinginanmu, sayangnya... Wu Ciao tetap menggenggam jiwa mereka, tak mau melepaskannya.
"Tenang saja, setelah semua selesai, aku akan membebaskan mereka. Selama kau patuh, mereka takkan menderita." Begitu janji Wu Ciao, selalu seperti itu.
Kau duduk termenung di sudut taman, mengingat janji Wu Ciao semalam. Akhir-akhir ini ia sering mengucapkan hal yang sama, seolah bukan untukmu, tapi untuk menenangkan dirinya sendiri.
—"Sebentar lagi selesai."
—"Pasti akan berakhir."
—"Tak akan terus seperti ini selamanya."
Tak ada pilihan lain, selain percaya.
Tanpa sadar kau mencabuti tanaman di sekitarmu, otakmu seperti mesin pemutar, terus mengulang kata-kata Wu Ciao. Kau sendiri tak mampu berpikir jernih. Anjing takkan merasa sedih saat tuannya memberinya daging anjing, karena ia hidup sebagai anjing. Tapi kau tak bisa hidup seperti itu, maka rasa sakit itu pun tak kunjung hilang.
"Kalau seperti itu, bunga dan tanaman juga akan merasa sakit, tahu!"
Tiba-tiba suara yang menyela pikiranmu membuatmu terkejut.
Saat menoleh, kau dapati tukang kebun keluargamu, Majima, entah sejak kapan sudah berdiri di belakangmu.
Begitu ada orang lain, kau langsung bisa kembali ke peran gadis muda polos, buru-buru melepaskan bunga malang yang kau cabuti.
"Maaf... aku merusak taman yang kau rawat..." Bagian tempat dudukmu sudah gundul, bunga dan tanaman di sekitarnya rusak parah akibat ulahmu.
Majima hanya tersenyum, sama sekali tak menunjukkan kemarahan. Meski raut wajahnya lembut, kau merasakan aura dendam yang menekan dari dirinya. Secara refleks, kau menyalurkan kekuatan untuk mengusir aura itu, sampai-sampai tak sadar ia telah duduk di sampingmu.
"Apa ada sesuatu yang kotor di tubuhku?" tanya Majima.
"Eh?"
"Maksudku, dari tadi Nona terus menatap pundakku, apa ada yang aneh di sana?"
Kau menggeleng, "Tidak, tadi aku hanya melamun." Tentu saja kau tak akan membahas hal-hal aneh yang membuat tukang kebun ini menganggapmu gila.
"Nona..." Nada suara Majima terdengar ragu dan penuh kekhawatiran, "Apakah Anda sedang tidak bahagia?"
Akhir-akhir ini kau hampir bertunangan, dan calonmu pun pria sukses yang tampan, jelas seharusnya bahagia. Secara alami kau menjawab, "Bukan, tadi aku hanya memikirkan soal ujian, sedikit pusing. Semester ini akan segera berakhir, aku khawatir dengan ujian akhir."
"Eh, ternyata Nona termasuk orang yang mementingkan nilai?" Majima bertanya polos, lalu menjelaskan, "Dulu waktu ngobrol dengan para pelayan, aku dengar Nona sering bolos ujian, bahkan tak peduli kalau nilainya nol."
Kau jadi sedikit malu. Di dunia asalmu, demi masa depan dan pergaulan, kau tak pernah bertindak sembarangan, selalu rajin sekolah dan ujian. Tapi di dunia sekarang, kau tak yakin bisa bertahan lama, jadi nilai dan pelajaran pun tak terlalu kau hiraukan.
Awalnya kau hanya asal berbohong untuk menutupi perilakumu, tapi sekarang sudah terbongkar dan lawan bicaramu pun tampak tak bermaksud jahat, kau jadi tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Majima, untungnya, tak mempermasalahkan hal itu, "Aku sudah beberapa tahun bekerja di rumah ini... dan hari ini pertama kalinya kulihat Nona menampakkan ekspresi begitu menderita."
Kau pun gelisah, meraba wajah sendiri, dalam hati berjanji akan lebih berhati-hati.
"Apakah Anda... tidak menyukai perjodohan ini?" bisiknya pelan.
Kau terdiam lagi, ia jelas mengira ekspresi sedihmu tadi karena masalah perjodohan. Jika kau menyangkal, bagaimana harus menjelaskannya?
Ah, biarlah ia mengira kau hanya sedang berpura-pura tegar.
"Tak ada apa-apa." Kau menunduk menjawab lirih, menampilkan senyum suram nan dipaksakan.
Kau percaya diri dengan bakat aktingmu. Demi menutupi segala kejanggalan, kau sering berlatih berbagai ekspresi di depan cermin, berusaha tampil seolah-olah benar-benar tulus.
"Jika ada sesuatu yang bisa kubantu, tolong beritahu aku... Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untukmu." Tatapan Majima berubah gelap, meski wajahnya tetap lembut penuh perhatian, tapi firasatmu berkata sebaliknya.
Sejak Wu Ciao melakukan sesuatu pada jiwamu, kau jadi sangat peka. Baik pada hal-hal yang akan terjadi, maupun pada emosi orang di sekitarmu, kau selalu bisa menangkap tanda-tanda penting yang sulit dijelaskan.
Apa sebenarnya yang dipikirkan Majima saat ini?
Kau jadi waspada, namun tetap menjaga ekspresi. Kau bangkit, menepuk-nepuk rokmu, "Maaf sudah membuatmu khawatir." Setelah mengatakan itu, kau pun berlari pergi.
Orang seperti Majima terlalu sulit ditebak. Jika tidak perlu, sebaiknya jarang-jarang bertemu dengannya. Kau benar-benar tak melihat dia sebagai tukang kebun, dan kau juga tak mengerti kenapa Viscount Nomiya merekrutnya ke rumah kalian.
………………
……………
……
"Dengar-dengar, Ayako sampai sekarang belum ditemukan..."
"Sungguh menakutkan, belakangan ini aku bahkan tak berani datang ke pesta, takut kalau-kalau..."
"Siapa bilang tidak..."
Gadis-gadis itu sibuk menggosipkan teman sekelas yang hilang. Kau tak tahan mendengar gosip itu, lalu bangkit dan meninggalkan kelas.
Kau tahu ke mana gadis yang hilang itu pergi, bahkan tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Dialah teman sekelas yang jantungnya kau ambil dan kau makan. Dulu kau tak pernah memperhatikan dia, tapi setelah membunuhnya, hal-hal yang berhubungan dengannya justru sulit kau abaikan.
Setiap kali mendengar orang menyebut namanya, ingatan akan permohonannya sebelum mati selalu terbayang dalam benakmu.
Padahal sebagai putri keluarga bangsawan, dia seharusnya menikmati hidup mewah, menghadiri berbagai pesta, lalu menikah dengan pria pilihan keluarganya dan punya anak.
Tapi masa depan itu hilang di tanganmu.
Aneh memang, jika korbannya orang asing, kau tak terlalu peduli, tapi jika mengenal korban, kau jadi tak bisa berhenti memikirkannya. Padahal semuanya sama saja, tak ada bedanya.
"Tunggu! Nomiya-san!" Suda mengejar dari belakang. "Nomiya-san, sebentar lagi pelajaran dimulai, mau ke mana kau?"
Kau pura-pura tak mendengar, mempercepat langkah.
Sejak kau pura-pura setuju ikut kelas bersama Suda namun ternyata mangkir, ia jadi seperti mengawasimu setiap saat, berusaha membuatmu rajin belajar. Ia bahkan sudah menemukan beberapa tempat rahasiamu tidur di sekolah.
Begitu bel masuk berbunyi, akhirnya ia berhasil menghadangmu.
"Nomiya-san, kalau cepat kembali ke kelas, masih sempat!"
Kau menghela napas lalu bertanya, "Kenapa guru Suda selalu mengejarku terus?"
Suda menjawab serius, "Karena aku ingin kau menjalani kehidupan sekolah yang menyenangkan. Selama ini kau bisa sekolah tanpa beban, kenapa tidak menikmatinya dengan sungguh-sungguh?"
"Aku merasa sudah cukup bahagia kok."
"Bagaimana bisa bahagia jika kau sama sekali tak bergaul dengan teman, tak berbicara dengan guru lain, selalu bolos dan tidur di kelas?"
Orang dengan pemikiran yang berbeda memang sulit diajak bicara. Kau pun malas mendebat soal definisi kebahagiaan dalam kehidupan sekolah, malah melangkah mendekat hingga dadamu hampir menempel dadanya, menatapnya dan bertanya, "Guru... Apa benar hanya itu kekhawatiran Anda?"
Napasmu bahkan terasa di wajah Suda, ia langsung memerah seperti tomat matang—bukan hanya pipi, tapi telinga dan lehernya pun berubah merah.
Suda mundur beberapa langkah, berusaha tetap tegar, "Tentu saja hanya itu!"
Kau makin mendekat, "Sungguh mengecewakan... Apa guru Suda sama sekali tak punya perasaan lain padaku...? Sepanjang hari hanya mengkhawatirkan urusan sekolahku, sempat kupikir Anda punya maksud lain..." Kau letakkan tangan di pundaknya, berbisik lembut di telinganya, kadang meniupkan napas hangat.
"Bu... bukan begitu..."
Kau tak peduli dengan bantahannya yang terbata-bata, penuh niat jahat kau menjilat ujung telinganya, merasakan tubuhnya langsung kaku.
"Guru..."
Suda langsung mendorongmu, "Bukan seperti itu!" teriaknya, lalu lari terbirit-birit.
Misi berhasil.
Ternyata cara ini sangat efektif. Biasanya, meski diperingatkan berkali-kali Suda tak pernah menyerah, kini ia langsung kabur tak tampak batang hidungnya.
Tempat paling nyaman untuk tidur di sekolah adalah UKS. Tapi sejak Suda tahu kebiasaanmu, kau terpaksa menghindari sana. Kini kau akhirnya punya waktu tenang, bisa tidur di UKS. Sepertinya untuk beberapa waktu ke depan, ia takkan mengganggumu lagi.