Kisah ini penuh dengan niat buruk dari penulis. Memasuki cerita ini, harap pertimbangkan dengan matang. Tuhan berkata: "Kau harus tidur dengan setiap orang yang terhubung denganmu oleh benang merah."
Ketika kau kembali ke rumah, kau mendapati kedua orang tuamu tergeletak di genangan darah, wajah mereka membeku dalam ekspresi terkejut, mata mereka masih terbuka, menolak untuk memejamkan diri dalam kematian.
Di ruang tamu, seorang pria duduk dengan anggun di atas sofa, penampilannya mirip seorang bangsawan Inggris dari abad pertengahan. Ia dengan tenang membersihkan belati yang berhiaskan permata di tangannya.
Hanya dalam sekejap, kau langsung menyimpulkan—pria inilah pembunuh kedua orang tuamu.
Amarah membakar dalam dirimu, akal sehatmu lenyap. Kau bergegas ke dapur, mencabut pisau dapur, lalu menyerang pria itu dengan sekuat tenaga.
Namun, hanya dengan dua jari saja, pria itu mampu menahan pisau dapurmu. Ia tersenyum santai, menatapmu seolah semua ini hanya permainan, lalu berkata, “Selamat malam, Nona Wu. Aku adalah Dewa Kejahatan Dunia ini. Kau telah kupilih menjadi mainanku. Jika kau ingin orang tuamu hidup kembali, lebih baik kau patuhi perintahku.”
—Dewa Kejahatan? Apa maksudnya itu?
Kau sama sekali tidak percaya pada omong kosong tentang dewa atau semacamnya. Bagimu, pria ini hanyalah pembunuh sadis dengan delusi aneh.
Dalam sepersekian detik, berbagai pikiran berkelebat di benakmu: mungkin pria ini memang tidak waras, mungkin meskipun kau melapor polisi dia tetap tidak akan dihukum; kekuatannya luar biasa, kau benar-benar dalam bahaya; dan yang terpenting, kau harus membunuhnya—ya, kau harus membunuhnya, karena dia telah membunuh kedua orang tuamu.
Sayangnya, kau tidak mampu menarik kembali pisau dapur yang digen