Racun Kupu-Kupu, Kunci Kemegahan

Akhir Langit Sungai Kematian Dua Tiga 2301kata 2026-02-08 21:51:04

Enam belas tahun adalah waktu yang cukup panjang dalam hidup seseorang. Itu adalah waktu di mana anak kecil tumbuh menjadi remaja, remaja menjadi wanita dewasa, dan wanita dewasa beranjak menjadi lansia...

Namun bagimu, hari-hari itu terasa sangat hampa dan membosankan. Wu Ciao sepertinya sedang sibuk mengurus urusannya sendiri. Karena ia tidak punya waktu untuk “bermain-main” denganmu, ia begitu saja memasukkanmu ke rahim orang lain, membiarkanmu lahir kembali di dunia yang baru.

Sejak saat kau lahir di dunia ini, pada kelingking tangan kirimu terikat lima benang merah. Ujung salah satunya sangat dekat, yakni pada kakak pertamamu—Raihan Nomia.

Sungguh menghancurkan logikamu sendiri! Terhubung dengan banyak orang saja sudah cukup aneh, apalagi satu di antaranya adalah kakak kandungmu sendiri...

Kau sudah terlalu lelah untuk melawan. Lagi pula Wu Ciao juga belum datang untuk menyuruhmu melakukan apa pun, jadi kau memilih mengabaikan benang merah itu dan menjalani hari-harimu yang berulang dan membosankan.

Karena di dunia ini kau terlahir sebagai bayi, itu berarti kau tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun, tak perlu bersikap ceria, tak perlu melakukan rutinitas yang kau benci.

Meski kakakmu sangat baik kepadamu, kau tetap bersikap dingin padanya. Namun tak ada yang mempermasalahkan sikapmu, karena kakak pertamamu itu adalah anak hasil hubungan ayahmu sekarang dengan pelayan wanita, dan ibumu yang sekarang pun tidak menyukai anak yang hanya diakui secara nama itu.

Ayah dan ibumu yang sekarang sangat menyayangimu—kau adalah permata hati mereka. Namun semakin mereka memperlakukanmu dengan baik, justru semakin sulit bagimu melupakan orang tua kandungmu. Bagi dirimu, mereka adalah orang tua yang sesungguhnya, dan kini mereka masih berada di tangan Wu Ciao, menjalani penderitaan yang tak sanggup kau bayangkan.

Beberapa tahun kemudian, kau bertemu anak kedua yang terhubung benang merah denganmu: Hideaki Ozaki, anak dari keluarga bangsawan baru. Berkat latar belakang keluarganya, ia dengan mudah menjadi teman masa kecilmu, sering datang ke rumah untuk bermain. Sebagai anak laki-laki polos, ia sering menjadi pelampiasan kekesalanmu, namun meski sering kau jahili, ia tetap gigih menempel padamu.

Awalnya keluarga Ozaki berniat menjodohkan kalian, namun ibumu, Hanako, tiba-tiba berubah sikap, menjelek-jelekkan keluarga Ozaki yang baru kaya sehingga hubungan kedua keluarga pun retak. Setelah itu, kau jarang lagi bertemu dengan Hideaki.

Beberapa tahun berlalu, kau bertemu remaja ketiga yang terhubung denganmu. Ia berpakaian compang-camping, tubuhnya penuh luka, dan tampak sedang dikejar-kejar seseorang.

Sesaat, kau ingin membiarkan ia tertangkap dan dipukuli sampai mati, supaya satu target “benang merah” yang harus kau hadapi berkurang.

Namun begitu kau menangkap sorot matanya yang cemerlang, niatmu berubah—meski dalam keadaan terpuruk, ia tetap berusaha untuk hidup. Hal itu membuatmu, yang sempat berniat jahat, merasa sangat malu dan bersalah.

Kau menyesali pikiran buruk yang sempat terlintas, dan karena diliputi rasa bersalah, kau memperlakukannya dengan sangat ramah, bahkan memberinya sapu tangan untuk membersihkan wajahnya dan membantunya lolos dari kejaran. Setelah itu, kau berpamitan padanya.

Kau hanya berharap kalian bisa melupakan satu sama lain dan tak pernah bertemu lagi.

Pria keempat yang terikat benang merah denganmu adalah guru pianomu, Fujita Jun. Awalnya, kau berusaha sekuat tenaga menghindari pelajaran piano, berharap ia segera dipecat sehingga kau tak perlu bertemu dengannya lagi.

Namun setelah tahu ia memiliki darah campuran asing—sesuatu yang sangat didiskriminasi di Jepang era Taisho—kau merasa iba pada kesulitannya mencari kerja, lalu mulai belajar piano dengan sungguh-sungguh. Untungnya, ayahmu, Viscount Nomia, sangat menghargai Fujita. Ketika kepala pelayan keluarga mulai menua, ayahmu meminta Fujita belajar menjadi pelayan utama, agar bisa langsung menggantikan saat yang lama pensiun.

Saat SMP, kau bertemu orang kelima yang terhubung benang merah denganmu—Majima.

Ia tampak sebagai pria yang lembut, seorang tukang kebun yang direkrut ayahmu. Namun kau tak pernah benar-benar menganggapnya orang baik, karena aura negatif yang menyelimutinya sangat kuat, setiap kali kau berinteraksi dengannya, hatimu terasa tertekan. Taman rumahmu yang ia rawat penuh dengan aura dendam.

Tentu saja kau tak bisa bilang bahwa kau bisa melihat hal-hal gaib itu—kalau sampai ketahuan, orang tuamu pasti mengira kau sakit jiwa. Yang bisa kau lakukan hanya berulang kali membersihkan rumah dari aura dendam, sekaligus membersihkan aura buruk pada diri Majima.

Hal itu menjadi latihan yang cukup bagus untuk mengasah kekuatanmu.

Begitulah, tahun demi tahun berlalu, kau tetap seorang gadis penyendiri.

Tak pernah menerima undangan jalan-jalan, tak banyak berkomunikasi dengan orang di sekitar, dan tak pernah membangun ikatan mendalam dengan siapa pun.

Enam belas tahun memang bukan waktu yang sangat panjang, tapi bagimu itu terasa sangat berat.

Kau tahu tak akan lama lagi kau bisa tinggal di dunia ini. Begitu Wu Ciao datang, mungkin waktumu akan segera habis. Meski kau sadar Wu Ciao kemungkinan besar akan memintamu menaklukkan hati mereka yang terhubung benang merah, sebelum ia muncul dan memberi tugas, kau hanya ingin menikmati ketenangan sementara ini—menjadi manusia biasa.

Selama bertahun-tahun di dunia ini, pencapaian terbesarmu adalah terbiasa dengan makhluk gaib dan sedikit menguasai cara menggunakan kekuatanmu.

Entah apa yang dilakukan Wu Ciao pada jiwamu hingga kau bisa melihat makhluk tak kasatmata, dan karena tak ada cara menutup penglihatan itu, mau tidak mau kau terus belajar agar bisa melindungi diri sendiri.

Kau tak bisa menggunakan kekuatan di tubuhmu semudah Wu Ciao, jadi kau berusaha mengumpulkan berbagai buku tentang tradisi rakyat dan dunia gaib, berharap bisa mempelajari sesuatu darinya. Semua cara menumpas makhluk halus yang kau gunakan berasal dari buku-buku itu dan hasil percobaanmu sendiri. Hanya dengan pengetahuan teori yang cukup, kau punya dasar untuk mempraktikkan.

Entah sejak kapan, gosip tentang “Putri Nomia yang suka barang-barang kematian” mulai tersebar. Orang-orang yang dulu ingin dekat denganmu perlahan menjauh, hanya keluarga Nomia, Raihan, dan Fujita yang tetap tulus padamu. Majima pun tetap bersikap lembut di depanmu, tapi apa yang ia pikirkan di belakangmu, kau tak tahu.

Tentu saja, hari-hari terisolasi bukanlah penderitaan. Sebagai “Putri Nomia yang aneh”, tak banyak orang yang mau mendekatimu. Kau pun merasa lebih bebas, setiap hari diantar sopir ke sekolah dan pulang, sisanya kau habiskan di kamar membaca buku.

Di sekolah pun kau sangat bebas. Kau kini bersekolah di akademi perempuan swasta, semua muridnya berasal dari keluarga bangsawan seperti dirimu. Para guru pun enggan berurusan dengan murid-murid seperti kalian. Selain kepala sekolah yang tak pernah lelah menegurmu agar belajar dengan baik, guru lain sebisa mungkin mengabaikan murid “bermasalah” dan “tak tersentuh” sepertimu.

Hingga akhirnya Junichi Shiba muncul, kehidupanmu yang monoton dan sederhana benar-benar berubah.

Begitu melihatnya, kau langsung tahu ia adalah orang ketiga yang pernah kau temui—bocah kumal yang dulu dikejar-kejar orang kini telah berubah total menjadi pria penuh percaya diri dan berwibawa. Ia mengenakan setelan jas mahal yang rapi, mengenakan topi Panama, dan terlihat sangat tampan.

Kalau bukan karena benang merah di kelingkingnya, kau takkan pernah menyangka ia dan bocah malang itu adalah orang yang sama.

Roda takdir yang semula terhenti, seolah mulai benar-benar berputar sejak kemunculannya.