Bab Empat Puluh Lima: Bermain Peran
Aku bergumam pelan, namun di depan sana, Feng Luoluo tiba-tiba berhenti melangkah. Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat di ujung jalan yang penuh cahaya warna-warni itu, sebuah cahaya merah mencolok berkedip-kedip.
Feng Luoluo menunjuk ke arah logo rubah merah menyala yang menyilaukan itu, lalu bertanya padaku, "Itu tempat apa?"
"Kau suruh sopir kemari, tapi tak tahu sendiri?" aku mengangkat alis, bertanya balik padanya.
Feng Luoluo menjawab, "Itu kata kakakku, kalau benar-benar tak tahu mau ke mana, datang saja ke sini."
Mendengarnya, aku hanya bisa berkata, "Itu bar, tapi kita tak bisa masuk."
"Kenapa?" Feng Luoluo mendongak penuh kebingungan menatapku.
"Soalnya kita tak punya uang," aku tak ingin menjelaskan panjang lebar, jadi kuberi alasan paling realistis.
Setelah mendengar itu, Feng Luoluo berbalik ke pinggir jalan, enggan melangkah lebih jauh.
Melihat wajahnya yang tampak sangat terpukul, aku pun mendekatinya, menarik tangannya agar berdiri, lalu menggandengnya keluar dari keramaian, sambil berkata, "Tenang saja, roti akan ada, susu akan ada, bahkan istana kristal juga, takkan kurang satu pun."
"Ngalor ngidul," gumam Feng Luoluo sambil mengembungkan pipinya, namun tetap membiarkanku menggandengnya, tak lagi membantah.
Aku membawanya keluar dari kawasan pasar malam, berjalan sekitar dua blok ke arah luar kota, lalu mencari penginapan kecil dan memesankan kamar untuk berdua.
Begitu masuk kamar, Feng Luoluo langsung mengeluh, "Kasurnya keras sekali, mana bisa tidur? Kamarnya sempit begini, kau tak merasa pengap?"
Aku duduk di tepi ranjang dan berkata tanpa ekspresi, "Pertama, cuma penginapan kecil begini yang tak butuh KTP untuk sewa kamar. Kedua, kau tak tahu seberapa bobroknya penginapan yang dicarikan kakakmu waktu itu. Ini sudah sangat baik."
Feng Luoluo berpikir sejenak, tampaknya tak terlalu memedulikan nada balas dendamku di akhir kalimat, ia hanya bertanya, "Kenapa tak boleh pakai KTP? Mana KTP-mu?"
"Aku tak punya KTP." Meskipun tak ingin mengaku, entah mengapa, saat ia bertanya begitu, dadaku terasa sedikit sesak.
"Kakak ketiga benar-benar tak bisa diandalkan, dari mana dia dapat pengawal seperti kamu? Tak punya KTP saja berani dipekerjakan..." Feng Luoluo menggerutu tak senang sambil duduk di ranjang, menggeser-geser tubuhnya, seolah kasur itu pun tak nyaman diduduki.
Aku tak menanggapi, melainkan mengeluarkan ponselku sendiri, mencoba menyalakannya, tapi tetap tak bisa. Aku buka penutup belakang, mengambil kartu SIM, lalu mengulurkan tangan padanya, "Pinjam ponselmu sebentar."
Feng Luoluo menunduk mengaduk-aduk isi tas kecilnya, sesekali melirikku diam-diam, namun ponsel yang kuminta tak kunjung dikeluarkan.
"Bukankah di tasmu cuma ada ponsel dan sebungkus tisu? Kau hitung-hitung tisu itu?" tanyaku heran.
Akhirnya, dengan keberanian yang dipaksakan, Feng Luoluo berkata waspada, "Kalau ponselku kau ambil, aku nanti hubungi kakakku pakai apa?"
Aku menatapnya heran, "Apa kau sering jadi incaran penculik? Apakah aku kelihatan seperti penjahat bermuka dua? Bukankah aku ini kesatria?"
Feng Luoluo mengembungkan pipi, berpikir sejenak, lalu berbisik, "Mungkin kamu kesatria gadungan."
"Aku rasa kamu sendiri yang gadungan," balasku santai, lalu menyambar tas kecilnya yang ia peluk erat, mengambil ponsel dari dalamnya, melepas penutup belakang, dan mengganti kartu SIM dengan milikku.
Feng Luoluo memandangku dengan kesal, tapi pada akhirnya tak berani memprotes.
Setelah menutup kembali casing ponsel dan menyalakannya, beberapa pesan dari Bai Zhan langsung masuk.
"Kamu di Kota Er?"
"Bandara Kota Er besar juga ya."
"Aku mau naik pesawat, pertama kali ini, agak gugup."
"Gu Shang, aku sudah sampai Kota Chang."
"Tiba-tiba kangen kamu."
"Kamu lagi apa? Sudah makan belum?"
"Kenapa tak balas pesan, lagi sibuk ya?"
...
"Itu siapa?" Feng Luoluo melirik, tiba-tiba bertanya ingin tahu.
"Itu istriku," jawabku datar, lalu membalas satu per satu pesan Bai Zhan, namun ia tampaknya sudah tidur, tak ada balasan.
"Istri?" Feng Luoluo tertegun, lalu bertanya, "Yang berani duduk semeja judi melawan kakakku itu?"
Aku menoleh menatap Feng Luoluo, tak mengerti, "Apa kakakmu cerita semua padamu?"
Feng Luoluo menjawab dengan bangga, "Tentu saja! Kakak ketiga paling dekat denganku. Meski kami di kota berbeda, tiap hari dia selalu mengabariku, menceritakan banyak hal yang tak kuketahui."
Aku mengangguk paham. Melihat usia Feng Luoluo, sepertinya ia saudara tiri satu ayah dengan Feng Jing San, sebab di atas Feng Jing San masih ada dua saudara laki-laki, dan usia mereka terpaut belasan tahun.
"Kamu tak pernah keluar dari keluarga Feng?" Berdasarkan tingkah kekanak-kanakannya, aku bertanya santai, sambil mengirim pesan pada He Rulai, 'Aku melihat cabang Rubah Merah di Kota Er.'
Tapi karena sudah larut malam, He Rulai pun tak membalas.
Feng Luoluo tampak segar bugar, tak mengantuk sama sekali, ia berkata padaku, "Mana mungkin? Aku juga sekolah, punya teman sendiri."
"Punya teman? Temanmu juga suka pakai baju aneh-aneh seperti kamu?"
Ia langsung membela diri dengan lantang, "Apa maksudnya baju aneh? Itu cosplay! Kau tahu roleplay, kan?"
Apa yang ia maksud sebenarnya aku tak terlalu paham, tapi roleplay itu sendiri aku tahu, hanya saja apa yang ia sebutkan ini sepertinya berbeda dengan yang aku tahu.
Aku menepis bayangan kelinci seksi yang sempat melintas di kepalaku, lalu bertanya, "Jadi, kenapa harus pakai baju aneh begitu?"
"Untuk keyakinan," jawab Feng Luoluo, agak kecewa karena aku sungguh tak paham, lalu menjelaskan, "Aku dan kakak ketiga sudah janji, ketemuan di toko khusus kostum di mal. Kakak kedua mengawasi ketat, kalau bukan karena aku kenal manajernya, mana mungkin bisa kabur semudah itu?"
Sampai di titik ini, aku mulai paham. Ia keluar dengan gaun hanya karena kebetulan, tapi berpura-pura polos dan mempermainkanku itu murni kesengajaan.
Karena itu, aku menceramahinya soal hak asasi manusia selama setengah jam. Namun Feng Luoluo tetap bersikukuh, "Toh kita tetap akan kabur, kenapa tak kabur yang bermakna? Ini seperti sebuah permainan, seperti perang suci! Aku tetap putri, kau tetap kesatria, dan si tua botak Lu Jianye itu adalah naga jahat! Cepat atau lambat, ia pasti kami segel di lembah gunung!"
Melihat semangatnya kembali membara, aku segera menyambar selimut dan melemparnya ke tubuhnya, berkata, "Cepat tidur! Besok pagi aku ajak kau ke tempat bagus."
Feng Luoluo yang tertimpa selimut langsung berhenti berpidato, lalu berkata, "Berikan ponselku, aku tak bisa tidur kalau belum mengirim pesan ke kakak ketiga."
Karena ini pelarian diam-diam, ponsel Feng Luoluo dari tadi memang dalam keadaan mati. Sementara Feng Jing San bilang akan pulang ke rumah Feng, kami sendiri tak tahu situasi di sana, jadi menghubungi secara terang-terangan bukan ide bagus.
Aku terdiam sejenak, baru berkata, "Pakailah kartuku saja, jangan gunakan kartu SIM-mu, dan jangan sebut nama aslimu. Kirim pesan samar saja, supaya tak ketahuan kalau kau kabur dengan bantuannya, nanti bisa-bisa ia kena masalah."
"Pesan samar?" Feng Luoluo tampak ragu, akhirnya berkata, "Kalau begitu, aku bilang, kau yang kirim ya?"
Aku mengangguk, merasa itu ide bagus juga.
Dua menit kemudian, aku menatap layar ponsel yang menampilkan pesan: "Kakak, aku kangen sekali, muach muach," dan langsung termenung.
Feng Luoluo mungkin gadis paling polos yang pernah kutemui. Ia bilang setelah kirim pesan mau tidur, benar-benar langsung tidur tanpa banyak bicara, bahkan tak memprotes kenapa harus sekamar denganku.
Jadi, semua sikap waspadanya selama ini mungkin hanya doktrin dari Feng Jing San saja.
Melihat Feng Luoluo yang langsung tertidur, aku merasa lelah sendiri, lalu menyandarkan diri di tepi ranjang dan ikut terlelap.
Pagi hari, aku membangunkannya, lalu kami meninggalkan penginapan dan berjalan ke arah timur kota.
Feng Luoluo tampak masih setengah sadar, baru berjalan setengah blok sudah jongkok di pinggir jalan.
Aku menoleh padanya, berkata, "Bertahanlah, perang sucimu belum dimulai, putri tak boleh tumbang."
"Tapi aku kelaparan, kakiku juga sakit sekali," keluh Feng Luoluo putus asa, menatapku penuh duka, "Kesatria, mana kudamu?"
Aku hanya bisa membeli dua roti kentang telur di warung pinggir jalan, dan memberikannya pada Feng Luoluo.
Feng Luoluo hanya mengambil satu, sudah tak peduli lagi dengan harga diri seorang putri, langsung duduk di trotoar dan mulai makan.
Aku ikut jongkok di sebelahnya, menghabiskan roti telur satunya lagi, lalu menunduk melihat tumit kakinya yang sampai berdarah, membuatku tertegun.